
Malam telah tiba, pasangan baru ini masih saja diam-diam saja sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Gwen sibuk dengan usaha barunya yang diberikan oleh kakaknya, Chen untuk mengelola usaha berlian yang di Tiongkok. Sedangkan Agam masih sibuk dengan data keluar masuk dana di usahanya.
"Kek mana lagi aku harus desain ini? Sepertinya aku harus sekolah desain ini," gumam Gwen sibuk sendiri. "Haih, makin banyak biaya, dong. Sekarang aku sudah tidak bisa lagi malak kakak-kakakku dan para sepupu," gerutunya.
Masih dengan kebingungan membuat desain baru, Gwen sampai menghabiskan banyak kertas yang terbuang berceceran di ruang tamu malam itu. Agam tersadar kala dirinya tak senagaja terkena lemparan kertas tersebut.
"Astaghfirullah hal'adzim. Dek, kenapa kamu buang-buang seperti ini kertasnya?" tanya Agam dengan memungut satu persatu kertas tersebut.
"Eits, jangan di pungut. Biarkan aku saja yang memungutnya. Jangan, ya--" ucap Gwen merebut kertas itu dari tangan Agam. "Nanti aku beresin, Mas lanjutin saja pekerjaannya. Aku akan buatin teh hangat dulu untuk, Mas Agam," Gwen pergi ke dapur membuatkan teh hangat dan mengambilkan camilan untuk suaminya.
Setelah Gwen pergi, Agam melihat kertas gambar yang sebelumnya Gwen tinggalkan di atas meja. Agam melihat desain gagal milik Gwen dan tertawa dibuatnya. Bagaimana tidak tertawa, desain yang digambar Gwen sangat jauh dari ekspetasi. Karya tangan Gwen tak jauh dari gambar anak taman kanak-kanak yang baru saja masuk sekolah.
"Semakin bertambahnya waktu, istriku ini ternyata sangat lucu. Apakah kakaknya serius memberikan usahanya itu pada istriku ini?" gumam Agam.
Satu persatu kertas yang dibuang itu dipungut oleh Agam. Sebelum di masukkan ke keranjang sampah, Agam melihat dulu gambar yang dibuat istri nakalnya itu. "Semua mengarah ke bentuk hewan. Apakah dia suka sekali dengan hewan?"
Ketika Gwen keluar, ia berteriak, "Jangan!" bergegas Gwen menaruh teh dan camilannya di atas meja, kemudian merebut kertas yang ada di tangan Agam.
"Maaf, bukannya Mas ingin--"
"Jangan bicara lagi. Aku hanya malu saja dengan gambarku yang sangat buruk ini. Mas Agam bisa lanjutkan pekerjaan Mas. Nanti, aku yang akan membereskan semuanya," ucap Gwen mendekap gambar yang gagal itu.
Agam tidak ingin membuat istrinya semakin malu, jadi dirinya segera menyelesaikan pekerjaannya. "Tadi itu … kamu mau gambar apa, Dek? Hewan, kah?" tanya Agam, karena pertanyaan itu mengganggu pikirannya.
Gwen menatap Agam dengan sinis, "Siapa bilang hewan? Wong ini aja orang lagu anu, kok," jawab Gwen percaya diri.
"Anu? Anu apa, ya?" tanya Agam bingung.
Gwen terdiam, bingung hendak mengungkapkannya bagaimana. Anu yang dimaksud memang bukan hal memalukan, hanya saja, Gwen sendiri belum pernah melakukan itu. Gambar yang Gwen desain ini menggambarkan sepasang kekasih saling berciuman.
"Dek, anu apa?" tanya Agam lagi. "Yang Mas lihat, gambar hewan loh. Jika kamu butuh bantuan, Mas siap membantu, kok," Agam melihat memang hewan karena bentuknya memang seperti hewan baginya.
Gwen masih ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan desain yang ia gambar dengan menggunakan tangannya.
"Apa sih, Dek? Apa bentuknya?" tanya Agam bingung.
Tak dapat berkata apapun, Gwen langsung mempraktikkannya. Tangannya ia rangkulkan ke leher suaminya. Tanpa jeda lagi, Gwen menyapu bibir Agam dengan lembut. Mata Agam melotot, ia terkejut dengan perlakuan istrinya yang tiba-tiba memeluk dan mencium bibirnya.
Perlahan Gwen melepaskan pelukan dan ciumannya. "Nah, itu maksud dari gambar yang ining aku buat," jelas Gwen tanpa rasa bersalah. "Aku akan ke dapur dulu. Pengen sekali makan pisang goreng, semoga saja aku bisa buatnya," celetuk Gwen masih tanpa merasa jika dirinya baru saja melakukan sesuatu.
"Mas juga mau pisang goreng, 'kah? Aku bikinin sekalian, ya. Dua hari lalu, aku baru saja belajar bikin itu soalnya," Gwen masih saja tidak merasa bersalah.
"Em, itu …," Agam sampai salah tingkah, merasakan bibirnya yang kelu karena sapuan bibir Gwen. Yang baginya adalah ciuman pertama.
Belum juga Agam menjawab iya, seseorang datang membawakan makan malam untuk mereka. Seperti biasa layaknya pesantren, pasti ada yang bekerja di bagian dapur. Atau kalau tidak, ada santri yang piket.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"
"Biarkan aku saja yang membuka pintu. Mas Agam fokus saja selesaikan pekerjaannya dulu, oke?" celetuk Gwen mengedipkan satu matanya.
"Hah?" Agam pasrah memiliki istri yang memang bertolak belakang dengannya. Ia akan selalu bersyukur memiliki Gwen, karena pada dasarnya, hati Gwen baik.
Gwen membuka pintu. Ternyata memang santri piket dapur yang membawakan makanan untuk mereka. Akan ada acara sebentar yang dilakukan oleh Ustadz Khalid di pesantren.
"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu. Ini, Ustadz Khalid yang mengirimkan ini," ucap santri itu sedikit gemetar.
"Wa'alaikumsallam, terima kasih, loh. Repot gini ih!" ucap Gwen dengan senyuman. "Eh, iya. Tangan kamu kenapa gemetar begitu?" tanya Gwen kembali.
"Um, anu ... mboten. Itu, saya senang bisa lihat istri Ustadz Agam di sini," jawab santri itu.
"Kalau memang mau ketemu, datang aja lah! Kapan saja, pokoknya pintu selalu terbuka buat siapa saja yang mau bertemu dengan saya, oke?" ucap Gwen ramah.
"Nggeh, ustadzah. Kalau begitu, saya pamit dulu, assalamu'alaikum," santri itu langsung kabur.
"Ustadzah? Heh, aku bukan ustadzah, aku Gwen Kalina Lim princese Mafia Australia, hey!" teriak Gwen.
Setelah itu, Gwen membawa makanan tersebut masuk. Dan santri yang sebelum itu mengantar makanan, menghampiri teman-temannya dan menceritakan pengalamannya bertemu dengan istri Ustadz.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam, bagaimana? Bagaimana reaksi istri Ustadz Agam? Apakah dia baik, ramah atau malah cuek?" tanya santri lainnya.
"Lihatlah, aku sampai gemetar. Beliau baik banget, bahkan terus menyebar senyuman. Bicara juga dengan ramah. Pokoknya baik," jawab santri yang sebelumnya membawa makanan.
"Terus, bagaimana lagi? Apakah benar-benar cantik? Ada yang bilang kalau beliau ini keturunan bule,"
"Matanya sedikit berwarna, alisnya sedikit coklat dan kulitnya putih. Cantik lah!"
Sementara para santri menggosip tentang Gwen, di rumah, Gwen malah asik makan bersama dengan Agam.
"Oh, iya. Hubungan Mas Agam dengan Ustadz Khalid apa, ya? Kok, beliau juga tinggal di sini?" tanya Gwen dengan mulut penuhnya.
"Mas Khalid itu, kakak sepupu Mas. Anak dari kakak almarhum Abi," jawab Agam.
"Terus dimana istrinya? Bukankah waktu itu sudah menikah? Wong aku aja hadir di hari pernikahannya, kok," Gwen masih saja ingin tahu segalanya.
"Sebenarnya, istri Mas Khalid ini meninggal karena kecelakaan bersamaan dengan Dokter Aisyah, Dek. Wanita pengendara motor yang meninggal di tempat itu ... adalah istri dari Mas Khalid. Itu sebabnya, waktu itu, Mas tidak langsung menjenguk Dokter Aisyah usai kecelakaan," ungkap Agam.
Gwen terdiam, tapi masih menggiling makanan mulutunya. Ia tidak tahu menahu soal wanita yang meninggal itu, dikarenakan dirinya sibuk dengan keadaan kakaknya saat itu. Agam menceritakan, bahwa Raihan sudah datang untuk berbela sungkawa bersama dengan anak angkat laki-lakinya. (anaknya Nadia, perempuan yang mencintai Raditya suami Aminah, bibinya Gwen)