Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Luka Lama



Di kamar, Dishi terus melekat kepada Aisyah. Bagaikan anak tak ingin lepas dari induknya. Di peluknya tubuh sangat istri dengan erat. Seolah tak ingin istrinya sampai lari dari pelukannya. Sesekali, saking gemasnya, Dishi sampai mengigit pipi Aisyah dan terus mengigit.


"Aw, sakit," rintihan Aisyah begitu manja membuat Dishi semakin gemas.


"Kamu menggemaskan, jadi pengen terus menerus gigitmu. Ai, pulang nanti, bagaimana kalau kita liburan sebentar ke tempat lain?" 


"Suamiku … Lusa, aku sudah harus magang. Lain kali saja, ya," jawab Aisyah dengan lembut. 


Dishi melenguh, ia pun mengencangkan pelukannya dan meminta Aisyah untuk segera tidur. Malam yang panjang itu membuat Tuan Jin tak dapat tidur. Ingatannya terus berpaku kepada Aisyah. 


"Kenapa aku terus memikirkannya? Apakah aku telah jatuh cinta padanya?" gumamnya dalam hati. 


"Tapi dia sudah bersuami. Dia bahagia bersama suaminya. Aku tidak boleh egois. Apakah karena itu, aku ingin melindunginya terus?"


"Aku keluar dari tempat khusus, dan kembali lagi untuk membantunya … apakah itu karena cinta?"


"Tidak, Yu Jin, kau tidak boleh begini. Biarkan cintamu ini diam, dan bergerak untuk menjadi teman saja. Aku tidak boleh merusak hubungan orang lain."


Memang, siapa yang tak bisa jatuh hati dengan Aisyah. Gadis unik, bagi kebanyakan orang seperti Tuan Jin. Lembut dan pembawaannya yang tenang mampu membuat beberapa pria terpikat. 


Keesokan harinya, sarapan di atur oleh Aisyah dan Dihsi. Semua itu karena memang mereka menghindari makanan yang tidak seharusnya mereka konsumsi. Bermain dan bercanda bersama anak-anak juga dilakukan oleh mereka berempat. Sampai dimana, mereka harus kembali ke Kota. 


Benar-benar membuat mereka berempat merasa senang. Setelah berpisah, dunia Aisyah kembali sepi. Di rumah selalu ingat dengan Ilkay dan membuatnya murung kembali. 


"Ada apa?" tanya Dishi. 


Aisyah menunduk. "Ingat Ilkay, ya? Sama, aku juga," lanjut Dishi menyentuh foto Ilkay. 


"Bersiaplah untuk lusa. Aku ingin istirahat dulu, entah mengapa aku masih merasa ngantuk," Dishi pergi ke kamarnya. 


Meninggalkan keharmonisan pasangan baru Aisyah dan Dishi. Kini, setelah kepergian Ilkay, Chen akan melanjutkan akadnya bersama dengan Lin Aurora. Persiapan tidak banyak, saksi hanya keluarga besar yang bisa pulang dan para penghuni pesantren saja.


"Kak, semuanya sudah selesai. Akad bisa dilaksanakan nanti malam jam delapan. Aku akan pulang dulu, Mas Agak soalnya tidak bisa hadir sekarang, jadi aku hanya mewakilinya saja," ucap Gwen kepada Chen. 


Chen mengangguk. Ketika Gwen membalikkan tubuhnya, Chen menahan tangan Gwen. "Ada apa? Apa ada yang masih kurang?" tanya Gwen. Tanpa menjawab, Chen langsung memeluk saudari kembar satu plasentanya itu. Sulit bagi Chen untuk bisa bersikap manis kepadanya. 


"Kak, kenapa?" tanya Gwen. 


"Entah kenapa, hatiku sepertinya tidak tenang. Apakah langkah yang aku lakukan ini sudah benar?" bisik Chen, membenamkan wajahnya di bahu Gwen. 


"Aku tau, kau menikah dengannya karena ingin balas perbuatan jahat Ayahnya, 'kan? Jika kau ragu, mengapa kau sampai di sini? Jika kau yakin, pikirkan lagi, apa yang akan terjadi setelah kau mampu membalas perbuatan jahat Tuan Natt," ucap Gwen. 


"Aku takut melukai hatinya. Aku takut karma Gwen. Jika aku menyakitinya, aku masih memiliki dua adik perempuan, dan ibu juga. Bagaimana jika karma malah kepada kalian, bukan padaku?" 


***


*


Waktu yang di tunggu telah tiba. Akad akan segera mulai, dan di sinilah waktu bertemunya Rebecca dengan Tuan Wang. Sangat dalam ingatanmu Tuan Wang, ia mengingat bahwa Rebecca lah penyebab meninggalnya kekasih lama Tuan Wang dan juga penyebab dirinya tak bisa memiliki keturunan. 


Pertemuan itu memunculkan aura hitam dan terlihat jelas jika keduanya masih memiliki dendam. Rebecca melakukan itu karena di dasari dengan kematian Kakek Lim yanga sangkut pautnya dengan Tuan Wang saat muda dulu. 


"Aku tau kalian ada perselisihan. Ini hari bahagiaku, jika kalian merusaknya, maka selamanya aku akan membenci kalian berdua. Apa kalian sanggup?" desis Chen memperingati Rebecca dan Tuan Wang, selalu Ayah angkatnya. 


"Ada hal yang ingin aku katakan setelah acara ini selesai … ratu Mafia," Tuan Wang tak mampu menyembunyikan tatapan kebenciannya. 


Rebecca hanya diam saja, ia tak ingin masa lalu membuatnya kehilangan putranya lagi. Salah satu cara, adalah menahan emosinya. Padahal, memang semua itu yang jadi penyebab utama adalah keluarga Tuan Natt dan juga Keluarga Hao, keluarga Feng pihak Ibu. 


"Tuan Wang, jika kau tidak membunuh Kakekku di depan mataku persis secara bengis, kau pasti akan memiliki seorang anak dengan kekasih lamamu itu!" dengus Rebecca dalam hati. 


Rebecca segera masuk, menyambut keluarga Lin Aurora yang lainnya. Keluarga yang memang tidak pernah memihak sifat jahat Tuan Natt. Yakni, dua kakak sepupu dari anak adiknya Tuan Natt dan juga Lin Jiang, kakak perempuan Lin Aurora. 


Akad berjalan dengan lancar, meski Chen masih kesusahan mengucapkan ijabnya. Kini, Chen dan Lin Aurora telah sah menjadi suami istri di dalam agama. Hanya kurang mendaftarkan pernikahan di Negaranya sendiri dan mengadakan resepsi. 


Apa rencana Chen sebenarnya? Apakah akan menyakiti Lin Aurora nantinya?


Setelah acara selesai, Tuan Wang mengajak Rebecca untuk bicara di tempat yang sekiranya tidak ada orang yang mencampuri urusan mereka.  Rebecca datang lebih dulu dan menanti kedatangan Tuan Wang. 


Langkah kaki Tuan Wang yang masih jauh itu sudah terdengar di telinga Rebecca. Insting Rebecca masih sangat kuat akan itu. 


"Tuan Wang, kenapa kau berjalan mengendap-endap? Apa kau ingin menyerangku?" 


Rebecca mengeluarkan belatinya sembari memutar tubuhnya menghadapi Tuan Wang yang rupanya mengeluarkan pistolnya. Kini, pistol Tuan Wang sedikit lagi menempel di dahi Rebecca, dan belati Rebecca menempel di leher Tuan Wang. 


"Kau ingin mati bersamaku di sini, Tuan Wang?" tanya Rebecca, menggertakkan giginya. 


"Kenapa kau membunuh kekasihku? Dia sedang hamil saat itu, dan kau tega membunuhnya? Apa kau tidak memiliki hati nurani, Nona Lim?" desis Tuan Wang. 


"Lalu, kenapa kau membunuh kakekku lebih dulu, Tuan Wang? Apa kau tidak memiliki hati nurani, sehingga harus meracuni kakekku yang bahkan usia saja dua kali lipat darimu, hah?" tepis Rebecca. 


"Kita sama-sama kehilangan, Tuan Wang. Lalu, putramu yang belum lahir itu telah diganti oleh putraku. Lantas, sekarang siapa yang paling di rugikan? Aku!" tegas Rebecca. 


"Aku membesarkan putraku, karena aku menyayanginya. Aku menyayangi adik-adik Chen juga karena mereka adalah hidup dari putraku. Semuanya tidak ada kaitannya dengan masa lalu, Nona Lim," 


Belati dan pistol itu masih sama-sama berada di posisi awal. Kebencian, dendam dan juga luka lama kembali bergejolak pada malam itu. Sampai mereka harus berkelahi kembali, karena merasa itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.