Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Mengirim Xia Belajar



Setelah dirasa Xia mulai tenang, Sachi mulai menanyakan perihal yang terjadi. Xia pun dengan lirih mengatakan apa yang dikatakan oleh Dishi. Sachi sendiri tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Dirinya yang masih kehilangan Lin Aurora saja belum merasa tenang, apalagi ditambah dengan masalah keluarga lain.


Helaan napas panjang Sachi terdengar begitu jelas. "Kamu memang melakukan hal apa? Kenapa sampai Tuan Dishi ingin mengirim kamu ke Amerika. Bukankah, memang selama ini kamu ada di sana? Kenapa juga kamu tidak mau kembali?" Sachi akhirnya bertanya alasannya.


"Di Amerika, ya? Aku tinggal di sana memang sejak kecil. Pulang ke sini hanya ketika libur sekolah saja. Tapi sekarang, aku menemukan cahaya hidupku sendiri, kak. Apa aku tidak boleh hidup sesuai yang aku inginkan?" Xia membuat Sachi bingung.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kamu dan juga keluarga kamu. Tapi Xia, jika boleh aku memberi saran, kamu ikuti saja apa yang dikatakan oleh Tuan Dishi. Bagaimanapun juga, beliau hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu," tutur Sachi.


"I hate everyone. Why can't you ever understand me. I just need some love!"


Tangisan Xia rupanya di dengar oleh Tama. Hati lembutnya tergerak untuk membuat pilihan untuk Xia. Dia pun masuk ke ruang inap Xia, dan meminta Sachi untuk menepi sebentar.


"Kak Tama?"


"Selamat malam, Tuan," sahut Sachi menundukkan kepalanya, memberi hormat.


Tama tersenyum tipis.


Awalnya Sachi ingin pergi dan memberi waktu mereka berdua waktu bicara. Akan tetapi, Tama melarangnya keluar. "Kamu duduk saja di sana, biarkan aku bicara dengan Xia sebentar saja," kata Tama menunjuk sofa.


"Baik, Tuan__"


Tama duduk di kursi sebelah ranjang Xia. Menatap wajah Xia dengan pandangan teduh, kemudian membelai rambut lurus gadis kecilnya itu. "Ada apa?" tanya Tama.


Pertanyaan Tama yang sederhana itu membuat Xia menangis kembali. Reflek, Xia memeluk Tama dengan erat dan menumpahkan air matanya ke dalam pelukan pria yang ia sukai itu.


"Jika kamu masih marah denganku soal tadi, aku minta maaf," kata Tama, menatap langit-langit ruangan. "Tapi perlu kamu ketahui, perasaan yang kamu miliki saat ini terhadapku, itu tidak akan pernah berhasil," lanjutnya.


Ucapan Tama semakin membuat Xia terluka. Belum memulai berlayar, kapalnya sudah tenggelam tanpa adanya nahkoda di dalamnya. Xia hanya bisa nangis dan memukul dada Tama dengan sedikit kuat.


"Aku menyukaimu sejak beberapa Minggu terakhir. Apakah itu salah?" tanya Xia, setelah dirinya tenang.


"Perasaan yang kau miliki saat ini, bukan rasa yang tulus. Kamu merasa aku bisa melindungimu, selalu ada untukku dan juga bisa kau andalkan. Itu sebabnya kamu menyukaiku," terang Tama.


"Xia, jangan sia-siakan masa mudamu, hanya untuk bermain cinta. Sebab cinta bisa merubah segalanya. Terkadang, cinta membuat orang bahagia, tapi cinta juga bisa membuat orang sengsara," sambung Tama dengan menyentuh pipi kecil Xia.


"Pergilah ke Amerika, tuntut ilmu, jadilah orang yang berguna bagi semua orang. Dari satu bulan yang lalu, sampai nanti kamu berusia 18 tahun, walimu tetaplah aku,"


"Ketika aku pergi, dan kamu malah memilih untuk tetap tinggal di sini daripada kembali ke Amerika, apakah kamu juga akan tinggal dengan salah satu sepupuku itu?" tukas Tama, dengan sebuah pertanyaan.


Xia terdiam, mengusap air matanya dan kemudian melepas tangan Tama yang sebelumnya menggenggam tangannya.


"Apakah aku seburuk itu, sehingga Kak Tama tidak mau mempertahankan aku berada disisimu? Kenapa kakak tidak membawa aku pulang saja ke negaramu? Kenapa kakak malah ingin aku kembali ke Amerika dan jauh darimu?" mata Xia kembali berkaca-kaca.


Tak tahan lagi, Tama pun akhirnya memalingkan wajahnya seraya berkata, "Renungkan dan segara putuskan. Aku tidak bisa membawamu pulang bersamaku,"


Setelah itu, Tama pergi lagi. Xia merasa hancur seperti dirinya di tinggal pergi Chen dan orang tuanya sebelumnya. Luka kehilangan keluarganya disembuhkan oleh Tama. Tapi malah penyembuh itulah yang kembali membuka luka lamanya.


"Kak Sachi, aku ingin tidur. Selamat malam__" ucap Xia, menyelimuti tubuhnya sendiri dan tidur miring membelakangi Sachi.


"Selamat istirahat, Xia."


Sachi ikut sedih dengan keputusan Dishi yang akan mengirim Xia ke Amerika. Tapi, Sachi sendiri sadar diri jika dirinya tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadi Xia. Dirinya hanya di undang dan di gaji oleh Dishi untuk menemani Xia. Selebihnya, Sachi hanya diam tak berkutik.


***


Malam semakin larut, Tama duduk di kamarnya dengan memandangi foto kedua orang tuanya. Kerinduan kepada kedua orang tuanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Jatahnya untuk mengurus beberapa perusahaan milik keluarga Wang, juga sudah hampir selesai. Itu sebabnya, dirinya akan digantikan oleh Ayden ataupun Faaz.


"Ibu, Ayah, apa Aku adalah pria yang tidak berperasaan? Anak kecil itu mentalnya sedang terganggu, Dia kehilangan kedua orang tuanya, kakaknya dan juga kasih sayang dari keluarga besar lainnya. Kemudian, yang dia harapkan hanya kasih sayang dariku,"


"Tapi aku malah memintanya untuk kembali ke luar negeri lagi. Apakah aku terlalu jahat, Ayah, Ibu?"


"Tapi perginya ke Amerika itu, juga untuk kebaikannya. Dia pergi ke asrama dan sekolah untuk menuntut ilmu. Kenapa dia harus menangis dan keras kepala untuk tetap tinggal?"


"Ahhh, dewasa sangat melelahkan. Sebaiknya aku segera tidur dan melupakan semuanya dalam mimpiku."


Cinta bagi Tama, adalah hal yang tidak terlalu penting. Dirinya hanya fokus dengan agama dan karirnya saja. Seorang Tama ini, percaya jika jodoh akan datang dengan sendirinya tanpa dicari. Membahagiakan kedua orang tuanya, adalah keinginan terbesarnya. Sebagai anak tunggal, itulah mengapa Tama selalu berpikir jauh sebelum bertindak. Termasuk menjadi walinya Xia.


Mengapa? Sebab, ketika menjadi seorang wali, dirinya bisa belajar lebih apa artinya tanggung jawab. Lalu, jika terjadi sesuatu diantara pasangan wali dan asuhannya ini, atas nama hubungan itu Tama bisa menangkal ada perasaan terhadap Xia.


Dua minggu lagi, Ayden akan sampai ke Tiongkok. Tapi Tama akan pulang dalam waktu lima hari lagi. Di hari tersebut, Dishi juga akan memberanikan diri untuk pulang ke Korea tanpa menunggu waktu 7 minggu lagi.


Kehidupan yang dijalani mereka memang jauh lebih berat dari sebelumnya. Banyak yang tidak berjalan sempurna setelah kepergian Rebecca, Chen dan juga Gwen. Akan tetapi, sebagai penerus dan saudara-saudara yang baik, mereka yang masih hidup tetap akan membuat usaha ketiga orang yang telah mendahuluinya itu tetap berjalan dengan baik.