
Sore setelah menjaga Chen, Ustadz Khalid kembali ke pesantren. Masih dengan kecemasan yang melanda hatinya, Ustadz Khalid berharap dengan kejadian itu bisa menemukan cara untuk melepas sepenuhnya pesantren untuk Agam dan kembali ke Malaysia, tempat ia dilahirkan.
"Agam, aku tidak tahu bagaimana caranya mengambil semua hak pesantren itu untukmu tanpa harus menikah dengan Dek Syifa. Aku akan kembali ke Malaysia setelah masalah pesantren itu selesai," gumamnya dalam hati.
"Tugasku seharusnya sudah selesai sampai kamu memiliki seorang pendamping. Nyatanya aku gagal menjaga dan melaksanakan amanah almarhum orang tua kita, Gam," sesal Ustadz Khalid.
Sesampainya di pesantren, Ustadz Khalid bertemu dengan Paman Chris yang rupanya telah menunggunya sedari tadi. "Anda…?" tanya Ustadz Khalid.
"Bisa kita bicara? Berdua saja jika bisa. Ada hal penting yang hendak saya katakan kepada Anda," kata Paman Chris dengan santun.
"Silahkan ikuti saya, Tuan." Ustadz Khalid berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh langah Paman Chris dari belakang.
Sampailah mereka di ruangan biasa Ustadz Khalid menerima tamu. Paman Chris meminta semua pintu dan jendela di tutup. Sebab, yang hendak ia katakan sebuah kepentingan yang tidak boleh di ketahui oleh semua orang.
"Bisa katakan apa yang hendak Tuan sampaikan?" Ustadz Khalid mempersilahkan Paman Chris menyampaikan pernyataannya.
Paman Chris menyodorkan sebuah map coklat. Kemudian meminta Ustadz Khalid untuk membukanya, baru akan ia jelaskan setelah Ustadz Khalid mengetahui isi dari map coklat tersebut.
Betapa terkejutnya Ustadz Khalid melihat isi map tersebut. Yakni tanda sah uang pembangunan dan juga sertifikat tanah pesantren yang pernah orang tua Syifa sita.
"Ini~" Ustadz Khalid bingung akan bereaksi bagaimana dengan barang pemberian dari Paman Chris.
"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Chris. Saya Pamannya Gwen, saya keluarga dari pihak Ibu. Sebetulnya Gwen melarang saya mengatakan kejujuran ini. Pengesahan ini dilakukan oleh Gwen. Dia menjual saham yang diberikan Ibunya untuk membayar kekurangan dari uang pembangunan ini,"
"Sisa uangnya juga telah masuk ke rekening pesantren, bisa Anda cek sekarang. Dimohon, untuk Anda tidak mengatakan kebenaran ini kepada suami dari keponakan saya itu, Tuan. Putri kami adalah gadis yang sangat mulia, meski latar belakangnya--" ucapan Paman Chris terhenti.
"Tuan, nominal yang masuk ke rekening pesantren sangat banyak. Apakah ini tidak akan membuat Gwen bangkrut?" tanya Ustadz Khalid.
Paman Chris tersenyum. "Tuan, Gwen adalah putri dari seorang yang tidak biasa. Keluarga kakek dari pihak Ayahnya bukan orang biasa, lalu juga buyut dari keluarga Ibunya semakin menakjubkan," jelas Paman Chris.
"Harta segitu, bagi Gwen belum apa-apa. Tapi, dia rela kehilangan semua harganya, rela menjadi orang dewasa demi seorang pria yang dicintainya,"
"Dia memperdalam ilmu agama demi keluarga dan masa depannya. Meninggalkan kami yang ada di Australia dan meninggalkan grup perusahaan hanya demi menjadi orang biasa,"
"Lampu gantung itu, dia sengaja melakukannya hanya demi membatalkan pernikahan kalian. Putri kami benar-benar sangat baik. Semoga saja, kalian bisa membahagiakan putri kami. Permisi." Paman Chris mengakhiri pertemuan dan pergi begitu saja.
Ustadz Khalid tidak mengerti apa yang dimaksud dengan lampu gantung. Tapi, hal yang ia tangkap adalah, Gwen memang sengaja membantunya untuk tidak menikah dengan Syifa pagi itu.
"Agam, wanita seperti apa yang kamu nikahi ini? Belum lama menjadi istrimu, pengorbanannya sudah banyak sekali," gumam Ustadz Khalid, tak sengaja meneteskan air matanya di pipi.
"Jadi, Gwen mengetahui sesuatu tentang aku dan Syifa? Apa itu sebabnya, orang tua Syifa hanya diam saja saat ijab mau mulai?"
"Gwen, terima kasih."
Malam yang syahdu, di ranjang berbaring berduaan dengan saling bercanda. Itu yang dilakukan oleh Gwen dan Agam.
"Hm, memangnya wajah kamu kenapa?" tanya Agam kembali.
Gwen terbangun, ia menunjukkan pipinya yang tergores oleh serpihan bolam lampu gantung pagi tadi. "Lihatlah, nih. Pipiku banyak codetnya. Jelek tau!"
Agam menatapnya dengan senyum terukir di bibirnya. Tatapannya begitu dalam, membuat jantung Gwen berdebar melihat mata yang memanah hatinya itu.
"Kamu tetap cantik di mata, Mas. Tidak berubah sama sekali, tanpa riasan begini saja … Kamu masih terlihat cantik, seperti bulan purnama di langit malam yang cerah," ucap Agam menyentuh kedua pipi istrinya.
Perlahan, Agam mendekatkan wajahnya ke wajah Gwen, ia hendak mencium bibir mungil istrinya itu. Hanya saja, Gwen memang sudah di ajak romantis. Bulan malam di langit cerah bagi Agam adalah keindahan yang patut dikagumi. Tapi tidak bagi Gwen.
"Bulan purnama?" gumaman Gwen membuat aksi Agam terhentinya.
"Iya, cantik, indah, dan MasyaAllah untuk di kagumi. Kenapa? Mas salah, kah?" sedikit kaget, tapi Agam berusaha tenang.
"Oh, aku pikir Mas Agam mau bilang kalau wajahku bulat, gembul dan gemuk gitu, hahaha. Aku terlalu berpikir jauh rupanya," celetuk Gwen dengan menggaruk-garuk kepalanya.
Agam tersenyum. Kembali ia mengajak Gwen untuk rebahan dan bersandar di pelukannya. Gwen menurut saja, ia masih memikirkan tentang bulan purnama. Kali itu, ia mengingat jika bulan purnama tidak lah rata, mulus dan memiliki bopeng jika dilihat dengan seksama.
"Mas Agam~"
Gwen mendongakkan kepala. Ia ingin protes masalah bopeng di rembulan. Namun, bentuk protes itu tertunda kala Agam langsung menyergap bibir mungil Gwen.
Jantung Gwen berdebat kencang. Gwen sudah jatuh cinta kepada suami idamannya itu. Namun, gadis berambut pirang itu belum tahu bahwa yang ia rasakan adalah tanda ia jatuh cinta.
Masih dengan sapuan bibir, Agam menarik selimut yang Ustadz Khalid kirimkan itu, naik sampai menutupi seluruh badan. Hanya tinggal terlihat kepala mereka saja yang masih saling menyapu bibir.
Dengan memejamkan mata, Agam melakukan itu dengan ketulusan yang dalam. Ia hampir kehilangan Gwen, dan itu membuatnya panik. Tak paham dengan perasaannya, Agam rupanya juga mencintai Gwen dengan perasaannya.
"Mas Agam cium aku duluan?" bisik Gwen melepas sapuan bibir suaminya.
Agam menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Mas jatuh cinta padamu, Dek. Mas takut banget saat banyak darah yang keluar dari kepalamu. Mas hampir frustasi saat dokter belum juga keluar ketika memeriksamu," ucap Agam.
"Mas tau, Mas harus mencintai kamu sewajarnya saja. Tapi, hari ini Mas beneran takut jika sampai kehilangan kamu, Dek. Mas mencintaimu,"
Air mata Gwen mengalir begitu saja. Tak tahu apa yang hendak dikatakannya, tapi Gwen benar-benar bahagia mendengar suaminya menyatakan perasaannya dengan lembut malam itu.
"Mas~" Gwen memeluk Agam dengan erat.
Di depan pintu, Chen tak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Agam. Awalnya, ia ingin memberikan makanan yang ia beli untuk Gwen dan Agam. Tapi, niat itu ia urungkan saat melihat Agam dan Gwen berpelukan.
"Aku tak perlu khawatir lagi. Ternyata, beban keluarga sudah berubah menjadi kebanggaan sekarang. Gwen, aku turut bahagia untukmu. Semoga kalian tidak ada masalah lagi." batin Chen, berlalu pergi dengan kembali ke ruangan inapnya.