
Lin Aurora tidak benar-benar bodoh. Dia melakukan itu karena agar suaminya mau membuka hati untuknya. Meski Lin hanya sekolah sampai ke sekolah menengah atas, tapi Lin sangat cerdas dalam melakukan segala hal.
"Jadi sekarang aku harus apa? Apakah aku harus mengumumkan jika kau ini adalah istriku, atau aku harus mengikuti ide gilamu dan Jovan ini?" tanya Chen.
"Mengumumkan apa? Bahkan kau belum pernah memberikan resepsi pernikahan untukku. Bagaimana orang akan percaya jika aku ini adalah istrimu," ketus Lin Aurora.
"Aku belum akan mengadakan resepsi jika uangku yang Ayahmu curi belum kembali. Menyebalkan! Baiklah kalau begitu, jadilah office girl sesuka hatimu!" kesal Chen meninggalkan ruangan. "Makan siang nanti, datang ke ruangan ini lagi, aku tidak mau mendengar penolakan darimu!"
Lin Aurora keluar setelah Chen keluar beberapa saat dari ruangan tersebut. Dengan wajah murungnya, Lin Aurora berjalan menuju dapur kantor dan tertunduk lesu di sana.
"Lin, kenapa wajahmu seperti itu? Kau, tidak di pecat, 'kan?" tanya Sachi.
Lin Aurora menggeleng. "Hoh, syukurlah--" ucap Sachi mengusap dadanya.
"Aku pikir kau dipecat. Kulihat tadi Tuan Muda Wang menyeretmu dengan kasar, Lin. Tapi dia tidak menyakitimu, 'kan?" lanjut Sachi.
Lin Aurora lagi-lagi hanya mengangguk.
"Syukurlah, aku pikir dia menyakitimu. Kudengar, temperamennya juga sangat buruk. Bahkan, dengar-dengar dia selalu dingin terhadap wanita. Aku menjadi kasihan dengan istrinya, pasti selalu diperlakukan buruk olehnya. Orang kaya selalu seperti ini, sangat sulit di senangi!" celetuk Sachi.
Datanglah seorang pria ke dapur. Orang itu adalah Asisten direktur. Namanya Zi Qiyu, atau selalu dipanggil Tuan Zi. Tuan Zi ini menyukai Lin Aurora sejak awal Lin Aurora bekerja di perusahaan tersebut.
"Ada apa ini? Sepertinya wajah Nona Lin terlihat murung. Apakah ada yang mengganggumu, Nona Lin?" tanya Tuan Zi, duduk di depan Lin Aurora.
"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah saja," jawab Lin Aurora tersenyum.
"Kamu cantik saat tersenyum. Jangan sedih lagi, oke? Tolong beri tahu aku jika ada sesuatu. Jadi mungkin aku bisa membantumu lain kali," tiba-tiba saja Tuan Zi menyentuh kepala Lin Aurora dan membelainya.
Tuan Zi membelai rambut Lin Aurora sebelum dia pergi. Hal itu membuat Lin Aurora tidak nyaman, antara sedih karena suaminya belum pernah membelainya, dan dirinya yang menyembunyikan identitasnya sebagai istri seorang pemilik perusahaan.
"Apa kau melihat bagaimana cara Tuan Zi memperlakukanmu?" ucap Sachi. "Aku pikir, dia menyukaimu, Lin!" lanjutnya.
"Aku tidak peduli itu," jawab Lin Aurora kembali merebahkan kepalanya ke meja.
"Astaga, ayolah! Tuan Zi adalah kandidat yang tepat untukmu. Kenapa kamu harus menolak dia? Dekati dia dan temukan cara agar dia memberi tahu kamu bagaimana perasaannya, Lin." Sachi benar-benar sahabat yang baik.
Di saat waktu yang bersamaan, Chen jadi bekerja tidak fokus hanya karena Lin Aurora bekerja sebagai office girl. Apalagi, istrinya tidak pernah mendapat gaji dari hasil kerja kerasnya selama tiga bulan.
"Tuan, mohon maaf. Apakah ada sesuatu yang salah dari laporan itu?" tanya Direktur Liu, menunjuk kertas laporan yang saat itu ada pada tangan Chen.
"Tidak ada!" jawab Chen cuek.
Direktur Liu seperti menyukai Chen. Ia terus saja mendekati Chen dengan alasan pekerjaan. Namun, seperti biasa Chen bersikap dingin kepada wanita. Chen hanya hangat dengan adik-adiknya saja.
"There was something that bothering my mind," ucap Chen.
"Apa itu, Tuan?" tanya direktur Liu.
"Office girl yang saya bawa ke ruangan saya tadi pagi. Siapa namanya dan berikan saya laporan kinerjanya," perintah Chen dengan ketus.
"Tuan, mengapa Tuan repot-repot mengurus hal yang tidak penting. Jika office girl itu berbuat kesalahan, maka saya akan memecatnya untuk Anda. Dia memang selalu melakukan kesalahan yang membuat kepala office pusing," jelas Direktur Liu.
"Aku tidak peduli dengan kinerja gadis itu. Aku hanya ingin laporan kinerjanya saja. Apakah aku menyulitkanmu, direktur Liu?" desis Chen.
Jika Chen sudah bicara dengan nada yang berbeda, maka tandanya Chen sudah tidak nyaman dengan perilaku orang tersebut. Direktur Liu pun mengambilkan laporan kerja Lin Aurora. Sembari menunggu Direktur Liu kembali, Chen mengatakan kepada Jovan supaya memesan makanan untuknya.
"Masing-masing dua porsi dan juga kau panggil istriku ke ruanganku," ucap Chen.
"Ck, kau punya ponsel, istrimu juga punya ponsel. Kenapa kau tidak menelponnya saja, Chen? Aku kesal kalau kau terus seperti ini!" tolak Jovan.
"Ini masih di kantor. Kau berani bicara seperti itu padaku, Jovan?" desis Chen dengan menyenggol lengan Jovan.
"Benar-benar … usianya masih muda tapi pikirannya kolot! Berikan ponselmu, biar aku yang menelpon istrimu!" saking kesalnya, Jovan sampai merebut ponsel milik Chen dan mencari nama Lin Aurora di kontaknya.
Sudah berulang kali Jovan mencari nama Lin Aurora di kontak ponsel Chen, tetap saja Jovan tidak menemukannya. Bahkan, Jovan juga mencari dengan sebtan 'istri', tetap saja tidak menemukan kontak Lin Aurora.
"Dimana?" tanya Jovan.
"Apanya?" tanya Chen kembali.
"Kontaknya," ucap Jovan.
"Kontak siapa?" tanya Chen.
"Astaga, kontak istrimu,!" tegas Jovan kepada Chen.
Chen lama berpikir. Ia terus mengingat-ingat dan menjawab, "Aku tidak tau," jawabnya.
"Menyebalkan!" kesal Jovan. "Kau benar-benar pria yang menyebalkan!"
Jovan memberikan ponsel Chen kembali dengan kasar. Kemudian meninggalkannya di ruang rapat dan segera memesan makan untuk sepupunya yang katanya menyebalkan itu.
"Apa salahku? Satu rumah haruskah memiliki nomornya?" dengan tidak merasa bermasalah, Chen mengatakan hal itu dengan bergumam.
Di luar, Jovan terus bergeming dengan kelakuan Chen yang membuatnya semakin terlihat seperti orang tua yang selalu mengomel. "Astaga, dia ini kenapa?" kesal Jovan.
"Bisa-bisanya dia tidak menyimpan nomor istrinya sendiri. Di kontaknya hanya ada lima kontak saja? Benar-benar … aghhrrr kenapa dia tidak pernah benar otaknya, sih!"
Jovan benar-benar marah sampai dia harus membanting pintu mobilnya. Kemudian pergi membeli makan untuk makan siang mereka. Meski kesal dengan sepupunya sendiri, Jovan tidak pernah membencinya. Hanya saja heran memiliki sepupu seperti Chen.
Di kontak ponsel Chen, lima kontak itu adalah … Dishi, Aisyah, Gwen, nomornya sendiri dan juga nomornya Adam. Selain itu, tidak ada nomor lagi yang di simpan olehnya. Itu sebabnya, Chen hanya selalu mengingat nomor belakang saja jika itu Jovan dan Tuan Wang yang menelponnya.
Usai membelikan makanan, Jovan langsung ke dapur kantor dimana para office girl dan office boy berkumpul. "Permisi, apa ada yang melihat Nona Lin?" tanya Jovan dengan lembut.
"Oh, Tuhan! Kenapa dia tampan sekali?" gumam Sachi dalam hati.
"Apa tidak ada yang melihat Nona Lin, kah? Kalau begitu, saya permisi dulu,"
"E, tunggu! Apakah Anda Asisten pribadi Tuan Muda Wang? Tadi Lin keluar sebentar, katanya mau ke ruangan Tuan Muda," jawab Sachi tebar-tebar pesona.
Jovan hanya tersenyum, kemudian pergi begitu saja meninggalkan dapur. Sachi jatuh cinta pada pandangan pertama. (Hanya pemanis)