
"Apakah ini tidak merepotkan?" tanya Aisyah.
"Tentu saja tidak. Anda bisa mengajak suaminya, lalu Bora juga ikut serta. Kita berikan anak-anak seperti mereka ini kebahagiaan meski hanya dalam waktu satu hari," ajak Tuan Jin.
"Ah, aku setuju! Kapan lagi, Ai? Kita anggap ini sebuah liburan, kau juga bisa kencan dengan suamimu di sana," sahut Bora menggoda Aisyah.
Aisyah kembali diantar oleh Bora dan juga Tuan Jin sampai di depan gedung apartemennya. Bora juga sudah menghubungi Dishi, jika Aisyah akan pulang.
Langkah Aisyah tiba-tiba terhenti saat hendak masuk ke apartemennya. Jantungnya berdesir, suasana hati merasa gelisah dan tidak tenang. Berkali-kali Aisyah istighfar, tetap saja hatinya masih gelisah.
"Ada apa ini? Mengapa … ah, sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya dalam hati.
Saat masuk, Aisyah mendapati rumahnya masih gelap gulita. "Assalamu'alaikum, Dishi?"
"Kenapa gelap sekali? Apakah Dishi sedang keluar? Biasanya juga lampu lain menyala deh!" gumamnya.
Aisyah menyalakan lampunya. Ia masih belum menemukan Dishi di sana. Akan tetapi, saat Aisyah membuka pintu, terlihat banyak sekali bunga dan juga lilin-lilin di sana. Hiasan kamar yang sangat indah, seperti hiasan kamar pengantin.
"MasyaAllah, apa ini?" gumamnya.
"Apa kamu suka?" tiba-tiba Dishi datang dari belakang dan memeluknya.
"Kaget tau! Tapi suka!" seru Aisyah.
Dishi mempererat pelukannya. Dia menempelkan pipinya ke pipi Aisyah, seraya berkata, "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Meski Dishi sudah mulai nakal, Aisyah masih saja malu-malu. Sentuhan tangan Dishi ke perut Aisyah kembali membuat Aisyah terkejut. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup kencang dan mulai timbul rasa gugup.
"Atau, bo-bolehkah aku … Mandi dulu?" Aisyah sampai menelan ludah karena gugupnya.
"Bukankah sebelum pergi tadi, kamu baru saja mandi, Sayangku?" bisikan Dishi itu membuat Aisyah semakin terangsang. Tubuhnya mulai menggeliat, tangannya pun mengepal.
Dishi melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan tubuh sang istri secara perlahan. Kini, mereka saling berhadapan satu sama lain. Aisyah yang masih malu, hanya menunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Sementara Dishi, masih berusaha melihat wajah istrinya kala tersipu.
"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Dishi lirih.
"Malu," jawab Aisyah ragu-ragu.
"Kenapa mesti malu? Bukankah, kita sudah menjadi suami istri?" lanjut Dishi. "Bolehkan, aku membelai wajahmu?" tanyanya.
Dengan pelan, Aisyah mengangguk. Di sentuhnya pipi nan mulus itu dengan tangan Dishi. Di usap dan di belai dengan lembut penuh dengan kasih.
"Kau tau, mencintaimu dirimu itu adalah suatu anugerah yang aku terima. Hadiah paling indah di kehidupan aku ya dapat memilikimu, Aisyah," ungkap Dishi.
"Benarkah?" tanya Aisyah seolah tak percaya.
"Hm… Adikku saat ini telah tiada karena kebakaran itu. Kakak sepupuku juga terbunuh karena menjaga Tuan, putraku satu-satunya telah pergi juga menyusul mereka. Hanya kamu yang aku miliki di dunia ini, Ai. Jadi, demi dirimu, aku akan lakukan apapun supaya tidak bisa membuatku kehilangan dirimu,"
Kini, mereka duduk di depan kaca besar yang bisa langsung melihat pemandangan Kota Seoul dari kamar apartemennya. Di bangku kamar yang panjang itu, Aisyah berada di depan Dishi dan Dishi memeluknya dari belakang. Di sandarkannya kepala Dishi ke bahu sang istri.
"Kota yang sangat indah ketika di malam hari," ucap Aisyah.
"Benar, tapi aku sangat merindukan kampung halamanku. Ai, apakah setelah kau selesai magang nanti, kita akan menetap di sini?" tanya Dishi.
Aisyah terdiam. Ia bahkan bingung hendak menjawab apa. Usaha belajarnya tak ingin sia-sia jika hanya ikut suaminya kembali ke kampung halamannya.
Aisyah tersenyum. "Aku bahkan belum memulai magangnya. Kenapa kita memikirkan sampai sejauh itu, Ail--" menyebut Dishi dengan sebutan Ail membuat raut wajah Aisyah yang sebelumnya tenang, menjadi murung.
Sebagaimana mungkin, Dishi pun menghibur Aisyah. "Sayang, kapan kita rencanakan untuk memberi Ilkay adik?" bisik Dishi.
Bisikan Dishi tepat di telinga Aisyah, membuatnya merasa geli dan kembali mendapat rangsangaan. "Jangan seperti ini, Dishi!"
Dishi meraih selimut besar yang ada di pinggir tanjangnya. Kemudian, menyelimuti tubuhnya dan tubuh istrinya menggunakan selimut tersebut. Aisyah sampai terkejut saat Dishi memeluknya memakai selimut.
"Dishi, apa yang kau lakukan?" tanya Aisyah mulai panik.
"Malam ini, sudah saatnya kita bersatu, bukan?" bisik Dishi.
Sebelum itu, Dishi mematikan lampunya terlebih dahulu. Zaman sudah canggih, hanya memakai remote control, lampu di kamar mereka sudah bisa di matikan.
"Kenapa lampunya di matikan? Dan kenapa hanya nyisa lampu satu saja? Itupun di pojok sana, di sini gelap, Dishi!" protes Aisyah.
"Stt, aku pernah bilang, bukan? Aku ini sangat posesif dan agresif jika sudah mencintai seseorang. Jadi, jika ada penerangan di sini, nanti di dinding sebelah sana akan timbul bayangan dirimu, Ai," ucap Dishi lirih.
"Bahkan, semut, cicak, atau bahkan makhluk lain pun aku tidak rela sampai melihat bayangan dirimu," lanjutnya.
Perlahan, Dishi membuka jilbab yang masih membalut kepala istrinya. Memang sudah menjadi suami istri, tapi Dishi belum pernah melihat Aisyah tidak mengenakan jilbab meski itu baru selesai mandi. Aisyah selalu menyiapkan hairdryer di kamar mandinya.
Pertama kali Aisyah tidak mengenakan jilbab di depan Dishi. Rambut lurusnya membuat Dishi semakin penasaran ketika rambut Aisyah terurai. Di lepaskanlah kuncir rambut istrinya secara perlahan. Dan akhirnya, malam itu Dishi melihat bagaimana istrinya dalam tidak mengenakan jilbab dan rambutnya terurai.
"Ada apa?" tanya Aisyah.
"Sebentar," ucap Dishi. Ia mengambil ponselnya dan menyalakan lampu senternya.
Dibawah sinar senter ponsel, Aisyah memang terlihat manis. Rambut hitam lebatnya, dan wajahnya sepintas mirip dengan Chen. Hingga keromantisan itu hilang seketika, karena Dishi tertawa.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang salah di wajahku?" Aisyah mulai kesal.
"Haha, ternyata jika di lihat dengan seksama dan kamu tidak mengenakan jilbab, kamu sangat mirip dengan Chen. Kupikir, yang mirip sekali itu Nona Gwen, ternyata dirimu, hahaha,"
Tawa Dishi itu membuat Aisyah kesal, Aisyah pun mencubit perut suaminya sampai Dishi meminta ampun. "Ampun, iya, maafkan aku! Hentikan cubitanmu itu, Ai. Kenapa tanganmu begitu tajam?" keluh Dishi.
"Tapi aku baru kali ini melihatmu tidak memakai jilbab. Kenapa kamu menyembunyikan kecantikanmu dariku, Ai? Bukankah kita sudah menikah? Masa iya, selama menikah aku tidak pernah melihat rambutmu," ujar Dishi.
"Pernah tau!" jawab Aisyah.
"Kapan?" tanya Dishi.
"Pokoknya pernah!" Aisyah masih ngotot.
"Iya, Sayang. Kita lanjut, hm? Lihatlah, di sana pasti ada pasangan yang sedang melakukan kiss," Dishi mengalihkan pembicaraan.
"Masa?" Aisyah seolah tidak percaya. "Tentu saja, kau mau tau rasanya kiss di malam hati seperti ini, Ai?" bisik Dishi.
Aisyah menoleh ke arah Dishi, dan di situlah Dishi langsung mencium bibir mungil istrinya. Aisyah membelakkan matanya. Jantungnya berdegup dengan kencang, dengan perlahan Aisyah mulai menutup matanya dan menikmati kiss malam itu bersama dengan Dishi.
Next, *** ***. Kemarin kena tolak jadi aku rombak dulu.