
Di perjalanan menuju Bandara, Xia menjadi pendiam. Padahal, biasanya selalu saja banyak bicara. Malam itu, kondisi tubuh Xia juga belum terlalu membaik, Xia sendiri yang ingin segera sampai ke Amerika.
"Kamu akan berapa lama di sana?" tanya Feng kepada Dishi.
"Kebetulan, perusahaan yang disana bisa menyuntikkan dana untuk perusahaan yang disini. Aku akan di sana mungkin 1 mingguan. Setelah itu, aku akan langsung ke Korea," jawab Dishi.
"Kau akan jujur kepada Aisyah?" lanjut Feng.
"Mungkin belum. Tapi aku sudah sangat merindukannya. Jadi, sementara akan pura-pura saja aku datang karena keperluan," jawab Dishi lagi.
"Mau sampai kapan kau terus membohongi dia?" Feng kembali bertanya.
Dishi hanya diam tak menjawab. Dirinya masih butuh waktu untuk melakukan apapun sendiri. Takutnya, jika ia jujur lebih awal, maka Aisyah akan marah dan hubungannya akan sulit. Pekerjaan akan terganggu dan pendidikan Aisyah juga pasti memiliki kendala. Dishi berharap, suatu hari nanti Aisyah akan mengetahuinya sendiri.
"Tapi sepertinya aku akan jujur. Bagaimanapun juga, kejujuran itu adalah hal yang paling penting dalam sebuah hubungan. Jadi mungkin ketika aku pulang nanti tidak langsung mengatakan bahwa aku hanya pura-pura hilang ingatan, tapi biarkan saja dia yang tahu sendiri dengan segala tindak lakuku," sahut Dishi dengan raut wajah yang tenang.
"Baguslah, jadi tidak perlu menunggu berbulan-bulan kau kembali kepada adikku. Kasihan juga dia, pasti sudah sangat membutuhkan bahumu," timpal Feng.
Perjalanan menuju Bandara membutuhkan waktu 45 menit. Jaraknya tidak jauh, hanya saja Feng sengaja menyetir dengan lambat, karena berharap Tama bisa menyusul.
Sesampainya di Bandara, Xia berjalan sedikit lambat. Selalu celingukan ke sana-kemari, terlihat jelas jika dia sedang mencari seseorang.
"Kamu mencari Tuan Tama? Dia pasti tidak akan datang. Xia, jika kamu tidak mau pergi, kamu katakan saja kepada kakak-kakakmu," ucap Sachi menyentuh kepala Xia dengan lembut.
Xia menggeleng kepala. "Aku akan tetap pergi. Asisten Dishi sudah membelikanku tiket, mempersiapkan segalanya dengan mendadak. Kakak Feng juga sudah ambil waktu kerjanya untuk mengantarku. Kak Sachi juga, telah mau malam-malam seperti ini mengantarku kemari. Aku tidak ingin membuang waktu kalian dengan percuma," jawabnya.
"Kamu sudah jauh lebih bijak. Aku bangga sekali padamu, Xia. Semangat belajar, dan jadilah orang yang sukses di masa depan!" Sachi memberi semangat kepada Xia.
Penerbangan ke Amerika akan segera berangkat. Dishi membawakan koper milik Xia dan mengajaknya untuk berangkat. Mereka saling berpamitan dengan wajah Xia yang muram.
"Tama beneran tidak hadir ini? Keterlaluan sekali dia! Dasar kadal!" umpat Feng dalam hati.
"Jangan paksakan. Itu hak dia, kenapa kau sangat antusias sekali dengan hubungan mereka berdua? Tama sudah dewasa, dia tahu apa yang benar dan salah," bisik Dishi.
Feng memutar bola matanya dan memasang wajah jutek. Kemudian mengingatkan Xia untuk berhati-hati dan jangan mudah ditindas lagi. Feng akan mengurus pengalihan wali dari Tama menjadi dirinya nantinya.
"Kenapa? Kak Tama saja sudah cukup, kenapa harus dialihkan?" tanya Xia heran.
"Dia akan kembali ke negaranya. Jika kamu butuh apa-apa nanti melalui seorang wali murid, Apakah kamu ingin mendapatkan dia bolak-balik dari negaranya?" jelas Feng. "Aku sudah terbiasa bolak-balik ke sana-kemari. Bahkan jika dipikir-pikir aku juga bisa pergi tanpa menggunakan surat surat izin, kenapa harus merepotkan orang lain jika aku bisa?" sambungnya.
"Haduh, semua demi Tama. Baiklah, apa katamu saja. Sudahlah, sana kamu berangkat. Dishi sudah menunggumu," celetuk Feng.
Setelah melambaikan tangan, berbalik menuju arah berlawanan, Xia merasakan langkah Tama dari sana. Xia pun menghentikan langkahnya. Menoleh, dan melihat kembali ke sekelilingnya.
"Ada apa lagi? Ayo, kita harus segera berangkat," ucap Dishi.
"Aku merasa jika katamari disini. Tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya, Apakah dia tidak ingin mengantarku? Atau mengucapkan kata selamat jalan kepadaku? Apa hanya perasaanku saja jika kak Tama ada di sini?" batin Xia.
Pikiran Xia salah tentang Tama yang tidak mau mengantarnya dan mengucapkan selamat jalan. Tama datang dan Xia melihatnya. Hati Xia merasa dingin mala melihat Tama datang membawakan boneka yang pernah Tama belikan untuk gadis kecilnya itu.
"Kak Tama?" panggil Xia.
"Ayo, Nona Sachi. Kita duluan keluar, atau kita akan membuat suasana menjadi lebih canggung lagi," ajak Feng kepada Sachi.
Feng dan Sachi pun pergi. Dishi masih ada di belakang Xia yang saat itu mata Xia tengah berbinar-binar melihat pelanginya datang. Xia menerima boneka tersebut dan langsung memeluknya.
"Kakak datang?" tanya Xia lirih.
"Ini nomorku yang aku gunakan selama aku di tempat asalku. Beberapa hari lagi, aku akan kembali juga. Jadi pasti aku akan mengganti nomorku," ucap Tama memberikan kartu namanya sebagai pengusaha kayu barecore sukses di Kotanya.
Xia menerima kartu nama tersebut dengan haru. Tama mengucapkan permintaan maafnya karena telah memperlakukan siap dengan tidak baik. Tak lupa, Tama juga memberikan dukungan semangat untuk gadis kecilnya meraih cita-citanya.
"Aku akan menunggumu, sampai kamu berapa dan menjadi orang yang sukses nantinya. Selamat jalan, dan sampai berjumpa lagi, Xia," lanjut Tama.
"Xia, waktunya--" sela Dishi.
"Apa aku boleh memelukmu sebentar saja? Aku tidak ingin pergi tanpa memelukmu terlebih dahulu, kak." Pinta Xia dengan berkaca-kaca matanya.
Tama tersenyum, kemudian merentangkan tangannya. Xia pun terisak seraya tersenyum memeluk Tama. Pelukan hangat nan tulus itu akhirnya bisa di rasakan oleh Xia. Meski hanya sebentar, itu sudah membuat Xia jauh lebih baik dari sebelumnya. Pelanginya sudah kembali menghiasi awan mendung di hatinya. Jadi, Xia pun tersenyum manis saat itu.
Mereka berpisah dengan lambaian tangan dan sebuah kata perpisahan. Entah kapan pertemuan mereka akan ada, tapi keduanya berharap untuk adanya pertemuan di antara mereka di kemudian hari. Sementara itu, Tama tetap akan menjadi wali Xia sampai Xia lulus sekolah menengah atas.
Dishi juga menjadi semakin bertambah merindukan istrinya. Tak sabar baginya untuk bertemu dengan kekasih hatinya itu. Namun masih ada beberapa hal yang harus ia kerjakan sebelum bertemu dengan Aisyah. Bukan masalah memberatkan pekerjaannya, tapi memang perusahaan yang didirikan oleh Chen dan juga keluarga Wang, adalah penting baginya.
Majunya perusahaan tersebut, juga bisa menjadikan masa depan bagi Rifky dan juga Ailee. Yang dimana mereka masih sama-sama bayi. Dishi tersenyum melihat pesan tersemat istrinya yang selalu menanyakan keadaannya setiap pergantian jam. Satu jam sekali, Aisyah selalu mengirim pesan disela-sela waktu sibuknya meski hanya menanyakan, "Bagaimana kabarmu?'