Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ngidam Mas Tama



Beralih ke kehidupan Gwen yang sedang dalam masalah sedikit. Syifa mengetahui bahwa Agam sedang kecewa dengan Gwen, la memanfaatkan keadaan tersebut dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan hati Agam kembali. Mampukah Syifa melakukan itu? 


"Kita lihat saja, pernikahan yang didasari dengan merebut hak milik orang lain itu, pasti tidak akan berlangsung lama!" desisnya. 


Tanpa Syifa sadari, Gwen sudah hamil sekitar dua bulan. Syifa terus mencari informasi tentang rumah tangga Gwen dan Agam melalui santri yang ia percayai di pesantren milik Agam. 


Di siang hari, kala Agam masih sibuk dengan urusan pekerjaan, Syifa datang berkunjung ke rumah. "Assalamu'alaikum," salamnya. 


Mendengar ada seseorang yang mengucapkan salam seraya mengetuk pintu, Gwen pun segera ke luar. "Wa'alaikumsallam, tunggu sebentar!" jawabnya. 


Klek! 


Ketika pintu di buka. Sudah terlihat batang hidung Syifa dengan senyum lebarnya yang menandakan sesuatu. 


"Dih, ulet bulu. Ngapain kamu kemari?" sulut Gwen. 


"Ih, nyambut tamu tuh yang sopan. Nggak mencerminkan sebagai istri baik deh! Mencoreng nama baik, Ustadz Agam, tau!" hardik Syifa. 


"Apaan, sih? Nggak jelas banget. Dah sono pulang!" usir Gwen mendorong sedikit tubuh Syifa. 


Awalnya, di saat Gwen mendorong Syifa, tubuh Syifa yang memang lebih besar dari Gwen itu sama sekali tidak goyah. Namun, di saat melihat Agam sudah pulang, Syifa pura-pura terjatuh. Berharap, Agam melihat kesalahpahaman itu. 


Gedebuk! 


"Aduh!" rintih Syifa. 


"Lah, kamu ngapain ndelongsor di lantai? Mana segala pakai jatuh-jatuhan pula!" tanya Gwen heran. 


"Assalamu'alaikum," salam Agam. 


"Hm, pantes drama. Tokoh utama aja udah pulang," batin Gwen, memasang wajah datarnya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," 


Agam menanyai mengapa Syifa berada di lantai. Dengan manjanya, Syifa memfitnah Gwen telah mendorong dirinya sampai terjatuh. 


"Dek?" sebut Agam lembut. 


"Serah!" Gwen masuk ke rumah, tidak memperdulikan apa yang ingin Syifa katakan kepada suaminya. 


Agam mengerti, Gwen tidak akan berbohong jika menyangkut masalah seperti itu. Apalagi, bukan gaya Gwen jika menjatuhkan lawan menggunakan tenaganya. 


"Kamu berdiri dulu, saya  … tidak bisa membantu kamu berdiri," ucap Agam. 


"Ustadz kok jahat, sih? Harusnya bantu aku, dong!" manjanya Syifa. 


"Maaf, Syifa. Saya harus menghargai perasaan istri saya. Sebab, kamu hanya pura-pura sakit, bukan darurat juga, 'kan?" ujar Agam. 


Kesal, Syifa berdiri sendiri. Ia juga masih ingin memfitnah Gwen memiliki hubungan spesial dengan Ustadz Khalid yang berada jauh, di Negeri Jiran. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Syifa. Istri saya tidak seperti itu. Mau dia selingkuh atau tidak, itu bukanlah urusan kamu. Sebaiknya, kamu pulang saja dulu," tutur Agam, masih sabar. 


"Ustadz, kamu itu buta atau bagaimana, sih? Jelas-jelas istrimu itu menerima transferan uang dari Ustadz Khalid, kurang bukti apa lagi, hah?" debat Syifa. 


"Saya percaya dengan istri saya. Saya mencintainya dan saya juga yang lebih tau istri saya daripada orang lain," jawab Agam. 


"Ck, istri, istri, istri mulu! Muak tau dengernya! Hih, awas saja ya, Ustadz. Kamu akan menyesal karena telah mengabaikan aku! Assalamu'alaikum!" Syifa berlalu pergi. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Setelah melihat Syifa pergi, Agam baru masuk menemui istrinya yang saat itu malah asik nonton drama dengan camilan memenuhi meja. 


"Assalamu'alaikum," salam Agam, sedikit terkejut melihat pemandangan itu. 


"Dek, kamu makan segini banyaknya … apa tidak sakit perut karena kekenyangan?" 


Gwen berbalik mengabaikan suaminya. Namun, Agam tidak membujuk Gwen lagi. Menyadari istrinya sedang kesal padanya, Agam malah masuk ke kamarnya dan keluar lagi menuju kamar mandi. 


"Ish, apaan dah! Di cuekin mulu!" kesal Gwen. 


"Bodo lah! Mending makan, kenyang, tidur. Nggak pusing mikirin suami yang nggak pengertian!" imbuhnya masih sibuk dengan drama yang ditontonnya. 


Sekitar 15 menit, Agam selesai mandi dan baru saja masuk ke dapur. Kemudian membawa keluar susu hangat dan camilan sehat untuk Gwen. 


"Makan yang ini saja. Minum susunya, kurangi makan ciki-ciki seperti ini. Kurang sehat buat dedek yang ada di dalam perut," tutur Agam merapikan semua camilan kurang sehat bagi ibu hamil yang ada di meja. 


"Ih, nggak mau!" tolak Gwen, merengek seperti anak kecil minta cilok, emaknya lagi nyuci. 


"Kamu sayang kan dengan anak kita? Makan yang ini, ya," Agam memaksa dengan kelembutan. 


Gwen masih saja memasang wajah masamnya. Terpaksa, Agam kembali mengeluarkan jurus kelembutan, agar Gwen mau menurut padanya. Agam bahkan menyuapi Gwen, membelai pipi istri nakalnya, dan juga tak lupa membelai rambut Gwen yang tergerai. 


"Istriku yang imut, patuh, ya. Demi anak kita!" seru Agam mengusap perut sangat istri dengan perlahan. 


"Iya, aku makan ini. Tapi suapi, sambil lantunkan shalawat, ya. Aku pengen denger suara Mas saat bershalawat," pinta Gwen, akhirnya patuh. 


"Siap, ratuku." Agam tersenyum tenang. 


Emosi Gwen memang selalu berubah-ubah, membuat Agam harus lebih pintar mengatasi keadaan, agar tidak membuat Gwen terluka. Agam hanya takut, Gwen akan jauh lebih nekat lagi ketika saat dirinya merasa kecewa. 


Ketika sedang asik makan, tiba-tiba Gwen meminta ingin bertemu dengan Tama, sang sepupu yang paling royal padanya. "Pengen ketemu Mas Tama," pintanya. 


"Iya, besok, ya. Kita main ke pabriknya Mas Tama," jawab Agam. 


"Maunya sekarang," kata Gwen dengan memanyunkan bibir. 


"Ya, nggak bisa langsung sekarang dong, Dek. Mas Tama-nya juga masih kerja. Belum lagi, perjalanan dari rumah Mas Tama ke sini, butuh waktu sampai 2 jam," jelas Agam. 


Gwen hanya menatap Agam dengan mata yang mulai membendung air rayuan. Kemudian, merengek, menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Sama persis dengan Gwen yang waktu kecil ingin memiliki pistol sendiri, namun tidak diwujudkan oleh sang Mami. 


"Eh, jangan nangis dong. Nggak boleh gitu, Dek. Mas Tama pasti juga sibuk kerja, minggu ya," Agam semakin bingung, karena Gwen malah semakin keras nangisnya. 


"Huaaa, tadi bilangnya besok. Kenapa sekarang bilang minggu? Pokonya aku mau sekarang ketemu Mas Tama-nya, sekarang!" rengek Gwen. 


"Mas Tama pasti lagi kerja. Nanti sore aja ya telpon, bagaimana?" Agam berusaha membujuk. 


Tetap saja, bujuk rayu Agam tiada hasil. Gwen tetap kekeh ingin bertemu dengan Tama saat itu juga. Agam mengusap perut istrinya, supaya tidak meminta hal yang dapat merugikan waktu seseorang. Namun, Gwen tidak menghiraukan itu, ia tetap ingin Tama hadir saat itu juga. 


"Iya, Mas telpon Mas Tama-nya. Asal, jangan nangis lagi, hapus air matanya, senyum dan tenang. Makan lagi buahnya, ya--"


Akhirnya Agam kalah. Segera menghubungi Tama dan menjelaskan mengapa Gwen ingin bertemu saat itu. "Apa? Gwen hamil dan ngidam ingin bertemu denganku?" tanya Tama terkejut. 


"Iya, Mas. Saya sudah bilang untuk menunggu waktu. Tetap saja, Gwen tidak mau menunggu," kata Agam, merasa tak enak hati. 


"Sebenarnya, hari ini aku ada pengiriman. Tapi nggak papa-lah. Tak siap-siap dulu, mungkin agak lambat sampai di sana, tapi hilang sama Gwen, kalau aku akan datang," ujar Tama. 


"Tapi, Mas. Apa ini tidak terlalu merepotkan? Secara jarak antara pabrik ke sini … sangat jauh. Jika Mas mau bicara dengan Gwen dan menolak, pasti Gwen akan paham," tutur Agam. 


Tama menghela napas, sangat terdengar jelas ditelinga Agam. "Ustadz, katakan kepada Gwen, kalau aku akan tiba nanti sedikit terlambat. Dia adik kesayanganku, dia sedang mengandung, tak ada salahnya jika aku memanjakannya sebentar." 


Setelah itu, mereka mengakhiri telponnya. Agam tidak menyangka jika keluarga istrinya masih begitu peduli padanya. "Betapa beruntungnya kamu, Dek. Keluargamu banyak sekali yang menyayangimu tanpa syarat. Tapi kamunya yang masih suka bandel," Agam tersenyum kala mengingat tingkah Gwen yang terkadang membuatnya kesal. 


Segera Agam memberitahukan kepada Gwen, jika kakak sepupunya akan datang menemuinya.