
"Aku harus sampai di sana secepatnya. Atau pelacak itu akan kehabisan baterai," batin Asisten Dishi dengan secepat kilat memacu mobilnya yang sudah di siapkan oleh Tuan Wang.
Flashback, semalam.
Setelah tiba di kediaman keluarga Wang. Asisten Dishi melapor Aisyah telah di bawa oleh musuh. Tuan Wang yang sudah sangat menyayangi Aisyah meminta Asisten Dishi terus mengawasinya.
Asisten Dishi mengatakan rencana yang ia miliki. Tuan Wang menyetujui hal itu. Esok hari, ketika Chen dan Jovan menuju kediaman keluarga Lim, ia akan turun di jalan dan berangkat ke perbatasan dimana Aisyah dan Leo berada. Tuan Wang bersedia memberikan satu mobil lagi untuk Asisten Dishi bawa.
Kembali lagi ke waktu dimana Gwen tengah sarapan bersama dengan Jackson Lim dan juga Cindy. "Astaga, ayolah! Dimana adik dan keponakanku? Tinggal bilang, apa susahnya? Kasihan adikku masih bayi!" seru Gwen menikmati santap paginya.
"Kalau makan tuh diam, yang tenang bisa nggak, sih?" sulit Cindy.
"Tinggal katakan dimana adikku dan juga keponakanku, bisa nggak, sih?" balas Gwen.
"Aku ingin Ibumu dan Ayahmu yang datang ke mari. Kenapa harus kamu? Anak nakal!" Cindy benar-benar sudah memiliki dendam mendalam kepada Rebecca dan juga Yusuf.
"Ya itu kan masalah Anda sendiri, karena Anda jahat ya bukan salah kami sebagai anak Mami Rere dan Ayah Yusuf, dong! Kenapa kami harus jadi korban?" sulut Gwen tak terima.
"Hey, penyihir! Kalau cinta sudah ditolak, kenapa masih saja ngejar sampai sekarang? Toh juga Ayahku milih Mamiku!" lanjut Gwen.
"Mamiku lebih cantik, baik, dia juga punya akhlak yang bagus, dan satu lagi … dia juga cerdas, nggak bodoh seperti situ," tukas Gwen sembari minum susu yang pelayan buatkan.
"Gwen!" bentak Cindy sembari menggebrak meja.
"Alamak jay, buset! Kaget tau!" teriak Gwen.
"Cukup!" teriak Jackson Lim melempar gelas yang ada di pinggir tangannya.
Tar!
Suara pecahan gelas itu membuat Chen tergesa-gesa masuk meninggalkan Jovan dan Xia di dalam mobil. "Ada apa ini?" tanya Chen dengan raut khawatir.
Chen segera berlari menuju Gwen, menanyai bagaimana keadaannya. Kedatangan Chen membuat Jackson Lim juga Cindy merasa tak senang.
"Kenapa kau kemari?" tanya Jackson Lim kesal.
"Oho! Chen, ada apa kamu sampai datang kemari?" sahut Cindy.
Sayang, kedua orang jahat itu tak ditanggapi oleh Chen. Ia malah sibuk memutar tubuh Gwen kesana-kemari untuk memastikan jika adiknya itu tidak kurang sedikit pun.
"Katakan mana yang terluka? Aku akan membuat perhitungan jika kau sampai terluka," ucap Chen.
"Iya, mereka membuatku terluka," ujar Gwen dengan wajah manjanya.
"Dimana? Dimana yang terluka?" tanya Chen panik.
Gwen menepuk dadanya, "Di sini! Mentalku tersakiti, tertekan, dan juga terpental. Kau bisa hukum mereka, Kak!"
"Apa yang kau katakan itu, Gwen!" Cindy tidak terima dengan tuduhan palsu dari Gwen. Ia membantah sembari menunjuknya.
Tanpa pikir panjang lagi, Gwen memanfaatkan keadaan itu dengan baik. "Hua, kakak lihatlah! Dia membentakku,"
Di luar, Xia hanya diam seperti patung tang benar-benar tidak ada nyawanya. Sejak ia berselisih dengan Puspa, Tuan Wang memerintahkan Nyonya kedua untuk mengurungnya di kamar.
"Xia, apa kau sudah siap? Tolong, tolonglah sekali ini. Kerja samalah dengan kami. Kami janji, kami akan lakukan apa yang kau inginkan," Jovan sedang membujuk Xia.
Bagaimanapun juga, Xia adakah sepupunya. Tak mungkin Jovan akan menyakiti gadis berusia 14 tahun itu. Ayah Xia adakah adik dari Ayahnya Jovan. Itu sebabnya, Jovan juga tak ingin Xia sampai terluka.
"Hahaha aku tidak butuh! Meskipun aku mati hari ini, itu tidak akan membuat kalian sedih, 'kan?" kata Xia. "Kalian semua membuangku, tidak menyayangiku, bahkan tidak pernah menganggap diriku tidak ada, untuk apa lagi aku hidup?" lanjutnya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Jovan terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Saat kecil, mereka juga tidak akrab. Kehadiran Xia juga tidak ada yang menginginkannya. Lalu, cara Cindy mendidik Xia juga salah. Hingga membuat Xia menjadi gadis yang pendendam.
"Xia, aku adalah kakakmu juga. Percayalah, aku akan menjagamu hari ini. Bekerja samalah, dan aku akan menjamin keselamatanmu," ucap Jovan.
"Kakak?" tanya Xia mengerutkan dahinya.
"Kakak? Bahkan aku sampai lupa jika aku memiliki kakak lain selain Kak Chen. Kak Chen sangat membenciku, kau sangat menyayanginya, apa mungkin kau juga menyayangiku? Mustahil!"
"Xia, aku janji. Tolong, aku beda dengan keluarga lainnya. Kau ingin menjadi anak baik, bukan? Hari ini, kau bisa buktikan bahwa kau anak baik. Kakak Chen mu pasti akan bangga padamu," Jovan terus mengatakan kebaikan kepada Xia. Agar Xia mau bekerja sama dengannya untuk menukar diri dengan Ilkay dan juga Rifky.
Susah payah Jovan membujuk Xia. Tapi akhirnya, Xia luluh juga. Ia tertarik akan melakukan kebaikan agar kakaknya, Chen, mau menganggap jika dirinya ada di hadapannya.
Di sisi lain, Jackson Lim kesal mendengar perdebatan antara Gwen dan Cindy. Ia pun melepaskan peluru di ruangan itu, dengan si sasarkan ke lampu gantung dan membuat keduanya terdiam.
Duar! Duar!
Dua peluru ia lepaskan, sehingga membuat lampu gantung dan satu lampu pecah. Tak lama setelah itu, terdengar suara bayi menangis.
"Oek, oek,"
Gwen dan Chen langsung menoleh ke sembarang arah untuk memastikan jika bayi itu adalah adiknya.
"Rifky?" sebut Gwen dan Chen bersamaan.
"Dengar? Apa kalian ingin keributan lagi? Jika iya, lanjutkan saja. Aku akan melepaskan semua peluru dan membuat adik kalian menangis, mau!" teriak Jackson Lim masih mengerahkan pistolnya ke atas.
"Aku hanya akan memberikan tawananku, di saat tawanan yang aku inginkan kalian penuhi," lanjutnya dengan mengelus-elus pistolnya.
"Apa maumu, Jackson?" tanya Chen dengan waspada.
"Sederhana, aku hanya ingin kakakku tercinta yang mengambil bayinya sendiri. Lalu, untuk anak kecil lainnya, aku tidak peduli. Itu adalah tawanan dari wanita di depan kalian itu, paham?"
Chen tidak menyangka jika yang Jackson Lim tawan hanyalah Rifky saja. Membuatnya semakin bingung, sebab yang bisa ditukarkan dengan Xia, pasti hanya anaknya saja.
"Kenapa kau menyulitkan kami, Jackson? Dendammu dengan orang tua kami, itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kami!" sentak Chen mulai terpancing emosi.
"Aku akan memberikan kode kepada Paman Chris, supaya dia bisa mengirimku orang untuk membantu membawa Rifky diam-diam," lanjut Gwen dalam hati.
Jackson Lim terus saja mengatakan bahwa yang ia mau adalah Rebecca. Ia juga mengancam akan membunuh baby Rifky jika Chen tidak segera pergi dari kediamannya.
"Bagaimana dengan anakku?" tanya Chen. Chen sibuk berdebat, Gwen malah melanjutkan sarapannya sembari mangguk-mangguk seperti petapa hebat.
"Chen, kenapa kamu seperti ini denganku? Aku yang membesarkanmu, bukan? Tak bisakah kau menunjukkan belas kasihmu sebagai seorang anak kepadaku?" lirih Cindy memasang wajah memelas.
"Cih, kau sendiri yang ingin aku seperti ini. Kenapa juga kau yang merasa paling tersakiti?" sulit Chen membuang muka.
"Aku yang merawatmu sejak bayi, aku yang mengganti popokmu, aku juga yang menjagamu di saat kau sakit, Chen. Begini kah caramu membalas kebaikan seorang Ibu?" Cindy masih saja berkelit.
"Dih, maap-maap kata ini. Situ gagal jadi istri dan gagal jadi ibu, kenapa nyalahin anak orang lain? Lawak! Situ sehat?" sahut Gwen dengan mulut penuh dengan kerupuk udang.
"Apa kau benar seorang Ibu? Ibu mana yang tega meninggalkan anak kandungnya menjadi seorang tawanan rumah? Kau Ibu yang paling kejam yang pernah aku miliki, Aku membencimu … sangat membencimu," tiba-tiba XIa datang bersama dengan Jovan.
CIndy terkejut saat putrinya datang dengan badannya yang kurus dan seperti tidak terawat. Sesaat, ia merasa sakit kala melihat putrinya mengatakan bahwa putrinya sangat membencinya.
"Xia~"
Langkah Cindy di halangi oleh Chen kala ingin mendekati Xia. "Apa kau tidak malu? Kau meninggalkan putrimu selama lima bulan tanpa memikirkannya dan memilih kumpul kebo dengan pria ini, lalu sekarang … kau ingin mengakuinya sebagai anakmu?" desisnya, kemudian mendorong kecil tubuh Cindy.
"Astaga, drama apa lagi ini? Aku hanya ingin Rebecca. Kenapa kalian malah datang dan mengusik ketenanganku?" kesal Jackson Lim.
Masih sibuk makan, Gwen tidak peduli dengan situasi yang ada. Baginya, mengisi amunisi perut adalah bagian penting sebelum bertempur.
Duar!
"Ingat, aku hanya ingin Rebecca. Kalian jika tidak ingin mati di sini, maka pergilah sebelum aku berubah pikiran!" tegas Jackson Lim kembali melepaskan pelurunya.
Kembali suara tangisan Rifky terdengar di telinga mereka. Membuat Gwen semakin kesal dan melemparkan belatinya ke lengan Jackson Lim. "Ah! Apa yang kau lakukan, anak tengik!" teriaknya.
"Penjaga! Cepat kalian tangkap mereka!" Cindy memanggil semua orangnya untuk menangkap Gwen, Chen dan Jovan.
Cindy segera berlari membantu Jackson Lim naik ke atas. Xia melihat Ibunya yang benar-benar telah meninggalkannya. Membuat ia marah dan ingin membantu Chen mendapatkan anak dan adiknya.
"Kau membuangku lagi?" gumam Xia dalam hati.
Para penjaga datang, Gwen meminta Chen dan Jovan untuk mengatasi semua orang dari Jackson Lim itu. Sementara dirinya hendak menyusul Jackson Lim dan membuat perhitungan.
"Lindungi aku, aku akan naik untuk membereskannya!" perintah Gwen.
"Kak Gwen," panggilan Xia kepada Gwen, membuat langkah Gwen terhenti. "Ada apa?" tanya Gwen dengan ketus.
"Bolehkan aku membantu? Aku akan membantu kalian mendapatkan Ilkay dan juga adik kalian," Xia memohon kepada Gwen.
Gwen mendapat Chen, lalu Chen menatap Jovan. Jovan mengangguk, ia berharap jika Xia memang mampu membantunya.
"Kakak, apa aku boleh …?"
"Pergilah! Aku mempercayaimu, jangan kecewakan aku," jawab Chen.
"Terima kasih, Kakak," betapa girangnya Xia mendapatkan kepercayaan dari Chen.
Saat Xia melangkah ke lantai dua, Chen memanggilnya. "Xia," lalu Xia pun menoleh. Dengan sedikit berat hati, Chen mengucapkan, "Hati-hati,"
Kepercayaan itu sangat mahal, Xia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga itu. Ia menatap Jovan dan mengucapkan kata terima kasih telah membuatnya yakin, bahwa jika dirinya menjadi baik, Chen akan baik juga padanya. "Xie-xie," ucap Xia dengan senyuman. Ia pun pergi ke atas bersama dengan Gwen untuk membawa kembali Ilkay dan Rifky.