Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Percakapan Ayah dan Anak Lelakinya



"Ibu titip Chen, ya. Jika kamu ingin berhenti, kamu bisa berhenti sekarang. Tapi, jika kamu ingin tetap bertahan dengannya, tolong … jaga hatinya. Dia sudah bayak terluka, Nak. Ibu tidak tega melihatnya memikul semua bebannya sendirian," pesan Rebecca.


Lin Aurora terdiam. Hatinya memang sudah terpaku dengan Chen. Namun, ia masih bingung dengan kejelasan keyakinan yang dianut oleh tunangannya itu. 


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Ibu juga mau istirahat. Besok pagi, Ibu mau ajak kamu ke pesantren, selamat malam," 


"Ibu, Lin antar sampai ke kamar, ya," ucap Lin Aurora. 


Rebecca menggeleng, meminta Lin Aurora untu istirahat. Setelah Rebecca keluar, Lin Aurora kembali melihat album poto milik tiga saudara kembar. 


"Menyebalkan! Dasar kamu sangat menyebalkan! Kenapa aku harus jatuh cinta padamu?" umpat Lin Aurora menunjuk-nunjuk potret Chen. 


"Jika aku lanjutkan, aku sendiri masih bingung dengan perasaanku. Aku juga ingin dicintai, menikah dengan pria yang tidak mencintaiku, aku rasa … akan sulit untuk menjalaninya," 


"Haih …," Lin Aurora menarik napas panjang, kemudian melepaskan secara perlahan.


"Tapi, jika aku menikah dengannya, itu sama saja aku memperluas jaringan Ayah untuk menyakitinya. Ah … aku pusing!" 


Lin Aurora merebahkan diri di ranjang. Masih ada sesuatu yang masih ia rahasiakan. Yakni, tentang Ayahnya yang menginginkan pernikahan tersebut supaya bisa menguasai Chen di masa depan. 


"Aku harusnya jujur. Tidak boleh membiarkan Chen menderita lagi," gumamnya dalam hati. 


"Tapi, jika aku jujur … apakah dia akan meninggalkan aku? Haih, Lin Aurora, Lin Aurora. Bukankah itu yang kau inginkan?" 


Mata Lin Aurora terpejam. Semuanya terbawa di dalam mimpinya. Ketika ia bermimpi, ia melihat Chen terus di siksa oleh Ayahnya. Dengan dalih, itu tanda balas dendamnya karena permasalahan lama dengan Tuan Wang. 


Pintu kamar Lin Aurora belum tertutup. Chen baru saja pulang dari pesantren dengan Ayahnya. Kamar Chen, memang melalui kamar yang di tempati Lin Aurora. 


"Hah, lihat brandalan kecil ini. Bahkan tidur saja, pintunya tidak di tutup? Aku rasa dia sengaja untuk menggodaku!" umpat Chen. 


Ketika hendak menutup pintunya, Chen mendengar Lin Aurora mengigau. "Jangan … jangan …,"


"Cih, bahkan tidurnya saja mengigau. Bisa-bisa, nanti aku terganggu tidurku pula!" desis Chen. 


Namun, saat Chen memperhatikan lagi, ada kejanggalan saat Lin Aurora mengigau. "Sialan! Dia mimpi buruk!" 


Segera Chen masuk dan membangunkan Lin Aurora. "Nona Lin, Nona Lin, bangunlah!"


"Ck, Lin Aurora!" sentaknya. 


Begitu bangun, Lin Aurora langsung memeluk Chen. Sontak membuat Chen kaget dan langsung mendorongnya. "Astaga, kau ini kenapa?" ketusnya dengan merapikan bajunya. 


"Ma-maaf," suara Lin Aurora terdengar gemetar. Keningnya mengeluarkan keringat dingin, dan matanya terus kesana-kemari dengan perasaan gelisah. 


Chen kesal melihat seseorang yang seperti itu. Tak lagi mengingat apa itu wanita dan laki-laki. Chen meraih tangan Lin Aurora, kemudian memeluknya. 


"Tenanglah, ada aku di sini," ucap Chen sembari menepuk-nepuk kepala Lin Aurora. 


Tak sengaja, Yusuf melintas dan melihat mereka berpelukan. Tak ingin berpikiran negatif, Yusuf hendak bertanya kepada Chen esok hari. 


Setelah lebih tenang, Lin Aurora melepaskan pelukan Chen dan meminta maaf kembali. "Maaf, tidak seharusnya kita seperti ini. Tapi, terima kasih sudah membuatku jauh lebih tenang," ucapnya. 


"Cih, merepotkan saja!" 


Chen pergi begitu saja. Ia juga menutup pintu sedikit kencang sampai Lin Aurora kaget. Di balik pintu, Chen bersandar sesaat di pintu kamar. "Ada apa denganku?" gumamnya. 


"Selama ini, jika ada wanita yang menempel padaku, aku selalu kesal. Kenapa ini … Ah, aku terlalu murah hati,"


"Siapa sangka, memang aku adalah pria yang baik hati." Chen belum menyadari hatinya sendiri. Ia sudah mulai membuka hati untuk Lin Aurora, namun belum ia sadari akan hal itu. 


*


Pulang dari masjid usai salat subuh, selalunya sudah pukul setengah enam pagi. Meski Yusuf selalu lama di masjid, tetap saja Chen selalu sabar menemani sang Ayah. 


Mereka pulang berjalan kaki, dan Yusuf memanfaatkan waktu untuk bertanya tentang apa yang dilihatnya semalam. 


"Chen,"


"Iya, Ayah?"


"Ayah ingin bertanya.Tapi ini masalah pribadimu, tapi jangan tersinggung juga. Dan ja--" ucapan Yusuf terhenti kala Chen menyentuh pundaknya. 


"Ayah, katakan saja apa yang ingin Ayah tanyakan. Aku anakmu, bukan orang asing, kenapa mesti sungkan?" ucap Chen dengan santai. 


Yusuf menghela napas panjang. Bahkan, ia juga masoh berpikir menata kata, supaya anaknya tidak tersingguh. (Please, pengen ayah kek Ayah Ucup) 


"Ayah tidak sengaja melihat kamu berpelukan dengan Nona Lin," ucap Yusuf langsung memalingkan wajahnya ke atas. 


Dengan polosnya, Chen juga menatap ke atas. Ia sampai mencari-cari apa yang Ayahnya lihat sampai mendongak keatas. 


"Ada apa di atas sana?" tanya Chen. 


"Um, itu hanya ekspresi tubuh Ayah saja. Takutnya kamu menatap tajam Ayah," jawab Yusuf. 


Chen memutar bola matanya. "Ayah, semalam dia mimpi buruk. Saat aku bangunkan, dia langsung meluk aku. Udah aku dorong, tapi dia makin gemetar, ya sudah aku peluk lagi aja," jawab Chen. 


Seolah dirinya yang tak ingin ditatap oleh Chen, malah Yusuf menatap balik putranya dengan tatapan mencurigai. 


"Ck, kalau kau bukan Ayahku, ish …," kesal Chen. 


"Nggak boleh tau! Dosa, belum muhrim! Sunat belum, ngaji baru alif, ba, ta. Jangan keburu mau nikahin anak orang!" tegas Yusuf. 


"Itu si Dishi--" Yusuf mengharap pembelaan. 


"Apa? Dishi sudah sunat sehari setelah mualaf. Saat dia melamar Aisyah, hapalan Al-Qur'annya juga sudah bagus. Pengetahuan agamanya luas, padahal hanya membutuhkan waktu lima bulan," jelas Yusuf. 


"Tunggu, Ayah sekarang bandingin aku?" sulut Chen. 


"Halah, Mafia kok takut terbandingkan! Mafia model apa kamu ini! Mafia abal-abal!" ejek Yusuf melanjutkan jalannya. 


Chen terus saja menggerutu karena memang kenyataannya Dishi lebih unggul darinya. Meski begitu, mereka hanya bercanda saja, melewati tukang bubur juga mampir makan berdua di bawah pohon yang rindang. 


"Ayah, lalu aku harus bagaimana? Lin Aurora tidak mau menikah denganku kalau aku tidak memenuhi syarat ini," ucap Chen menunjukkan kertas yang berisikan kandidat calon suami bagi Lin Aurora. 


Wajah penasaran Yusuf berubah menjadi tatapan datar kala membaca tulisan Lin Aurora. Ia sampai memukul lengan Chen karena tidak menjelaskan isi dari daftar tersebut. 


"Hangul, Ayah bisa. Tagalog juga lumayan. Tapi ini, kotak-kotak begini … mana Ayah paham, Chen Yuan Wang!" Yusuf sampai menjewer putra konyolnya itu. 


"Oh, hahaha. Kupikir Ayahku hebat,  ternyata mlempem seperti kue apek saja," ejek Chen menertawakan Ayahnya sendiri. 


"Nanti sore sunat! Ayah yang akan mengantarmu sendiri!" tegas Yusuf, seolah ingin balas dendam kepada putranya yang nakal itu. 


Chen bingung, ia tak tahu apa itu sunat. Ia pun bertanya kepada Ayahnya, "Apa itu sunat?" tanyanya sembari menyantap buburnya. 


"Sunat itu, dipotong kau punya burung! Hahaha mantap!" jawab Yusuf, menunjuk ke arah yang dimaksud. 


Jawaban Yusuf membuat Chen tersedak. Belum selesai makan, Chen langsung lari meninggalkan Ayahnya. Sementara Yusuf tertawa sampai terpingkal-pingkal.