Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tarik Ulur Sembarangan



Makanan sudah siap semua. Aisyah sangat bahagia bisa memasak makanan kesukaan suaminya lagi. Beberapa pangsit dan mie kesukaan Dishi juga ada di sana. Tak lupa juga, Aisyah menyelipkan doa supaya hubungannya bersama sang suami bisa kembali membaik segera.


"Alhamdulillah, semuanya sudah siap. Aku akan memanggilnya untuk makan, pasti dia sudah lapar. Biasanya, Dishi paling tidak mau makan makanan di pesawat jika …."


Semangat Aisyah menurun, ia mengingat bahwa Dishi belum ingat apapun kenangan bersamanya. Aisyah bingung sendiri akan mulai darimana untuk membuat Dishi bisa kembali mengingat memori yang hilang.


"Lupakan! Aku akan memanggilnya sekarang juga!" serunya dengan semangat pergi ke kamar sebelah, tempat Dishi istirahat.


Perlahan, Aisyah membuka pintunya. Teringat jika sang suami masih hilang ingatan, Aisyah pun mengurungkan niat untuk langsung masuk. Ia mengangkat tangannya, kemudian mengetuk pintu. Terlihat Dishi sedang merebahkan tubuhnya dengan terlentang. Aisyah kembali mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada respon dari Dishi. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk masuk.


Dishi saat itu tengah memejamkan matanya. Aisyah mendekati dengan perlahan karena penasaran juga mengapa Dishi tidak menyahut panggilannya dan ketukan tangannya.


"Apa dia tertidur?" gumam Aisyah dalam hati.


Ketika sudah mendekat, Aisyah melongok memastikan kembali jika Dishi benar-benar sedang tidur atau memang hanya memejamkan matanya saja. "Oh, sepertinya dia memang tidur. Sebaiknya aku bangunkan nanti saja." gumamnya.


Kaki Aisyah tersandung kaki sofa yang ada di depan tempat tidur di kamar itu. "Aduh," rintihnya lirih. "Sakit sekali, siapa yang menaruh sofa ini di sini. Untuk apa juga ada di sini, tidak ada yang duduk juga di sini!" keluh Aisyah dengan lirih.


Aisyah terus saja bergumam dan membuat Dishi terbangun. Tangan Dishi meraih tangan istrinya dan menariknya hingga sang istri terjatuh tepat di atas tubuhnya.


"Ah!"


Teriakan Aisyah membuat Dishi semakin gemas saja. Kini, wajah mereka sangat dekat sekali, saling menatap satu sama lain. Membuat jantung keduanya sama-sama berdebar karena kembali jatuh cinta setelah perpisahan sementara sebelumnya.


Hampir tujuh menitan mereka masih berada di posisi yang sama. Tak ingin membuat momen membosankan, Dishi pun menggoda istrinya dengan bertanya, "Apa tubuhku begitu nyaman, sehingga kamu tidak ingin beranjak, Nona Aisyah?"


Aisyah tersadar.


"Apa sebelumnya, kamu sangat mencintaiku dan cintamu paling besar daripada aku? Hm, ini sungguh menyenangkan--" bisik Dishi, tepat di telinga Aisyah.


"Enak saja, kamu yang kecintaan denganku. Kamu yang mengejarku, kamu yang memaksa aku menikah segera. Huftt, kamu menyebalkan!" Aisyah mendorong tubuh Dishi yang kala itu ada di sisinya.


"Lalu, untuk apa kau masih duduk di sini?" tanya Dishi.


Aisyah langsung berdiri. Sayangnya, kakinya terlilit selimut, sehingga membuatnya terjatuh lagi dipangkuan suaminya.


"Lihatlah, bahkan kau memainkan trik untuk tidak jauh dariku, bukan?" Dishi kembali menggodanya.


Saat Aisyah hendak kembali berdiri, Dishi menahan pinggulnya supaya dirinya tidak bisa pergi darinya. Sontak, membuat Aisyah terkejut karena sudah lama sekali dirinya tidak tersentuh oleh tangan Dishi.


"Apa yang kau la--" ucapan Aisyah terhenti kala menatap mata Dishi.


"Maafkan aku," bisik Dishi.


Perlahan Dishi melepaskan rangkulan tangannya dari pinggul Aisyah. Namun, bukannya langsung pergi, Aisyah malah masih duduk dipangkuan Dishi. "Untuk apa kamu datang ke kamar ini?" tanya Dishi.


"Aku sudah membuatkanmu makanan. Jadi, aku ingin mengajakmu untuk makan bersama. Itu jika kau bersedia memakan masakanku, Tuan Dishi," jawab Aisyah dengan wajahnya yang menunduk.


Mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan Tuan, membuat Dishi sedikit tidak terima. Mau bagaimana lagi, sandiwara itu memang dirinya yang memulainya. Maka ia sendiri lah yang harus mengakhirinya.


"Baiklah kalau seperti itu, aku akan keluar dulu," Aisyah menjadi murung.


"Bagaimana jika aku memakanmu saja?" lanjut Dishi, masih saja menggodanya.


Aisyah langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. "Apa kamu gila? Kenapa kamu menyebalkan!" teriaknya.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Ayo, kita keluar. Aku juga sudah kelaparan, jangan sampai memakanmu."


Merasa malu, Aisyah keluar lebih dulu dengan wajahnya yang memerah. Jantungnya juga berdebar tak beraturan, sehingga membuatnya salah tingkah kala menyiapkan minuman untuk suaminya.


"Aku sudah gila, aku sudah gila. Aku jatuh cinta lagi dengan suamiku. Tidak ada yang salah ini. Hanya saja, dia masih tidak mengingatku. Bagaimana ini? Aku akan bertanya dengan ustadz Agam nanti."


Setelah selesai membersihkan diri, Dishi baru keluar dan segera menuju meja makan. Di sana, Aisyah sudah duduk di kursi yang agak jauh dari gelas dan piring yang disediakan untuk suaminya.


"Kenapa kita berjauhan?" tanya Dishi.


"Ya, karena … aku, aku hanya ingin duduk di sini. Itu kursimu, jadi kamu tetap harus duduk di sana," Aisyah mulai gugup lagi.


"Oh~"


Jawaban singkat Dishi membuat Aisyah kecewa. Makan bersama untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu sudah membuat Aisyah bahagia. Akhirnya dia bisa berkumpul kembali dengan suaminya meski ada penghalang di dalam hubungannya.


Dishi memang sebelumnya tidak suka makan sambil bicara. Setelah mengenal Aisyah, dia jadi budak cinta, yang dimana dirinya selalu saja menempel kepada Aisyah dan makan pun banyak sekali yang diceritakan. Menjaga rahasianya, Dishi makan dengan tenang saat itu.


"Dia benar-benar kembali seperti Dishi yang dulu. Dimana dia hampir mirip sikapnya dengan Kak Chen. Darimana aku memulai perjuanganku ini, ya?" Aisyah berpikir untuk mengembalikan ingatan yang hilang suaminya.


Selesai makan, Dishi tidak langsung kembali ke kamarnya. Dia melihat sekeliling ruangan dapur itu. Dimana tidak ada yang berubah, tapi malah ada yang bertambah barangnya.


"Apa kamu sungguh sangat mencintaiku? Apa aku cinta matimu?" tanya Dishi tiba-tiba.


Membuat Aisyah yang saat itu minum, sampai tersedak. Melihat sang pemilik hatinya itu tersedak, membuatnya khawatir dan reflek mendekatinya. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Aisyah mengangguk dan mengusap-usap dadanya. Kemudian memasang wajah kesalnya kepada Dishi. "Pertanyaanmu ini membuatku hampir mati tersedak, Tuan Dishi!" ketusnya.


"Kenapa kamu harus mati? Aku tidak akan membiarkanmu mati, Nona Aisyah," sahut Dishi dengan tatapan yang begitu dalam.


Pandangan keduanya sama-sama dalam. Takdir memang ingin mereka bersama, hanya saja dengan sandiwara itu, sama-sama membuat keduanya tersakiti hatinya.


"Lihat di setiap sudut ruangan ini. Apakah kamu begitu mencintaiku, sehingga fotoku banyak sekali di setiap titik?" Dishi kembali menggodanya.


"Aku membencimu!" sembur Aisyah, kemudian hendak pergi.


Sebelum itu, Dishi menahan tangan cintanya dan kembali menariknya untuk duduk di sana. Dishi pun berbisik, "Apakah benar kamu membenciku? Ingatan seperti apa yang aku lupakan ini, Nona Aisyah--"


"Kamu ingin tahu, bagaimana aku mencintai dan membencimu?" Aisyah mulai melawan.


Dishi memasang wajah seperti meremehkan. Wajah yang ayu dan teduh itu selalu terbayang di ingatan Dishi, kini sudah ada di depan mata, malah ia tidak bebas untuk menyentuhnya.