
Pagi ketika pulang dari masjid, tak sengaja Gwen mendengar ibu-ibu sedang membicarakan dirinya yang akan menikahi dengan melangkahi kedua kakaknya. Apalagi, mereka juga membahas jika mereka kasihan dengan Aisyah yang dilangkahi oleh Gwen.
"Setahu saya nih ya, Bu. Selama ini, yang sering dilamar itu Aisyah. Kenapa yang menikah duluan malah adiknya, ya? Bukankah itu juga sama saja melangkahi kakaknya?"
"Benar, dan itu pamali loh. Kasihan Aisyah, pasti akan jadi prawan tua itu. Kok Pak Yusuf ini nggak memperingati, ya. Dia kan paham agama!"
Desas desis itu membuat telinga Gwen panas. Ia pulang dengan rasa kesal dan melimpahkan kekesalannya kepada Aisyah yang saat itu sedang sarapan bersama dengan keluarganya. Gwen juga hanya mengucapkan salam kepada orang tuanya saja, tidak dengan Aisyah maupun Chen.
"Gwen kamu kenapa, sih? Pulang dari mushola kok marah-marah seperti ini?" tanya Rebecca heran.
"Kenapa sih semua harus memperhatikan Aisyah, Aisyah, Aisyah terus. Kami anak kembar, 'kan? Selisih usia kita juga hanya 2 menit saja. Lantas, apakah aku harus menunggu dia menikah lebih dulu, Mi?"
"Aku muak semuanya kasih sayang dilimpahkan padanya. Aku kembar identik dengan Kak Chen, tapi aku tidak kembar identik dengan Aisyah. Haruskah kami memiliki kesamaan?"
"Pamali? Itu kepercayaan mereka, kenapa semua menuduhku melompati saudariku sendiri yang belum siap menikah? Lalu, dimana salahku? Jika aku sampai gagal menikah, ini semua karena AISYAH!" Gwen mengucapkan itu dengan menunjuk wajah Aisyah.
Seketika, membuat air mata Aisyah menetes. Roti panggang kesukaannya terjatuh begitu saja. Dirinya juga tidak tahu kenapa semua orang terlalu menyayanginya daripada Gwen.
"Jika kamu ingin menikah, menikahlah. Aku tidak keberatan jika kau menikah lebih dulu, Gwen." ucap Aisyah dengan nada gemetar dan air mata yang bercucuran.
"Gwen, aku tak akan pernah marah jika kau menganggapku merebut semua kasih sayang keluarga hanya tertuju padaku. Tapi, aku sangat kecewa jika kau meragukan kasih sayangku. Kupikir kau selalu percaya denganku, Gwen. Nyatanya …."
Aisyah meletakkan roti panggangnya dan meninggalkan meja makan. Meraih kunci mobilnya dan juga tas medisnya. Segera mungkin ia berlari keluar, menyalakan mobilnya kemudian berlalu begitu saja.
Suasana menjadi tegang, Chen memberi kode agar Asisten Dishi mengejar Aisyah dan membuatnya mengerti. Sementara itu, Chen mencoba menenangkan Gwen dengan caranya sendiri.
"Gwen, apa ini?" tanya Chen. "Ayah, Ibu, sebaiknya kalian sarapan di samping taman saja. Ini akan beres tak lama lagi!" tegas Chen kepada kedua orang tuanya.
"Apa?" ketus Gwen.
"Gwen!" bentak Yusuf.
"Ayah, cukup! Bawa Ibu ke samping dan jangan biarkan Ibuku stres, kasihanilah dia sedang mengandung adikku." perintah Chen.
Yusuf menuruti perintah putranya, lalu mengajak Rebecca sarapan di taman samping rumah. Sementara Asisten Dishi sibuk menyusul Aisyah, Chen ingin tahu mengapa Gwen mampu mengutarakan amarahnya sampai menyakiti perasaan Aisyah.
"Kenapa? Kak Chen juga mau menyalahkan aku? Aku memang selalu salah dan salah aja aku hidup di keluarga ini. Jika aku melakukan kebaikan, kalian tidak pernah menyanjungku atau bahkan semakin menyemangatiku," ujar Gwen.
"Giliran aku berbuat kesalahan, seolah-olah aku ini memang sebuah kesalahan di keluarga ini! Sedangkan Aisyah? Dia yang selalu dipuja-puja karena berprestasi dan bisa berpikir dengan dewasa,"
"Aku membenci kalian!" sentak Gwen mulai membanting barang yang ada di sampingnya.
"CUKUP!"
Chen lelah mendengar keluhan Gwen yang seakan mengungkit masa lalu, yang dimana dirinya memang belum hadir diantara keluarganya. Chen memeluk Gwen, berusaha membuat Gwen mengerti jika Aisyah juga selalu berusaha membuatnya di sayangi oleh semua orang.
Aisyah selalu memanjakan Gwen meski Gwen tak pernah memintanya. Aisyah lakukan itu karena ia tahu jika sang adik memang selalu dibedakan darinya oleh beberapa keluarga. Saat Rebecca hamil dulu, Aisyah memiliki plasenta sendiri. Sementara Chen dan Gwen memiliki satu plasenta yang sama. Hal itu juga yang membuat Aisyah dan Gwen terlihat tak seperti saudari kembar.
"Gwen, tidak ada yang tidak menyayangimu. Semua keluargamu sangat menyayangimu, aku dapat merasakan itu. Jadi, kumohon agar kau tidak lagi berdebatkan hal pamali atau apalah itu … aku ingin selama diriku ada di sini, aku bisa melihat seluruh keluargaku hidup dalam kenyamanan dan ketentraman," tutur Chen dengan lembut.
"Bisakah … bisakah kakakmu ini meminta untuk kau bisa bersikap lebih bijak sedikit, Gwen? Kau putri seorang Mafia, bukan? Kau kuat, kau juga pemberani. Lalu, kenapa hal seperti ini masih kau perdebatkan?"
"Coba sekarang kau ingat hal yang paling membahagiakan disaat kau bersama dengan Aisyah. Jangan pikirkan kata orang lain, coba kau ingat, bisakah?" tukas Chen melepas pelukannya perlahan, kemudian menyangga kedua pipi saudarinya itu.
Chen juga meniup mata Gwen supaya tertutup dan mulai mengingat masa indah bersama Aisyah. Beberapa menit kemudian, Gwen mulai menangis terisak, tak lama kemudian juga ia tertunduk lemas. Aisyah telah menjadi bayangannya dalam dirinya. Semua yang dilakukan Aisyah untuknya memang tak ada batas dan tak bersyarat. Gwen mulai menyesali ucapannya yang terpancing dengan omongan tetangganya.
--
Sementara itu, Aisyah menyetir dengan tidak fokus sembari menangis. Ia kesal karena Gwen selalu menyalahkan dirinya jika ada orang yang memojokkannya. Sampai ia pun mengalami nasib apes, ia menabrak seorang pejalan kaki yang sudah renta.
Bruk!
"Aduh!" teriak seorang pejalan kaki tersebut.
Pejalan kaki itu seorang pria, ia terjatuh ketika mobil Aisyah menyenggolnya. Suasana jalan sedang ramai sekali, Aisyah yang masih syok didalam mobil belum berani keluar. Lebih buruknya lagi, ucapan Gwen yang telah menyakiti hatinya itu masih saja terngiang di telinganya.
"Buka, woy!"
"Tanggung jawab!"
"Buka kacanya, kalau tidak aku akan memecahkannya! Buka!"
Banyak sekali warga yang meneriakinya, dengan terpaksa Aisyah keluar dari mobilnya masih dengan wajah yang datar. Hatinya masih terluka dengan ucapan Gwen yang seolah jika pernikahannya gagal dengan Agam, maka dirinya-lah yang akan disalahkan.
"Heh, mau apa? Jangan sembarangan menyentuh korban!" teriak salah satu Ibu-ibu yang juga ikut menghakiminya. "Iya, kalau kamu pihak kesehatan … baru tidak apa-apa. Nggak usah sok bergaya kalau tidak tahu apa-apa. Mending kamu ikut kami daripada luka si kakek ini malang ini semakin fatal!" seru Ibu-ibu itu.
Aisyah mengeluarkan kartu namanya dan menunjukkan jika dirinya juga petugas kesehatan. Dari sana, tak sedikit juga yang menghujatnya karena profesinya. Meski begitu, Aisyah tidak mendengarkan hinaan mereka meski memang ucapannya sangat menyakitkan.