Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Sosok Hitam.



Aisyah terpaksa mengantar Syamsir ke toilet yang berada di luar gedung itu, dan tepatnya ada di belakang gedung. Tempat itu menyeramkan sekali. Banyak lumut dan tanaman rambat liar mengitari toilet tersebut. 


"Dokter tunggu kata sini, ye. Aku nak masuk, jangan kau tinggal aku pulak! Ingat tu!" seru Syamsir. 


"Iya, aku akan duduk di sini. Cepatlah!" Aisyah hanya pasrah saja. 


Syamsir masuk ke toilet udang tersebut. Ia terus saja mengumpat karena tempatnya yang kotor tanpa perawatan. 


"Tandas macam ni, poopku boleh keluar kah? Kebenaran apa ini?" umpatnya. 


Sekitar 15 menit berlalu, Syamsir tak kunjung selesai juga buang hajatnya. Aisyah mulai tak nyaman duduk di pinggir sumur itu. Badannya terasa berat, keringat dingin juga mulai keluar dari keningnya. 


"Kenapa jadi begini? Doa di sini manjur nggak, ya?" gumam Aisyah dalam hati. 


Ia terus menerus pundaknya yang berat. Bukan hanya itu saja, kini kepalanya semakin pusing. Di desa itu minim sekali penerangan, jadi terlihat sekali sekeliling gedung itu gelap gulita. 


Hembusan angin di sepertiga malam itu sangat dingin. Suara alam juga menambah membuat bulu kuduk Aisyah merinding. 


"Em, bau ap ... em, wanginya. Kenapa juga harus muncul wewangian seperti ini? Siapa gerangan yang datang in, ya ...." 


Aisyah beranjak dari tepi sumur, perlahan sambil memberanikan diri ia berjalan menuju toilet dan mengetuk pintu yang hanya terbuat dari anyaman bambu itu. 


Tok ... tok ... tok. 


"Bang, sudah belum?" tanya Aisyah dengan lirih. Meski mereka baru saja bertemu, Syamsir memang jauh lebih tua setahun dari dirinya, sehingga Aisyah berinisiatif memanggilnya dengan sebutan 'Abang'. 


"Tunggu sekejap!"


"Itu apa?" gumam Aisyah. 


Aisyah melihat sesosok bayangan hitam, tinggi dan besar menjulang sampai ke atas pohon kelapa. Aisyah mulai ketakutan ia terus mengetuk pintu toilet dan meminta Syamsir untuk segera menyudahi buang hajatnya. 


"Bang Syamsir. Sudah belum? Aku melihat ... aku melihat sesuatu, Bang," bisik Aisyah. 


"Hih, kejap lagi, Dokter. Aku tak bisa terburu-buru ni. Kau nampak ape?" tanya Syamsir.


"Bang, serius ini. Aku masuk dulu, ya--" Aisyah berlari meninggalkan Syamsir. Ia sudah tidak kuat ketakutan sendirian di luar. 


Dengan tubuh yang berat, Aisyah tetap berusaha untuk berlari dan segera menyambung tidurnya. Tak lama setelah itu, Syamsir pun keluar. 


"Alhamdulillah, lega sekali perut ni. Dokter kau ha--" ucapan Syamsir terputus. "Lah, dimana Dokter Aisyah berada?


Ia membuka matanya, mendapati Aisyah sudah tak ada di depan pintu maupun di pinggir sumur. Ia terus mencari dimana keberadaan Aisyah. Sampai dirinya menyadari, bahwa Aisyah sudah meninggalkannya. 


"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa pula dia meninggalkan aku. Aku dah cakap, jangan tinggalkan aku, kenapa pula dia pergi sebelum aku selesai?" gerutunya. 


Sosok besar, hitam dan tinggi itu kembali muncul di hadapan Syamsir. Kala itu, Syamsir masih di tepi sumur karena mencari Aisyah. Ia mengira bahwa Aisyah sedang menggodanya. 


Ketika melihat sosok itu, Syamsir hanya terdiam dengan mulut menganga. Matanya melebar dan tubuhnya kaku tak bisa di gerakkan. 


"Benda apa tu? Kenapa aku tak bisa bersuara ni? Kenapa badan aku kaku pula?" kata Syamsir dalam hati. 


Sosok itu semakin dekat, semakin lebar dan semakin tinggi sampai mungkin di pandangan Syamsir, sosok itu sampai menembus langit. Ia ketakutan setengah mati, namun dia tak bisa berlari karena tubuhnya tiba-tiba saja tak. Bisa di gerakkan. Tak lama kemudian ia pun pingsan di tepi sumur.