Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Jangan Cemburu



"Jovan!" teriak Lin Aurora.


"Ck, biasa saja. Rekasimu ini terlalu berlebihan," ucap Jovan sinis. 


"Kau terluka, bagaikan bisa aku tidak bereaksi begini. Katakan, mana yang terluka? Apakah serius, atau ka--" kepanikan Lin Aurora terhenti kala melihat Jovan menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya yang terluka.


Mata sipit Lin Aurora semakin sipit kala melihat luka sekecil di tangan Jovan. Jovan ini selalu begitu, luka sekecil apapun, pasti darahnya yang keluar akan banyak.


"Kenapa? Kecewa karena aku tidak terluka parah? Enyahlah! Aku malas bertemu denganmu!" ketus Lin Aurora. 


Bibir Jovan langsung di capit menggunakan penjepit kertas oleh Lin Aurora. Kesal karena Jovan tiba-tiba saja ketus padanya. "Aw, sakit!" jerit Jovan.


"Rasakan! Siapa suruh kau menyebalkan. Aku sudah panik dan khawatir. Kenapa bisa ceroboh sampai menabrak Sachi dan harus terluka? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Lin Aurora sibuk mengobati luka kecil Jovan. 


Sejak awal mengenal,  memang tidak ada yang Jovan sembunyikan hubungan antar dirinya dengan Lin Jiang. Jovan pun menceritakan kepada Lin Aurora jika hubungannya dengan kakaknya telah berakhir. 


"Ha? Apa alasannya? Kenapa tiba-tiba dia memutuskan hubungan kalian?" tanya Lin Aurora penasaran. 


"Dia bilang jika putus adalah jalan terbaik. Dia juga mengatakan jika dia tidak mencintaiku selama membina hubungan denganku. Ash! Aku membenci scene ini!" kesal Jovan dengan memukul  meja. 


Lin Aurora tidak bisa berkata apapun. Dia merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya. Gerak-gerik Lin Jiang selalu mudah ditebak oleh Lin Aurora. "Tenang saja, aku akan bicara dengannya nanti. Siapa tau, ada masalah yang memang tidak bisa dia katakan padamu," ucapnya sembari membalut luka kecil di jari Jovan. 


Ketika Lin Aurora mengobati jari Jovan, Sachi masuk ke ruangan Jovan dengan membawa obat juga. Sachi begitu semangat ingin mengobati pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. Namun,  kegirangannya dipatahkan oleh Lin Aurora yang lebih dulu  masuk ke ruangan Jovan. 


"Eh, Lin? Kenapa dia ada di sana? Apakah dia sedang mengobati jari Tuan Jovan?" Sachi melihat mereka menjadi sedih. 


"Mereka terlihat begitu akrab. Apakah ... Lin juga menyukai Tuan Jovan?" 


"Um, jika benar begitu, lalu bagaimana denganku?" 


Sachi terus diam mengamati Lin Aurora dan Jovan yang sedang bersama. Tak lama kemudian, datanglah Tuan Zi menegur Sachi yang masih berdiri di depan pintu. 


"Kamu kenapa masih berdiri saja di sini? Ini kenapa bawa kotak obat, tapi belum juga mengobati Tuan Jovan?" tegur Tuan Zi. 


Sachi menunjuk ke arah Lin Aurora dan Jovan. Tuan Zi menjadi sedikit tidak senang melihat keakraban mereka. Tuan Zi pun meminta Sachi untuk masuk bersamanya dan menanyakan luka Jovan. 


"Ayo, masuklah bersamaku!" ajak Tuan Zi. 


"Tuan Jovan, bagaimana dengan luka anda?" tanya Tuan Zi. "Apakah ada yang serius?" lanjutnya. 


"Ah, tidak. Hanya luka kecil saja. Lihatlah, Nona Lin sudah mengobatinya dan membalut dengan plester," jawab Jovan menunjukkan lukanya. 


Tuan Zi tersenyum. Kemudian mengajak Lin Aurora untuk pulang bersama. Sontak, Jovan langsung meloncat dan menahan lengan Lin Aurora, mengatakan jika dirinya yang akan mengantarnya pulang. 


"Tidak! Nona Lin sudah berjanji untuk pulang bersamaku," ucap Jovan. 


Seketika membuat Lin Aurora menatap Jovan, menatapnya seolah kapan dirinya berjanji pulang bersama Jovan. "Tuan, kapan saya berjanji kepada Anda?" tanya Lin Aurora. 


"Oh ... bu-bukankah rumah kita tidak searah? Mengapa Tuan repot-repot ingin mengantar saya pulang?" Lin Aurora sampai mengedipkan matanya berkali-kali. 


Kedipan mata itu malah di balas kedipan mata juga oleh Jovan. Seorang Jovan tidak paham dengan arti kedipan mata tersebut. Lin Aurora tidak ingin orang kantor sampai tahu jika dirinya kenal akrab dengan Jovan. Itu hanya akan membahayakan identitasnya sebagai office girl di perusahaan milik suaminya sendiri. 


"Tuan Jovan .. saya biasa pulang sendiri. Kebetulan sekali rumah Tuan Jovan dan Sachi searah. Anda bisa mengantarnya pulang. Bukan begitu, Sachi? Ayo Tuan Zi, kita pulang__"


"Mati aku! Jika Chen tahu istrinya di bawa pria lain, bisa-bisa rekeningku ... Tidak! Aku harus beritahu Chen tentang ini," gumam Jovan dalam hati. 


Dia pun meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Chen. "Istrimu pulang dengan pria lain. Tangan dan hatiku sedang terluka. Aku tidak bisa merebut istrimu dari pria itu. Selamatkan sendiri istrimu, aku tidak mau ikut campur!"-, begitu pesan yang Jovan kirimkan. 


Saat Jovan hendak melangkah, dia masih melihat Sachi ada di depannya. "Astaga, kau masih di sini?" tanyanya terkejut. 


"Lin berkata, tadi Tuan ingin mengantarku pulang. Makanya aku masih di sini menunggu anda," jawab Sachi. 


Jovan menghela napas panjang. Padahal, rumah Sachi dan kediaman Wang berlawan arah. Demi Lin Aurora dan rahasianya, Jovan mengalah mengantar sachi pulang. "Hash, baiklah. ayo segera aku antar kau pulang!" 


Betapa girangnya Sachi. Dia pulang diantar oleh pria yang ia sukai. Sementara Jovan malah tertunduk lesu. Hatinya sedang terluka karena cintanya kandas, ini malah diminta mengantar teman Lin Aurora yang menurutnya sangat mengganggu. 


***


***


Di rumah, setelah Chen mendapat pesan dari Jovan bahwa istrinya di antar pulang oleh Tuan Zi, dia pun menjadi kesal. Ingin rasanya mengamuk, tapi dia malu karena saat itu banyak keluarga dari pihak Ayahnya yang datang membahas proyek baru. 


"Sial, siapa Tuan Zi ini? berani-beraninya dia mengantar istri orang? Apakah dia tidak tahu jika Loin Aurora sudah bersuami?" gumam Chen dalam hati. 


Dengan bibirnya yang terus cemberut, Tuan Wang pun sampai menegurnya. "Chen ada apa? Apa ada masalah? Mengapa kau terlihat begitu kesal?" tanyanya. 


"Tidak! Hanya tikus di game ku ini susah matu. Jadi, aku agak kesal," jawab Chen, beralasan. 


Ketika para kerabat membahas hal penting, Chen berpamitan ingin keluar sebentar. Meski awalnya Tuan Wang melarang karena etika, tapi Nyonya Wang mengizinkannya, karena Nyonya Wang tidak sengaja membaca pesan dari Jovan saat Chen menerima pesan tersebut. 


"Terima kasih, Ibu. Semuanya, saya permisi__" 


Segera Chen mengeluarkan mobilnya. Biasanya, Lin Aurora akan turun di pinggir toko yang masih jauh dari rumah suaminya. Maka dari itu, Chen menunggunya di samping toko tersebut. 


Setelah menunggu sekitar setengah jam sampai perutnya keroncongan, akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti di depan toko. Turunlah Lin Aurora dari mobil tersebut. Dari kejauhan, Chen melihat mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan, karena Lin Aurora terus saja menebar senyuman kepada Tuan Zi. 


"Sialan, dia adalah asisten direktur itu, bukan? Menyebalkan sekali. Kenapa Lin segala harus tersenyum padanya?" kesal Chen sampai memukul setir mobilnya sendiri. 


"Kenapa mereka mengobrol lama sekali, sih? Ih, lama-lama aku musnahkan pria itu!" 


Chen terus mengamati Lin Aurora bersama dengan Tuan Zi yang memang sedang mengobrol. Tapi, dari pandangan Chen memang berbeda dari kenyataannya. Tuan Zi dan Lin Aurora sedang membahas masalah Jovan dan pekerjaan saja. Di mata Chen, mereka sedang bercanda ria karena rasa suka.