
Belajar kembali setelah kesalahan pahaman kecil itu terjadi. Gwen masih saja diam tak seperti biasanya ketika belajar. Rupanya, dia masih marah kepada Pak Raza ketika di meja makan pagi tadi.
"Ada apa sih dengannya? Tumben, diem, anteng dan memperhatikan seperti ini. Biasanya juga ada aja alasannya untuk tidak belajar," gumam Pak Raza.
Pak Reza terus saja memperhatikan Gwen disaat dirinya sibuk dengan bukunya sendiri. Tak sedikitpun Pak Raza mengedipkan matanya ketika menatap Gwen.
--
Sudah dua hari mereka bersama, Feng rupanya tak bisa kembali lagi kepada mereka karena ia harus kembali ke Tiongkok setelah penyuluhan usai. Feng menitipkan pesan kepada Chen, agar ia melindungi Aisyah dan Gwen ketika dirinya jauh dengan keduanya.
Selama dua hari itu juga, baik Aisyah dan Gwen belum menyatakan kepada orang tuanya bahwa mereka telah bertemu dengan saudaranya yang lama menghilang.
Hal itu diinginkan oleh Chen karena ia belum bisa menjamin Ibu tirinya akan tetap diam mengetahui kebenaran itu. Rafa dan Chen juga semakin akrab karena ada kerja sama diantara mereka.
Meski luka Aisyah belum juga kering, namun lukanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Lalu, bagaimana dengan Gwen? Gadis nakal ini masih saja cemburu jika Pak Raza memperhatikan Aisyah dengan berlebihan.
Seperti di waktu pagi buta itu, ketika mereka hendak bersiap pulang ke kota, Gwen dihadapkan oleh rasa cemburunya lagi karena Pak Raza lebih ingin membantu Aisyah daripada dirinya.
"Pak Raza!" panggil Gwen dengan nada kesal.
"Dalem, pripun?" suara lembut Pak Raza memang tak bisa Gwen lawan lagi, ia luluh ketika mendengar suara Pak Raza.
"Aih, kenapa juga aku harus tersentuh seperti ini. Ada apa denganku ini, ya Allah Ya Tuhanku …," batin Gwen mengelus dadanya.
"Gwen … ada apa? Saya ma--" ucapan Pak Raza terhenti saat Aisyah melintas dari sampingnya. "Dokter, sini biarkan saya yang membantumu. Tangan dokter kan sedang terluka, kenapa harus angkat-angkat seperti ini?" Pak Raza merebut koper milik Aisyah.
"Anjay!" umpat Gwen.
Aisyah melirik saudarinya. Tak ingin ada kesalahpahaman lagi, Aisyah langsung menolak bantuan dari Pak Raza. Namun, Pak Raza tetap memaksa, membuat Gwen harus menjatuhkan ransel miliknya dengan harap Pak Raza mau membawakannya masuk ke mobil.
Harapan Gwen musnah. Hal itu tak menjadi nyata, karena malah Rafa yang memungut tas itu, seraya berkata, "Jangan seperti ini dengan saudara. Lengan Aisyah sedang sakit, bisakah kamu lebih dewasa?"
"Tapi Pak Raza …," ucapan Gwen terhenti. Kemudian menghela nafas panjang, merebut tas miliknya dari tangan Rafa. Lalu segera masuk ke mobil dengan sengaja menutup pintu mobil dengan keras.
"Ternyata mereka sudah besar. Gwen memiliki rasa cemburu yang besar. Sedangkan Aisyah … dia belum bisa tegas dan peka jika pria yang tengah membantunya disukai oleh saudarinya," batin Rafa menatap kedua adiknya.
"Ya Allah, semoga saja mereka tidak terjebak dengan cinta segitiga. Jika Pak Raza bukan jodoh Gwen, semoga saja adikku yang nakal ini mendapat jodoh yang mampu membimbing hidupnya, aamiin."
Usia Rafa sudah menginjak kepala tiga. Banyak lika liku perjalanan yang ia tempuh selama itu. Meski dirinya juga belum menikah, tetap saja pengalaman hidupnya jauh lebih luas dari pada kedua adik sepupu kembarnya itu.
Tiba dimana mereka harus berpamitan dengan Rafa. Rafa mendoakan perjalanan mereka selamat sampai tujuan. Rute yang dilalui mereka juga rute yang lebih dekat dari sebelumnya mereka berangkat.
Mobil yang mengiringi ada dua, milik orang kepercayaan Chen semuanya yang berada di negara itu. Asisten Dishi juga sudah menanti kepulangan mereka di Ibu Kota.
Selama perjalanan, semuanya menjadi pendiam. Gwen yang biasanya banyak bicara dan bertanya saja, kala itu hanya memandangi pemandangan jalanan. Lalu, Aisyah lebih fokus dengan pelajarannya agar bisa masuk ke spesialis nantinya.
"Huam, ngantuk banget sumpah. Sampai Bangkok jam berapa nih?" tanya Gwen kepada saudaranya.
"Tidurlah dulu, nanti pas sampai … aku akan membangunkanmu," sahut Aisyah.
"Aku tidak bertanya kepadamu!" sulut Gwen menutupi wajahnya.
"Kak Chen, kapan kita akan sampai?"
Chen memberitahunya dengan lembut. Ia juga menyuruh Gwen untuk tidur saja, dan akan membangunkannya ketika sampai tujuan nanti.
Tentu saja perlakuan Gwen membuat Aisyah sedih. Sering kali GWen marah tanpa alasan bagi Aisyah. Sekali marah, pasti itu hanyalah kesalahpahaman saja.
"Ada apa dengannya? apa dia kesal karena Pak Raza membantuku selama dua tiga hari ini?" gumam Aisyah dalam hati.
"Tapi, dengan dekatnya aku bersama Pak Raza … Gwen jauh lebih akrab dengan Kak Chen, bukan? Lalu kenapa dia harus marah denganku seperti ini?" Aisyah semakin tersiksa batin jika adiknya yang nakal itu terus saja mendiamkannya.
"Wah jan! Montor apik-apik radio kemrosak wae, wah. Marai emosi wae, rep turu we susah, astaghfirullah hal'adzim!" keluh Gwen mematikan radio tersebut.
"Wes, modaro. Malah penak sunyi sepi ngene," imbuhnya dengan melipat tangannya dan membuang muka dari Aisyah.
Sesampainya di rumah sakit, menunggu Aisyah selesai menyelesaikan tugasnya, Gwen mempertanyakan kepada Pak Raza. Tentang kenapa Pak Raza dan Aisyah malah terlihat akrab dibandingkan dengan dirinya.
"MasyaAllah, tidak ada yang berbeda, Gwen. Saya memperlakukan Dokter Aisyah masih dalam batas wajah, loh. Kenapa kamu mikirnya malas seperti itu?" ungkap Pak Raza.
Pak Raza mulai menjelaskannya. Perilaku yang diterapkan untuk Aisyah, hanyalah rasa kemanusiaan saja, karena Aisyah sedang sakit dan memerlukan bantuan dari orang lain.
"Heleh, dusta! Bilang aja kalau suka!" sulut Gwen.
"Tidak ada yang seperti itu, Gwen. Saya berkata jujur," jawab Pak Raza.
"Dahlah! Males ngomong sama Pak Raza. Pokoknya, setelah kita pulang, segera ajari aku sampai tuntas dan kita berpisah begitu saja!"
Mulailah perdebatan kecil diantara keduanya. Sehingga membuat Chen kesal, kemudian meninggalkan keduanya di mobil begitu saja.
"Stop!" teriak Chen.
"Aku yakin ini perdebatan, meski aku tidak mengetahui apa yang kalian katakan. Tapi tolong, kalian sudah dewasa. Jadi, bertindaklah seperti orang dewasa!"
Blam!
Pintu di tutup dengan keras, sehingga mampu membuat Gwen dan Pak Raza terdiam.
"Sialan, mereka sangat berisik. Membuatku kesal saja" umpatnya.
Setelah Chen keluar, Gwen kembali memancing perdebatan. Meski sudah dijelaskan banyak kali, Gwen yang sudah dibakar rasa cemburu itu tak pernah mengerti penjelasan yang diberikan oleh Pak Raza.