Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Misi Asmara



Sementara itu, siang di Tiongkok, Chen dan Puspa sudah menyelesaikan dua misi. Misi itu mereka lakukan dengan penuh ketegangan dan perdebatan. 


Misi pertama.


Mereka harus belanja sayuran di pasar tradisional. Keduanya memasuki pasar tradisional dengan masih memakai hoodie couple. 


"Sayur apa saja yang harus kita beli, Tuan?" tanya Puspa. 


"Kau baca sendiri!" ketus Chen memberikan daftarnya. 


Raut wajah Puspa seketika berubah kala melihat daftar belanja yang ditulis oleh Pelayan Mo itu. "Haih, jika Anda ingin mengejek saya, tidak seperti ini caranya, Tuan," ucap Puspa. 


"Maksud kamu apa?" sulit Chen. 


"Maksud, maksud apa? Ini aksara apa? Jika aksara Jawa, saya masih bisa. Ini apa kotak-kotak mleyot begini?" kesal Puspa. 


Chen merebut kertas tersebut dan menyebutkan apa saja yang harus mereka beli. Bagi Chen, misi itu adalah hal konyol yang pernah ia lakukan selama hidupnya. 


"Tuan, Anda mencari apa?" tanya pemilik kedai. 


"Apa ini kedai milik Bibi Zhou?" Chen memastikan dulu bahwa kedai tersebut adalah kedai dibawah keluarga Wang. 


Pemilik dari toko itu tersenyum. "Baiklah, kau pilih beberapa timun untuk dibuat acar. Lalu, aku akan memilih kubis ini," pinta Chen kepada Puspa. 


Mereka mulai memilih sayuran. Pemilik kedai, Bibi Zhou memotret keduanya kompak dalam memilih sayurannya. 


"Apa itu?" tanya Puspa. 


"Apa kau buta, rabun, atau minus? Ini mangga, apa lagi? Mangga ini ada di dalam daftar!" jawab Chen dengan ketus. 


"Tuan Wang menginginkan mangga muda atau yang sudah matang?" tanya Puspa. 


"Tidak ada jawaban untuk itu. Di sini hanya tertulis aku harus membeli mangga," tunjuk Chen kembali ke kertas daftar belanja itu. 


Puspa menggertakkan gigi. Kesal karena Chen terus menunjukkan daftar belanja itu, yang jelas-jelas dirinya tidak bisa membaca.


"Astaghfirullah hal'adzim, aku harus sabar. Dia ini adalah kakaknya Aisyah. Gwen saja bisa aku tangani, kenapa tidak dengan pria ini. Haih, aku hanya membutuhkan kesabaran ekstra!" ucap Puspa dalam hati. 


Tuan Wang menerima foto putranya bisa belanja dengan tenang. Maka beliau meminta Bibi Zhou memberikan bintang emas sesuai dengan misi tersebut. 


Misi Kedua


Mereka harus memilih ikan dan hewan laut lainnya untuk stok di kediaman Wang. Puspa tidak begitu suka dengan olahan makanan laut, sejak dirinya masuk ke pasar laut, ia terus saja mual dan merasa pusing. 


"Kenapa wajahmu menjadi pucat pasi seperti itu? Apa kau sakit?" tanya Chen. 


Puspa tidak menjawab. Jika dirinya menjawab, yang ada malah akan menambah rasa mual dan muntah. Akhirnya, Puspa hanya menjawab dengan isyarat saja. 


"Kamu kenapa, sih?" tanya Chen mulai kesal. 


Tiba-tiba saja Puspa mencengkram erat tangan Chen. Membuat Chen terkejut dan terus melihat tangan Puspa yang saat itu menggenggam lengannya dengan kuat. 


"Bagaimana ini? Aku sudah tidak tahan dengan semua pemandangan di sini. Cumi mati, kepiting di ikat, tidak!" batin Puspa meronta-ronta. "Ya Allah, pengen pulang ...," sambungnya dalam hati. 


"Hey, kam--" 


"Huek, huek, huek," 


Belum juga Chen menyelesaikan pertanyaannya kepada Puspa, Puspa sudah mengeluarkan seluruh isi perutnya dan mengenai Hoodie yang Chen rebut dari Dishi. Begitu juga dengan hoodie milik Aisyah yang dipakai Puspa, terkena muntahannya sendiri. 


Bukan maksud Puspa mengacuhkan pertanyaan Chen dan meninggalkannya. Ia terus berlari dan berusaha keluar dari pasar laut itu, berusaha mencari udara segar dan menatap sekeliling untuk menghilangkan bayangan cumi mati dan juga kepiting yang diikat. 


"Kamu--" 


"Huek, huek ...,"


Ucapan Chen kembali terpotong ketika Puspa muntah lagi. "Puspa, kamu muntah, kenapa? Apa kamu lelah? Jika kamu lelah, kamu bisa katakan, dan kita akan istirahat sebentar," tanya Chen kembali. 


"Sa-saya, tidak bisa melihat cumi mati dan kepiting di ikat. Bisakah saya tidak ikut masuk?" jawab Puspa dengan suara yang gemetar. 


"Tapi misi ini akan gagal. Dan kau tidak akan mudah kembali pulang ke negaramu. Ayahku sangat keras kepala, jika dia sudah memiliki--" ucapan Chen kembali terpotong. 


"Bisakah saya tidak ikut? Jika misi ini gagal, saya akan mencoba bicara dengan baik-baik dengan Tuan Besar," Puspa masih lemas untuk melanjutkan perjalanan. 


"Tunggu di sini, aku akan menyelesaikan misi ini sendiri. Setelah ini, kita akan membersihkan diri, oke? Tunggu!" ucap Chen mengusap kepala Puspa. 


Deg! 


Jantung Puspa berdebar kencang saat Chen mengusap kepalanya. "Ya Allah, perasaan apa lagi ini? Aku takut dengan perasaan ini, perasaanku hanya untuk Mas Tama, bukan?" gumam Puspa dengan menghela napas. 


"Aku sekolah tata krama sampai ke luar negri hanya ingin mendapatkan perhatian Mas Tama. Tapi kenapa aku merasa nyaman dengan Tuan Chen? Ada apa ini? Aku benci dengan perasaan ganda ini!" 


Pengawal bayangan yang dikirim Tuan Wang untuk mengawasi Chen dan Puspa telah mengirim potret saat Chen mengusap kepala Puspa dengan tatapan kelembutan. 


"Aku memang tidak dekat dengan putraku. Tapi aku sangat mengenal putraku ini. Akhirnya, aku tau wanita mana yang dia sukai saat ini," ucap Tuan Wang ketika berada di kantornya. 


"Suamiku," sahut Nyonya Kedua.


"Puspa adalah gadis yang baik. Orang yang kita suruh untuk menyelidiki identitas Puspa juga mengatakan bahwa gadis ini memiliki latar keluarga yang sangat bersih. Apakah ... apa yang kau lakukan ini sudah tepat, Suamiku?" sambung Nyonya kedua.


"Menyeret gadis baik ke dalam dunia hitamnya, Chen? Aku takut, jika gadis ini malah menjadi target empuk bagi musuh kita," Nyonya kedua kembali memperingatkan Tuan Wang akan dunia gelapnya. 


"Aku memiliki 1 putra dan 2 putri. Meski mereka tidak darah dagingku, tapi mereka cukup akan memahami keadaan kita di masa tua nanti. Biarkanlah mereka memilih kehidupannya sendiri. Diakui sebagai Ayah angkat oleh mereka saja, aku sudah sangat bahagia," tutur Tuan Wang. 


"Apa ini artinya ... Kau akan melepas Chen, jika suatu saat nanti dia kembali ke keluarga kandungnya, Suamiku?" tanya Nyonya kedua.


"Aku percaya dengan ketiga anakku, istriku. Apa kau tidak mempercayai mereka? Aku hanya ingin hidup bahagia, menua bersamamu saja," Tuan Wang mengulurkan tangannya kepada Nyonya kedua. 


Hubungan antara Tuan Wang dan Nyonya kedua memang harmonis sejak penghianatan yang dilakukan Cindy 14 tahun lalu. Namun, karena Nyonya kedua tidak bisa memiliki keturunan, bukan berati Tuan Wang menyesali pernikahan itu. Tuan Wang malah bersyukur memiliki seorang istri yang mampu mendukung dan menerima anak angkatnya sebagai anaknya sendiri.


Sementara itu, ketika Chen hendak membayar, pemilik kedai makanan laut itu menanyakan bajunya yang kotor.


"Maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi, jika Tuan ingin membeli baju, ada toko terdekat di sini," ucap pemilik kedai tersebut. 


"Um, Anda lihat wanita yang duduk di sana? Bukankah kami memakai baju yang sama? Dia istri saya, kami sedang berbelanja bulanan, tapi entah kenapa dia muntah saat kami pertama masuk ke wilayah ini," jelas Chen mengada-ngada. 


"Tuan, Anda memang suami yang sangat pengertian. Saya tambahin kerang ini untuk, Tuan. Ini bintang emas yang Tuan cari juga!" 


Pemilik kedai itu telah percaya apa yang dikatakan oleh Chen. Dengan senyum sumringah, Chen kembali dan menceritakan bahwa dirinya dapat kerang gratis dari pemilik kedai. 


"Tuan, Anda berbohong?" tanya Puspa. 


"Buat apa aku berbohong? Takdir mana kita tau, bukan? Ayo, segera pergi cari toko baju dan segera ganti. Muntahanmu ini sangat bau sekali!" ketusnya meninggalkan Puspa yang masih di belakangnya. 


"Ketika Tuan Chen menoleh ke belakang, kenapa dia terlihat ... Astaghfirullah, Puspa! Mas Tama nunggu di Jogja!" 


Puspa terus berdebat dengan hatinya. Hatinya yang dulu hanya untuk Tama. Tapi, mulai goyah ketika sedang bersama dengan Chen. Apa yang akan Puspa lakukan?