
Seminggu berlalu, Chen akhirnya berhasil menuntaskan pekerjaannya yang menyita waktunya itu. Perusahaan yang sebelumnya dicabut saham milik Tuan Natt telah stabil. Kini, Chen bisa bernapas lega dan segera bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Hah, akhirnya. Semuanya berjalan dengan lancar. Aku pikir, aku masih harus membutuhkan waktu lama lagi, ternyata~" Chen tak henti-hentinya mengecek hasil kerjanya selama lima bulan terakhir.
"Selamat Chen, peningkatan perusahaan ini maju pesat. Kau dan Asisten pribadimu, ternyata sama-sama bisa diandalkan," puji Jovan dengan menepuk bahu Chen.
"Akhirnya, aku bisa menemui Puspa dalam waktu dekat ini. Aku akan segara menemuinya, dan membicarakan masalah pernikahan," gumam Chen dengan semangat.
Bergegas ia ke rumah untuk mengambil beberapa barang miliknya. Jovan memintanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Namun, Chen tidak ingin melakukan itu karena telah lama tidak bertemu dengan wanita pujaannya.
"Chen, istirahatlah dulu. Jika badanmu sudah mendingan, aku sendiri yang akan menemanimu ke sana,"
"Tidak, aku harus segera datang ke sana. Entah kenapa hatiku merasa tidak tenang sejak kemarin." Chen sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh sepupunya.
Bersiap berangkat ke Jogja menemui Puspa dengan keadaan tergesa-gesa, membuat Tuan Wang marah karena Chen tidak memperhatikan kesehatannya. Sejak pulang dari Korea, selama satu minggu itu, Chen sudah dua kali masuk ke rumah sakit.
Hari itu juga, dengan ditemani Jovan, Chen berangkat ke Jogja. Ia juga membawakan sesuatu untuk Puspa. Sebagai hadiah, karena telah lama tidak bertemu dengannya.
"Apakah Puspa akan suka hadiahku? Aku harap dia menyukainya. Tak sabar aku ingin melihat reaksinya saat aku datang tanpa memberikannya kabar," ujar Chen bersemangat.
"Hish, orang tak pernah jatuh cinta. Sekalipun jatuh cinta menjadi orang aneh!" ejek Jovan dengan menepuk keningnya.
Di sakunya, Chen juga membawa hadiah yang pernah Puspa berikan padanya. Dengan penuh harap, Chen bisa menikahi Puspa secepatnya dan membawanya ke Tiongkok untuk hidup bersama.
Perjalanan Chen kali itu terasa sangat lama sekali. Kerinduannya kepada seorang kekasih sudah memuncak dan tak tertahankan.
Sesampainya di Jogja, Chen menaruh semua barang-barangnya ke rumah orang tuanya. Meski telah enam bulan tidak dihuni, rumah itu masih selalu bersih dan rapi. Terkadang, Airy dan Ayyana selalu bergantian membersihkan rumah itu.
"Kamu yakin tidak mau istirahat dulu, Chen? Kita baru sampai, loh!" usul Jovan.
"Esok aja kita datang. Kita istirahat, ingat kesehatan dirimu jauh lebih penting, Chen. Ayahmu, Paman Wang pasti akan memarahiku juga," Jovan sampai memohon.
Chen menatap sepupunya dengan dalam. Ia berpikir, jika apa yang dikatakannya ada benarnya. Kesehatannya terganggu karena kurang tidur dan telat makan. "Hm, baiklah." akhirnya Chen patuh juga.
Malam itu, Jovan keluar mencari makanan untuk dirinya dan juga Chen. Meski rumah itu terawat, di dapur tidak ada bahan makanan sama sekali. Sehingga, mengharuskan Jovan mencari makanan di luar.
"Aku harus cari makanan. Kau makan dulu obat yang harus di minum sebelum makan. Aku segera kembali," ujar Jovan.
"Apa kau yakin akan keluar sendiri?" tanya Chen ragu.
"Aku memiliki mulut. Jika aku tidak tau, aku bisa bertanya, 'kan?" jawab Jovan dengan angkuh. "Istirahat lah, aku segera kembali," imbuhnya dengan berlalu pergi.
Saat Jovan keluar, tak sengaja dirinya bertemu dengan Ayyana. Setiap malam, Ayyana akan menyalakan lampu depan. Di pagi hari, Airy yang akan mematikannya.
"Heh, kamu siapa? Ke-kenapa kamu keluar dari rumah ini? Bagaimana kamu masuk?" tanya Ayyana siap untuk memukul Jovan.
"Um, a-pakah Anda bisa bi-bicara menggunakan bahasa Inggris?" tanya Jovan terkejut, sehingga membuatnya gugup.
"Heleh, banyak ngomong! Katakan kamu siapa dan bagaimana bisa kamu keluar dari dalam, hah!" teriak Ayyana menahan lengan Jovan dan mencengkramnya dengan kuat.
"Tolong lepaskan aku dulu. Aku akan katakan apa yang terjadi," pinta Jovan sampai memohon.
Percuma saja Jovan memohon, Ayyana tidak mengerti apa yang Jovan katakan karena menggunakan bahasa Mandarin. Tak nyambungnya mereka membuat kegaduhan di depan rumah. Sehingga membuat Chen harus keluar untuk memastikan apa yang terjadi.
Saat itu, tangan kanan Ayyana menarik telinga Jovan. Sementara tangan yang sebelahnya mengunci tangan Jovan di punggungnya.
"Chen, tolong! Wanita gila ini berusaha menyerangku!" teriak Jovan dengan berusaha meraih Chen menggunakan tangan sebelahnya.
Plak!
Chen memukul kepala Jovan, sehingga membuat Ayyana melepaskan genggaman dan jewerannya.
"Siapa yang kau sebut gila itu, hah!" ketus Chen.
"Dia!"
Dengan polosnya Jovan menunjuk Ayyana. Sekali lagi Chen memukul kepala Jovan dengan sedikit keras. "Chen, sakit!" teriak Jovan.
"Bodoh! Yang kau sebut gila ini adalah kakakku!" tegas Chen dengan menunjuk Ayyana.
Ayyana sendiri langsung melipat tangannya dan menegakkan kepalanya. Betapa bangganya Chen mengakui dirinya sebagai kakaknya di depan orang lain.
"Apa? Bagaimana mungkin dia menjadi kakakmu? Bukankah kau adalah anak pertama?" Jovan masih bingung dengan kenyataan itu.
"Dia kakak sepupuku. Anak dari kakak Ayahku. Kau sebut dia gila? Dia wanita yang cantik dan manis seperti kau sebut gila? Kau yang gila!" sulut Chen.
Ketika Chen memarahi Jovan, tiba-tiba saja ia merasakan kesakitan pada dadanya. Beberapa hari terakhir, Chen selalu merasakan sakit pada dadanya sendiri.
"Chen, kamu kenapa?" Ayyana dibuat panik.
"Chen, ayo aku papah ke dalam. Pasti penyakitmu kambuh lagi," sahut Jovan segera membawa Chen masuk ke dalam.
Plak!
Ayyana jadi ikutan Chen memukul Jovan dengan entengnya.
"Aduh!" jerit Jovan mengisap kepalanya.
"Heh, tak bisakah kau bicara menggunakan bahasa yang aku pahami? Bisa-bisa kusunat kau!" cetus Ayyana.
Sembari memapah Chen masuk, Jovan bertanya tentang apa itu sunat. Dengan lantang, Ayyana menjawab, "Dipotong kau punya burung, mau!"
Seketika, Jovan langsung memegang datang burungnya. Bayangan Jovan, dipotong seluruhnya dan akan habis.
"Jika dipotong, bagaimana aku bisa memiliki keturunan? Kamu jangan asal bicara saja," Jovan mulai gugup.
"Wanita ini memang gila. Tak peduli dia kakaknya Chen atau apa. Tapi aku harus menjauh darinya," batin Jovan waspada.
Chen terlihat lemas, sampai saat itu semua orang termasuk Jovan tidak mengetahui apa yang diderita Chen sampai membuatnya pingsan berkali-kali.
Malam itu, Ayyana menelpon Abi-nya untuk mengirim makanan ke rumah Yusuf yang ditempati Chen saat itu. Adam mengusulkan Chen untuk kerumah sakit, tapi Chen menolaknya.
Membayangkan kebahagiaan kala bertemu dengan Puspa esok hari sudah membuatnya jauh lebih baik. Apalagi, mendengar jika Ayah dan Ibunya di luar negri juga baik-baik saja. Chen tak ingin apapun lagi.
Adam menatap Chen dengan pandangan kasihan. Bagaimana tidak, demi dapat berkumpul dengan keluarga kandungnya, Chen rela bekerja keras dan harus sakit di usianya yang terbilang masih sangat muda. Meski sakit itu tidak memandang usia, hanya saja Chen seperti itu karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.