
"Masih mau melawan lagi? Masih mau mencoba akupunktur dariku?"
Tanpa mempedulikan ancaman Gwen, sisa dari orang itu masih mau menyerangnya. Tetap saja, seorang Gwen tak mampu dikalahkan dengan mudah. Orang-orang itu berhasil Gwen tumbangkan dengan waktu yang cepat.
"Huh, lelah, lapar, dahaga, haus, semuanya dah aku rasain. Ini pelayan tadi udah siapin makanan belum, ya?" ujar Gwen dengan napas tersendat-sendat.
Gwen pergi ke dapur, rupanya makanan telah siap di sajikan oleh pelayan itu. "Wah ada tahu putih juga, seputih akhlakku!" ucapnya dengan girang.
Jam makan malam telah lewat, waktu juga sudah hampir pagi. Tapi Gwen tidak peduli itu, karena dirinya sudah lapar karena lelah berkelahi. "Mas Agam tau kalau aku berkelahi, yakin dah dia pasti akan marah," celetuknya sembari melahap nasi dengan porsi jumbonya.
Sementara itu, malam Chen membuatnya tidak bisa tidur. Ia terus duduk di kamarnya sembari membayangkan betapa indahnya masa-masa bersama Puspa waktu dulu. Tak menyangka saja, jika Puspa akan pergi meninggalkan dirinya bersama pria lain.
Dalam pikirannya, ada yang mengganjal. "Kenapa tiba-tiba dia menikah? Harusnya dia kasih tau aku dulu sebelum menikah," gumam Chen.
"Astaga, Chen. Untuk apa kau pikirkan lagi. Dka sudah dimiliki orang lain. Diam dan lanjutkan hidupmu!" tegasnya untuk diri sendiri.
Kemudian, ia pun melanjutkan untuk tidur sejenak. Di saat dirinya berjalan ke ranjang, tak sengaja lengannya menyenggol jaget yang ia kenakan di hari dimana dirinya mengetahui Pupsa menikah. Ada benda yang menonjol di saku jaket tersebut.
"Apa ini?" gumamnya.
Penasaran, Chen pun akhirnya membuka saku tersebut. Rupanya, benda yang menonjol itu adalah hadiah yang Puspa berikan seminggu yang lalu.
"Ini … kenapa ada di sini? Bukankah ini darinya?"
Benda itu berbentuk kotak. Segera Chen membukanya dan mendapati sebuah Al-Qur'an kecil berukuran telapak tangan, tasbih kecil juga alat dzikir digital. "Dia menghadiahiku benda-benda seperti ini?"
Saat mengeluarkan semua isinya, ada secarik kertas yang jatuh dari kotak tersebut. Chen pun memungutnya. Meletakkan hadiah yang ia terima, dan mulai membacanya.
~𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮, 𝘊𝘩𝘦𝘯. 𝘔𝘢𝘣𝘳𝘶𝘬 𝘈𝘭𝘧𝘢 𝘔𝘢𝘣𝘳𝘶𝘬. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘴𝘪𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘸𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘫𝘳𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘥𝘰𝘬𝘶, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘥𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘲𝘰𝘮𝘢𝘩. 𝘊𝘩𝘦𝘯, 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘔𝘢𝘴 𝘐𝘫𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘨𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘴 𝘐𝘫𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘥𝘪, 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘴 𝘐𝘫𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘔𝘢𝘴 𝘐𝘫𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘔𝘢𝘴 𝘐𝘫𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘬𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶… 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘊𝘩𝘦𝘯 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶. 𝘞𝘢𝘴𝘴𝘢𝘭𝘭𝘢𝘮𝘶𝘢'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘩𝘮𝘢𝘵𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩𝘪 𝘸𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵𝘶𝘩. 𝘗𝘶𝘴𝘱𝘢.~
Tak terasa air mata Chen mengalir begitu saja. Ia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Dirinya begitu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak sempat membuka kado dari Puspa satu minggu yang lalu.
"Ternyata ini juga ada kelalaian dariku. Aku tidak tega melihat dia merasa bersalah kepadaku kemarin. Aku telpon saja dia,"
"Haish, dia sudah menikah. Harusnya aku ada etika. Lebih baik aku kirim pesan saja. Siapa tahu, nanti dia membukanya. Jika suaminya membuka juga, itu tidak akan menjadi kesalahpahaman bagi mereka!" serunya.
Chen mengirim pesan kepada Puspa malam menjelang pagi itu juga. Berati di Jogja, sudah pagi menjelang siang.
"Salam Puspa, maafkan aku yang tidak mengerti dirimu kemarin. Aku sudah baik-baik saja. Haha aku tau kau mengkhawatirkan keadaanku. Aku hanya sakit karena kelelahan saja. Untuk pernikahanmu, aku ucapkan selamat, ya. Mungkin, Tuhan ingin kita menjadi teman saja seperti hubunganmu dengan Aisyah dan Gwen. Puspa, surat yang kamu tulis, aku baru membacanya. Maaf, jika aku tak datang waktu itu. Yah, kau tau lah, aku berjuang untuk siapa di sini. Tapi sudahlah, semua juga sudah terjadi. Berbahagialah, aku akan bahagia jika kau bisa mencintai suamimu. Salam manis, Chen Yuan Wang."
Rupanya, pesan itu langsung di buka oleh Puspa. Belum sempat membaca, Puspa meninggalkan ponselnya di meja ruang tamu, dan keluar memanggil tukang sayur. Mas Ijal yang baru saja keluar dari kamar, tak sengaja melihat ponsel Puspa dan membacanya.
"Pria ini sangat baik. Dek Puspa tidak salah dalam mencintai seseorang. Apakah aku harus mengembalikan dia kepadanya?" gumam Mas Ijal.
Mas Ijal mencatat nomor Chen dan akan menghubunginya secara pribadi. Sebelum Puspa kembali, Mas Ijal sudah mencatat nomor milik Chen.
Saat Chen hendak terlelap, ia menerima telpon dengan nomor yang tidak masuk dalam kontak ponselnya. "Nomor siapa ini? +62 kan kode negara Indonesia. Aku angkat sajalah, siapa tahu penting," gumam Chen sembari mengangkat telpon dari Mas Ijal.
"Halo, siapa ini?"
"Halo, Tuan Chen. Ini saya Ijal, suaminya Dek Puspa. Mohon maaf jika mengganggu waktunya. Tapi, apakah saya boleh meminta waktu Anda sebentar untuk mengatakan sesuatu?"
"Katakan!"
"Saya menikahi Dek Puspa karena ada suatu insiden. Jika Tuan ingin saya mengembalikan Dek Puspa, saya bisa melakukan itu. Saya juga tidak tega melihat Dek Puspa selalu murung seperti ini," ungkap Mas Ijal.
"Sudahlah, semuanya juga sudah terjadi. Dia telah menjadi istrimu. Dia bukan barang yang harus dikembalikan di saat ada orang yang menemukan," ucap Chen dengan lapang dada.
"Maaf, aku juga masih mencintainya. Tapi, perlahan aku akan melupakan perasaan ini. Tolong jaga dia, jangan pernah sakiti dia. Dia masih ada dalam hatiku, jika kau menyakitinya, pasti aku masih bisa merasakannya. Tolong, bilang kepadanya juga, untuk bahagia."
Chen menutup telponnya, kemudian kembali tidur karena esok hari akan melakukan misi penyelamatan putra dan adiknya. Benar-benar Chen telah menerima kenyataan jika cintanya tak bisa ia miliki.
Mas Ijal pula merasa bersalah karena itu. Hanya saja, dirinya juga tidak tahu harus bagaimana. Menerima, menjalani dengan ikhlas dan juga berusaha melepas beban kesalahan memang berat. Tapi, baik Chen, Puspa dan juga Mas Ijal, tidak ingin ada keributan yang terjadi diantara mereka.