
Seminggu berlalu, baik luka Lin Aurora, Dishi maupun Cindy pasti juga sudah membaik. Dalam waktu seminggu, Chen meninggalkan Lin Aurora bertugas di luar Kota. Ia ada pekerjaan yang tidak bisa membawa Lin Aurora bersamanya.
Malam itu, Lin Aurora mengetahui jika suaminya akan pulang. Ia memasak kesukaan Chen dan juga memberi kejutan lain di kamar untuk suaminya.
"Aku akan menghiasnya lagi. Ini sepertinya masih kurang menarik," gumam Lin Aurora semangat.
Nyonya Wang sampai tertawa melihat menantunya bersikap seperti anak kecil yang hendak menyambut Ayahnya pulang.
Di perjalanan pulang, tepat di lampu merah ada seorang anak yang menjual bunga mawar merah. Anak itu menawarkan bunga kepada Jovan, Jovan pun membeli semuanya dan memberikannya kepada Chen.
"Aku akan membunuhmu jika kau memberikan bunga ini ada maksud terselubung!" tegas Chen.
Tatapan waspada dari mata Chen itu membuat Jovan tertawa terpingkal-pingkal. "Aku masih normal, Chen," ucapnya.
"Lalu maksudnya apa kamu memberiku bunga seperti ini? Mana banyak banget lagi, bau pula! Tidak suka aku!" ketus Chen langsung menolak.
"Astaga, ini untuk istrimu," ucap Jovan memberikan bunga itu kembali.
Chen menyipitkan matanya. "Kau suka dan istriku?" tanyanya.
"Mana ada?" elak Jovan langsung.
"Ini buktinya apa? Kau memberi istriku bunga mawar merah. Bukankah itu tandanya kalau kau ada perasaan dengannya? Kau sudah bosan hidup, kah?" sulut Chen.
Jovan menjelaskan kepda Chen untuk memberikan bunga tersebut kepada Lin Aurora. Sebelumnya, Jovan juga sudah mengingatkan Chen untuk membeli perhiasan dan juga mantel untuk Lin Aurora. Meski sedikit kesal karena terus diatur, Chen tetap saja menurut dan menerima saran dari sepupunya itu.
****
***
Sesampainya di rumah, Chen membawa buket bunga, mantel dan perhiasan yang ia beli masuk ke kamarnya. Ketika hendak membuka pintu,Chen berhenti sejenak.
"Apa ini? Namanya pemborosan, berlian yang aku beli untuknya juga tidak murah. Apalagi ini bunga! Bunga begini saja harganya mahal?" gerutunya.
Tak ingin kesal karena mengingat uangnya berkurang, Chen pun masuk dan terkejut melihat kamarnya dihias indah oleh Lin Aurora.
"Selamat pulang kembali," sambut Lin Aurora, sudah cantik mengenakan dress berwarna biru muda.
Chen melihat sekeliling. Ia melihat semuanya tertata dengan rapi. Memang tidak langsung memuji, tapi raut wajah Chen menunjukkan jika dirinya menyukai hiasan kamar tersebut.
"Apa ini?" tanya Chen. "Apa kau ulang tahun?" tanyanya lagi.
Lin Aurora tersenyum. Ia meminta Chen untuk duduk dan meminta Chen untuk makanan yang ia masak sendiri.
"Apa ada yang ulang tahun? Apa hari ini ulang tahunmu?' tanya Chen kepada istrinya.
"Bukan," jawab Lin Aurora menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa ...?"
Lin Aurora mengatakan jika dirinya sengaja membuat kejutan itu untuk menyambut kepulangan Chen yang sudah satu minggu di luar Kota meninggalkan dirinya.
"Cobalah ...,"
Lin Aurora menyodorkan makanan yang ia masak. Setelah itu, Lin Aurora juga mengatakan jika dirinya sudah mulai melakukan kegiatan di kantor.
"Bagaimana rasanya?" tanya Lin aurora penuh harap.
"Lumayan? Apakah tidak enak? Jika tidak ... sebaiknya jangan dimakan,"Lin Aurora nampak murung jadinya.
Melihat istrinya murung,membuat Chen merasa bersalah. Dia pun mencari alasan lain supaya tidak menurunkan gengsinya. "Lumayan bukan berarti tidak bisa dimakan. Enak, tapi belum istimewa. Apa revisiku diterima?"
Mendengar ucapan Chen,membuat Lin Aurora sedikit terhibur. Bagi Chen lumayan, tapi ia makan begitu lahap dan hampir habis. Chen masih melihat istrinya murung. Kemudian baru ingat jika dia telah menghabiskan uang untuk membelikan hadiah untuk Lin Aurora.
"Nih, aku ada oleh-oleh untukmu," ucap Chen memberikan buket bunga tersebut.
"Ah, aku sudah melihatnya. Apa ini untukku? Kamu yang belikan untukku?" t raut wajah lin Aurora seketika menjadi berubah.
"Jovan yang membeli, aku yang membayarnya. Sangat merepotkan!" jawab Chen ketus.
"Sama saja, itu kamu yang membelikan untukku. Terima kasih, aku sangat menyukainya," ucap Lin Aurora girang.
"Hm--"
Teringat kembali, jika Chen masih ada barang yang beli lagi untuk istrinya. Dia pun memberikan tas besar yang berisikan mantel cantik dan juga berlian.
"Wah apa ini? Ada lagi?" Lin Auora begitu senang menerima barang pemberian dari suaminya.
Segera ia membuka pemberian dari suaminya itu. Betapa senangnya Lin Aurora mendapatkan hal yang semua wanita idamkan. Suami pulang memberikan kejutan dan itu sudah sangat membuat Lin Aurora bersyukur.
"Chen, mantel ini sangat cantik. Aku suka sekali, warnanya sangat cocok dan aku suka warna ini," celetuk Lin Aurora.
"Apa ini? Perhiasan?" sambungnya menyentuh kotak perhiasan berwarna hitam tersebut.
"Kalung? Wah ... liontinnya begitu indah. Ini Bentuk matahari. Chen, aku sangat menyukainya, terima kasih. Aku sangat menyukaimu!" sorak Lin Aurora tiba-tiba memeluk dan kecupan di pipi Chen.
Pelukan dan kecupan itu membuat Chen terkejut. Ia sedang asik makan dan tiba-tiba istrinya menjadi aktif. Bahkan Lin Aurora mencoba mantel tersebut dan berkaca.
"Lihatlah, bagaimana penampilanku, Chen? Apa aku terlihat bagus mengenakan mantel ini?" celetuk Lin Aurora terus berkaca dan bergaya di depan cermin.
Sedangkan Chen masih terpana degan Lin Aurora mengenakan mantel tersbut dan kecupan sebelumnya.
"Udara memang sangat dingin sekali. Ini hadiah yang cocok sekali. Bagaimana jika kita besok jalan-jalan?" usul Lin Aurora kembali duduk di sampin Chen.
Chen langsung tersadar dan berusaha untuk bersikap biasa. Kemudian melanjutkan makannya dan mengangguk menyanggupi ajakan Lin Aurora.
"Yeay! Terima kasih, Chen!" seru Lin Aurora girang.
"Jovan yang membelikan untukmu, jangan percaya diri dulu!" ketus Chen pergi ke kamar mandi setelah selesai makan.
Meski Chen mengatakan jika itu adalah pemberian Jovan, tetap saja Lin Aurora sangat menyukainya, karena yang membayar semua itu adalah Chen sendiri. Tak sengaja, Lin Aurora melihat tagihan yang ada di tas Chen yang saat itu tal sengaja terbuka.
"Wah, baju dan berlian itu rupanya sangat mahal. Bahkan, Ayah saja belum pernah memberikan barang semahal ini. Benarkah ini hanya akrena Jovan?" gumam Lin Aurora.
Meski malam itu tidak bermesraan, tetap saja Lin Aurora senang karena Chen tidak menolak kejutan darinya. Chen juga menghabiskan semua makanan yang Lin Aurora masak meski dirinya sudah makan sebelum pulang.
"Kenapa belum tidur?" tanya Chen kepada Lin Aurora yang sedari merebahkan tubuh, belum juga memejamkan matanya.
"Aku sangat senang dengan hadiah yang kamu berikan. Jadi, aku belum bisa tidur. Belum lagi, kamu menyetujui untuk jalan-jalan denganku besok. Terima kasih, Chen," jawab Lin Aurora dengan senyumannya.
"Tidurlah, aku sudah lelah." sahut Chen memalingkan tubuhnya dan membelakangi Lin Aurora. Ia masih bingung saja mengapa dirinya begitu murah hati dengan istirnya.