Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Bertemu Dengan Keluarga Chen



Suara adzan subuh membangunkan Lin Aurora saat itu. Kali pertama dia mendengar suara adzan yang begitu indah, bersautan di mana-mana. Jantungnya kembali berdebar kala mendengar adzan. 


"MasyaAllah, di sini banyak sekali seruan adzan. Lain saat di kampung halamanku," gumamnya, sembari menyentuh dadanya.


Saat bangun, Lin Aurora terkejut kala melihat Chen tengah tidur duduk di sampingnya. Wajahnya yang terlihat lelah itu bisa membuat Lin Aurora tersenyum. 


"Ternyata, begini di saat matanya terpejam. Tidurnya sangat tenang, bulu matanya panjang, kulit bersih dengan tahi lalat di bawah mata," 


"MasyaAllah, ciptaan-Mu, Ya Allah," puji Lin Aurora dalam hati. Di saat Lin Aurora terus memandang wajah Chen, suara ketukan terdengar dan mengganggu tidur Chen. 


Tok, tok, tok. 


Tak ingin diketahui oleh Chen, Lin Aurora kembali merebahkan diri dan terpejam. Chen melihat Lin Aurora, langsung paham jika gadis bawel itu pura-pura tidur. 


Chen beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian membuka pintu. "Ayah, ada apa?" tanyanya setelah membukakan pintu, yang ternyata Ayahnya yang mengetuknya. 


"Masjid, yuk!" ajak Yusuf. 


Chen menoleh ke arah Lin Aurora. 


"Biarkan dia di rumah dengan Ibumu," sahut Yusuf. 


"Dia harus salat juga, Ayah. Dia beragama Islam, aku akan bangunkan dia," ujar Chen dengan menyeringai licik. 


Sebab Chen tahu, jika Lin Aurora sebenarnya sudah bangun. Tanpa rasa ampun, Chen menarik kaki Lin Aurora yang masih berbalut selimut sampai Lin Aurora terjatuh dari ranjang. 


"Aw,"


"Sakit, Chen!" teriak Lin Aurora mengusap-usap tubuh bagian belakangnya. 


Yusuf merasa khawatir dengan Lin Aurora. Ia pun masuk dan langsung memarahi putra sulungnya, yang saat itu malah tertawa terbahak-bahak. 


"Innalillahi, Chen! Bercanda jangan seperti ini. Kalau tukang ekornya sampai kena bagaimana?" tegur Yusuf. 


"Ayah dia hanya pura-pura tidur. Sebenarnya dia sudah bangun dan mencoba melecehkan aku," sahut Chen, menjulurkan lidahnya, mengejek Lin Aurora yang masih terkapar. 


"Hish, tak bisakah bicara dengan bahasa yang aku pahami? Menyebalkan!" kesal Lin Aurora berusaha berdiri sendiri. 


Yusuf meminta maaf atas nama Chen menggunakan bahasa yang Lin Aurora pahami. Mendengar tutur kata lembut Yusuf, Lin Aurora merasa tenang. Bahkan gadis muda seumuran Lin Aurora saja bisa terpana dengan tutur kata yang lembut dari Yusuf. 


"Tidak apa-apa, Paman. Putramu memang sedikit bermasalah, jadi saya mengerti," jawab Lin Aurora dengan senyuman. 


"Iya, dia menang sedikit bermasalah," Yusuf hanya bisa mengiyakan untuk menghibur Lin Aurora. 


Lin Aurora menanyakan dimana dirinya bisa melaksanakan salat subuh. Ia juga menjelaskan jika dirinya adalah seorang mualaf sejak usianya masih remaja. Yusuf meminta Lin Aurora untuk menemui Rebecca. Sementara dirinya harus bergegas ke masjid mengajak Chen bersamanya. 


"Maaf, ya. Waktunya hampir habis untuk jama'ah di masjid. Jadi, kamu bisa bertanya dengan Ibunya Chen. Ayo, Chen! Mari, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsallam,"


Setelah Yusuf mengajak Chen ke masjid, Lin Aurora merapikan tempat tidurnya dan segera mencari Rebecca. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan Rebecca yang baru saja keluar dari kamar mandi. 


"Eh," 


Mereka sama-sama mengucapkan kata yang sama. Sedikit malu-malu, Lin Aurora bertanya kepada Rebecca dimana tempat dirinya bisa melaksanakan ibadah salah subuh. 


"Maaf, boleh bertanya?"


"Haduh, aku ngomong apa? Seharusnya aku--"


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Rebecca menggunakan bahasa Mandarin. Membuat Lin Aurora terpana, menganga karena tak menyangka calon mertuanya bisa berbahasa yang ia pahami. 


"Anda, bisa berbahasa …,"


Rebecca menyambut Lin Aurora dengan ramah. Meski begitu, Rebecca tidak menanyakan hal lebih lanjut, sebab ia tahu, putranya akan mengatakannya sendiri. Mereka pun salat berjama'ah dengan Rebecca yang menjadi imam. 


Lin Aurora begitu sangat tenang ketika salat di rumah orang tua Chen. Tak sama ketika ia menjalankan ibadah di rumahnya sendiri, karena harus selalu waspada terhadap keluarganya, termasuk Ayahnya. 


Setelah salat, Lin Aurora juga mengaji bersama dengan Rebecca. Menjadikannya ingat akan masa lalu, di saat Rebecca masih belajar mengaji sebelum menikah dengan Yusuf. 


"Kamu mualaf sejak kapan? Atau memang islam sejak lahir?" tanya Rebecca. 


Lin Aurora tersenyum. "Saya mualaf, Bibi. Sejak saya masih remaja," jawabnya. 


"MasyaAllah, bagaimana tanggapan orang tuamu? Yang kutahu, di sana susah sekali menjalani hidup sebagai seorang muslim," lanjut Rebecca. 


Lin Aurora menggeleng. Ia mengatakan bahwa keluarhanha belum tahu sampai saat itu. "Saya, belum memberitahu hal ini kepada keluarga saya," jawabnya. 


"Saya terlahir dari keluarga yang tidak biasa. Jika saya memberitahu hal ini, takutnya akan mencolok dan malah merusak reputasi keluarga," sambung Lin Aurora menunduk. 


"Semuanya butuh proses memang. Menjadi lebih baik itu, memang sulit, Nak. Jika di sini, kamu tidak perlu sungkan, katakan apa yang kamu mau, kami pasti akan memberikannya," tutur Rebecca. 


Mereka melanjutkan aktifitas di pagi hari, yakni memasak bersama, dan Lin Aurora membantunya. Banyak sekali yang mereka obrolkan meski Lin Aurora masih sungkan. 


Ketika Rebecca mengeluarkan belatinya untuk mengiris bawang, Lin Aurora memahami ada permata putih di ganggang belati itu. Siapa yang tidak tahu simbol permata yang ada di senjata masing-masing keluarga ternama di Tiongkok. 


"Belati itu--"


"Ada apa dengan belati ini?" tanya Rebecca. 


"Um …,"


"Assalamu'alaikum, Mami! Ayah!" teriakan Gwen membuat Lin Aurora tidak jadi menjawab. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Mami di dapur!" jawab Rebecca. 


Gwen datang langsung memeluk Ibunya dengan erat. Betapa dia sangat merindukan Ibunya, tak dapat dipungkiri, memang Gwen sejak lahir hidup bersama Ibunya. Menghilangnya sang Ibu, membuat Gwen juga selalu sedih. 


"Mami, apa yang terjadi kepada, Mami?"


"Mami kemana saja, sih?"


"Aku hampir gila karena Mami dan Ayah tidak jua ada kabar,"


"Mami, tau kah kau, saat Rifky di culik. Kami semua hampir kehilangan nyawa,"


"Kenapa Mami malah menghilang, enak-enak berdua dengan Ayah? Hish, Mami sudah tak sayang lagi dengan kami!"


"Tunggu, ini apa? Mami, kenapa wajahmu banyak luka seperti ini? Tanganmu? Mami, katakan siapa yang telah membuatmu begini, aku akan membuat perhitungan dengannya!" tukas Gwen mengeluarkan belatinya. 


Sring! 


Lin Aurora melihat belati tersebut. Belati dengan ganggang yang sama, seperti kepunyaan Rebecca. Hanya saja, belati milik Gwen ukurannya lebih kecil dan belum memudar warnanya. Itu tandanya, belati itu belum banyak di gunakan Gwen untuk membunuh orang. 


"Sebenarnya, keluarga kandung Chen ini … keluarga yang bagaimana? Mengapa mereka memilki belati milik keluarga Lim yang telah lama hilang kabar?" gumam Lin Aurora semakin membuat kepalanya pusing. 


"Hush, kamu ini. Datang-datang langsung menanyakan pertanyaan segini banyaknya. Dimana suamimu?" tanya Rebecca. 


"Ada di ruang tamu," jawab Gwen. 


"Bantu teman kakakmu masak. Mami akan membuatkan teh hangat dan menyediakan cemilan untuk suamimu," pinta Rebecca. 


"Baik," jawab Gwen. "Tunggu, teman kakak? Kakak siapa?" teriak Gwen, sembari menoleh ke arah Lin Aurora. 


Saat itu, juga kali pertama Gwen bertemu dengan Lin Aurora. Namun, Lin Aurora tidak merasa asing kalau melihat Gwen, karena sudah sering melihatnya di ponsel Chen dan di kediaman keluarga Wang.