
"Tanda lahir? Tanda lahir apa?" tanya Chen.
"Kamu tidak tahu? Tanda lahir itu ada di … maaf Bibi buka lengan bajumu dulu--"
Terkejut, tanda lahir itu sudah tiada. Ada bekas luka di lengan Chen dan bekas luka itu seperti luka bakar. Airy tertunduk lemas, nampak sekali tanda lahir itu dihapus dari lengan Chen. Seketika air mata Airy mengalir.
"Bibi, apa kau baik-baik saja?" tanya Chen khawatir.
"Sayang, ada apa?" sahut Adam memapah Airy duduk.
"Tanda lahir itu hilang, Mas. Dan ini … bekas luka bakar," jawab Airy masih syok.
Adam langsung mengeceknya dan ternyata benar. Tanda lahir itu memang senagaja dihilangkan. Yang membuat Airy menangis, ia membayangkan ketika Chen masih balita, dengan sengaja ada benda panas yang ditempelkan ke lengannya dan otomatis akan luka. Begitulah protes menghilangkan tato atau lengan.
"Cindy kejam sekali. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini kepada anak kecil yang tak berdosa?" gumam Airy.
Adam membawa Chen ke Dokter spesialis kulit di tempat temannya. Hal mengejutkan itu memang benar adanya. Dokter itu juga mengatakan jika tanda lahir itu sengaja dihilangkan. Kebencian dan dendam Chen semakin membara kepada Cindy.
Sekarang, bukan hanya ingin keluarga Wang hancur saja misi Chen. Ada satu hal lagi yang akan ia hancurkan, yakni Ibu angkatnya yang sudah menculiknya dari keluarga kandungnya sewaktu dirinya berusia 1 jam.
Setelah berbincang banyak, Chen memutuskan untuk kembali ke Tiongkok dan memulai rencana dengan Asistennya. Tak perlu takut, Asisten Chen memang sudah lama menjadi penghianat dalam keluarga Wang. Dengan begitu, Asisten Chen ini dengan suka rela membantu misi Chen.
"Apa kamu yakin tidak ingin bertemu dengan Ayah dan kedua adikmu?" Adam masih berharap lebih kepada Chen.
"Tidak!" jawab Chen.
"Kenapa? Alasan apa yang hendak aku katakan kepada mereka nanti?" lanjut Adam.
"Katakan kepada mereka, jika aku akan kembali. Suruh mereka berhenti mencari diriku, dan segeralah berkumpul tanpa memperdulikan aku. Aku akan baik-baik saja," jelas Chen.
"Tuan Muda akan baik-baik saja jika kalian menjauh untuk sementara waktu. Berikan dia waktu, Tuan, Nyonya." sahut Asistennya.
Chen memiliki sesuatu untuk Rebecca sebelumnya. Sehari setelah ia mengetahui bahwa Rebecca adalah ibu kandungnya, sepulang dari acara besar itu, Chen ke pertambangan dan menemukan Red Diamond. Sengaja ia juga menyewa perancang hebat untuk membuatkan kalung dan cincin yang istimewa.
Niatnya, kalung dan cincin itu akan ia berikan kepada Rebecca. Namun, ketika ia juga telah bertemu dengan saudari kembarnya juga, Chen ingin memberikan kalung dan cincin bermata Red Diamond itu kepada mereka.
"Aku memiliki cincin dan kalung yang aku rancang sendiri. Bisakah Paman dan Bibi memberikan ini kepada kedua adikku?" ucap Chen menunjukkan perhiasan tersebut.
"Saudariku yang satunya menggunakan tudung. Jadi berikan cincin ini kepadanya. Lihatlah, cincin ini bisa di atur ukurannya, jadi ketika dewasa nanti, ia masih bisa memakainya,"
"Lalu, berikan adikku yang suka malak itu kalung ini. Katakan kepadanya untuk menyimpannya dengan baik. Aku akan marah besar jika dia sampai menghilangkannya." imbuhnya menunjukkan kalung tersebut.
"Kamu, darimana bisa tahu kalau Gwen suka malak?" tanya Airy.
"Dia sudah dipalak, makanya tau." jawab Adam.
"Astaghfirullah hal'adzim itu anak--"
Chen berpamitan, mengikat perjanjian dengan Adam dan Airy untuk membantunya menyatukan kelurganya yang pernah terpecah belah karena satu orang yang memiliki dendam masa lalu.
***
Adam dan Airy menyampaikan pesan Chen dengan baik kepada Yusuf dan juga Aisyah serta Gwen. Hadiah juga sudah terima oleh mereka berdua. Tidak ada yang perlu di ragukan lagi, Chen memang benar anak kandung Yusuf dan Rebecca yang diculik oleh Cindy.
Namun, Gwen menyarankan untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Chen. Meski dirinya ingin sekali bertemu lagi dengan Chen, tetap saja keinginannya tak mungkin bisa terpenuhi.
Saking bahagianya Yusuf, ia juga menelpon Rebecca dan memberitahunya tentang Chen, putranya yang diculik oleh Cindy. Pesan Chen kepada Adam dan Airy juga disampaikan oleh Rebecca.
"Kenapa? Apa Cindy mengancamnya?" tanya Rebecca.
"Tidak, Re. Memang Chen yang ingin menangani hal itu sendiri. Bersabarlah, putramu pasti akan kembali," jawab Airy.
"Lalu, apa yang dia katakan lagi, Kak?" tanya Rebecca tak mampu mengontrol emosi bahagianya. "Tunggu, namanya siapa? Chena?"
"Iya, kenapa?" tanya Airy.
"Aku tutup dulu telponnya, Kak. Aku janji aku tidak akan mengganggu misinya. Tapi aku memang harus sendiri dulu, assalamu'alaikum!"
Rebecca menutup telponnya. Kemudian mengucap syukur, di lanjut dengan teriakan yang membuat hatinya lega. Rupanya, Chen anak berkulit putih dan memakai softlens adalah putranya yang diculik. Betapa bahagianya Rebecca kala itu.
"Aisyah," panggil Gwen.
"Sudah aku sering hilang. Panggil aku kakak, aku ini jauh lebih tua darimu, Gwen!" tegas Aisyah.
"Kita hanya selisih 2 menit, Aisyah Markoyah koyah," ledek Gwen.
"Besok aku akan mengajarimu sopan santun. Ayah dan Ibu sudah menyerahkanmu kepadaku. Jadi, jangan harap kau akan menerima ampunan dariku, Gwen!" hardik Aisyah.
Aisyah mendorong Gwen keluar dari kamarnya. Ia juga mengancam Gwen, jika Gwen besok tak bisa belajar apa itu sopan santun, maka Aisyah akan menghukum Gwen dengan mengurangi jatah makannya selama seminggu dan juga akan mengurangi pembayaran setiap waktunya ketika Gwen belajar.
"Kenapa kau sejahat ini, haha?" kesal Gwen.
"Jika kamu tahu sopan santun, aku juga tidak akan memotong upah itu. Mau bagaimanapun juga, aku tetaplah kakakmu. Kamu harus memanggilku kakak, Gwen!" tegas Aisyah.
"Nggak asik!" keluh Gwen keluar dari kamar Aisyah dan masuk ke kamarnya sendiri.
"Chen? Akhirnya kamu omong juga," sambut Cindy dengan amarahnya. "Ayo sini, kamu harus Ibu hukum!" bentaknya.
"Dia orang jahat, dia yang memisahkan aku dengan keluargaku sendiri. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan membuatnya tetap tinggal di sini. Tapi, aku akan membuat hidupnya seperti di neraka." batin Chen mengepalkan tangannya.
"Chen, apa kau tuli? Sudah ibu katakan, ikut denganku dan kau harus menjalani hukuman dariku!"
Cindy menarik paksa lengan Chen. Chen tidak meronta maupun melawan. Ia pasrah karena dirinya tahu, Tuan Wang akan datang di waktu yang bersamaan.
"Nyonya Wang, Tuan datang--" ucap pelayan rumah dengan gemetar.
"Apa ini? Mengapa kau menarik lengan putraku?" suara Wang terdengar sangat keras. Sehingga membuat Cindy ketakutan.
Sorong mata yang tajam dan tubuhnya yang gagah membuat Cinta tak bisa berkutik. Cindy tahun jika suaminya sedang marah. Tak ingin menambah situasi semakin rumit, Cindy melepaskan lengan Chen dan meloloskannya untuk hari ini.
"Chen, kemarilah!" tegas Tuan Wang.
"Baik, Tuan Wang," jawab Chen mendekat kepada Tuan Wang.
"Apa? Katakan sekali lagi, Chen," sulut Tuan Wang.
"T-team Wang--"
Begitu mendengar Chen memanggilnya dengan sebutan Tuan, membuat Tuan Wang kembali menatap Cindy dengan tatapan pembunuh. Aura pembunuh terasa sangat pekat di ruangan tersebut.
"Aku ini ayahmu, Chen. Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu? Apakah, kau bosan dengan ayahmu ini?" Tuan Wang memperlakukan Chen dengan baik.
Kasih sayangnya tak perlu di ragukan lagi. Namun, semua itu karena Chen yang mampu mewarisi klan nya. Seolah, Tuan Wang tidak tulus kepadanya.
"Ibu yang memintaku untuk memanggilmu Tuan. Sebab, akulah bukan anak kandungmu, Tuan Wang. Ibu mengatakan, jika aku harus tahu balas budi dan menuruti semua keinginan anda," Chen mulai beraksi. Ia akan membuat Cindy tidak betah tinggal di rumah itu.
"Apa itu beneran, Cindy?" mata Tuan Wang kembali menatapnya dengan tajam.
Tubuh Cindy gemetar, lemas dan tak bertenaga. Ia bersimpuh dan memohon ampun. Jika yang dikatakan Chen adalah kebohongan.
"Tuan, anda tau benar. Saya sangat menghormati Tuan. Mana mungkin saya mengatakan hal yang seharusnya tak pernah aku katakan kepada Tuan," ucap Cindy memelas.
"Ayah … maksudku, Tuan Wang. Apakah aku pernah berkata bohong kepada anda, Tuan? Anda sangat menyayangiku, setelah aku tahu kalau anda ternyata bukan Ayah kandungku … mana mungkin saya berani berbohong padamu, Tuan?" Chen berakting sangat hebat. Ia mampu membuat Tuan Wang percaya bahwa dirinya lah yang tertindas.
Hari itu juga, Tuan Wang membawa Cindy ke ruang bawah tanah dan memasukkannya kedalam penjara untuk beberapa hari agar merenungi kesalahannya. Tuan Wang mengajak Chen ke rapat penting untuk di biasakan sebagai Tuan Muda Wang karena dirinya adalah calon penerusnya.
"Tuan, saya tidak bersalah!"
"Tolong lepaskan saya, Tuan! Saya tidak pernah mengatakan apapun kepada Chen. Tolong lepaskan saya!"
Percuma saja Cindy berteriak memohon dan meminta Tuan Wang untuk mengeluarkannya dari penjara. Sebab, mereka tidak akan pernah mendengarnya karena penjara bawah tanah itu kedap suara.
"Chen, aku merawatmu dan menyayangimu seperti anakku sendiri. Mengapa kamu tega seperti ini kepadaku?" gumamnya.
"Siapa yang kau temui beberapa hari ini? Aku pastikan, kau akan menderita hidup di sini. Kamu mengibarkan bendera perang kepadaku, dan kamu juga akan mendapatkan balasanku, Chen!"
Rupanya, Tuan Wang dan juga Chen mendengar ucapan Cindy tersebut dan mengatakan bahwa Cindy sudah berubah. Chen juga mengatakan, Cindy hanya ingin menikah dengan Tuan Wang karena harta saja. Cindy juga menyarankan agar Tuan Wang mencari istri baru yang jauh lebih muda dan lebih baik dari Cindy.
"Kenapa kau dan Ibumu tiba-tiba bertikai seperti ini anakku?" tanya Tuan Wang.
"Ayah, ketika aku mengetahui bahwa Ibu bukanlah Ibu kandungku, sifatnya sudah berubah. Aku juga pernah mendengar Ibu mengatakan, menikahi Ayah hanya karena dia kabur dari masa lalu yang sangat memalukan karena dia telah menculik seorang bayi dari dari keluarga kandungnya," papar Chen.
"Apa … Ayah tidakkah nama Ayah akan tercoreng dengan wanita seperti Ibu ini? Yang menutupi masa lalunya dan juga menggaruk kekayaan Ayah saja?"
"Lebih baik, Ayah menikah kembali. Sekalipun Aku tidak memiliki ibu kandung , aku bisa memiliki Ibu angkat atau ibu tiri yang sangat baik padaku Ayah. Maafkan atas kelancanganku ini." tukas Chen.
Tuan Wang mengangguk-angguk mengerti. Kemudian segera mengajak Chen untuk bergegas pergi dari penjara bawah tanah dan mengajaknya ke rapat penting tersebut. Begitulah hari-hari yang dilakukan oleh Chen untuk Cindy. Ia selalu membuat Cindy di hukum dan menjadikannya kambing hitam.
Di lain tempat, perpisahan yang diungkapkan Willy kepada Rebecca telah membuahkan hasil. Setelah resmi berpisah, Willy segera menikahi kekasih hati nya yang selama hampir 4 tahun sudah menunggunya hari itu. Kebebasan juga diraih oleh Willy, ia memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri dan memulai pekerjaan barunya.
Begitu juga dengan Rebecca yang fokus ke pekerjaannya dan akan kembali setelah masa idahnya selesai. Sesekali, Yusuf juga mengunjungi Rebecca ke Australia hanya demi Aisyah yang merindukannya. Sebab, setelah Gwen tinggal bersama dengan Yusuf dan Aisyah, ia tidak pernah merindukan Rebecca di sana.
4 bulan berlalu, Rebecca kembali ke Jogja dan menemui Yusuf di restorannya. Melihat Yusuf sibuk dengan pekerjaannya, membuat Rebecca ingin sekali menggodanya.
"Mas, nikah yuk!" bisik Rebecca dengan memeluk Yusuf dari belakang.
"Astaghfirullah hal'adzim, kita bukan mahram, Rebecca. Kita tidak boleh bersentuhan seperti ini," tepis Yusuf.
"Jahat, ditepis loh tanganku. Ya udah, kalau gitu aku mau cari pria lain saja!" Rebecca kesal.
Yusuf tersenyum, ia pun menyentuh hidung Rebecca dengan adonan tepung yang masih menempel di tangannya. Terjadilah keromantisan seperti waktu lalu yang sangat indah.
Aisyah dan Gwen bahagia melihat kedua orang tuanya bahagia. Mereka hanya ingin berkumpul dan memiliki keluarga yang lengkap seperti keluarga pada umumnya. Akhirnya, kedua orang tuanya bisa kembali bersama dan mereka tidak akan terpisah lagi.
Namun, misi mereka belum selesai. Kakaknya masih ada di luar sana. Misi berikutnya adalah membawa kakaknya kembali dan berkumpul bersama. Aisyah dan Gwen bergandengan tangan, menyambut misi itu ketika kelak mereka tumbuh dewasa.
Next akan menuju dewasa.
Mohon yang belum rate, kasih rate dungs. Rate aku anjlok drastis. Biar aku semakin semangat untuk up. Terima kasih 😘🥰