Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pertemuan Chen dengan Lin Aurora



"Ada apa dengan Kak Chen?" bisik Gwen kepadanya Aisyah. 


"Diam dan makan dengan benar. Jangan ikut campur masalah orang lain," jawab Aisyah juga berisik. 


"Oke, jangan lupa transfer ke aku. Ini sudah lebih dari dua hari. Aku tidak lagi bisa menunggu," desis Gwen dengan santainya memakan paha ayam. 


"Dih, soap duit saja! Iya, nanti aku transfer. Tenang saja!" Bisik Aisyah. 


Tetap, meski Gwen sudah berpikir semakin dewasa, uang masuk dalam list pokok utama dalam tujuan hidupnya. Segera Aisyah melakukan transaksi dana untuk Gwen. Itu adalah untung dari usaha keluarga yang dibagi rata dengan yang lainnya. 


Perpisahan kembali harus terjadi antara Gwen dengan dua saudara saudarinya. Gwen telah memiliki suami, jadi semua yang dilakukannya atas izin suami. "Um, pengen ikut pulang ke Australia," celetuk Gwen memanyunkan bibirnya. 


"Hish, kau aja datang ke sini ilegal. Jadilah warga negara yang baik, Gwen. Sampai kapan mau menggunakan cara itu lagi?" tutur Aisyah. 


"Mas Agam, kita ke Australia, yuk!" ajak Gwen. Tapi, Agam hanya meliriknya saja. Ia sudah tahu, apa maksud dari lirikannya itu. "Iya, nggak jadi. Kapan-kapan aja kita kesana, hehehehe," lanjutnya dengan tawa terpaksa.


Agam tahu jika istrinya masih ingin bebas ikut pergi dengan saudara yang lainnya. Tapi, dirinya harus tegas, demi kebaikannya juga. Perlahan, Agam menjelaskan jika seorang perempuan menikah, maka surganya tak lagi dengan keluarga kandungnya, melainkan suaminya. Ridho suami, ridho Allah juga. Berlaku untuk seorang pria sholeh, atau pria yang bertanggung jawab. Tidak untuk pria yang semaunya sendiri dan tidak paham akan adab suami. 


Mereka pun berpisah, Agam dan Gwen ke Jogja, sementara Aisyah dan Asisten Dishi ke Australia membawa Ilkay dan Rifky bersamanya. Chen mendadak harus mengundurkan waktu penerbangan karena harus menemui putri dari Tuan Besar Natt dulu. 


"Beruntung, Ayah dan Ibu langsung membuatkan identitas Rifky berupa paspor dan lainnya. Coba kalau tidak? Bagaimana kita akan membawanya ke sana?" celetuk Aisyah. 


"Alhamdulillah, meski mereka menghilang. Tapi mereka benar-benar memikirkan sampai sejauh ini. Aku yakin, kedua orang tua kamu pasti dalam keadaan sehat wal'afiat, Nduk," ujar Asisten Dishi dengan menggandeng tangan Ilkay. 


Langkah kaki Aisyah terhenti kala dirinya mendengar sebutan 'Nduk' dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. "Tunggu, kamu nggak salah manggil aku? Biasanya juga manggil aku dengan sebutan, Mail, Mama Ilkay. Kenapa sekarang berubah lagi?" komentar Aisyah. 


Asisten Dishi tersenyum. "Sebentar lagi kita akan jadi suami istri, jadi aku ingin memanggil kamu dengan sebutan itu. Menurut apa yang aku cari, sebutan itu adalah sebutan paling manis yang pernah aku baca, Ai," jelasnya dengan tersipu. 


Bukan maksud Asisten Dishi melupakan bahwa Ilkay adalah anak mereka. Hanya saja, jika hanya menyebutnya dengan Mama Ilkay dan Ayahnya Ilkay, itu akan memiliki makna jika keduanya hanya milik Ilkay seorang. Asisten Dishi mengupah cara menyebut Aisyah dengan memanggilnya, 'Nduk'. 


"Lalu, kalau kamu sebut aku, Nduk … aku nyebut kamunya bagaimana?" lanjut Aisyah juga tersipu. 


"Hm … kamu bisa panggil aku dengan sebutan, Mas. Seperti Nona Gwen memanggil suaminya," usul Asisten Dihsi. 


Aisyah tertawa. Ia mengatakan, bahwa itu terdengar lucu karena wajah Asisten Dihsi sangat sulit jika di panggil dengan sebutan Mas. Aisyah pun akan memikirkan lagi nanti dengan sebutan apa cara dirinya memanggil pria yang dicintainya setelah menikah nanti. 



Meninggalkan kisah cinta Aisyah dan Asisten Dishi yang sebentar lagi akan berlabuh, Chen masih sibuk dengan urusan kencan butanya. Ia meminta Jovan untuk meng-handle urusan perusahaan terlebih dahulu sebelum mengajaknya ke Australia. 



"Aku sangat benci waktu yang tertunda," desis Chen, sering kali melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. 



"Ini sudah hampir 10 menit, dia belum datang. Aku akan menunggunya lima menit lagi, jika dia tidak datang, maka aku akan membatalkan perjodohan ini di depan publik!" kesal Chen kembali melihat arlojinya. 



Dua menit berlalu, datanglah seorang gadis cantik, putih dan berambut sebahu datang menghampirinya. Pakaian yang dikenakan gadis itu semuanya terlihat longgar, sehingga tak terlihat lekuk tubuhnya. 



"Selamat siang. Maaf saya terlambat, Tuan Muda Wang," ucap gadis itu. 



Chen mengamatinya dengan seksama. Tapi, ia sama sekali tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas. Dirinya sudah dibuat kesal karena gadis itu terlambat. "Terlambat 12 menit. Alu benci dengan orang yang lamban!" tegas Chen melipat tangannya. 




Chen membuang muka. "Duduk," perintahnya. Chen kembali bersikap dingin terhadap lawan jenis. Berbeda saat bersama Puspa waktu itu yang selalu hangat di saat memperlakukan gadis yang kini telah dimiliki pria lain. 



Suasana menjadi canggung. Baik gadis itu maupun Chen sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Hingga seorang anak kecil menghampiri mereka dan memberikan Chen setangkai mawar merah padanya. 



"Kakak, apa dia pacarmu? Dia sangat cantik dan terlihat baik. Aku mendoakan kakak dan kakak perempuan ini bisa hidup bersama selamanya. Berikan bunga itu padanya, dengan begitu, dunia peri juga akan merestui hubungan kalian," celetuk anak itu sembari memberikan setangkai bunga mawar merah.



"Untuk apa? Aku tidak butuh itu," cetus Chen. 



Raut wajah anak itu menjadi murung. Lin Aurora, nama dari putri Tuan Besar Natt. Ia mewakilkan Chen menerima bunga itu dan mengucapkan terima kasih kepada anak kecil tersebut. "Terima kasih telah mendoakan kami. Kami manis sekali, bukan seperti kakak besar ini, terlalu masam. Hihi, sudahlah, aku terima bunganya," ucapnya dengan senyuman. 



Setelah anak itu pergi, Lin memberikan bunga mawar itu kepada Chen dan memintanya untuk membuang wajah masamnya. "Untukmu," katanya. 



"Terimalah, tidak baik menolak pemberian dari orang lain. Apalagi, orang lain itu tulus memberikan bunga ini padamu," lanjutnya menyodorkan bunga tersebut. 



"Ck, merepotkan!" ketus Chen menerima bunga tersebut. Kemudian meletakkannya di samping ponsel yang ada di atas meja, di samping tangannya. 



Tak lama kemudian, makanan datang. Salah satu pelayan di rumah makan itu tak sengaja menumpahkan kuah panas, hingga melukai tangan Lin. "Aduh!" jeritnya. 



"Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja," ucap pelayan itu. 



Chen langsung berdiri. Lalu membentak pelayan itu dengan kata-kata yang sedikit kasar. "Apa kau buta? Bagaimana caramu bekerja ini? Kau mencelakai costumer rumah makan majikamu!" bentak Chen. "Apa kau mau ganti rugi!" lanjutnya dengan api  yang membara. 



"Ah, Tuan--" sela Lin. 



"Diam!" sentak Chen. 



"Oh, baik." Lin langsung terdiam. Ia membersihkan tangannya dari kuah panas tersebut. 



Restoran itu milik Ayahnya Feng, Hamdan. Sengaja ia memilih restoran itu karena sudah terjamin makanannya yang boleh ia makan. Ia memanggil manager dan meminta segera mengurus pelayan ceroboh itu.