
"Sial! Budaya apa itu? Gajahku mau di potong? Lalu aku pipis bagaimana?"
Yusuf dan Chen terlibat kejar-kejaran. Sampai di rumah, bahkan Chen langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.
"Assalamu'alaikum!" salam Chen langsung masuk ke kamar.
"Wa'alaikumsallam wa--" jawab Rebecca belum terselesaikan, sudah di salam lagi oleh suaminya.
"Assalamu'alaikum," dengan terburu-buru, Chen mengejar Chen sampai ke kamarnya. Sayangnya, Chen sudah mengunci pintunya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa, sih?" tanya Rebecca menjadi bingung.
Lin Aurora yang baru keluar dari dapur juga heran dengan calon Ayah mertuanya. Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Yusuf masih sibuk mengetuk pintu kamar Chen dan mulai membujuknya.
"Ayolah, Chen. Hanya sedikit saja yang di potong," ucap Yusuf.
"Tidak! Bagaimana bisa milikku di potong? Itu sangat tidak adil!" teriak Chen.
"Hanya sedikit saja, apa yang perlu kau takutkan, Nak?" sambung Yusuf.
"Kubilang tidak, ya tidak! Enyahlah!" sahut Chen.
"Sedikit saja!" teriak Yusuf. "Baiklah, Ayahmu ini hanya bercanda. Tidak sampai di potong, hanya sedikit saja yang dikuliti," masih saja Yusuf salah bicara.
Mendengar kata dikuliti, Chen menjadi semakin panik. "Mampus! Dikuliti apanya?" ia sampai membuka dan melihat benda miliknya. "Tidak! Ini namanya penganiayaan!" teriknya lagi.
Rebecca dan Lin Aurora dibuat bingung oleh tingkah anak dan ayah itu. Rebecca mulai menanyakan apa yang telah terjadi kepada mereka berdua.
"Ada apa, sih? Kenapa Chen sampai begitu, apa yang dipotong?" tanya Rebecca.
Awalnya, tampang Yusuf masih terlihat serius. Namun setalah melihat wajah Rebecca yang lucu saat penasaran membuatnya tertawa. Lin Aurora semakin bingung dengan calon mertuanya itu.
"Kenapa tertawa?" tanpa disadari, Rebecca ikut tertawa.
Yusuf pun menjelaskan tentang sunat itu. Begitu mendengar penjelasan dari suaminya, Rebecca malah ikutan tertawa terpingkal-pingkal. "Ibu, Ayah, ada apa? Kenapa kalian terlihat sangat bahagia?" tanya Lin Aurora mulai akrab dengan mereka.
"Nanti kamu akan tau sendiri. Sekarang, lebih baik biar Ibumu saja yang membujuknya. Mungkin sudah kesal dengan Ayah, jadi dia tidak mau bicara dengan Ayah," jawab Yusuf masih menahan tawa.
"Baik, kalau gitu Ibu yang mau bujuk dia," timpal Rebecca. "Nona Lin, kamu siapkan teh untuk Ayahmu, ya," pinta Rebecca.
"Iya, Ibu. Ayah, mari. Pagi ini, saya membuat beberapa makanan juga untuk Ayah," ujar Lin Aurora begitu ramah kepada Yusuf, berbeda di saat bicara dengan Ayah kandungnya yang terus saja seperti dua orang yang sedang berdebat.
Sementara Lin Aurora melayani calon Ayah mertuanya, Rebecca mulai mengetuk pintu dan membujuk Chen supaya mau membukakan pintu untuknya.
"Chen, ini Ibu. Tolong buka, Nak," ujar Rebecca dengan lembut.
"Apakah Ibu juga akan membujukku? Percuma saja, itu hanya mimpi!" ketus Chen.
"Sebentar saja, biar Ibu jelaskan apa yang dimaksud oleh Ayahmu," lanjut Rebecca.
Sudah berkali-kali Rebecca membujuk, tetap saja Chen tidak ingin membukakan pintu untuk wanita yang telah mengandungnya itu. Bersusah payah dan mecari jalan lain agar Chen mau mendengarnya, tetap saja gagal. Rebecca pun kembali ke ruang tengah dan menemui Yusuf dan Lin Aurora yang tengah bersantai di sana.
"Bagaimana?" tanya Yusuf.
Rebecca menggeleng. Lin Aurora beranjak dan memberikan teh hangat untuk Rebecca. Seraya memberi usul yang paling ampuh biar bisa membujuk Chen. "Bagaimana jika kita minta bantuan saudari kembarnya yang ada di Korea? Ibu bilang, Chen hanya mendengar ucapannya, 'kan?" usulnya.
"Tapi, perbedaan waktu di sana dan di sini cukup banyak. Apakah tidak akan menggangu Aisyah?" sahut Yusuf.
"Ayah, kita belum mencobanya. Siapa tahu, kita dapat pencerahan, 'kan?" lanjut Lin Aurora.
Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Yusuf mau memakai usulan yang diberikan dari Lin Aurora. Beruntung, Aisyah mau mengangkat telpon dari sang Ayah dan mau menolongnya, dengan memberi sedikit bujukan kepada Chen.
Tak lama kemudian, Aisyah menelpon Chen. Saat itu, Chen langsung paham mengapa Aisyah menelpon dirinya. Ia beranggapan jika Aisyah sedang bekerja sama dengan Ayah dan Ibunya untuk membuat dirinya kehilangan burung tanpa sayapnya.
"Apa ini? Ai meneleponku? Ah tidak! Aku tidak bisa menerima telepon darinya. Aku rasa … dia sudah bekerja sama dengan Ayah dan Ibu untuk memotong pusaka milikkua!" ketusnya.
Tanpa memikirkan lagi, Chen langsung menolak tele[pon dari saudarinya. Ternyata, meski sempat di tolak teleponnya sebanyak 12x, Aisyah tetap tidak menyerah.
"Jika berani tidak mengangkat telepon dariku lagi, mulai sekarang aku tidak ini bicara denganmu lagi!" -,pesan dari Aisyah.
"Ah sial, dia mengancamku," umpat Chen.
Setelah membaca pesan dari Aisyah, Chen langsung menelepon balik dan menanyakan, "Ada apa kamu meneleponku?"
"Kau punya agama, biasakan salam dulu ngapa!" tegur Aisyah.
"Iya, maaf. Assalamu'alaikum, kenapa kamu terus meneleponku?" tanya Chen memanyunkan bibirnya.
Terdengar jelas jika Aisyah menghela napas. "Kau akan menikah dan tidak memberitahuku? Kakak macam apa kamu ini, Kak Chen!" teriaknya.
"Kamu hendak menikah dengan gadis muslim, tapi kamu tidak mau sunat? Yang bener saja? Sunat sore nanti bersama Ayah, jika kamu mau menikahi wanita muslim, hormati keputusan yang wanita itu berikan padamu. Jangan ingkar! Pemalas!"
Aisyah terus saja memarahi Chen karena dia juga kesal karena tidak diberitahu bahwa kakaknya akan menikah. Setelah mendengar pengertian tentang sunat, Chen menjadi luluh dan mau melaksanakan itu dengan Ayahnya sore nanti.
"Dengarkan aku, jangan pernah berpikir semua ini karena aku, orang tua kita, atau calon istrimu. Oke, demi calon istrimu juga tidak apa-apa. Tapi setidaknya, semua ini kamu lakukan demi Allah, Tuhan kita, paham?" tutur Aisyah.
"Iya, aku paham," jawab Chen patuh seperti anak kecil. "Lalu, aku harus apa sekarang?" tanyanya.
"Mudah, keluar dari kamar, minta maaf kepada Ayah dan Ibu, lalu katakan apa yang aku katakan tadi. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Bicaralah dengan ketulusan, jangan karena keterpaksaan!" tegas Aisyah.
"Iya, aku tau, Ratu_"
"Assalamu'alaikum," Aisyah mengakhiri teleponnya.
"Wa'alaikumsallam. Haih, aku baru saja masuk islam lagi beberapa bulan lalu. Aisyah ini sudah bawel sekali." umpat Chen.
Tanpa banyak orang yang mengetahui, Chen memang sudah mulai mempelajari keyakinan yang ia bawa sejak lahir dari beberapa bulan lalu. Tentunya juga dibantu dengan kedua adik iparnya, Dishi dan Agam.
Chen keluar dari kamarnya, kemudian duduk di depan kedua orang tuanya dan di samping Lin Aurora. Yusuf dan Rebecca masih berusaha tenang, agar putranya tidak merasa malu.
"Iya, aku mau melakukan itu. Tapi dengan syarat …," ujar Chen tiada ragu.
"Apa syaratnya?" tanya Yusuf dan Rebecca bersamaan.
"Aku melakukan ini atas kemauanku sendiri dan sebagai bukti jika aku tidak pernah ingin memainkan pernikahan. Setelah aku sunat, aku ingin menikah secara agama di pesantren. Sebab, tak mungkin jika itu dilakukan di Tiongkok!" tegas Chen menggunakan bahasa yang Lin Aurora ketahui.
Seketika, terasa ada angin yang begitu dahsyat menghantam tubuh gadis berusia 22 tahun itu. Ia tidak menyangka jika Chen sudah memikirkan sampai sejauh itu padanya. Antara terharu dan takut, itu yang dirasakan Lin Aurora saat itu.