
Bab di ulang sedikit. Sebab, yang bab sebelumnya, tidak masuk dalam hitungan kata di website.
Malam itu, meski tidak mungkin langsung dibalas, Aisyah mengirim pesan kepada Asisten Dishi. Memberikan kabar bahwa dirinya telah sampai ke Korea dan disambut baik oleh keluarga yang ada di sana.
Aisyah juga menceritakan soal Ilkay yang mampu beradaptasi dengan keluarga di sana. Tak lupa, Aisyah juga bercerita tentang Leo yang selalu jahil padanya.
***
Di sisi lain, seminggu lamanya Puspa tinggal di Tiongkok bersama dengan Chen. Selama itu, mereka juga sering menghabiskan waktu bersama, meski tidak selalu berdua, tapi selalu bersama dalam setiap waktu.
Di kantor, Puspa selalu menghabiskan waktu menemani Chen bekerja dengan menjadi tukang ngetiknya. Kecemburuan Fei juga semakin meningkat kala Chen mengatakan kepada seluruh perusahaan, jika Puspa adalah tunangannya.
Hal itu juga dikonfirmasi oleh Chen kepada keluarganya di Jogja. Mengapa demikian? Dua hari sebelum di sahkannya pertunangan Chen dan Puspa. Abi mengirim pesan, jika Puspa harus menerima Ijal sebagai suaminya jika Chen belum membawa Puspa kembali secepatnya, dan beliau yang akan menjemputnya.
Dua hari lalu, ketika malam setalah Abi memberikan perintah untuk Chen segera membawa Puspa pulang dan membahas lamarannya.
"Ada apa?" tanya Chen.
"Abi, tetap mau menikahkan saya dengan Mas Ijal," jawab Puspa dengan tatapan kecewa.
"Tidak bisa! Kau kan calon istriku, kenapa kau harus menikah dengan pria lain? Apa selama lima hari ini, kau belum jatuh cinta padaku?" sulut Chen merebut ponsel Puspa dari tangannya.
"Tuan, jatuh cinta itu tidak semudah memutar telapak tangan. Tapi butuh proses panjang, supaya hati tidak salah memilih," terang Puspa.
"Salah memilih? Jadi, maksudmu, aku ini orang yang salah, sehingga kamu tidak bisa memilihku? Aku sudah menyayangimu sampai saat ini, menuruti semua keinginanmu, apakah itu tidak cukup?" Chen masih saja ingin berdebat.
Puspa hanya diam. Selama lima hari bersama, baginya memang belum cukup untuk memastikan perasaan hatinya. Akan tetapi, ada rasa yang membuat Puspa takut akan jauh dari Chen ketika dimana hari tersisa lima hari.
"Tuan, apakah Tuan ya--" belum juga Puspa merampungkan ucapannya, Chen sudah menyelanya. "Katakan, apa yang membuatmu masih meragukan diriku, Puspa?" tanyanya dengan tatapan mata yang tajam.
Mata birunya itu membuat Puspa kembali terpana. Puspa mengatakan bahwa dirinya mau menerima Chen dengan syarat, ia tidak harus membawa dirinya pulang ke Jogja dengan cepat.
"Apa maksudmu? Kau tidak ingin pulang?" tanya Chen.
"Entah kenapa, saya betah tinggal di sini. Nyonya kedua begitu menyayangi saya, saya jadi sulit untuk meninggalkan beliau, Tuan," kata Puspa dengan menundukkan kepalanya.
"Apa kau yakin dengan keputusan ini? Jika iya, aku akan segera mengumumkan bahwa dirimu adalah tunanganku secara resmi," ujar Chen dengan kesungguhannya.
"Tapi, mengapa Tuan sangat menginginkan semua ini jika Tuan sendiri saja tidak mencintaiku?" tanya Puspa mulai meragukan kembali niat Chen.
"Banyak wanita di luaran sana yang menginginkan posisi ini. Kenapa harus saya, Tuan? Jangan terus mempermainkan perasaan saya jika Tuan memang tidak serius dengan saya!" Tiba-tiba emosi Puspa melonjak.
Tanpa masalah, Puspa mengeluarkan semua keluh kesahnya hidup di sisi Chen. Ia juga mengungkapkan perasaannya, yang takut akan jatuh cinta kembali.
"Tuan, saya pernah terluka karena cinta. Hanya saja ji--"
Jantung Puspa mulai berdebar. Tak lama kemudian, Puspa menerima tawaran Chen untuk menjadi tunangannya dan kembali dalam waktu lima hari ke Jogja sebagai calon pengantin.
**
Setelah diumumkannya Puspa sebagai tunangan seorang Tuan Muda dari keluarga Wang, membuat beberapa wanita yang pernah mencintai Chen menjadi kesal, terutama Fei. Dihadiri oleh Feng sebagai perwakilan keluarga Hao dan juga keluarga di Jogja, Feng memberikan selamat kepada Chen dan Puspa.
Namun, Feng terus memperingati Chen agar jauh lebih berhati-hati lagi karena pasti akan banyak yang menargetkan Puspa sebagai tunangannya. "Apa maksudmu?" tanya Chen berbisik kepada Feng.
"Apa maksudku? Kau masih bertanya, Tuan Muda Wang? Kau pewaris dan akan memiliki banyak harta, berpengaruh di Kota ini. Masih nanya maksudku?" desis Feng.
Chen baru tersadar, jika tindakannya memang gegabah dalam mengumumkan Puspa sebagai tunangannya. Bahkan, hal itu telah membuat Abi Puspa marah karena adanya pertunangan mendadak.
Namun, adanya Jovan, sepupu Chen dari pihak Tuan Wang datang mengambil alih pekerjaan Fei untuk Chen. "Ada apa ini? Kenapa Tuan Hao dan juga Tuan Muda Wang selalu berselisih?" tanyanya tiba-tiba.
"Kau masih hidup?" cetus Feng menanyai Jovan.
"Oh, kenapa kau sangat terkejut dengan kehadiranku? Apa kau merindukan aku, Tuan Muda Hao?" Jovan memang sulit bisa akrab dengan Feng meski ia mengetahui bahwa Feng adalah sepupu dari Chen.
"Apa yang kalian bicarakan? Tak bisakah bicara menggunakan bahasa yang saya pahami?" sahut Puspa melerai ketiganya.
"Oho! Kita sampai lupa jika Nona Muda kita ada di sini. Nona Muda, aku hanya berbincang masalah pekerjaan saja," jawab Feng menyambut Puspa.
"Apa aku ini terlihat sangat bodoh, Ko Feng? Koko ini seorang dokter, dan Tuan Chen seorang pengusaha, dari segi mana kalian jadi se-frekuensi?"
Ucapan Puspa ada benarnya. Tak mudah bagi Feng membohongi Puspa karena mereka juga selalu bertemu kala Feng pulang ke Jogja. "Tuan Muda Wang, aku yang hina ini … atau kau yang akan mengatakan kebenarannya kepadanya?" desak Feng.
"Tuan Hao, ka--" ucapan Jovan terhenti kala Chen mengangkat tangannya sebagai tanda untuk Jovan diam.
"Tuan Muda Hao, bisakah kamu membicarakan masalah lain dengan Jovan? Aku ada urusan dengan tunanganku saat ini. Silahkan ikuti saja Jovan kemana dia akan membawamu," ucap Chen dengan nada lembut.
Pada dasarnya, Feng memang tidak ada niatan jahat kepada Chen maupun Puspa. Hanya saja, ia selalu bermain api dengan Chen dan juga Jovan sebagai pelampiasan kekesalannya saja. "Aku tegaskan sekali lagi, Chen. Puspa adalah gadis yang baik. Jika kau menyakitinya, bukan hanya keluarga yang akan marah. Melainkan, kedua saudari kembarmu juga akan kupastikan bisa marah besar padamu," bisik Feng memperingati kembali Chen.
"Mereka bertiga tumbuh bersama. Bahkan, dibandingkan dirimu … kedua saudarimu itu pasti akan lebih percaya kepada gadis ini!" imbuhnya dengan menepuk bahu Chen.
Chen hanya diam saja. Tak ingin membuat suasana bahagianya menjadi buruk, ia lebih memilih diam dan mulai menceritakan apa yang dimaksud Feng beberapa detik lalu. Chen memulai dengan wanita yang selalu menyodorkan dirinya untuk kepentingan bisnis, lalu perjodohan lama yang Tuan Wang lakukan dengan keluarga besar lainnya. Belum lagi masalah Fei yang kian hari semakin terlihat sifat aslinya.
Meski akan berdampak buruk, dengan santai Puspa mengatakan bahwa dirinya percaya dengan Tuhan yang akan selalu melindunginya. "Saya memiliki Allah dalam hati saya. Jika Tuan memang jodoh saya, untuk apa saya menakuti hal yang bahkan belum terjadi?" ucapnya dengan senyum yang mampu mengalihkan dunia Chen.
Pertunangan dadakan itu berlalu dengan lancar. Meski perjodohan lama antara Chen dengan gadis keluarga besar lain itu sudah ada, tetap saja Tuan Wang dan Nyonya Kedua selalu mendukung keputusan Chen untuk menikahi Puspa.
Mengapa terlalu cepat Puspa menerima Chen? Sedangkan hatinya jelas belum tahu betul perasaannya kepada Chen? Apakah Chen benar-benar serius, apa hanya ingin memanfaatkan Puspa saja? Jawabannya ada di next bab