Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Aisyah Mengetahui Identitas Agam



"Kak Aisyah, kau datang bersama dengan Asisten ini?" tanya Gwen.


"Assalamu'alaikum," Aisyah mengetuk kening Gwen. "Usahakan jika bertemu dengan orang, sesama muslim juga, ucapkan salam terlebih dahulu, Gwen." tegur Aisyah.


Mereka masuk bersamaan. Terlihat Feng sedang bercengkrama dengan Tuan Wang di sana. Sepertinya antara keluarga Wang dan juga Hao sudah mulai membaik karena Chen sendiri. Aisyah dan Gwen menyapa mereka dan Tuan Wang mempersilahkan keduanya duduk.


Mulailah perbincangan asik diantara mereka. Terlihat hanya Aisyah dan Agam saja yang diam menyimak perbincangan mereka. Sebab, saat itu mereka tengah membicarakan masalah tiga keluarga yang sebelumnya saling bermusuhan. Yakni keluarga Lim, keluarga Hao dan juga keluarga Wang tentunya.


"Aku keluar dulu, mau menelpon Ayah. Sejak tadi pagi aku belum menelpon beliau," pamit Aisyah. Disusulah oleh Agam dengan alasan yang sama menghubungi Uminya di rumah sakit.


Aisyah benar menelpon Ayahnya dan menanyakan kabar rumah. Yusuf sanga Ayah menjawab jika dirinya tak perlu khawatir dengannya. Aisyah mengira Ayahnya telah mengetahui sesuatu tentang dirinya dan Gwen pergi ke TIongkok.


"Ayah, aku akan membawa oleh-oleh untuk Ayah nanti. Jadi, jaga kesehatan, makan jangan telat dan usahakan jam 7 malam restoran sudah tutup, mengerti" tutur Aisyah.


"Iya cucu Ami yang galak nan tegas. Ayah akan menuruti perintah Tuan Putri Ayah yang satu ini. Ayah akan menunggu oleh-oleh yang kamu janjikan itu. Sehat-sehat di sana, ya, Nak. Tolong jaga adikmu juga, entah kenapa Ayah sangat bahagia malam ini jika menyebut nama gadis bungsu Ayah itu."


Ikatan batin antara anak dan ayah memang tak perlu diragukan lagi. Yusuf adalah sosok Ayah yang idaman bagi seluruh anak-anak. Yusuf begitu mencintai kedua putrinya dengan adil. Namun, Yusuf memang merasakan ada kebahagiaan yang akan datang mengenai putri bungsunya itu. Akankah Yusuf tahu bahwa putrinya sudah dilamar seseorang?


Usai menelpon, Agam pun menghampirinya. Bertanya akan dunia hitam yang sedang ketiga keluarga itu bicarakan di dalam sana. Aisyah tersenyum tipis, ia juga bingung hendak menceritakan kisah keluarganya bagaimana.


"Jadi, dunia Mafia itu nyata? Saya pikir hanya ada di drama yang adikku tonton saja."~ ujar Agam heran.


Aisyah tersenyum tipis. "Maaf sebelumnya, apakah saya boleh bertanya?" tanya Aisyah.


"Silahkan …,"


"Apa anda ini Ustadz Agam sahabat dari Ustadz Khalid?" lanjut Aisyah.


Agam mengerutkan alisnya. Kemudian bertanya kembali kepada Aisyah bagaimana ia tahu jika dirinya adalah sahabat dari Ustadz Khalid. Aisyah pun menjelaskan bawa dirinya salah satu murid yang pernah di ajarkan ilmu agama juga dengannya. Seluruh pengetahuan Aisyah tentang Ustadz Khalid kepada Agam. Bagaimana tidak mengetahui segalanya, Aisyah pernah menaruh hati kepada Ustadz itu.


"MasyaAllah, jadi anda ini salah satu muridnya?" Agam baru mengetahui juga bahwa Aisyah juga pernah menjamu dirinya ketika bertemu dengan keluarga pesantren di sebuah acara di luar kota.


"Nama saya Aisyah, kakaknya Gwen. Senang juga bertemu dengan anda, Ustadz Agam." Aisyah juga mempertanyakan tentang keseriusan Agam untuk menikahi Gwen adiknya.


Tentu saja Agam mengiyakan itu. Ia juga meminta restu kepada Aisyah untuk melamar adiknya selepas pulang dari tanah negri Kincir Angin nanti. Aisyah tak ingin merusak momen dengan mengungkapkan keluarga besarnya karena ia juga tahu bawa Gwen tidak menceritakan tentang keluarganya.


"Saya titip adik saya, ya. Dia memang sedikit bandel. Tapi, dia begitu sangat manis sehingga susah untuk marah dengannya. Ustadz juga jangan kaget jika melihat Gwen tiba-tiba mengeluarkan belatinya," ucap Aisyah.


"Belati?" tanya Agam heran.


"Ayah kami dulu hanya seorang tukang masak, lalu bertemu dengan seorang putri Mafia Tiongkok berdarah Australia. Perbedaan yang sangat jauh itu tak menghalangi keduanya mengikat ikatan suci atas Asma Allah. Lalu, pernikahan itu diberkahi tiga anak kembar, yakni Kak Chen, saya dan Gwen,"


"Ketika usia kami satu jam, seorang dari masa lalu menculik Kak Chen dan membawanya ke sini. Kemudian, ancaman orang masa lalu itu membuat kedua orang tua kami berpisah. Gwen dibesarkan dalam keluarga Lim, Kak Chen dibesarkan oleh keluarga Wang. Keduanya adalah klan Mafia yang berpengaruh,"


"Di usai ke 9 tahun, kami saling bertemu dan Kak Chen mengetahui jati dirinya. Demi kebaikan semuanya, kakakku yang malang ini harus ke Amerika agar kami bisa berkumpul di suatu hari nanti. Lalu, hari yang di nanti itu akhirnya datang, saat ini juga."


Penjelasan Aisyah membuat Agam terdiam. Aisyah mengatakan bahwa Gwen membutuh seseorang seperti Agam untuk menunjukkan jalan kebaikan. Sebab, sejak kecil Gwen sudah diwarnai dengan noda hitam dunia Mafia oleh lingkungannya.


Setelah berbincang cukup lama, mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing. Agam terus saja kepikiran dengan apa yang Aisyah katakan kepadanya.


Aisyah sendiri juga tidak menutupi bahwa adiknya juga pernah membunuh orang. Tentu bagi Aisyah dan Agam itu perbuatan yang sangat buruk. Akan tetapi, Agam malah semakin yakin dengan niatnya untuk menikahi anak gadis beban keluarga ini.


"Ya Allah, kenapa setelah mendengar tentangnya … Hamba semakin yakin untuk menikah dengannya?" gumam Agam senyum-senyum sendiri.


"Lihatlah senyum Umi, begitu tulus ketika bercanda dengan Dek Gwen ini." imbuhnya sembari menatap potret Gwen kala di rumah sakit siang itu.


"Bismillah, semoga saja ini memang jalan yang terbaik bagi semuanya." tak lama kemudian, Agam pun terlelap.


Malam sebelum tidur, Gwen menceritakan pengalaman menyenangkannya bersama dengan keluarga Agam kepada Aisyah. Aisyah tentu bahagia melihat adiknya bahagia. Dengan tenang, Aisyah menikmati setiap cerita yang Gwen katakan kepadanya.


"Apa kamu sudah yakin, Gwen?" tanya Aisyah. "Menikah … di usia yang masih semuda ini?" imbuhnya.


"Jarang sekali aku bisa menerima pria sesederhana Mas Agam ini dengan mudah. Aku pikir, Mas Agam memang yang terbaik untukku," jawab Gwen gembira.


Aisyah tersenyum untuk adiknya. Gwen pun mulai menggoda sangat kakak akan kedekatannya dengan Asisten Dishi. "Apakah kau cemburu, kakakku? Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Asisten tampan itu?" godanya.


"Hish, sudahlah jangan dibahas. Aku fokus dengan kuliahku dulu. Aku masih menjadi dokter umum weh. Masih harus mengejar ilmu sampai aku menjadi spesialis," jawab Aisyah tersipu.


"Heleh, kalau udah jodoh … pasti tetep nggak bakal nolak lah!" desis Gwen.


Gwen membaringkan tubuhnya, menyelimuti sekujur tubuhnya dan mulai berceloteh lagi. Menanyakan kepada sang kakak apakah ada kisah dari temannya yang menikah muda dan mendapatkan jodoh yang bertolak belakang dengan sikapnya.


"Kenapa harus jauh-jauh ke temanku? Lihatlah, kisah buyut Leah dan buyut Ruchan. Lalu, kisah Bibi Airy dan Paman Adam, terakhir kisah Ibu dan Ayah. Bukankah mereka juga saling bertolak belakang?" jelas Aisyah.


"Uti Asiyah juga begitu, 'kan? Kakung Rifky begitu lembut, tapi Uti Aisyah begitu tegas dan sedikit menyebalkan kata Paman Hamdan. Apa kau lupa?" lanjutnya.


Bunyi dengkuran begitu keras di telinga Aisyah. Rupanya, si bungsu sudah tidur dengan mendengkur. Membuat Aisyah kesal ketika dirinya sedang menjelaskan panjang kali lebar malah di tinggal tidur.