Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Masih - Duka



"Ai, kamu yang sabar, ya …," Feng berusaha menguatkan hati Aisyah, yang sejak tadi hanya diam saja melihat wajah adiknya yang terpejam sudah tak bernyawa.


"Ai, Aisyah,"


"Mana dia terus diam aja kek gitu, makin takut aku." keluh Feng.


"Ustadz," Feng pun berniat memanggil Agam dan mengajaknya mengobrol. Tapi, keadaan memang sedang tidak baik-baik saja. Saat Agam menoleh ke arah Feng, Feng pun tidak jadi menanyakan sesuatu padanya. 


Sesampainya di rumah, semua orang yang ada di sana memang sudah berkumpul. Dini hari, Gwen berpulang, dan akan di makamkan secara bersamaan dengan jenazah Ibu, kakak dan kakak iparnya nanti. 


Yusuf memang sangat tegar. Sudah kehilangan istri, anak dan menantu pertamanya, masih sigap menjaga putri keduanya dan menunggunya sampai ambulan di buka. 


"Aisyah, Gwen," sebut Yusuf dengan suara gemetar. 


"Yusuf," Airy menggenggam erat tangan adik bungsunya itu. 


"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin melihat kedua putriku saja,"  jawab Yusuf dengan lesu. 


Sirine ambulan memang di minta Agam untuk tidak membunyikannya. Selain memang waktunya sudah mau pagi, juga tidak mau mengganggu ketenangan warga. 


"Feng, mana Aisyah?" tanya Yusuf. 


"Di belakangku, Paman," jawab Feng. "Aisyah, ulurkan tanganmu," ucap Feng dengan mengulurkan tangannya kepada Aisyah. 


"Aku bisa sendiri!" tepis Aisyah. 


Aisyah langsung berlari ke arah Ayahnya, kemudian memeluknya dengan erat. Air matanya seolah sudah kering karena terlalu banyak menangis. Suaranya saja, bahkan sudah serak. Itu sebabnya, Aisyah enggan untuk bicara lagi. 


Raihan datang meluk Agam dan menguatkannya. Sementara itu, Airy meminta supir ambulans untuk mengarah ke Pesantren. Setelah diskusi lagi, jenazah akan di urus di pesantren semuanya sebelum di makamkan. 


"Maaf, ya, Pak. Jadi merepotkan bapak. Tapi, memang ini sudah menjadi keinginan dari Ayah jenazah," ucap Airy. 


"Baik, Buk. Tidak masalah, kami akan segera mengantar. Mari, salah satu dari bapak atau ibu bisa ikut saya," sahut sopir tersebut. 


Adam yang akan ikut duduk di samping kemudi. Di susul juga oleh yang lainnya menuju Pesantren. Baby Rifky, sudah ada di pesantren, jadi memang hanya orang dewasa yang saat itu ada di sana. 


"Dimana anaknya Gwen?" tanya Ayyana.


"Masih di rumah sakit, Kak. Kandungan Gwen belum genap sembilan bulan, jadi usia bayi masih kurang dan butuh pemeriksaan lagi," jawab Feng. 


"Yang di sana, Tama?" lanjut Ayyana.


Feng mengangguk. Ayyana tahu apa yang di rasakan oleh adiknya, Aisyah. Dia pernah kehilangan seorang suami, ditinggal selama-lamanya membuatnya juga masih berduka sampai saat itu. Itu sebabnya, Ayyana masih enggan untuk menikah lagi, karena masih mencintai almarhum suaminya. 


Yusuf dan Aisyah dalam satu mobil, mereka berdua saling menguatkan satu sama lain. Yang tersisa hanyalah kenangan yang ada. Aisyah masih tidak menyangka dalam satu waktu semuanya akan pergi meninggalkannya. 


"Ayah, kita kembali berdua saja, kah?" tanya Aisyah. 


"Apakah Allah masih mengira kalau bahuku ini kuat? Padahal aku lemah, Ayah. Aku tidak sanggup dengan beban ini," lirih Aisyah. 


"Astaghfirullah hal'adzim, Aisyah. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu. Tidak baik, loh!" tutur Yusuf.


"Ibu menitipkan Rifky, Kak Chen menitipkan hartanya, lalu Gwen menitipkan pesan agar aku mendidik anaknya. Ayah, aku tidak sehebat dan sekuat itu. Tak tahukah mereka, jika aku adalah orang yang paling lemah diantara mereka?" 


Terlukanya hati Aisyah, memang sungguh besar. Kebahagiaan, keharmonisan keluarga dan juga cintanya telah pergi. Semua seolah meninggalkannya lagi. Kembali hidup berdua dengan Ayahnya saja, membuat Aisyah semakin sedih. 


"Kita, manusia, hidup di dunia ini, singgah hanya sementara. Ibumu, misinya sudah selesai. Saat kecil, ingin menjadi orang yang baik, akhirnya terwujud," 


"Lalu, ingin menikah dengan Ayah. Terwujud juga. Memiliki anak, juga sudah. Sampai pada akhirnya kakakmu hilang dan memiliki misi untuk mencarinya dan mempertemukan dengan kita, sudah terwujud, 'kan?"


"Bahkan, Ibumu juga memberi adik laki-laki kepadamu. Gwen, dia juga memiliki misi untuk bersatu dengan keluarga, memiliki suami dan anak. Sudah terwujud semuanya," 


"Ha, Kakakmu Chen. Setidaknya dia juga pergi dalam keadaan sudah menemukan kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Bahkan, dia juga telah menjadi seorang muslim juga," 


"Apa kamu tidak berpikir sesederhana itu, Nak? Mereka sudah bertaubat, dan Allah memberikan jalan taubat dari dunia hitam. Setelah misi mereka selesai, maka urusan dunia juga sudah selesai. Allah panggil mereka kembali, wallahu'alam," tukas Yusuf sembari membelai kepala putrinya. 


Aisyah mulai tenang. Saat itu memang dieinya tidak bisa berpikir jernih. Namun, ada Ayahnya di sisinya sudah membuatnya jauh lebih tenang dalam menghadapi situasi menyedihkan itu. 


***


Setelah shalat subuh, diketahui jenazah Rebecca, Chen dan juga Lin Aurora telat tiba. Keempat kotak peti itu di sejajarkan dengan jenazah Gwen. Sesegera mungkin, para santri dan keluarga besar mensucikan jenazah sesuai dengan syari'at. 


Keluarga yang lain juga sudah berkumpul di pesantren. Semua orang, terutama Feng dan Ayden merasa sakit melihat Aisyah hanya duduk melihat saudari kembarnya dan juga saudari iparnya di mandikan. 


Tatapan matanya terlihat kosong. Beberapa santri juga melihatnya ikut bersedih. Mengingat tak banyak kenangan yang dilakukan Aisyah dengan Ibu dan kedua saudara kembarnya. Dan setelah dua tahun bisa berkumpul semua, malah tak lama kemudian mereka kembali berpisah. 


Dimana perpisahan itu tidak akan ada yang namanya berjumpa kembali. Alam mereka sudah berbeda saat itu. 


"Tidak kuat aku melihatnya. Bagaimana kabar suaminya? Apakah orang yang kau utus sudah menemukan informasi?" lanjut Ayden kembali. 


"Oh, iya. Aku akan tanyakan lagi. Sejak semalam aku belum sempat menanyakan kabar lagi. Semoga saja, hari ini ada kabar atau petunjuk tentang suami Ai," jawab Feng mengeluarkan ponselnya. 


Ayden, Tama dan juga Feng sejak kecil selalu bersama. Feng dan Ayden, meski jauh di Tiongkok dan Korea sana, sejak kecil malah selalu pilang ke Jogja dan tinggal bebebrapa tahun bersama dengan Aisyah. Tama juga seperti itu. Aminah selalu menitipkan Tama kepada kakeknya ketika dirinya sibuk bekerja, jadi selalu bersama-sama Aisyah, Ayden dan juga Feng. 


Keempatnya memiliki ikatan yang kuat. Jadi, melihat Aisyah bersedih, membuat mereka ikut merasakan juga. Apalagi, yang pergi juga masih keluarga. 


"Ai, ayo bersiap. Setelah di shalatkan nanti, Sem jenazah akan segera di makamkan soalnya. Jangan seperti ini terus, ya--" bisik Laila dengan lembut. 


Aisyah patuh. Kakinya melangkah dengan berat menuju rumah Airy dan segera mengganti pakaiannya. Saat ia bercermin di depan kaca almari, seketika teringat dengan suaminya saat itu juga kala di kamar sendirian. Tiba-tiba saja Aisyah menangis dan terkulai lemas di lantai. Meringkuk dan terus menyebut nama suaminya dalam hati. Sebab, ingin beesuara pun rasanya terasa berat bagi Aisyah. 


Maaf baru update, baru diberi kesehatan soalnya. hehe.