
Malam di rumah Aisyah, ia sedang menunggu suaminya pulang. Diketahui, Dishi sejak pagi memang berangkat ke suatu tempat, menjalankan tugas dari Chen. Cindy berhasil keluar dari penjara, entah bagaimana caranya, di bebaskan oleh Jackson Lim. Mereka berdua diketahui sudah sampai Korea.
Ditakutkan oleh Chen, jika mereka menargetkan Aisyah dan membuat Aisyah kembali terluka setelah kehilangan Ilkay. Malam semakin larut. Dishi belum juga pulang ke rumah, membuat Aisyah semakin khawatir.
Ketika Aisyah baru saja hampir terlelap, suara bel pintu berbunyi. Jika bel dibunyikan, itu pertanda bukan Dishi yang datang.
Ting, tong ....
Segera Aisyah membuka pintu dan menemui siapa yang datang di tengah malam seperti itu. Rupanya, yang datang adalah Ayden. Ia datang juga bersama dengan Tuan Jin dengan membawakan beberapa camilan untuknya.
"Assallamu'alaikum,"salam Ayden.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh. Oppa, Tuan Jin ... kalian datang semalam ini, ada keperluan apa?"
"Beberapa menit lalu, aku menerima telpon dari suamimu. Dia akan pulang terlambat dan memintaku untuk menjagamu. Jadi, karena aku tidak ingin sendirian menjagamu, maka aku mengajak Tuan Jin. Ngomong-ngomong, dia adalah rekan bisnisku sejak beberapa hari yang lalu," jelas Ayden panjang kali lebar.
Masih dengan perasaan aneh, Aisyah hanya mengangguk-angguk saja dan segera mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. Yang Aisyah herankan lagi, Dishi malah meminta Ayden datang ke rumah, bukan malah menghubunginya.
"Ada apa ini? Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Apa ada masalah yang serius yang tidak boleh aku ketahui?" gumam Aisyah dalam hati.
Meski Aisyah memiliki teman mengobrol, sama saja baginya. Tetap sepi tanpa kehadiran sang suami di sampingnya. Sudah sejak beberapa hari lalu, Aisyah memiliki firasat yang tidak baik.
"Ai, sudah hampir jam dua dini hari. Sebaiknya kau tidur. Tenang saja, suamimu pasti akan pulang setelah ini," perintah Ayden.
"Aku belum mengantuk," jawab Aisyah.
"Nona Aisyah, sebenarnya ... kami mendapat telpon dari suami Anda_"
"Apa maksudnya kami?" sela Aisyah.
Ternyata, Dishi tidak hanya meminta tolong kepada Ayden saja. Dishi rupanya juga menghubungi Tuan Jin untuk mengamati Aisyah selam ia pergi. Sebab, memang Tuan Jin terlanjut terlibat dalam masalah Catherine, jadi kuasa Tuan Jin juga akan berguna untuk melindungi Aisyah.
"Kenapa suamiku menghubungi kalian berdua, bukan aku?" Aisyah mulai khawatir.
Hingga menjelang pagi dan Aisyah sampai sudah menunaikan ibadah salat subuh, Dishi belum juga pulang. Segara Aisyah ke dapur, memasak untuk Ayden dan juga Tuan Jin.
"Mereka belum bangun, kah?" gumam Aisyah menengok ke arah kamar bekas Ilkay yang dipakai tidur oleh Ayden dan Tuan Jin.
Aisyah kembali membuka ponselnya. Belum juga ada notifikasi dari sang suami. Membuat pikirannya semakin banyak menduga-duga karena suaminya belum pulang.
"Kenapa juga kamu belum kasih kabar ke aku, Dishi? Kuharap, semuanya akan baik-baik saja," ucap Aisyah dalam hati.
Meski menjadi istri dari adik Tuannya, tetap saja Dishi tidak lalai akan tugasnya dari Chen. Dishi sangat profesional dalam bekerja. Bukan hanya itu, Dishi sangat mencintai keluarga dari istrinya itu, ia setia dengan keluarga Wang dan selamanya akan mengabdi kepada keluarga tersebut.
"Apa kalian mendapat kabar lagi dari suamiku?" tanya Aisyah di tengah-tengah keheningan.
Ayden dan Tuan Jin menggeleng. Memang meraka belum menerima arahan lagi dari Dishi. Mengingat tentang keluarnya Cindy dari penjara, Tuan Jin hendak jujur kepada Aisyah. Namun, niatnya di gagalkan oleh Ayden.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian saling menatap?" tanya Aisyah curiga.
"Tidak! Kami hanya sedang bicara lewat batin saja," jawab Ayden mencoba melawak.
Aisyah masih murung saja. Ia sampai makan tidak lahap karena terus memikirkan Dishi yang belum kembali. Pernikahannya belum lama, bahkan belum genap tiga bulan, Dishi sudah harus dihadapkan oleh pekerjaan yang memiliki tanggung jawab berat dari Chen.
"Nona Aisyah, andai kamu tau. Suamimu bertaruh nyawa menggantikan dirimu sebagai tawanan geng hitam. Pasti kamu akan bertindak cepat kemarin," gumam Tuan Jin dalam hati.
"Sayangnya, aku sudah berjanji untuk tidak mengatakan ini kepadamu. Jangankan jujur dengan hal seperti ini, jujur kepada diriku bahwa aku mencintaimu saja ... aku tidak bisa," lanjutnya menikmati kopi yang di seduh oleh Aisyah.
Sejak pandangan pertama, Tuan Jin memang telah jatuh cinta kepada Aisyah. Hari dimana Aisyah mendaftarkan Ilkay sekolah dan saat itu Aisyah belum menikah. Itu mengapa, Tuan Jin selalu membantu Aisyah dalam menghadapi masalah apapun. Sampai ia melindungi Aisyah dari penusukan waktu Chaterine menyekap Ilkay dua bulan lalu.
Ketika berada di panti asuhan, Tuan Jin cemburu melihat Aisyah dan juga Dishi berciuman di samping bangunan panti asuhan 1 bulan yang lalu. Itu sebabnya, Tuan Jin memundurkan langkahnya dan segera pergi. Hatinya sakit melihat wanita yang dicintainya bermesraan dengan pria, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Tuan Jin adalah pria yang sangat baik. Meski dirinya mencintai Aisyah, tidak nekat untuk merebutnya dari suaminya. Ia juga tidak berusaha menunjukkan perasaannya karena tidak ingin hubungan pertemanannya dengan Aisyah sampai rusak.
Melihat Aisyah bahagia sudah bisa membuat Tuan Jin ikut tersenyum. Sebab, jika dipaksa pun juga tidak akan pernah bisa, karena diantara dirinya dan Aisyah ada dua benteng tinggi yang tak mungkin Tuan Jin mampu lewati.
Dua dinding itu adalah agama dan juga statusnya saat itu. Yakni, seorang istri. Jadi, Tuan Jin hanya bisa tersenyum dan merelakan cintanya pergi, dengan harapan akan mendapatkan cinta lain di masa depan.
"Aku dan Tuan Jin akan mengantarmu sampai ke kampus. Bukankah kau sebentar lagi akan magang? Bagaimana, apakah sudah ada rumah sakit yang direkomendasikan untukmu?" Ayden mencoba menggoda Asiyah.
"Oppa, magangku masih lama. Ada apa denganmu? Tidak lucu!" ketus Aisyah.
Tuan Jin menyenggol bahu Ayden. Memang sulit membuat Aisyah tersenyum kembali jika sudah memiliki mood yang buruk.
"Nona Aisyah, bagaimana jika hari ini ke kampus bersama Bora? Aku akan menghubungi dia jika Anda mau," usul Tuan Jin.
"Pagi ini dia tidak masuk kuliah. Katanya ada kencan yang menunggunya. Jadi aku akan berangkat sendirian saja," jawab Aisyah.
Tawaran demi tawaran yang diberikan oleh Ayden dan Tuan Jin di tolak oleh Aisyah. Memang sangat sulit membujuknya. Hati dan pikiran Aisyah begitu tidak tenang sampai dirinya enggan berangkat kuliah.
Ikatan cinta antara Aisyah dan Dishi sangat kuat. Di waktu itu juga, Dishi sedang di siksa oleh Jackson Lim, demi sebuah informasi tentang dokumen rahasia milik keluarga Lim yang memang Gwen berikan kepada Dishi untuk di jaga.
Apakah Aisyah akan segera mengetahuinya? Atau akan hal lain yang terjadi?
Konflik makin berat ya, kak. Dimana si kembar akan menjalani misi terakhir mereka nanti. Jangan lupa komentar yang membangun, saran oke, tapi jangan memberi ktirik tanpa solusi. Terima kasih.