
"Saya miskin sekarang … Abi membekukan rekening tabungan saya. Tidak bisa tukar uang dan meminta saya untuk bertahan hidup di sini tanpa uang beliau. Saya harus bagaimana, Tuan--" ungkap Puspa masih menangis.
"Kenapa bisa begitu? Apa kamu datang ke sini tanpa memberitahu Ayahmu? Lalu, kenapa Ayahmu sekejam itu?" tanya Chen memberikan air putih kepada Puspa. "Minumlah dulu, tenangkan pikiranmu," imbuhnya.
Puspa masih menangis sesenggukan. Chen hanya bisa mendengarkan keluhannya dengan sibuk menyiapkan makanan untuk Puspa.
Semua ini ulah Yusuf dan Adam. Pagi hari, ketika mereka bertemu dengan Abi-nya Puspa, mereka menceritakan bahwa Puspa sedang ada di Tiongkok mengambilkan berkas milik Aisyah.
Saat itu, Abi-nya Puspa hanya diam dan ingin meminta putrinya segera pulang setelah pekerjaannya selesai, tapi hal itu membuat Abi-nya Puspa memiliki niatan untuk memberikan pelajaran bagi putri nakalnya itu.
"Sudahlah, Bro. Di sana ada banyak keluarga, kok. Keluarga putraku sangat ketat, jadi putrimu akan baik-baik saja," ucap Yusuf.
"Nggak gitu, Suf. Aku percaya denganmu, tapi keluarga anak lelakimu itu kan aku belum mengenalnya. Kalau anak gadis satu-satunya yang kumiliki sampai lecet bagaimana?" sahut Darwin, Abi-nya Puspa.
"Tenang saja, ya itung-itung kamu bisa memanfaatkan ini sebagai pelajaran buat putrimu biar dia bisa mencari uang sendiri, gitu. Soal putrimu, nanti biarkan aku yang bicara dengan anaknya Yusuf, si Chen," timpal Adam.
"Jadi, aku harus bagaimana? Anakmu belum mualaf, jika aku menjodohkan putriku yang nakal itu, bagaimana denganku di akhirat nanti," Darwin masih saja kesal karena Puspa tidak berpamitan dengannya.
"Santai saja, anakmu akan aman dibawah pengawasan keluarga kami. Nanti, biarkan dia bekerja di perusahaan milik Gwen, yang baru saja di alihkan oleh Chen," Yusuf masih mendesak.
Receh bapak-bapak hanya sekedar memberi pelajaran saja bagi keduanya. Puspa, sengaja Darwin masukkan ke sekolah ketat di Malaysia karena memang ingin putrinya menjadi lebih santun dari sebelumnya.
Sementara Yusuf dan Adam ingin membuat hati Chen lunak dan lebih lembut lagi ketika memperlakukan orang lain ketika bersama Puspa. Lalu, berharap jika Chen mampu belajar agama bersama dengan Puspa.
Di Tiongkok, Puspa tak henti-hentinya menangis. Tapi, tetap saja Chen terus menyuapinya sampai Puspa kenyang. Masih sambil menangis, Puspa tetap menerima suapan dari Chen.
"Udah," ucap Puspa mengelap bibirnya.
"Saya udah kenyang, makasih udah di suapin. Hiks, saya sedih banget, nggak ada uang dan harus kerja apa di sini, hiks hiks hiks,"
"Nasiku jadi dingin. Jadi gimana? Apa kamu bisa suapi aku balik? Tanganku sudah lelah menyuapimu, Puspa," ucap Chen dengan nada lembut.
"Maaf," sesal Puspa menyeka air matanya.
Saat ini, giliran Puspa menyuapi Chen, sementara Chen mengerjakan pekerjaan yang ia bawa. Ketika membuka ponselnya, Chen menerima pesan dari sang Ayah untuk menjaga Puspa sementara waktu ketika di Tiongkok.
"Ck, pekerjaan apa yang cocok untuknya? Sangat sulit mencari pekerjaan dengan penampilannya yang memakai jilbab itu," batin Chen.
"Haih, akan aku pikirkan nanti saja!" gumamnya.
"Apa, Tuan Chen?" tanya Puspa mendengar gumaman lirih Chen.
"Tambahkan kuahnya dan jangan lupa tuangkan teh untukku," ketus Chen kembali menatap layar ponselnya.
Puspa percaya saja dengan ucapan Chen. Usai mereka makan, segera membeli peralatan rumah tangga dan juga sedikit barang elektronik dengan di kirimkan ke kediaman sederhana keluarga Wang di desa terpencil.
Barang yang mereka beli sangat banyak. Bintang emas yang mereka dapatkan juga sudah diberikan kepada orang yang diutus Tuan Wang. Jadi, dengan membawa mobil pengangkut, Chen mengajak Puspa untuk istirahat di kediaman keluarga Wang yang ada di desa terpencil itu.
"Rumahnya sederhana, tapi sangat nyaman sepertinya. Rumah siapa ini, Tuan?" tanya Puspa.
Terlihat seperti pasangan baru yang baru pindah ke rumah untuk hidup berdua. Bedanya, mereka terlihat berjauhan, karena memang Puspa menjaga jaraknya. Malam hari, mereka baru selesai menaruh semua barang-barangnya.
"Selamat Malam, Tuan Muda, Nona Muda. Saya datang kemari untuk membantu pekerjaan Tuan dan Nona selama tinggal di sini," ucap seorang wanita seksi nan cantik yang tiba-tiba datang dari dapur.
"Anda …,"
"Perkenalkan, Nona Muda. Nama saya, Fei Lieni. Nona bisa memanggil saya dengan sebutan Asisten Fei. Saya pengganti Asisten Dishi sementara sampai Asisten Dishi kembali dari Amerika," jawab wanita itu, Fei Lieni.
Fei ini berusia sekitar 21 tahun juga. Seumuran dengan Chen dan juga Puspa. Namun, kualifikasi sebagai Asisten pribadi sudah tidak di ragukan lagi. Fei lahir dan besar dibawah naungan Tuan Wang.
"Fei, kamu siapkan semua perlengkapan, Nona Muda. Baju, penutup kepala seperti itu, dan kamu pastikan kalau semua pakaiannya harus sedikit longgar, paham?" perintah Chen.
"Baik, Tuan. Saya akan lakukan apa yang Tuan perintahkan," jawab Fei.
"Pergilah!"
"Hei, kenapa aku menyebutnya Nona Muda? Harusnya aku menyebut dia pelayan juga, bukankah Ayah memintaku mengajaknya bekerja di perusahaan milikku?" gerutu Chen dalam hati.
Puspa masih bersedih hati karena Abi-nya memblokir semua akses miliknya. Tersisa hanya uang receh rupiah yang tidak mungkin bisa ia tukar dengan Renmimbi (RMB).
"Kamu kenapa sedih? Sudah kukatakan cepat ke kamar dan istirahat sebentar. Saat Fei datang nanti, dia akan membawakan baju untukmu, dan segera mandi. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita," tutur kata Chen sudah mulai lebih lembut, meski bernada sedikit kesal.
Puspa hanya mengangguk, ia segera masuk ke kamar dimana sudah disiapkan oleh Fei sebelum mereka datang. Sedangkan Chen, ia masih sibuk dengan pekerjaan yang sempat tertundanya.
"Sial, pekerjaanku banyak sekali. Di Glory milik Gwen juga masih banyak desain yang belum aku chek satu persatu. Andai saja, Asisten Dishi ada di sini--" gerutu Chen.
"... Ah, dia sedang melakukan tugasnya di Amerika. Dia sangat berpotensi, aku harus mengembangkan kecerdasannya. Tapi, aku jadi sibuk sendiri! Hih, mana perutku sudah lapar sekali!"
Tak tak tak...
Begitu suara kala Chen memijat laptopnya. Satu persatu pekerjaannya ia tuntaskan dengan cepat. Berharap akan segera selesai dan esok hari, bisa pulang dengan hati tenang.
Sementara itu, Puspa masih merenung di kamarnya. Menyalakan ponselnya dan terus memikirkan kesalahannya.
"Abi bilang, beliau hanya marah karena aku tidak pamit saat pergi,"
"Tapi, orang tua mana juga yang tidak akan marah jika anak satu-satunya pergi tanpa pamit. Itu sama saja tidak menghargai beliau sebagai orang tua,"
"Abi benar, setelah Umi meninggal, aku jadi sedikit nakal. Aku memiliki dua sahabat seperti Aisyah dan Gwen, harusnya aku bisa mencontoh salah satu dari mereka,"
"Aku harus minta Tuan Chen pekerjaan. Tuan Chen kan memiliki beberapa bisnis. Iya, hanya dia yang bisa membantuku saat ini!" tukas Puspa kembali bangkit.
Puspa beranjak dari ranjangnya, kemudian keluar dari kamar dan melihat Chen sedang sibuk di sofa. "Lihatlah, di usianya yang masih muda ... Tuan Chen begitu sangat menggilai pekerjaannya. Aku harus bisa mencontoh ambisinya itu, harus!" gumam Puspa meyakinkan diri.
Kakak-kakak peringati aku kalau nemu nama Steven, ya. Hahaha, itu novelku di sebelah. Judulnya 'Menyenangkan Hati Tuan Posesif'
Next kita bahas Agam dan Gwen.