
"Hey, apa kau akan tidur di sini? Ayo, kita pulang!"
Puspa berdiri, berjalan menuju Chen dan keluar dari restoran bersamanya. Masih dengan hati getirnya, Puspa kembali meneteskan air matanya mengingat Tama begitu saja.
"Kau menangis?" tanya Chen.
"Tidak, saya tidak nangis …," jawab Puspa mengelap air matanya.
"Heh, kau pikir aku ini buta? Itu air yang keluar dari matamu apa? Air kencing kuda!" ketus Chen.
Puspa mengelap air matanya, tak ingin lagi mendengar Chen mengejek air matanya dengan segala jenis air. Di saat mereka hendak menyebrang menuju parkiran, bus lewat menerjang genangan air yang mengalir ke got.
Reflek, Chen menghadang air tersebut menggunakan badannya agar tidak mengenai baju Puspa. "Brengsek! Apakah dia menyetir dengan meninggalkan matanya!" sulut Chen membersihkan jas hitam mahal miliknya.
"Tuan, jas Tuan basah. Biarkan saya mencucikannya, ya?" ucap Puspa ikut membersihkan jas Chen.
"Oh, tau diri juga. Biarkan saja, nanti bisa di buang. Aku memilki jas banyak di rumah," sahut Chen dengan kesombongannya.
"Tuan, um … katanya ingin belajar agama Islam dengan baik, 'kan?" ucap Puspa dengan suara lembutnya.
"Kalau dalam agama Islam, setiap busana juga akan ikut di hisab. Jadi kalau memang sudah tidak diperlukan lagi, bisa kok Tuan memberikan kepada orang yang lebih membutuhkan daripada dibuang," tutur Puspa sembari membersihkan jas Chen yang masih melekat di badannya.
"Dan sepertinya tidak usah beli lagi juga. Sudah banyak kan di rumah? Maaf bukan maksud saya lancang, loh!" tukas Puspa disusul senyuman manisnya.
"Apa itu hisab?" tanya Chen dengan raut wajah imut, yang membuat Puspa tak tahan untuk mencubit pipinya.
"Uhh, kenapa dia memasang wajah seperti itu. Mirip sekali dengan Gwen dan pengen cubit, atau menampolnya," gumam Puspa dalam hati.
"Al-hisab secara bahasa berarti al-'addu wa al-muhâsabatu yang artinya hitungan, perhitungan (Kamus Al-Bisyri, hal. 113). Kata hisab dapat dipahami sebagai usaha menghitung-hitung amaliah negatif diri," jelas Puspa.
"Lalu, hisab akhirat itu apa?" tanya Chen kembali.
"Di sinilah nasib manusia akan ditentukan. Jika lebih berat amal baiknya, balasan yang akan diterima berupa surga. Sebaliknya, jika amalan buruk lebih berat, neraka dengan segala azab yang sangat pedih adalah balasannya," terang Puspa dengan sabar.
Chen terdiam, mengangguk-angguk mengerti maksud dari penjelasan yang Puspa berikan. Setelah memahami, Chen meletakkan telapak tangannya di atas kepala Puspa dengan mengatakan, "Baiklah, aku paham sekarang. Kamu memang tepat menjadi guruku, jadi … apa kau bersedia menikah denganku?"
"Jangan bahas ini dulu!" tepis Puspa.
"Haih, terserah. Kamu hanya ada waktu 24 jam untuk memikirkannya. Aku tidak akan memaksa, ya meski aku memang harus memaksa. Ayo, jalan ke mobil!" Chen berjalan lebih dulu, kemudian diikuti oleh langkah Puspa di belakangnya.
Di mobil, mereka saling diam. Puspa masih kepikiran dengan tawaran Chen untuk menikah dengannya. Hanya saja, hatinya masih bimbang jika harus mengatakan iya saat itu.
Ada nama Tama dalam hatinya. Meski Tama sendiri juga melepaskan dirinya tanpa beban. Puspa tahu jika Tama tidak pernah membalas rasanya, atau juga menyukai dirinya. Hanya saja, Puspa belum siap untuk menjadi seorang Nyonya Chen yang baru ia temui belum lama itu.
"Tuan Chen," panggil Puspa.
"Hm,"
"Bolehkah saya jujur akan sesuatu?" ujar Puspa masih dengan tatapan ke depan.
"Katakan!" seru Chen.
"Sial!" umpat Chen.
"Kau harus dapatkan informasi lebih lanjut tentang mereka. Aku tidak ingin mereka berdua lolos, paham?" perintah Chen.
Puspa tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Chen, karena saat telepon, Chen menggunakan bahasa Mandarin.
"Sepertinya, dia sedang tidak baik-baik saja moodnya. Lebih baik, aku tahan saja hal ini. Dia tidak boleh tau kalau aku menyukai Mas Tama. Dia kan sepupuan sama Mas Tama," ucap Puspa dalam hati.
"Kamu mau bicara apa tadi?" tanya Chen.
"Lupa, hehe. Nanti kalau sudah ingat, saya akan mengatakannya kepada Anda, Tuan," jawab Puspa berbohong.
"Oh …." Chen fokus menyetir. Ia masih memikirkan bagaimana cara mendapatkan jejak Jackson Lim dan Cindy dalam waktu cepat.
Misi belum berakhir, Chen masih harus menuntaskan masalah Cindy dan Jackson Lim itu. Chen tak ingin orang yang telah melukai keluarganya hidup dengan tenang di luaran sana.
Sesampainya di rumah, Chen tidak akan lagi kembali ke kantor. Ia akan fokus untuk membuat rencana penangkapan Jackson Lim dan juga Cindy jika Asistennya sudah memberikan kabar dimana mereka berada saat itu.
"Tuan, jasnya. Biar saya cucikan," Puspa tidak melupakan janjinya untuk mencuci jas milik Chen.
Tanpa berkata apapun, Chen melepaskan jasnya dan meninggalkan Puspa begitu saja. Saat bertemu dengan Pelayan Mo, ia hanya mengatakan untuk mengantarkan teh hijau untuknya.
"Setelah mendapat telpon, ekspresi wajahnya jadi berbeda. Ada apa dengannya, ya?" batin Puspa penasaran.
Puspa merasa itu bukanlah urusannya. Ia pun melanjutkan apa yang seharusnya sudah menjadi pekerjaannya.
***
Di sisi lain, Aisyah masih harus datang ke puskesmas desa seperti biasa. Ingatan nya sudah sepenuhnya pulih. Semua pelajaran yang ia dapat juga berhasil ia ingat kembali.
Dalam waktu seharinya, ia di sibukkan oleh pekerjaannya. Sampai pada akhirnya, ia terpikirkan untuk beralih profesi dan mengikuti ujian kuliah awal lagi ke Korea.
"Tapi ini cita-citaku. Tapi aku juga lelah jika nantinya harus fokus kuliah, masih harus urus Ilkay. Bagaimana, ya? Masa iya aku biarin Ilkay ke Australia bersama Ayah dan Ibu? Tidak mungkin!"
"Ilkay adalah anakku, tidak boleh aku menitipkan anakku kepada orang tua lah!"
Pusing melanda pikiran Aisyah, sampai pada akhirnya, telpon dari pujaan hatinya membuat hatinya merasa jauh lebih tenang.
"Selamat pagi, mail sang mentariku. Sudah sarapan?" tanya Asisten Dishi.
"Pagi, Ail. Kamu sendiri, apa sudah makan malam?"
"Baru saja, makan mie kok jadi teringat kamu. Kamu paling pinter jika membuat olahan dari mie. Seketika, aku kangen denganmu. Eh, sudah boleh kangen-kangenan belum, sih?"
Aisyah tertawa mendengar kata kangen-kangenan. Mau bagaimana lagi, mereka masih harus berjauhan dalam benua yang berbeda. Cinta mereka belum bisa dibicarakan lebih lanjut, mengingat jauhnya jarak diantara mereka.
Tanpa Aisyah ketahui, Asisten Dishi sudah sering menyempatkan waktunya untuk ikut majelis di daerah sana dengan warga ber ras hitam yang memang identik dengan agama muslimnya.
Asisten Dishi tidak akan memberitahu hal itu, karena memang dirinya ingin masuk islam karena dirinya sendiri. Bukan karena hanya ingin hidup bersama dengan Aisyah.