Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Keadaan Akan Mulai Membaik



"Kakak kumohon, aku akan bersikap baik, aku akan patuh, tolong jangan tinggalkan aku sendirian. Aku hanya percaya padamu, tolong, tolong, tolong, jangan tinggalkan aku," rengekan Xia membuat Tama luluh. 


Tama menghela napas untuk kesekian kalinya dalam menghadapi Xia. Padahal dia baru menemuinya beberapa waktu saja. 


"Aku tahu, aku akan mendapatkan banyak masalah dan repot sendiri setelah memutuskan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Rasa kemanusiaanku ternyata jauh lebih tinggi," batin Tama. 


Perlahan, pelukan Xia Tama lepaskan. Tama berbalik dan kini berhadapan dengan Xia. Dengan amat terpaksa, akhirnya Tama pun mau menerima Xia. 


"Kakak, apakah benar kakak menerimaku? Aku sangat berterima kasih atas itu. Aku me--" ucapan Xia terhenti kala pelukannya ditahan oleh Tama. 


Acungan jari Tama menyiratkan banyak kata. Bukan hanya diam saja, tapi juga meminta Xia untuk tidak menyentuhnya. Tama juga mendorong sedikit kening Xia supaya lebih menjauh darinya. 


"Nona …."


"Sachi, Tuan. Nama saya Sachi," jawab Sachi ketika Tama menunjuk dirinya. 


"Baiklah, kamu bisa bantu dia untuk mengurus sekolahnya. Kamu yang lebih tahu akan Kota ini. Sebutkan berapa yang kamu butuhkan untuk mengurusnya, saya akan berikan nanti," perintah Tama.


"Tuan, masalah saya juga bekerja. Tidak mungkin mengambil cuti tanpa alasan pasti," tolak Sachi. 


Tama menepuk keningnya sendiri. Baru beberapa hari tinggal di Tiongkok, dirinya sudah pusing tujuh keliling karena pekerjaan, dan ditambah lagi masalah Xia. Feng, sebagai orang yang ditunjuk supaya bisa membantu dan membimbingnya, malah tidak sepenuhnya melakukan pekerjaannya.


Perjalanan jauh Aisyah, telah sampai di tempat tujuan. Mereka datang dan di jemput oleh Bora, sahabat Aisyah. Tuan Jin sebelumnya sudah meminta Bora untuk tidak membahas apapun tentang kematian atau kecelakaan yang menimpa keluarga Aisyah. 


"Welcome back, Ai." Sambut Bora. "Welcome to you too, eonnie. Annyeong little brother," imbuhnya. 


Aisyah hanya membalasnya dengan senyuman. Di perjalanan pulang pun Aisyah tetap diam saja dengan pandangannya yang terus menatap ke arah depan. Semua orang disana tahu Aisyah pasti saat ini sedang mengingat semua kenangan bersama suaminya. 


Dalam ingatan dan pandangan mata Aisyah, kota Seoul memang memiliki banyak kenangan dirinya bersama dengan suami di juga kedua saudaranya. Tak terasa buliran bening menetes di pipinya. Air mata itu tak mampu ia bendung lagi, tanpa bersuara Aisyah mengusap, menghapus air matanya.


Sesampainya di rumah, Bora dan juga Tuan Jin berpamitan pulang. Mereka berdua tidak ingin mengganggu istirahat Aisyah Ayyana dan juga putranya, karena baru tiba kota Seoul.


"Terima kasih, kalian sudah mengantar kami sampai di rumah dengan selamat. Jika berkenan kalian bisa kok menginap di sini," ucap Ayyana ramah. 


"Ah, eonnie. Itu tidak mungkin. Kalian istirahat saja. Kami akan pulang," jawab Bora. 


"Aku juga akan pulang, kak. Ai, aku pulang dulu, ya. Kalian bertiga istirahat, besok kita akan mencari sekolah bahasa untuk Haidar," timpal Ayden. 


(Aku lupa anak Ayyana siap, jadi aku ganti Haidar. Jika ada  yang ingat, komen. Nanti aku revisi. Terima kasih)


Setelah Bora, Tuan Jin dan Ayden pergi, barulah Ayyana mengajak putranya dan Aisyah masuk. Ketika pintu di buka, seolah Aisyah masih mencium parfum suaminya, padahal sudah lama sekali dirinya tidak pulang dan tidak bertemu. 


Bukan hanya wangi parfumnya saja. Bayangan-bayangan Dishi juga masih ada di setiap sudut ruangan. Jantung Aisyah berdebar kencang, dadanya mulai sesak dan tiba-tiba saja terkulai ke lemas di lantai.


"Aisyah!" teriak Ayyana. 


"Haidar, kamu tolong bawa barang-barang Bibi Ai ke sofa sana. Mama akan bawa Bibimu ke kamarnya," pinta Ayyana kepada putranya. 


"Baik, Ma." 


"Aisyah, kamu …." 


"Keluar," Aisyah menyala pembicaraan Ayyana.


"Tapi--" 


"KELUAR! Aku ingin sendiri, Kak!" 


Suara Aisyah yang bergetar membuat hati Ayyana, begitu terluka. Tidak tahu sakit apa yang Aisyah rasakan, tapi Ayyana tidak ingin membuat adik kesayangannya itu semakin sedih. Jadi, dia pun memutuskan untuk keluar dan memberikan Aisyah waktu sendiri.


Setelah Ayyana keluar, barulah Aisyah bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju cermin besar yang ada di samping meja rias. Memandangi dirinya, lalu membayangkan keindahan yang pernah ia lakukan bersama sang suami di depan cermin besar itu. 


"Sayang, kalau kamu sudah siap punya anak nanti ... Kamu pengennya tinggal di mana?" bisik Dishi ketika pagi itu bermesraan bersama dengan Aisyah. 


Aisyah mengingat kenangan itu karena suaminya selalu menanyakan tentang anak akhir-akhir sebelum kecelakaan ledakan di Tiongkok. Kembali Aisyah terisak tak kuasa menahan rasa rindu kepada sang suami dan menghantamkan tubuhnya ke lantai. 


Saat itu Aisyah memang belum ingin memiliki keturunan karena masih trauma dengan kehilangan Ilkay. Belum lagi Aisyah juga memiliki seorang adik kecil, tidak tahu mengapa apa dirinya belum ingin memiliki anak sendiri. Meski Aisyah belum menginginkan seorang anak, Dishi mampu menerima keputusan yang istrinya inginkan. 


Di sisi lain, Dishi pernah mengatakan bahwa dirinya ingin memiliki banyak anak. Sebab, Iya tidak memiliki keluarga lagi saat kecil, kakak dan adik sepupunya pergi sendiri-sendiri dan dirinya merasa kesepian. 


Diraihnya foto sang suami yang ada di atas meja, kemudian Aisyah mengusap lembut kaca frame tersebut. "Janji pulang, ya. Aku rindu ...,"


"Kita akan program hamil nanti. Aku akan berusaha memberimu keturunan. Pulang, ya. Pulang__" 


Semalaman, Aisyah tak henti-hentinya menangis sembari memeluk foto suaminya. Berharap ada kabar baik dari Feng dan juga Tama tentang keberadaan suaminya. 


***


Keesokan harinya, Aisyah terbangun karena di kejutkan oleh ketukan pintu Ayyana. "Aisyah, bangunlah. Hari sudah siang, apa kamu masih ingin mengurung diri di kamar? Apa kamu shalat subuh tadi?" teriaknya.


"Kakak sudah membuatkanmu sarapan di atas meja. Pagi ini ini Kakak ditemani oleh Tuan Jin mencari sekolah bahasa untuk Haidar. Apa kamu mau ikut, atau tetap di rumah?" sambung Ayyana. 


Aisyah baru ingat, semalam dirinya telah membentak Ayyana. Dia pun segera terbangun dari lantai, dan membuka pintu kamarnya. 


KLEK!


Suara kunci di buka. Dengan wajah yang kusut, kelopak mata yang besar, Ayyana menebak pasti adiknya salaman menangis dan tidak tidur. 


"Kakak pergi saja. Hari ini aku masih cuti, besok baru masuk. Aku ingin istirahat saja," ucap Aisyah lemas. 


"Baiklah, jika ada apa-apa, kamu bisa hubungi Tuan Jin. Soalnya, hp kakak belum bisa digunakan komunikasi di sini," ucap Ayyana. 


Aisyah mengangguk.


"Tapi, apa kamu yakin di rumah sendirian?" tanya Ayyana khawatir. "Jika tidak, kakak akan meminta Tuan Jin untuk mengantar Haidar sendiri saja, bagaimana? Supaya kakak bisa menemanimu di rumah." 


Ayyana adalah pengasuh, teman bermain, dan juga kakak yang selalu bersama Aisyah sejak Aisyah kecil. Maka dari itu, keduanya begitu dekat dan tidak menyangka jika memiliki nasib yang sama, berpisah dengan suami. Bedanya, suami Ayyana meninggal, suami Aisyah masih hilang.