Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ketika Hati Telah Pasrah



Di luar, Syifa terus mengumpat tentang Gwen. Ia tidak menyangka jika pria yang mulai ia sukai bisa menikah dengan Gwen. "Kenapa mencintai Ustadz Agam begitu sakit? Apa kesalahanku waktu itu sangat fatal?" gumamnya. 


"Tapi, apa salahku? Aku hanya belum siap menikah, makanya aku kabur lah!" serunya masih tidak sadar diri. 


Ketika Syifa terus meracau, lewatlah Ustadz Khalid yang waktu itu baru saja pulang dari rumah Agam dan Gwen. "Assalamu'alaikum, Dek Syifa, ya?" sapa Ustadz Khalid. 


"Wa'alaikumsallam, Ustadz. Em, Ustadz dari masjid, kah?" Syifa menjawab sapaan Ustadz Khalid seraya bertanya. 


"Tidak, saya dari aulia utama. Kamu … baru dari rumahnya Agam?" 


Syifa mengangguk. Ustadz Khalid tidak mengatakan yang lain kecuali, ia ingin Syifa kurang-kurangi mengunjungi Agam karena yang di kunjungi sudah memiliki keluarga. Ustadz Khalid tau betul masa lalu diantara keluarga pesantren dan keluarga Syifa. 


"Jadi, saya mohon untuk kamu jangan terlalu sering datang ke rumah, ya?" tutur Ustadz Khalid. 


Syifa mengepalkan tangannya. "Saya akan coba untuk tidak sering datang, Ustadz," ucapnya dengan hati kesal. 


"Tapi, jika boleh tahu. Wanita seperti apa yang Ustadz Agam nikahi itu? Kenapa saya merasa jika wanita itu tidak baik?" kembali Syifa ingin memprovokasi Ustadz Khalid. 


"Saya dengar dari Abi, jika kakaknya lah yang membuat istri Ustadz meninggalkan?" sambungnya dengan harapan Ustadz Khalid ada di pihaknya. 


Ustadz Khalid tercengang. Pernikahannya dengan sang istri memang dilandasi dengan perjodohan. Namun, istrinya saat itu tengah mengandung buah hatinya, sehingga membuatnya terluka kala kepergian sang istri. 


"Kenapa Ustadz tidak memenjarakan, kakak iparnya Ustadz Agam itu?" Syifa benar-benar ingin membuat peperangan dengan memanfaatkan Ustadz Khalid. 


Tak peduli bagaimana tanggapan Ustadz Khalid, Syifa terus memprovokasinya dengan dalih kecelakaan yang terjadi sekitar lebih sebulan yang lalu. 


"Saya tidak bisa menyalahkan Aisyah. Sebab, dia juga terluka sampai hilang ingatan waktu itu. Semua ini sudah takdir, permisi Dek, saya mau kembali dulu, Assalamu'alaikum," dengan wajah murungnya, Ustadz Khalid meninggalkan Syifa yang masih dibaluti rasa kesalnya. 


Syifa ingin menghentikan langkah Ustadz Khalid. Namun, tidak mungkin baginya langsung mendesak untuk menghukum Gwen saat itu. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Sial! Kenapa dia tidak terpancing emosi, sih?" umpatnya dalam hati. 


Hal yang dilakukan Syifa ini sudah masuk dalam kategori dengki. Apa itu dengki? Dengki atau hasad dapat diartikan sebagai kebencian terhadap nikmat yang ada pada diri orang lain dan berharap agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut. Pengertian lain tentang hasad adalah seseorang menginginkan hilangnya kesenangan (nikmat) yang dimiliki orang lain dan berusaha memindahkannya kepada dirinya.


"Aku ingin Gwen pergi dari pesantren ini. Tapi, aku lihat Ustadz Agam juga sudah mulai mencintainya,"


"Lalu, aku harus apa?"


Syifa berlalu pergi. Sifat itu sudah menjadi karakter, sulit untuk di ubah meski memiliki latar belakang keluarga yang mendukung. Sebab, sifat itu sudah dibentuk sejak dirinya kecil oleh lingkungan atau orang tuanya sendiri. Sulit baginya untuk menghilangkan sifat buruk itu, jika tidak ada niatan untuk merubahnya.


Cobaan berumahtangga itu tetap tidak akan habisnya sampai Tuhan memisahkan kedua pasangannya. Akan selalu ada cobaan dengan segala bentuk untuk mendapatkan nikmat Tuhan.


Malam setelah makan, Puspa bergegas masuk ke kamarnya. Ia sengaja menghindari Chen agar tidak terus ditanyai kapan dirinya akan menerima lamarannya itu. Di kamar, ia menelpon Aisyah kembali untuk meminta saran hang telat agar tidak salah langkah. 


"Aisyah, kakakmu hanya memberikanku waktu 24 jam. Bagaimana cara aku memutuskannya?" tanya Puspa lewat telpon. 


"Ini semua karena Abi sudah ingin kamu menikah, Puspa. Kamu akan di jodohkan dengan Mas Ijal jika kamu menolak lamaran Kak Chen. Itu yang aku dapat informasinya dari Ayahku,"


"Astaghfirullah, Mas Ijal siapa? Mas Ijal tetanggaku?" tanya Puspa terkejut. 


"Iya, Mas Ijal yang baru pulang dari Lampung itu. Pagi tadi, setelah Ayah mendapat telpon dari Kak Chen, beliau langsung memanggil Abi. Eh, aku dengar dong, kalau kamu akan di jodohkan dengan Mas Ijal,"


"Jadi, meskipun aku menolak kakakmu, aku tidak akan bersama dengan Mas Tama?" tanya Puspa kecewa. 


"Aku pikir begitu. Tapi sepertinya, ini hanya untuk gertakan saja. Kamu tenanglah, aku akan membantumu menggagalkan perjodohan itu tanpa harus menerima lamaran kakakku,"


Hati Puspa semakin getir. Tangannya semakin jauh untuk bisa meraih seseorang yang pernah ada dalam hatinya. Tak terasa, air mata mulai menetes. Tak tahu lagi dengan Abi-nya yang selalu mengatur akan kehidupannya. 


Beruntung, ia memiliki sahabat baik seperti Aisyah dan Gwen yang selalu ada untuknya. Aisyah menyarankan untuk tetap tinggal di sana dalam waktu 10 hari. Jika hatinya Puspa masih ada untuk Tama, Aisyah akan membantunya bicara dengan Abinya dan juga Chen. 


"Akan tetapi, jika dalam waktu 10 hari kamu malah jatuh hati sama Kak Chen. Keputusan apapun yang kamu ambil, yakinlah! Kakakku adalah pria yang bertanggung jawab, Puspa,"


Aisyah juga mengatakan, bahwa Chen tidak pernah main-main dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aisyah juga berharap Puspa dapat membawa Chen kejalan yang Allah ridhoi. Kembali kepelukan keyakinan yang ia bawa sejak lahir. 


Puspa bukanlah gadis yang akan memikirkan semuanya dalam waktu singkat. Ia akan mempertimbangkan apa yang Aisyah sarankan kepadanya. 10 hari bukan waktu yang lama dan bukan waktu yang singkat. 


Di samping itu, Puspa akan mendapatkan uang untuk bisa pulang sendiri tanpa harus menyetujui lamaran Chen. "Aku harus bagaimana? Tapi jika dipikir-pikir, Tuan Chen ini juga tidak buruk juga," gumamnya. 


"Ide yang Aisyah berikan ini adalah ide yang paling cemerlang. Aku akan mengetahui perasaanku yang sebenarnya jika aku memilih tinggal di sini selama sepuluh hari lagi," Puspa kembali bergumam.


"Aku akan mendapatkan pahala karena Tuan Chen menjadi mualaf dalam naunganku. Lalu, aku akan anggap bonus jika aku memang bisa memastikan, aku telah jatuh cinta pada pria angkuh ini," 


"MasyaAllah, Tuan Chen. Kamu ini sebenarnya orang yang seperti apa? Di sisi lain, kamu selalu merendahkan aku karena hartamu, di sisi lain, kamu melindungiku karena aku berada di sisimu,"


Puspa mengingat ketika dirinya sedang menjalankan misi dengan Chen di pinggiran Kota waktu pertama kali dirinya datang ke Tiongkok. Merasakan ada sesuatu saat Chen menyentuh kepalanya setelah pergi membeli kepiting dan cumi. 


Belum lagi, Puspa juga tidak sadar mengingat kembali saat mereka jatuh ke bajakan sawah orang lain, sampai mereka bersama saling bergantian membersihkan diri dari lumpur. 


Siapa yang akan bucin lebih dulu? Apakah benar jika Puspa adalah jodoh yang Tuhan siapkan untuk Chen?