
"Kak,"
"Hm?"
"Kenapa Tuan Wang itu, dengan mudahnya menganggap kita sebagai putrinya? Sedangkan Xia kan memang putrinya, kenapa malah nggak dianggap?" tanya Gwen.
"Sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur dalam urusan keluarga ini. Jika memang Tuan Wang menganggap kita sebagai putrinya .. Ya sudah, nikmati saja," jawab Aisyah.
"Bersyukur karena kita di sini diterima dengan baik, oke? Sudahlah, jangan bertanya lagi dan cepat tidur. Bukanlah, besok pagi kau akan bertemu dengan calon suamimu, Gwen?" goda Aisyah.
Gwen tersipu malu. Malam itu, ia juga menjelaskan perasaannya kepada Raza. Namun, seperti pengertian Aisyah saja selama ini. Raza hanya menyayangi Gwen seperti adiknya sendiri, begitu juga dengan Aisyah. Raza masih sibuk dengan urusan pribadinya dibandingkan dengan urusan hatinya.
Jadi, Gwen memutuskan untuk mundur dan berusaha menerima Agam sebagai penghuni baru di hatinya. Aisyah sendiri tidak pernah melarang Gwen akan jatuh cinta dengan pria mana pun. Hanya saja, Aisyah akan sedih jika Gwen dan Agam akan benar-benar menikah dan dirinya tak lagi bersama dengan Gwen.
***
Malam berganti dengan pagi. Setelah salat subuh, Aisyah dan Gwen berniat untuk olah raga dihalaman rumah mewah keluarga Wang. Namun, mereka dikejutkan dengan Raza yang sudah bersiap akan pulang ke Jogja meninggalkan mereka.
"Pak Raza, kamu mau kemana?" tanya Aisyah.
"Saya harus segera pulang. Baru saja, saya mendapat kabar bahwa Ibu saya sakit. Maaf, saya tidak bisa menemani masa liburan kalian," jawab Raza memakai sepatunya.
"Tapi ini terlalu mendadak, Pak Raza …?" Aisyah mencoba menahan langkah kaki Pak raza.
Tetap saja waktu tak bisa ditunda lagi. Pak Raza menyentuh kepala Aisyah dan mengucapkan selamat berjumpa lagi di lain waktu. Pak Raza benar-benar akan pergi dan tak tahu kapan mereka akan kembali lagi.
Kenangan bersama Gwen juga tak akan pernah ia lupakan sedetikpun. Ciuman hangat Gwen di pagi hari, ia anggap itu sebuah hadiah kecil baginya.
"Baiklah, aku tak bisa menahan dirimu lagi, Pak Raza. Hati-hati di jalan, kabari aku kalau kau sudah sampai tempat tujuan," ucap Aisyah dengan nada sesal.
"InsyaAllah, dokter. Saya pamit dulu. Assallamu'allaikum warahmatullahi wabbarokatuh,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh."
Taksi yang dipesan Raza ternyata juga sudah menunggunya di luar. Raza sudah pergi dan Gwen malah baru saja kembali. Gwen mempertanyakan keberadaan Raza kepada Aisyah. Sebab dirinya tidak menjumpainya.
"Dimana Pak Raza? Aku lihat pintu kamarnya terbuka lebar, tapi orangnya tidak ada di dalam," tanya Gwen menunjuk kamar Raza.
"Dia udah pulang," jawab Aisyah.
"Heh!" sentak Gwen. "Pulang kemana?" tanya Gwen kembali.
Terlihat raut sedih di wajah kedua saudari kembar tak seiras itu. Bagaimana tidak, kebersamaan mereka selama tiga bulan lebih juga bukan sekedar dekat saja. Sudah tertanam rasa sayang dan takut berpisah diantara ketiga.
Klung!
Suara pesan masuk di ponsel Gwen. Rupanya, di pagi hari, Gwen sudah disapa hangat oleh Agam yang menanyakan pertemuan mereka akan dilaksanakan dimana.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dek, mau ketemu jam berapa? Ibu saya sudah terus menanyakan kamu. Semalam, saya sudah ceritakan tentang kamu dengan beliau." -Agam.
"Wa'alaikumsallam. Setelah sarapan aku tak gas pol ke rumah sakit dimana Ibu Mas Agam di rawat, oke? Sampai ketemu nanti." balas Gwen semangat.
Usia olahraga, Gwen dan Aisyah membantu Nyonya kedua menyiapkan sarapan. Tentu saja dengan para pelayan yang membantunya di sana. Nyonya kedua Wang sangat baik hati, sehingga membuat Aisyah dan Gwen betah berada di dekatnya.
"Nona Lim, maaf mengganggu sarapan Nona. Saya mau menyampaikan kalau di depan sudah ada seorang laki-laki yang menunggu Nona," ujar pelayan rumah kepada Gwen.
"Huh, sudah datang? Baiklah, kau boleh pergi!" seru Gwen semangat.
"Tunggu! Laki-laki siapa yang dimaksud ini? Bukankah Tuan Pembimbing itu sudah pulang. Lantas, siapa laki-laki yang menunggumu diluar, Gwen?" tanya Chen menghentikan langkah Gwen.
"Um, itu ... anu, dia--" Gwen gugup untuk pertama kalinya.
"Dia calon suaminya. Sebelum datang ke sini, si bungsu udah di lamar sama itu laki!" sahut Aisyah dengan santai.
"Nyamber aja kek ayam milik Kak Anthea." dengus Gwen.
Chen marah mengetahui Gwen telah ada yang melamarnya. Itu sama saja akan menyingkat kebersamaan dirinya kelak bersama Gwen. Tuan Wang dan Nyonya kedua hanya bisa tertawa melihat Chen yang begitu protektif dengan kedua saudarinya.
Semua orang tertawa dengan menikmati sarapan yang penuh dengan candaan. Namun tidak bagi Xia dan Ibunya. Mereka terus saja memasang wajah masam melihat kebahagiaan orang lain.
"Awas saja, aku akan membuat kalian semua merasakan kesakitan seperti apa yang aku rasakan saat ini!" dengus Xia dalam hatinya.
Setelah sarapan, Tuan Wang kembali ke kamarnya bersama Nyonya kedua. Lalu, Cindy tengah mengantar Xia ke sekolah. Sementara Gwen sudah pergi bersama Agam usai cuci piring.
Tinggallah Aisyah saat itu bersama Chen yang sudah siap hendak berangkat ke kantor. Tak lama kemudian, Asisten Dishi datang dengan memakai pakaian santai dan hoodie kesayangannya.
"Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi juga untukmu, dokter," sapa Asisten Dishi.
"Selamat pagi juga, Asisten Dishi," jawab Aisyah mengutak-atik stetoskopnya.
Rupanya, Chen memberi waktu cuti untuk Asisten Dishi karena semalam ia terluka karena adiknya. Malam harinya, asisten Dishi juga sudah meminta izin kepada Chen untuk mengajak Aisyah jalan-jalan di Kota besar itu.
"Baiklah, Aisyah. Aku masih benyak pekerjaan yang tertunda kemarin. Jadi, jalan-jalannya di antar dulu dengan Asisten Dishi, ya ...," ujar Chen menyentuh bahu saudarinya.
Aisyah memandangi Asisten Dishi dengan cermat. Sejujurnya, Aisyah ingin menolah karena ia merasa canggung dan tak enak hati jika jalan hanya berdua saja. Tapi, melihat berkas tinggi milik Chen membuatnya tidak tega menolaknya.
"Iya, kakak semangat kerjanya, ya. Aku akan menerima ajakan Asisten Dishi," ucap Aisyah dengan senyuman tulusnya.
"Aku pergi dulu. Asisten Dishi, tolong jaga adikku. Selamat tinggal."
Setelah Chen berlalu, tiba-tiba suasana menjadi canggung. Aisyah menanyakan apakah Asisten Dishi sudah sarapan atau belum. Tentu saja Asisten Dishi menjawab sudah dengan bunyi gemuruh dalam perutnya.
"Bohong, ya. Em, sarapan itu penting loh! Ayo duduklah, biarkan saya memasak untukmu, Asisten Dishi," suara Aisyah mampu membuat hati Asisten Dishi bergetar.
"Tunggu!" seru Asisten Dishi.
"Iya ...?"
"Bolehkah saya membantu, dokter? Saya bisa memasak, apakah dokter ingin mencoba hasil masakan saya?" Asisten Dishi menawarkan diri.
Mereka menjadi bicara formal disaat kecanggungan menyerang. Asisten Dishi sudah bekerja sama dengan Chen sudah cukup lama. Jadi, Tuan Wang dan Nyonya kedua menyambut kedatangannya dengan baik juga.
Asisten Dishi lagi cuci piring untuk Aisyah.