Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kecelakaan



Namun, di perjalanan Aisyah mengalami kecelakaan. Mobilnya ringsek diterkam truck muatan pasir. Ia terpental sampai jauh, karena sebelum terjadi benturan, Aisyah berhasil keluar. 


Matanya masih terbuka, luka di kepala dan lengannya sangat parah. Wajahnya berlumuran darah, namun masih sempat meraih ponselnya dan menghubungi sangat Ayah. 


"A-Ayah, Ayah, Ayah …." Aisyah terus menyebut nama Ayahnya. 


Waktu kejadian masih sekitar jak 7 malam, banyak sekali pengendara lalu lapang di jalanan, sehingga pertolongan datang lebih cepat. Tabrakan itu ternyata juga telah merenggut nyawa pengendara motor, seorang perempuan muda yang membawa barang belanjaan banyak. 


"Ayah, Ayahku di mana?" 


Kernet truk juga ikut dalam ambulance, sementara sopir akan mengurus semuanya di kantor polisi. 


"Aku akan menelpon Ayahmu. Sebentar, apa kata sandimu, Mbak?" tanya Kernet tersebut. 


"Ayah01," jawab Aisyah lemas, kemudian pingsan. 


Kernet itu berhasil menelpon Yusuf. Yusuf dan semua orang rumah langsung menuju rumah sakit yang dituju Aisyah. Mereka semua panik termasuk Rebecca yang saat itu tengah mengandung. Satu orang yang sangat khawatir akan keadaan Aisyah adalah Gwen. Dialah yang merasa bersalah karena terakhir berdebat dengannya sebelum Aisyah pergi.


Sudah hampir pagi, Aisyah belum juga siuman dari pingsannya. Dokter mengatakan jika Aisyah pasti akan baik-baik saja. Tak ada luka dalam yang serius, luka luar lumayan serius, namun tak ada yang di khawatirkan. 


"Gwen, tolong kamu bawa Ibumu pulang dulu, ya. Kasihan dia, sejak semalam susah mau tidur," pinta Yusuf. 


"Tapi Ayah, aku pengen banget nunggu Kak Aisyah siuman. Bagaimana jika Kak Chen yang mengantar Mami pulang? 


Chen menyetujui hal itu. Sekalian, ia juga hendak mengantar Asisten Dishi ke Bandara. Dia harus kembali hari itu juga karena sebuah pekerjaan. Sementara Chen masih harus bersama keluarganya. 


"Asisten Dishi kenapa harus pulang?" tanya Yusuf. 


"Ayah, pekerjaanku tak bisa ditinggalkan lama-lama. Aku akan mengirim Asisten Dishi pulang terlebih dahulu. Supaya dia bisa menghandle semua pekerjaanku." jelas Chen. 


Kecelakaan itu membuat Aisyah harus kehilangan setengah dari ingatannya. Ia masih bisa mengingat semua orang, namun tidak dengan kecerdasannya yang saat ini telah mengharumkan namanya. Ia juga lupa tentang pelajarannya yang sudah membuatnya sebagai dokter umum. Mau tidak mau, Aisyah harus mengubur mimpinya untuk menjadi dokter anak yang ia impikan. 


Pagi itu, Aisyah terbangun. Orang pertama yang ia cari adalah Ayahnya. Seorang yang sangat berjasa baginya sejak dirinya bayi hingga dewasa saat ini. Aisyah juga menyayangi Ibunya, namun rupanya Rebecca memiliki cacat kasih sayang dalam hatinya. Sehingga sulit bagi Aisyah untuk menyayangi Rebecca sebesar dia menyayangi Yusuf, Ayahnya. 


"Ayah?" suara lirih itu memanggil pria penyabar dan bijaksana itu. 


"Aisyah, kamu sudah sadar? Alhamdulillah, kamu membuat Ayah takut saja, Nak." ucap Yusuf, dengan air mata yang mulai menetes di sudut matanya. 


"Ayah, kenapa aku di sini? Ada apa yang terjadi denganku?" tanya Aisyah. 


Yusuf tak menyangka jika Aisyah lupa dengan kejadian yang menimpanya semalam. Aisyah hampir saja kehilangan nyawanya jika tidak melompat dari mobil. Sebab, mobil yang ia kendarai saja ringsek tak berbentuk.


"Loh, kok, Ayah malah nangis? Apakah aku membuat Ayah khawatir?" tanya Aisyah benar-benar melupakan kejadian itu. 


Selain akan melupakan sebagian ingatannya, Aisyah juga mengalami hilang ingatan jangka pendek. Ia akan lupa dengan apa yang baru saja ia ucapkan dan dilakukannya. Namun, Aisyah masih ada harapan untuk sembuh. 


Tentu saja hal itu membuat Gwen patah hati. Bagaimana tidak, saudari yang biasanya akan memarahinya ketika bersalah, selalu penuh dengan nasihat bijak, kini telah melupakan semuanya. Yang Aisyah ingat, dirinya hanya seorang putri kesayangan Yusuf dan kesayangan bagi keluarga pesantren lainnya. 


Aisyah menatap langit-langit dan mulai mengingatnya. Namun sayang, ia tak mampu mengingat apapun. Bahkan, Aisyah malah teringat jika Gwen harus ke sekolah karena sebentar lagi akan ada ujian. 


"Kak, jangan bercanda, dong. Sekolah apa, sih? Aku sudah lulus kuliah beberapa bulan lalu. Tolong jangan buat aku menyesal telah bertengkar denganmu kemarin malam!"  seru Gwen berharap jika apa yang dikatakan dokter bukanlah kenyataan jika kakaknya yang cerdas ini akan menjadi sepolos dirinya seperti sebelumnya. 


Mendengar ucapan Gwen saja Aisyah malah bingung dengan adiknya seraya bertanya, "Kenapa kamu berteriak? Maaf jika kakak salah. Tolong jangan marah denganku lagi, ya …," 


"Kak Aisyah, tolonglah …." 


Sebanyak apapun Gwen berusaha mengingatkan Aisyah, tetap saja Aisyah tak bisa mengingat apapun. Aisyah ingat jika dirinya sudah menjadi dokter, tapi ia melupakan semua ilmu yang pernah ia tuntut. 


"Gwen, berikan kakakmu waktu. Dia juga baru sadar, bukan?" tutur Yusuf. 


"Tapi, Ayah. Aku mas--"


"Assallamu'alaikum semuanya. Aisyah kamu sudah siuman?" ucapan Gwen terhenti ketika Chen datang. 


Seperti biasa, Chen akan memeluk menyentuh kepada Aisyah kala bertemu. Namun, kali ini Aisyah menepisnya. Ia telah lupa jika pria tinggi yang ada di depannya adalah saudara kembarnya. 


"Hey, siapa kamu? Bisakah kau sopan sedikit?" tepis Aisyah. 


"Ai, ini aku Chen. Kau tak ingat denganku, kah?" 


"Ai? Sok Inggris pula. Ayah, siapa dia?" 


Chen menatap Yusuf dengan tanda tanya besar. Gwen mengajak Chen keluar, sementara Yusuf perlahan menceritakan siapa Chen baginya. Mendengar bahwa Aisyah memiliki gangguan pada ingatannya, membuatnya sangat murka. Ia mendobrak ruangan dokter dan memintanya agar bisa cepat menyembuhkan adiknya. 


"Kak, apa yang kamu lakukan? Ini di rumah sakit, jangan bikin keributan ngapa?" tegur Gwen. 


"Tak ada urusan denganku. Hey, dokter. Aku sudah katakan, jika kau harus membuat saudariku sembuh. Apa ini? Gangguan ingatan? Apakah kau tau bagaimana hancurnya aku saat adikku sendiri tidak mengingatku?" hardik Chen. 


Gwen dan dokter yang menangani Aisyah berusaha menenangkan Chen dan mulai membahas bagaimana caranya agar Aisyah bisa mengingat kembali semuanya. Semua itu hanya akan bersifat sementara jika banyak dukungan yang ingin membuat Aisyah sembuh. 


"Aku akan membunuh supir truk itu. Bisa-bisanya Ayah melepaskannya begitu saja!" dengus Chen. 


"Allahu Ya Rabb," ucap Gwen menghela nafas panjang. "Ini negara hukum, jadi jangan ngadi-ngadi dah ah. Sudahlah, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan supir truk itu." Gwen mencoba meredam amarah Chen.


"Siapa yang mengatakan itu, hah?" kesal Chen. 


"Banyak saksi mata di lokasi kejadian. Ada pengendara motor yang hendak mendahului Kak Aisyah lewat jalur kiri langsung belok ke kanan. Mungkin truk itu juga kaget, malah membanting stir ke lawan arah dan akhirnya menabrak mobil Kak Aisyah." jelas Gwen.


"Kak Chen, apakah kau akan bersikap seperti ini jika aku yang ada di posisi, Kak Aisyah?" tanya Gwen. 


"Ini bukan saatnya iri, Gwen. Sebelum kejadian itu terjadi, aku yang akan pasang badan untuk menggantikan posisimu. Kalian berdua adalah adikku yang paling berharga, aku akan memastikan bahwa kalian selalu bahagia dan baik-baik saja." ungkap Chen. 


Tetap saja, Chen tak bisa menerima kenyataan itu. Chen berencana akan membawa Aisyah ke luar negri jika selama dua minggu Aisyah belum bisa mengingat sebagian ingatannya yang hilang itu. Chen sangat terluka ketika Aisyah menepisnya dan tak mengenali dirinya.