
"Kamu mau apa, sih?" tanya Pak Raza serius.
"Jawab aja. Kapan terakhir Pak Raza bepergian keluar negri, terus visa-nya masih aktif atau tidak, gitu!" Gwen masih mendesak agar Pak Raza mau menjawab semua pertanyaannya.
"Huft, Allahu Akbar. Iya, saya jawab nih, ya. Saya terakhir kali ke luar negri lima hari yang lalu, dengan visa pelancong. Terus, kamu mau apa?" jelas Pak Raza sedikit kesal.
"Cocok, hari ini kita otw ke Bangkok. Janji aku bakal belajar dengan gajian, eh rajin maksudnya. Tapi, hari ini, memang kita harus segera berangkat!" seru Gwen dengan mata yang berbinar-binar.
Pak Raza terkejut dengan pernyataan itu. Ia berusaha menolak dan menanyakan mengapa Gwen mengajaknya ke luar negri secara mendadak. Tanpa mendengarkan penolakan dan penjelasan pembimbingnya, Gwen menarik tangannya untuk membuat izin cuti selama beberapa hari agar bisa menemaninya ke luar negri.
Namun, Gwen malah menemukan fakta tak terduga saat memasuki kantor. Ia mendapati Pak Jono sedang ada di sana. Setahu Gwen, Pak Jono hendak cuti untuk menemani istrinya lahiran.
Sontak membuat Gwen kebingungan. Ia pun bertanya, "Pak Jono lagi bohong, ya? Ngapain di sini?"
Semua orang hanya terdiam, ada hal yang disembunyikan dari para dosen dan dosen pembimbing tak menjawab apapun dari pertanyaan Gwen. Fakta utama yakni, Pak Raza ditunjuk oleh Airy khusus untuk membimbing Gwen agar menjadi gadis yang jauh lebih baik lagi.
Menurut seleksi Airy, Pak Raza ini adalah orang yang cocok untuk pekerjaan itu. Ditambah lagi, ada hal yang memang harus Pak Raza hindari, jadi ia menerima pekerjaan tersebut. Nama Airy dan dua Aisyah memiliki nama yang baik di kampus itu, jadi beberapa dosen, dosen pembimbing dan dekan sungkan dengan keluarga besar pesantren tersebut.
"Jadi--"
"Em, kita berangkat sekarang. Ayo kita ke Bangkok." ujar Pak Raza.
Sebelum Gwen mengetahui rahasianya, Pak Raza pun akhirnya menyetujui ajakan Gwen untuk pergi ke luar negri. Meski itu dengan keterpaksaan, itu akan jauh lebih baik daripada rahasianya akan terbongkar nantinya.
"Baiklah ayo, aku juga tidak ingin membuang waktu untuk mencampuri urusan orang lain." gumam Gwen menarik tangan Pak Raza ke parkiran.
Sesampainya diparkiran, Pak Raza mengendarai mobilnya dengan sedikit lambat. Guna untuk mengulur waktu sampai dirinya bisa menghubungi keluarga Gwen agar bisa membatalkan tujuannya.
"Eits, mau hubungi siapa? Aku akan sita ponsel Bapak. Sampai di Bangkok nanti, aku baru akan memberikannya," desis Gwen merampas ponsel milik Pak Raza.
"Saya mau memberi kabar Ibu saya, sini kembalikan---"
"Sstt … lebih baik, Pak Raza fokus nyetir, dan segera pulang ke rumah Bapak untuk mengambil keperluan yang akan dibawa ke Bangkok. Diem dan rileks, oke?" celetuk Gwen sibuk memainkan ponsel miliknya.
"Rileks, rileks apaan, ini namanya pemaksaan. Gimana aku bisa rileks kalau dipaksa begini. Kenapa juga aku mau menerima pekerjaan ini, sih? Anak nakal ini, ihhh …," umpat Pak Raza dalam hati.
Tak lama kemudian, sampailah di rumah Pak Raza yang sederhana namun terlihat asri. Banyak tanaman hias dan bonsai di depan rumah. Rumah yang sederhana itu membuat Gwen takjub. Bangunan ala jaman dulu juga masih terlihat kental.
"Kamu tunggu di sini, saya akan ambil dulu keperluan yang akan saya bawa!" seru Pak Raza memberikan perintah.
"Eh, maunya. Aku juga mau masuk dong, Pak." Gwen ikut turun dari mobil.
Akibatnya, mereka pun terlibat percekcokan sedikit. Gwen terus memaksa untuk ikut masuk dan bertemu dengan Ibu dari pembimbingnya tersebut.
Namun, Pak Raza sendiri enggan untuk mengajak Gwen masuk karena tak ingin Ibunya salah paham dengan situasi itu.
"Kalian, kenapa di situ?" sapa Ibu Nur dari depan pintu.
Pak Raza dan Gwen menoleh bersamaan, dengan senyum jahatnya, Gwen bertanya, "Bagaimana cara Bapak memanggil Ibu Pak Raza? Ibu, Mama atau Bunda?"
"Oh, begitu?"
"Ibuuuu ...." seperti putri kepada ibunya yang manja ingin minta uang jajan.
Pak Raza hanya bisa menepuk keningnya, kemudian mengikuti Gwen dari belakang. Mengucapkan salam, lalu masuk ke kamarnya untuk membereskan barang yang akan ia bawa ke Bangkok.
"Em, Nak Gwen. Bagaimana tangannya? Apakah sudah sembuh?" tanya Ibu Nur.
"Alhamdulillah, Ibu tidak usah khawatir. Kakak aku kan dokter, jadi dia yang rawat aku, Bu, hehehe ...." senyuman Gwen membuat hati Ibu Nur teduh.
Pasalnya, Pak Raza belum pernah membawa teman, sahabat atau orang dengan gender perempuan ke rumah. Hanya Gwen yang baru Pak Raza ajak pulang, meski itu dalam keterpaksaan.
"Kamu manis sekali, ayo masuk. Ibu baru saja buat puding, Ibu harap kamu suka," ajak Ibu Nur ramah.
"Wah, serius?"
Bu Nur mengangguk.
"Kalau soal makanan, aku nggak bisa nolak, Buk. Ayolah, aku jadi lapar, hehehe."
"Kebetulan sekali, Ibu juga selsai masak. Ibu juga goreng ayam, bagian paha!" bisik Ibu Nur.
"Cakep! Bakal sering main ke sini aku!" sorak Gwen tak tahu malu. Astaghfirullah hal'adzim.
"Boleh saja, Ibu malah senang kalau ada yang mau main ke rumah."
Di kamar, Pak Raza memiliki niatan untuk meninggalkan paspornya. Supaya nanti, ia memiliki alasan untuk menggagalkan rencana Gwen ke Thailand bersama dirinya.
"Ide bagus, nanti aku tinggal bilang gini. Gwen, paspor saya ketinggalan, jadi maaf ... saya tidak bisa mengantar kamu ke Bangkok. Atau sebaiknya memang kita tunda saja?" gumam Pak Raza latihan.
"Wah, MasyaAllah sekali, Pak Raza. Itu alasan yang sangat brilian. Paspor aku tahan!" ucap Gwen mengambil paspor yang ada di tangan Pak Raza.
"Gwen!"
"Cu--" lagi-lagi ucapan Pak Raza terputus karena jari Gwen ada di bibirnya.
"Sstt, nurut, ya. Nggak bakal repot kalau Pak Raza nurut sama aku, oke?" ucap Gwen masih dengan jarinya yang nempel di bibir pembimbingnya itu.
"Sekarang, keluarlah. Udah selesai, 'kan? Ibu nyuruh kita makan dulu, cuss! GPL!" Gwen keluar dari kamar Pak Raza dengan gaya yang menyebalkan.
Pak Raza menggigit bibir bawahnya. Ia merasa terpaku jika dirinya ada di dekap gadis nakal seperti Gwen. Namun, kontrak yang telah ditandatangani dengan Airy berlangsung selama setahun, jika dirinya melanggar, maka Pak Raza akan membayar denda dengan jumlah yang sangat banyak.
"Ini mengapa, aku harus baca lebih teliti sebelum menandatangani kontrak apapun. Aku juga tidak tahu, jika keponakan Bibi Airy tingkahnya seperi ini,"
"Mata duitan, bandel, suka manfaatin orang, tidak mau rugi. Kasihan nanti yang jadi suaminya, pasti tekanan batin!" umpatnya.
Sebelum pergi, Ibu Nur meminta mereka makan terlebih dahulu. Berapa hari yang akan mereka habiskan ke Bangkok juga belum diketahui. Gwen hanya mengatakan jika dirinya membutuhkan pembimbing untuk belajar di negara itu. Otaknya Gwen licik sekali yassalam.