
Malam sebelum ketiganya ulang tahun. Aisyah sedang merapikan rumahnya, karena setahu dirinya, hanya Feng dan Ayden yang akan datang merayakan ulang tahun itu bersamanya.
"Mama, memangnya siapa yang akan datang? Kenapa kita harus membersihkan kamar sebelah juga?" tanya Ilkay dengan wajah imutnya mengenakan topi beruang.
"Um, Paman Feng akan datang menginap. Dia tidak ingin menginap di rumah Paman Ayden, jadi ya akan menginap di rumah kita. Apa kamu keberatan?" jawab Asiyah dengan membelai pipi Ilkay.
"Tidak! Kay tidak keberatan, kok!" seru Ilkay semangat. "Paman Feng orang yang baik, makanya Ilkay harus baik juga kepadanya, bukan begitu, Ma?"
Aisyah tertawa mendengar ungkapan putranya. Ketika mereka mulai berbenah lagi, suara bel terdengar. Tanda ada seseorang yang akan bertamu ke rumah mereka.
"Siapa yang datang selarut ini?" gumam Aisyah.
"Apakah itu, Paman Feng?" tanya Ilkay.
"Tidak mungkin. Pamanmu bilang, kalau dia akan tiba esok hari. Ini sudah hampir tengah malam, siapa yang datang berkunjung?" Aisyah meminta Ilkay untuk tetap di dalam.
Sementara dirinya membuka pintu, berjaga jika ada orang jahat yang datang ke rumahnya dalam waktu hampir tengah malam.
Ketika Aisyah hendak membuka pintu, jantungnya berdebar hebat. Seperti ia tersengat oleh sesuatu kalau menyentuh ganggang pintunya. "Kenapa dengan jantungku ini?" batinnya mulai ikutan resah.
Aisyah berhasil membuka pintu. Seorang pria tengah berdiri di depan pintu dengan membelakanginya.
"Siapa, ya?" tanya Aisyah dengan ramah.
"Tunggu sebentar, sepuluh detik lagi tepat jam dua belas malam. Kita tunggu sebentar," ucap pria bertopi itu.
Mendengar suara pria itu, Aisyah menyadari sesuatu. Suara pria itu terdengar tidak asing di telinganya. Ia menduga jika pria yang ada di depannya saat ini adalah Asisten Dishi.
"Ail?"
"Kamu kah itu?" Aisyah menurunkan tingkat kewaspadaannya dengan mendekati pria itu.
"Ail, kamu di sini? Beneran ini kamu?" dengan memutar tubuh pria itu, Aisyah dapat melihat wajah cerah pria yang selalu ia sebut namanya di dalam doa-nya itu.
Asisten Dishi tersenyum kalah. "Kenapa sulit sekali untuk menipumu, Mail. Mana ketawa pula! Assalamu'alaikum, cantik,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, kamu datang? Tapi ini baru lima bulan, bukankah kamu--" ucapan Aisyah terhenti, ia meneteskan air matanya karena saking bahagianya bisa bertemu dengan Asisten Dishi.
"Apa kamu masih mau aku sayang dua sampai tiga tahun lagi? Ini sangat berat bagiku, eh tunggu! Jam 12 malam tepat, Happy Milad, cantik," ucap Asisten Dishi memberikan sebuah kotak hadiah dan sebuket coklat untuk wanita yang dicintainya.
"Dengan bertambahnya usia, semoga bisa lebih dewasa lagi dalam menghadapi dunia. Tambah sayang sama Ilkay, tambah sayang sama aku. Jadilah kebanggaan dan penyejuk hati untuk semua orang, hm?"
Aisyah masih menangis, "Haih, kita masih belum sah. Jadi aku akan memeluk Ilkay saja sebagai tanda terima kasih," ujar Aisyah dengan tawa haru.
"Dia belum tidur?" tanya Ilkay.
Aisyah menggeleng. Ia mempersilahkan Asisten Dishi masuk dan menyambutnya dengan baik. "Di mana Ilkay? Aku sudah sangat merindukannya. Hm, dia sibuk sekolah, kamu sibuk belajar juga. Jadi, setiap kali kita melakukan telpon, tidak bisa mendengar suara Ilkay karena perbedaan waktu," keluh Asisten Dishi.
"Dia ada di kamar sebelah. Ko Feng besok datang. Dia nggak mau menginap di rumah Ayden Oppa, jadi Ilkay membersihkan kamar untuknya," jawab Aisyah.
"Hm, katanya seperti itu. Ayo kita temui Ilkay, pasti dia senang sekali Ayahnya datang," ucapan Aisyah itu entah mengapa membuat Asisten Dishi senang.
Sesampainya di kamar, mereka malah mendapati Ilkay sudah tertidur dengan kaki diangkat satu ke tembok. Tak ingin membuat putranya terganggu, Asisten Dishi meminta Aisyah untuk bersantai terlebih dahulu di ruang tengah dengan membuka kado yang ia berikan.
"Yah, jagoan kita sudah tidur. Sebaiknya kita jangan ganggu dia. Ini juga sudah sangat larut, sudah waktunya dia tidur. Mari, kita duduk dulu di sofa. Aku ingin kau membuka hadiah dariku," ucap Asisten Dishi dengan senyuman.
Hadiah yang diberikan oleh Asisten Dishi memang sederhana. Berupa rekaman jika bahwa dirinya telah melamar Aisyah ke orang tuanya secara langsung. Bukan hanya itu saja, Asisten Dishi juga memberikan sertifikat bahwa dirinya telah menjadi seorang mualaf empat bulan lalu.
"MasyaAllah … Ail, ini beneran? Kamu~" rasa terharu Aisyah membuatnya sulit untuk berkata-kata.
"Mail, ini mungkin terlalu mendadak. Aku juga tidak bisa memberikan kejutan yang lebih baik dari ini. Tapi, aku akan jauh lebih tenang jika bisa melakukan ini sekarang juga," ucap Asisten Dishi.
Ia merogoh sakunya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisikan cincin permata yang indah.
"Bismillahirrahmanirrahim, Aisyah Adela Putri, maukah kamu menjadi penyempurna imanku, dengan menjadi pelabuhan terakhir dari cintaku? Maukah kamu meresmikan Ilkay sebagai anak kita, tertulis di kartu keluarga yang sah menurut negara kita masing-masing?"
Aisyah tak mampu berkata apapun. Hadiah ulang tahun tahun itu adalah hadiah yang sangat mahal diterimanya. "A-aku …," Aisyah mulai gugup.
"Ail, ini--"
"Mamanya Ilkay, ilmu agamaku mungkin tidak bisa dibandingkan dengan ilmu yang kamu miliki. Tapi, aku akan berusaha bisa mengimbangi dirimu," lanjut Asisten Dishi masih mengarahkan cincin itu kepada Aisyah.
"Ail, kita bisa belajar bersama-sama, bukan? Tapi aku … aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Kamu sudah melamarku dengan mendatangi orang tuaku secara langsung?" Aisyah masih tidak percaya kejutan yang diberikan oleh Asisten Dishi padanya.
"Aku takut tidak ada waktu lagi, Mail. Kini, yang mendekatimu ada dua pria. Jika aku tidka mengikatmu lebih dulu, bisa-bisa aku kalah saing dari mereka. Aku akan bekerja lebih giat lagi, agar bisa memberikan pernikahan yang seperti kamu impikan," dengan manisnya seperti anak kucing, Asisten Dishi mengatakan itu dengan suara lirihnya dan ekspresi wajah lucu.
Aisyah tertawa. Tak ada hal baginya yang bisa membuat menolak lamaran Asisten Dishi. Meski keduanya belum terburu-buru menikah, Aisyah dan Asisten Dishi akan mengumumkan dulu jika meraka akan menikah di waktu yang sudah tepat.
"Pernikahan impian? Ail, aku tidak memimpikan pernikahan mewah apapun. Yang aku ingin, kita menikah dengan di saksikan keluarga kita dan sah menurut agama dan negara. Itu sudah cukup bagiku," jelas Aisyah menerima cincin tersebut.
"Alhamdullillah, kamu MasyaAllah sekalui, Ail. Berhubung kita tidak boleh bersentuhan. jadi kamu memakai cincin ini sendirian, ya--"
Kebahagiaan menyelimuti pasangan yang baru saja berkomitmen itu. Entah kapan mereka akan melaksanakan pernikahan, tapi Asisten Dishi berjanji akan secepatnya menikahi Aisyah ketika pekerjaannya telah selesai.
"Masih lama kah pekerjaan itu? Kenapa Kak Chen memberikan tugas yang begitu berat untukmu?" tanya Aisyah.
"Stt, tidak boleh seperti itu. Tuan adalah majikanku. Sudah seharusnya aku mengerjakan pekerjaan yang Dia perintahkan," tutur Asisten Dishi dengan lembut.
"Iya, tapi kan tidak seharusnya sampai lama seperti itu. Pasti kamu di sini juga tidak akan lama, 'kan?" lanjut Aisyah dengan dugaannya.
"Benar, aku hanya akan berlibur bersama kamu dan Ilkay tidak lebih dari 3 hari. Jadi, aku harap aku bisa memanfaatkan waktu singkat itu dengan baik," jawab Asisten Dishi sedikit kecewa.
Aisyah memberikan janji kepada Asisten Dishi untuk bisa menyempatkan waktunya untuk menemani pria berusia 25 tahun berlibur bersama dengan putra mereka. Waktu selarut itu, tidak mungkin bagi Aisyah meminta Asisten Dishi mencari hotel atau penginapan lain.
Masih ada kamar satu lagi, Asisten Dishi dipersilahkan istirahat di kamar milik Ilkay. Sementara Ilkay tetap tidur di kamar yang akan di pakai oleh Feng nantinya.