
"Di sini tidak ada baju wanita yang sesuai untukmu," ucap Chen.
"Bagaimana dengan hoodie ini, ini tidak akan pres bodi bagimu," Chen mengambilkan hoodie pasangan yang ada di gantungan kaca paling atas.
Deg!
"Lagi? Perasaan itu terasa lagi? Aku sekolah tata krama, belajar supaya mengenal agama juga demi Abi dan Mas Tama selama enam tahun. Lalu, dengan mudahnya dipatahkan oleh pesona seorang, Mafia?" Puspa mulai bergumam dalam hatinya.
"Apa aku sedang masuk dalam kisah novel atau komik? Haruskah aku jatuh hati pada seorang, Mafia? Abi pasti akan membunuhku_"
Chen terus memanggil nama Puspa agar cepat tersadar dalam dunia lamunannya. "Woy, ulat ijo!" teriaknya.
"Iya, Tuan. Maaf, saya melamun, hehe …,"
Tanpa berkata suatu apapun, Chen memberikan hoodie berwarna putih itu kepada Puspa dengan sedikit kasar. "Cepat ganti! Jika dalaman kamu kotor juga, sekalian minta sama pelayan toko. Mereka bisa berbahasa Inggris!" cetusnya.
"Iya, Tuan," jawab Puspa lemah.
"Apakah dia memang selalu kasar seperti ini? Tapi kenapa dia membuat jantungku berdebar? Rasanya sungguh berbeda ketika aku bertemu dengan Mas Tama. Hih, rasaku hanya untuk Mas Tama! Harus!" tegas Puspa dalam hati.
Diketahui, Puspa memang menyukai Tama sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA. Saat itu, Tama sedang berlibur ke rumah Aisyah dan mereka bermain game bersama.
Puspa sangat mengagumi Tama karena Tama terlihat begitu dewasa sikapnya dalam pandangannya. Sejak saat itu, ia mulai menyukai Tama. Akankah Tama juga menyukai Puspa?
Tidak!
Tama sama belum tidak tertarik dengan perempuan atau bermain dengan api cinta. Dirinya hanya anak tunggal dan akan fokus ke keluarga dan masa depannya. Tama selalu mengatakan, bahwa jodoh pilihan orang tuanya akan selalu dinantikannya kecuali dirinya jatuh cinta nanti.
Usai ganti dengan hoodie couple lagi, mereka melanjutkan perjalanannya untuk menjalankan misi terakhir. Yakni membeli beberapa perabotan rumah yang ada di pinggiran kota itu. Lalu berakhir di rumah yang ada di desa yang pernah keluarga Wang beli.
"Aku lapar. Sebaiknya kita makan dulu," ucap Chen mempercepat langkahnya.
"Apa Tuan tidak bisa menunggu saya? Saya kerepotan dengan membawa ini semuanya, Tuan," teriak Puspa.
"Jika kau masih lamban, aku pastikan tidak akan makanan sedikitpun yang masuk dalam perutmu!" balas Chen mempercepat langkahnya.
Masih senang mengganggu Puspa, Chen sengaja meminta gadis berusia 21 tahun itu membawa semua belanjaan yang tidak sedikit termasuk membawa satu kilo kentang dan kubis. Kemudian Chen hanya membawa beberapa bahan makanan dari laut saja.
"Kejam sekali pria ini. Berbeda dengan Mas Tama yang selalu berperilaku lembut. Tega sekali memintaku membawa barang sebanyak dan seberat ini," keluh Puspa dalam hati.
Sesampainya di rumah makan, Chen membantu menaruh belanjaannya di depan rumah makan tersebut. "Dasar lamban!" ejeknya.
"Lamban? Tuan mengatai saya lamban? Lihatlah, barang bawaan siapa yang lebih banyak?" tunjuk Puspa.
"Sudahlah, jangan mendrama. Ayo cepat masuk, hanya ini makanan yang bisa kita makan, yang lainnya mengandung pig. Aku sudah kelaparan!" tegas Chen menarik lengan Puspa dengan sedikit kasar.
Puspa tidak menyangka jika kedatangan mereka disambut oleh pelayan dan pemilik rumah makan. "Selamat datang, Tuan Muda. Kami menerima perintah dari Tuan Wang untuk melayani calon Nona Muda ini dengan baik," ucap pemilik rumah makan, Paman Zhen.
"Siapa bilang dia Nona Muda? Dia hanya--" ucapan Chen terhenti kala melihat wajah lemas Puspa menahan lapar. "Haih, terserah kalian. Cepat sajikan makanan!" imbuhnya.
"Baik, Tuan Muda. Silahkan duduk dulu."
"Apa yang mereka katakan, Tuan? Apakah tadi kata sambutan? Sebenarnya … kita ada di mana dan kenapa mereka menyambut kita dengan sangat baik?" tanya Puspa.
"Ketika kita pertama bertemu, kau tidak sebawel ini. Bahkan bicara saja dengan nada lembut. Apakah ini sisi aslimu?" ketus Chen.
"Terserah!" kesal Puspa dengan memutar bola matanya.
Chen menatap Puspa, mengingat kata 'Calon Nona Muda' membuatnya tersenyum tipis. "Huh, apa ini? Nona Muda? Apa dia pantas?" gumamnya menyibakkan rambutnya yang sudah mulai panjang.
Sejauh itu, memang belum ada getaran dalam hati Chen. Namun, Chen ada ketertarikan dengan Puspa dari mereka boncengan bersama dan terjun ke sawah yang baru saja digarap oleh petani.
Suasana benar-benar hening karena mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Puspa kesulitan mendapatkan sinyal saat itu. Ada puluhan pesan dan panggilan dari Abinya yang sudah menantinya di rumah.
"Ada apa?" tanya Chen. "Apa ada pria tampan di ponselmu?"
"Tuan, di sini sinyal memang sulit, kah? Saya ingin menghubungi Abi, tapi tidak ada sinyal,"
"Ck, menyusahkan!" cetus Chen.
Lalu, ia meraih ponsel di sakunya dan memberikannya kepada Puspa, untuk dipakai menelpon keluarganya di Jogja. "Pakai ponselku, cepat dan kau harus ganti dengan tenagamu biaya telponnya!"
Tiada keraguan lagi, dengan senyum sumringah Puspa meraih ponsel Chen dan segera menelpon Abi-nya. Sebelum memencet tombol angka telpon, Puspa dibuat haru oleh wallpaper di ponsel Chen. Terdapat foto Aisyah, Chen dan juga Gwen di sana. Bahkan, senyum Chen juga terukir di foto itu.
"Dia kalau tersenyum manis juga, kenapa selalu jutek denganku?" gumam Puspa dalam hati.
"Apa lihat-lihat? Cepat telpon Abi, Adi atau Ali itu dan segera kembalikan ponselku!" ketus Chen.
"Iya, Tuan,"
Ketika Puspa mulai menelpon, makanan telah datang. Tak ada daging di sana, memang hanya sayuran dengan koki yang beragama muslim. Chen sengaja memperkerjakan koki tersebut khusus untuk Puspa kala mereka akan berangkat ke kota terpencil itu.
"Assallamu'alaikum, Abi. I-ini Puspa ..,"
Sepuluh menit kemudian telpon terputus. Puspa menangis dan terus menangis, berusaha menyembunyikan air matanya dan kembali ke meja dengan wajah murung. "Ini ponsel Anda, Tuan Chen," Puspa mengembalikan ponsel milik Chen.
"Terima kasih, huhuhu …," ucap Puspa sedikit dengan suara yang mau menangis.
"Ada apa? Apakah orang yang kau telpon meninggal?" tanya Chen.
"Siapa bilang? Aku menelpon Abi-ku!" elak Puspa mulai emosi.
"Hey, aku tidak tau Abi-mu itu siapa. Kenapa kau harus bereaksi seperti itu? Apa salahku?" ketus Chen tidak mau kalah.
"Abi itu, Ayah! Jika Anda menyembuhkan luka, maka jangan menaburnya menggunakan garam, dong!" sentak Puspa menangis.
Chen seketika diam. Amukan Puspa mengingatkannya pada Aisyah, melihat Puspa menangis, membuat hati Chen luluh, ia menyentuh kepala Puspa dan menanyainya. "Apa yang terjadi?"
"Hey, aku bersamamu saat ini. Setidaknya jangan menganggapku seperti tidak ada. Ceritalah kepadaku, Puspa …."
Baru kali itu, Chen berbicara dengan Puspa dengan lembut dan juga memanggil nama Puspa dengan benar. Ada apa dengan Puspa?