
Syifa akhirnya pergi dengan catatan akan tetap berkunjung ke pesantren entah apa tujuannya. Gwen menjadi bad mood pagi itu. Harusnya, ia senang karena kakak-kakaknya akan datang.
"Dia orangnya?" tanya Gwen menyipitkan matanya.
Agam mengangguk, kemudian menjelaskan dengan secara detail mengapa dirinya bisa di jodohkan dengan Syifa. Tiga tahun lalu, sebelum Ibunya sakit parah. Keinginan paling terbesarnya adalah, dapat melihat putranya menikah.
Keluarga Syifa mendengar keinginan dari Ibunya Agam. Kemudian mereka menawarkan diri untuk bekerja sama dengan menyumbang sejumlah uang dan bahan bangunan untuk membangun masjid di dalam pesantren itu.
Apa boleh buat, Agam yang kala itu baru pulang dari luar negri memang belum pernah menemukan gadis yang cocok untuk ia nikahi. Maka dari itu, demi Ibunya Agam mau-mau saja dijodohkan dengan Syifa.
"Mas aslinya juga tidak mau menikah begitu cepat. Saat itu, usia Mas masih 23 tahun, dan itu masih sangat muda bagi, Mas," terang Agam.
"Tapi, masjid itu telah dibangun dengan jumlah biaya yang tidak sedikit. Mau tidak mau, Mas harus menerima perjodohan itu. Hal itu juga Mas lakukan untuk Umi," Agam menghela napas panjang dengan menunjukkan masjid yang bisa dibilang indah di dalam pesantren itu.
Gwen bertanya," Lalu, kenapa Syifa kabur? Apa alsannya? Dan seenaknya saja dia kembali sekarang, ingin melanjutkan perjodohan itu,"
"Biaya pembangunan masjid belum Mas lunasi. Masih kurang 70% lagi. Mungkin, tujuan utama Syifa datang juga karena mengingatkan hutang itu," jelas Agam seketika raut wajahnya berubah.
Gwen tidak suka siapapun merebut apa yang sudah menjadi miliknya, termasuk Agam. Agam adalah suaminya, seorang pria yang baik dan Gwen tidak akan melepaskannya dengan mudah.
"Berapa hutang itu?" tanya Gwen.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Dek? Sudahlah, kedepannya ... lebih baik kita lupakan masalah ini. Jika dia datang kembali, kamu segera menjauh dan langsung hubungi Mas, ya ..," tutur Agam.
Agam tahu maksud dari pertanyaan Gwen. Ia tahu jika keluarga istrinya bukan keluarga sembarangan. Apa lagi, latar keluarga besar Lim dan juga Huang mengitari kehidupan istrinya.
"Mas," panggil Gwen manja.
"Mas hanya ingin, kamu menikmati menjadi istri Mas saja. Jangan pikirkan hal lain lagi, bisa?" pinta Agam.
"Apa aku tidak boleh membantumu? Ini uangku sendiri, aku menumpuknya sampai menggunung di empat rekening," ungkap Gwen menunjukkan isi dompetnya.
"Itu milik kamu, Dek ..," lembutnya suara Agam.
"Bagaimana kalau Mas Agam pinjam saja dariku. Mas Agam hanya perlu mengangsurnya tiap bulan kepadaku, bagaimana?"
Meski tawaran Gwen sangat menggiurkan, tapi Agam tidak mau menggunakan uang istrinya sepeserpun. Ia masih ingin berusaha menutupi semua hutang yang harusnya bukan menjadi beban baginya.
Semua adalah acara keluarga Syifa yang mengada-ngada karena membangun masjid tanpa persetujuan pihak keluarga Agam terlebih dahulu. Hanya saja, karena mereka membangun di tanah pesantren, maka Agam harus menggantinya.
"Untung saja si Syifa itu kabur. Kalau enggak, tuntutan Mas Agam pasti banyak tuh dari keluarganya di kemudian hari!" seru Gwen masih tidak terima.
"Aku nggak suka dia datang lagi! Dia juga menatap Mas Agam seperti itu. Rasanya pengen congkel matanya dan memberikannya ke buaya, biar mampus sekalian!" kesalnya.
"Astaghfirullah hal'adzim. Dek, jangan dendam, itu suatu hal yang tidak baik. Mungkin, ini memang ujian saja, kita harus menerima dan menjalaninya dengan ikhlas," tutur Agam menyentuh bagus istrinya.
"Hei, Mas bicara seperti itu karena Mas senang Syifa datang, 'kan? Dia lebih anggun, lebih sholehah dan juga jauh lebih cantik dariku. Mas tertarik kan sama dia? Ngaku!" cetus Gwen.
"Dalem, zaujati," jawab Agam dengan lembut.
"Jantung Mas Agam berdetak kencang. Mas nggak tipes, 'kan?" tanya Gwen masih dalam pelukan suami.
"Haha, kamu ini. Mas hanya baru pertama kali ini memeluk seorang wanita yang bukan sedarah. Apakah itu ... sangat menganggu?"
"Aku mungkin jatuh cinta dengan Mas Agam. Jika Mas Agam jatuh cinta denganku suatu hari nanti, jangan sungkan untuk menyatakannya, ya?" ungkap Gwen mempererat pelukannya.
"InsyaAllah," jawab Agam.
"Mas juga sangat berharap hari itu terjadi secepatnya, Dek. Alhamdulillah, Mas bisa merasakan kenyamanan ketika di dekat kamu. Dibandingkan ketika didekat Syifa yang selalu penuh dengan kewaspadaan," batin Agam memejamkan matanya, masih memeluk istri nakalnya.
Setelah mereka puas saling berpelukan, Agam berpamitan segera melakukan aktivitas seperti biasa. Ia berjanji akan pulang lebih awal dan menemui kakak-kakak dari istrinya yang akan datang.
Sementara itu, Aisyah masih saja gelisah karena ingin pergi ke Korea untuk menuntut ilmu yang jauh lebih dalam. Ia masih termenung di meja kerjanya sembari menatap sisa foto kebersamaannya bersama Asisten Dishi kala di Tiongkok beberapa waktu lalu.
"Hai, Ayahnya Ilkay. Kamu apa kabar? Kamu sudah makan belum? Kamu pergi tanpa berpamitan bahkan sampai sekarang pun kamu tidak ada kabar," ucap Aisyah sedih.
"Aku tidak tahu dengan perasaanku ini. Tapi aku benar-benar merindukanmu, Dishi. Aku sungguh kesepian meski semua bersama diriku saat ini,"
"Hanya kamu yang mampu membuatku menjadi Aisyah yang sebenarnya. Apa kamu tidak pernah memiliki perasaan sedikitpun?"
"Apa perasaanku ini salah? Bukankah manusia itu ... tempatnya salah, ya? Apakah kejadian dulu-dulu akan terulang lagi--"
"Setiap kali aku mencintai seseorang, seseorang itu akan pergi meninggalkan aku. Dishi, tolong patahkan semua kecemasanku ini. Kembalilah dan buatlah keputusan," tukasnya dengan merebahkan kepalanya di mejanya.
Aisyah selalu gagal dalam urusan cinta dalam diamnya. Selalunya, Gwen maupun Puspa meminta Aisyah untuk mengatakan perasaannya ketika dirinya jatuh cinta dengan seseorang. Tapi, Aisyah masih gengsi dan takut di tolak karena itu.
"Puspa ini, kenapa juga belum memberiku kabar, ya? Apa dia sudah mau pulang atau belum di kediaman Wang?" gumamnya teringat dengan sahabatnya yang ia kirim ke Tiongkok untuk mengambil beberapa dokumen miliknya. "Jika Abinya sampai tau, matilah aku!"
Setelah sibuk mengirim pesan dan membersihkan barang-barang miliknya, ia mendapatkan panggilan nomor dari Amerika. Entah itu dari siapa, Aisyah enggan untuk mengangkatnya.
Akan tetapi, panggilan itu terus saja berulang sampai membuat Aisyah kesal karena ponselnya terus berdering. Pada akhirnya, ia pun mengangkat telpon tersebut. Dan tak menyangka jika pria yang ada dalam pikirannya-lah yang menelponnya.
"Hallo, apa kau sudah gila? Menelpon orang dengan sebanyak 15 kali? Itu sangat menganggu!" kesal Aisyah. "Kuharap kau paham apa maksudku!" bentaknya dengan bahasa yang seharusnya.
"Apakah aku sudah tidak penting lagi bagimu, Mama Ilkay?"
"...."
Aisyah terdiam. Suara yang tak asing baginya itu membuatnya menangis. "Kamu--"
"... Apa pikir ini lucu? Kamu tidak memberitahuku kalau kamu akan dikirim ke Amerika. Saat pulang, kamu juga tidak berpamitan denganku dan putramu. Apa kamu sudah tidak menganggap kami, Ayahnya Ilkay?"
Sesak yang tadinya memenuhi dada Aisyah, kini telah mencair seperti air. Hatinya kembali tenang dan ingin segera memberitahukan kepada Asisten Dishi, jika dirinya akan ke luar negri untuk waktu yang sedikit lama.