Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
GO To Negri Gingseng



Seminggu berlalu, Aisyah akan berangkat ke Korea didampingi oleh Ayden. Saat itu, ia masih berbicara dengan kedua orang tuanya yang juga akan berangkat ke Australia.


"Ayah, apa tidak sayang meninggalkan usaha Ayah di sini?" tanya Aisyah. "Ibu, kandungan Ibu juga tidak dalam baik-baik saja. Kenapa harus sih kalian ke sana?" sambungnya dengan rasa khawatir. 


"Aisyah--" ucap Yusuf sembari mengusap kepala putri kesayangannya itu. 


"Kita harus pergi, Nak. Perusahaan Ibu, dan kepala perguruan di sana sedang ada masalah. Jika Ayahmu tidak menemani Ibu, harus bagaimana lagi? Paman Willy tidak ada bersama Ibu di sana," ungkap Rebecca mengusap pipi putrinya. 


"Aku hanya mengkhawatirkan Ibu saja. Ibu sedang hamil di usia segini, itu sangat rentan sekali. Kabari aku juga ada apa-apa, ya, Ayah, Ibu," Aisyah memeluk kedua orang tuanya. 


Beberapa saat lalu, Ilkay juga tak ingin ikut bersama dengannya ke Korea. Hal itu, karena Ilkay sudah mulai betah tinggal di pesantren bersama anak-anak santri lainnya. Ilkay selalu bermain di pesantren ketika Aisyah sibuk bekerja. 


Namun, demi menjaga perasaan Ibunya, Ilkay akhirnya mau mengikuti Aisyah ke Korea dengan senyum terpaksa. 


"Mama yang menyelamatkan Kay dari penjara. Jika aku membuatnya sedih, apakah Kay bukan anak lelaki hang jahat?" gumam Ilkay dalam hati. 


"Mama selalu ingin Kay menjadi anak yang baik meski Mama selalu bilang Kay ini anak baik. Tapi, demi Mama, Kay memang harus ikut kemana Mama pergi,"


"Hai, Ayah. Kapan Ayah akan kembali dan bersama dengan kami? Ayah, Kay selalu mendoakan urusan Ayah cepat selesai dan bisa berkumpul kembali bersama Mama dan Kay." tukasnya, dengan meraih tangan Aisyah. 


Aisyah memahami apa maksud genggaman tangan Ilkay. Mereka pun berpisah di Bandara, berharap Aisyah segera bisa menyelesaikan pendidikannya dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. 


Sengaja mereka tidak mengajak Gwen, karena mereka tidak ingin membuat Gwen bersedih. Namun, mereka sudah memberikan kabar kepada bungsu yang baru saja menikah itu melalui telpon. 


"Paman, Bibi, pesawat kita akan berangkat sebentar lagi. Bagaimana dengan pesawat kalian?" tanya Ayden yang baru saja kembali dari toilet. 


"Kami juga akan berangkat sebentar lagi. Ayden, tolong jaga adik dan keponakanmu ini, ya. Jika ada apa-apa, langsung kabari Paman," ucap Yusuf seperti enggan melepas putri dan cucunya. 


"Paman dan Bibi tenang saja. Aku ada bersamanya, jika Paman dan Bibi mengkhawatirkan keselamatan Aisyah dan Ilkay, mereka bisa kok tinggal di rumah kami," (keluarga Lee)


Setelah berbincang-bincang sedikit, mereka pun berpisah. Dalam perjalanan yang mereka tempuh itu, selalu berdoa agar bisa kembali bersama seperti dahulu lagi. 


"Mama," panggil Ilkay. 


"Iya, Ilkay. Ada apa?" 


"Kapan Ayah akan kembali? Apakah Ayah tau, kalau kita ke luar negri?" tanya Ilkay. 


"Ayah tau kita pergi. Jadi, doakan saja urusan Ayahmu segera selesai, kamu bisa sabar, 'kan?" jawab Aisyah dengan nada yang lembut. 


"Kapanpun itu, Kay selalu berharap, Mama dan Ayah bersama menjaga Ilkay. Mama ingin, seperti keluarga yang lain, Ma. Bersama kedua orang tua, dan mereka hidup bahagia. Kay nggak mau Ayah lain, selain Ayah Dishi," celetuk Ilkay, kemudian menarik selimutnya dan memejamkan mata. 


Aisyah mengusap kepala putranya dengan lembut penuh kasih sayang. Apa yang diharapkan Ilkay, juga yang diharapkan dirinya. Tapi, semua itu hanya perlu berserah kepada Tuhan dan berdoa agar doa yang Ilkay inginkan dikabulkan oleh-Nya. 


"Bagaimana hubunganmu dengan Asisten itu?" tanya Ayden berbisik. 


"Oppa, kami baik-baik saja. Kami berkomitmen sampai benar-benar kami di persatukan kembali nantinya," jawab Aisyah. 


"Oppa, jangan memprovokasi diriku. Aku dan dia sudah sepakat, ini akan bagus untukku agar bisa fokus kuliah dengan baik. Apa lagi, aku harus ambil kuliah bahasa terlebih dulu, ini sangat memakan waktu!" ketus Aisyah. 


Bagaimana tidak kesal, semua orang mempertanyakan keseriusan Asisten Dishi padanya. Semuanya tidak tahu, jika Asisten Dishi sangat berusaha menjadi yang terbaik untuk Aisyah di luar negri sana. 


Asisten Dishi selalu mengatakan, "Ai, kamu fokuslah belajar. Aku akan berusaha di sini, kita percayakan takdir kita kepada Tuhan. Jika Tuhan mengizinkan, kita pasti akan bersama."


Aisyah baru saja mencintai laki-laki yang juga membalas cintanya. Meski memang seharusnya mencintai seseorang itu dengan sewajarnya saja, tapi Aisyah memang tidak ingin cintanya dengan Asisten Dishi berakhir begitu saja hanya karena sebuah keraguan. 


"Aku masih muda, untuk apa terburu-buru menikah?" bisik Aisyah lagi kepada Ayden. 


"Di Korea, reputasi orang itu sangat di jaga. Jika meraka mempertanyakan Ilkay bagaimana? Kamu mau jawab apa?" sahut Ayden. 


"Tak peduli apa yang orang katakan. Tak ada gunanya juha menceritakan kenyataan kepada mereka yang sulit percaya, Oppa. Jadi, untuk apa aku repot-repot menjelaskan masa lalu Ilkay?" jelas Aisyah. 


"Yang perlu semua orang tau saat ini adalah, Ilkay adalah putraku. Ayahnya bernama Dishi Bai, Ibunya bernama Aisyah Adelia Putri,  simpel, 'kan?" terang Aisyah dengan santai. 


Bagi Ayden, memang semuanya tidak masalah. Hanya saja, ia tidak ingin adiknya akan menjadi bahan pembicaraan seseorang, dan itu akan melukai hatinya sebagai seorang kakak yang sudah di pasrahi untuk menjaga adiknya itu. 


"Kalian belum menikah, dan Ilkay berusia lima tahun lebih. Lalu, kau akan menjawab apa jika ada orang yang bertanya seperti itu?" sambung Ayden masih belum puas dengan jawaban Aisyah. 


"Dia putraku, dan dia tanggung jawabku. Apa hak kamu mempertanyakan hal seperti itu?" jawab Aisyah dengan ketus. 


Ayden tersenyum, kemudian mengusap kepala Aisyah dengan lembut. Bagaimana tak bangga memiliki adik sebijak Aisyah. Ayden sangat iri kepada Chen, ia memiliki adik yang vibesnya sangat positif. Sedangkan dirinya, anak tunggal yang selalu kesepian. 


Membawa Aisyah ke Negaranya memang tidak ada salahnya. Dirinya mampu menjadi seorang kakak, meski itu hanya sementara Aisyah dan Ilkay di Korea. 


Perjalanan jauh itu membuat Ilkay tidur pulas. Ia sampai tidak mendengar apa yang Aisyah dan Ayden bicarakan. Ilkay ini sudah semakin lembut tutur sapanya semenjak selalu main bersama Ayyana dan juga Gehna, Bibi besarnya. 


Selama Aisyah bertugas di puskesmas, Ayyana dan Gehna lah yang selalu menjaga Ilkay di pesantren. Tentu saja kelembutan dan tutur kata Ilkay yang manis, sopan nanti santun berasal dari kedua Bibi besarnya itu. 


"Oppa, mungkin nggak ya. Kalau Asisten Dishi, memang serius sama aku?" tanya Aisyah kembali. 


"Heh, kamu bilang kamu tidak akan meragukan dia--" sahut Ayden. 


"Memang, tapi kan takdir … nggak ada yang tau, Oppa!" seru Aisyah. 


"Aku akan bunuh dia kalau dia hanya mempermainkan dirimu. Aku akan cincang tubuhnya sampai hancur lebur, kemudian memberikan tubuhnya itu kepada hewan peliharaan sahabatku," dengus Ayden. 


Tatapan Aisyah menjadi datar saat itu. "Iya, dan sebelum Oppa melakukan itu … kupastikan, Oppa akan bermalam di rumah sakit selama 2 bulan, mau?" desis Aisyah. 


Dark! 


Aisyah lebih badas dari yang Ayden pikirkan. Aisyah ini bagaikan macan yang masih tertidur. Jika jiwa macannya terbangun, dia akan jauh lebih badas daripada kedua saudara kembarnya.