
Di pagi hari, mereka bertiga sarapan bersama layaknya keluarga pada umumnya. Meski begitu, baik Asisten Dishi maupun Aisyah tetap menjaga jarak sebagaimana memang mereka masih memiliki batasan.
"Wah, ini mah namanya makan siang. Bisa-bisanya sarapan menunya cumi pedas manis," celetuk Aisyah. "Sejak kapan kamu bisa masak, Ail?" tanya Aisyah penasaran.
"Heh, sudah sejak lama aku bisa masak. Kamu saja yang tidak mengetahui pesonaku," ucap Asisten Dishi memanjangkan hidungnya.
"Masakan Ayah juga lezat. Kay berharap Ayah selalu membuatkan Kay makanan selezat ini. Apakah bisa, Ayah?" sahut Ilkay bersemangat.
"Tentu saja. Selama Ayah di sini, Ayah akan membuatkan Ilkay menu sarapan, makan siang dan makan malam sesuai selera Ilkay," betapa senangnya Asisten Dishi diterima dengan baik oleh Ilkay, meski lama tidak berjumpa.
Di saat mereka asik makan, bel rumah berbunyi. Tanda ada tamu yang sudah datang. Tak ingin membuat sarapan orang tuanya terganggu, Ilkay menawarkan diri untuk membukakan pintu.
"Baiklah, hati-hati. Kamu bisa lihat dulu siapa yang datang. Jika bukan orang yang tidak kamu kenali, jangan di buka dulu, oke?" tutur Aisyah.
"Siap, Mamaku yang cantik!" seru Ilkat smebari hormat.
Asisten Dishi merasa janggal dengan ucapan penuturan Aisyah barusan. Ia pun mempertanyakan, apakah sebelumnya ada hal yang mencurigakan sehingga membuat Aisyah harus waspada.
"Benar, seorang wanita datang dengan mengakui guru Ilkay. Aku tidak percaya, soalnya wajahnya bukan terlihat orang Asia, tapi namanya menggunakan nama Korea. Jikapun dia blasteran, tidak mungkin gen nya full orang non Asia," jelas Aisyah sedikit terburu-buru.
"Apa dia Chaterine? Sebelumnya, aku mendapat kabar jika dia sudah tidak ada lagi di kediaman Jackson Lim. Jika itu benar, setelah pulang nanti, aku akan mengirim seseorang untuk selalu menagwasi Mail dan juga putraku," gumam Asisten Dishi dalam hati.
Dugaan Asisten Dishi tidak pernah meleset. Ia yakin jika wanita itu adalah Chaterine. Aisyah bukan gadis yang bodoh dengan menilai seseroang, ia tahu pasti mana orang yang membawa gaetaran baik, maupun buruk.
Saat itu, Aisyah sengaja mengundang guru panggilan ke rumah untuk mengajari Ilkay bahasa Korea. Di hari yang sama, seorang guru bahasa datang. Tapi penampilan ya membuat Aisyah curiga.
"Aku takut jika itu adalah Ibu kandung Ilkay," ungkap Asisten Dishi.
"Apa? Bagaimana bi--" ucapan Aisyah terhenti. Memastikan bahwa Ilkay tidak mendengar ucapan Asisten Dishi. "Bagaimana bisa dia datang kemari?" bisik Aisyah.
"Aku belum selidiki ini lebih lanjut. Saat aku hendak melanjutkan penyelidikan, Ibu kandungnya Ilkay sudah tidak ada di kediaman Jackson Lim. Kemudian, aku jugaada pekerjaan di Australia. Maafkan aku, Ail," jelas Asisten Dishi.
"Sudahlah, lillahita'ala saja. Aku akan mempertahankan Ilkay menjadi milik kita, tapi jika takdir--"
"Takdir apa?" Asisten Dishi menyela ucapan Aisyah. "Ilkay putra kita dan selamanya akan menjadi putra kita. Orang lain tidak boleh sampai menyentuhnya, apalagi memeilikinya. Jangan bahas ini lagi!"
Asiyah masih bingung dengan sikap Asisten Dishi yang tiba-tiba bergejolak. Gadis yang baru saja ulang tahun itu merasa jika pria yang dicintainya menyembunyikan sesuatu tentang Ibu kandung Ilkay.
"Baik, jangan di bahas lagi. Ilkay akan menjadi anak kita sampai kapanpun. Cukup kita pertahankan dia saja. Tapi, dibandingkan kita, Kak Chen dan Ibu kandungnya jauh lebih berhak memilikinya, Ail," tutur Aisyah dengan lembut.
"Astaghfirullah hal'adzim, Mail. Aku tidak ingin membuatmu terluka lagi. Raga kamu sering terluka karena menjadi tameng Tuan dan Nona Gwen. Masa iya aku biarkan hatimu terluka kelarena kehilangan Ilkay? Tidak! Jangan bahas ini lagi, oke? Pembahasan selesai dan Ilkay tetap menjadi putra kita!"
Upaya Asisten Dishi membuat Aisyah bahagia membuat Aisyah terharu. Bagi Aisyah, tugasnya belum selesai jika kebahagiaan kakaknya belum terpenuhi.
"Kamu memang pantas aku pertahankan, Dishi. Aku memang bukan wanita yang sempurna, tapi aku belum melihat kakakku bahagia sampai sekarang," batin Aisyah mulai merintih.
"Sejak kecil, dia terpisah dengan keluarganya. Lalu, mendapat cobaan kecelakaan. Sekarang, dia harus bekerja keras untuk keluarganya yang ada di sana. Jika bukan bersama Puspa, siapa lagi yang akan membuat kakakku bahagia?"
"Memangnya, definisi bahagia itu yang seperti apa, sih?" sahut Asisten Dishi seolah mendengar ungkapan hati Aisyah.
"Hm?"
"Di hatimu ada aku, bagaimana aku tidak tau isi hatimu," celetuk Asisten Dishi sembari melahap sarapannya. "Jangan selalu membuat hatimu terluka, ada aku di sana. Kamu tega nyakitin aku?" lanjutnya.
Aisyah menyipitkan matanya. Ia tak tahu, sejak kapan pria-nya bisa menggodanya seperti itu. Sementara Asisten Dishi masih merajuk karena Aisyah tak pernah memikirkan dirinya sendiri, Ilkay tengah membukakan pintu.
Yang datang saat itu adalah Ayden. Ia membawa bingkisan yang telah kurir antarkan ke rumahnya untuk Aisyah dari Puspa.
"Assalamu'alaikum, kecil. Ibumu mana?"
"Wa'alaikumsallam, Paman Ayden? Masuk lah! Mama sedang bersama dengan Ayah, mereka sedang sarapan. Ayo, Paman ikut sarapan bersama kami juga! Ayah memasak makanan banyak dan enak pagi ini," sambut Ilkay dengan celotehannya.
"Ayah? Chen, kah?" Ayden menduga jika Chen sudah datang pagi itu.
"Paman Chen datang?" tanya Ayden kepada Ilkay.
"Bukan Paman Chen. Tapi Ayahku, Ayah Dishi. Dia datang semalam, tapi aku tidur. Jadi, baru lihat lagi ini. Ayo, Paman masuklah!" jelas Ilkay sembari menarik tangan Ayden dan membawanya ke dapur.
"Oh, baiklah~"
Ilkay membawa Ayden ke dapur dan merasa ada hawa dingin di sana. Aisyah dan Asisten Dishi terlihat saling melahap makanan dengan membuang muka.
"Haih, aku datang di waktu yang tidak tepat. Aku rasa mereka sedang berselisih. Sebaiknya, aku kabur saja dulu, sebelum menjadi korban mereka," gumam Ayden dalam hati. Ayden segera membalikkan badan, bersiap untuk pergi.
"Oppa!"
"Haduh, ketahuan," batin Ayden. Dengan wajah muramnnya, ia membalikkan badan. "Pagi, Assalamu'alaikum, semuanya~"
Tidak ada waktu lagi untuk kabur. Ayden menyapa keduanya dengan senyuman konyolnya. Lalu, memberikan paket yang dikirim oleh Pupsa kepada Aisyah.
"Wa'alaikumsallam!" jawab Aisyah dan Asisten Dishi dengan ketus.
Ayden menghela napas panjang. "Haih, aku datang berharap melihat kebahagiaan di rumah ini. Kalau begitu, aku ikut kalian makan saja lah. Ini, paket dadi temanmu sudah datang,"
"Dari Puspa? Sini, ayo Oppa makan dulu saja. Temani pria menyebalkan ini. Aku mau buka hadiah dari Puspa lebih dulu," ucap Aisyah dengan girang.
"Ilkay, temani Paman Ayden dulu, ya. Mama mau buka kado dulu, tata~" sambung Aisyah dengan menepuk-nepuk paket yang ia terima.
"Haih, kenapa pula jadi aku yang harus menemani para orang tua ini," desis Ilkay tidak terima.
Ayden menyapa kembali Asisten Dishi. Juga mempertanyakan apa yang terjadi kepada mereka. Dengan santai, Asisten Dishi menjawab, "Hm, wanita memang sulit di mengerti. Apa Tuan Lee tau, bagaimana cara menyenangkan Aisyah kembali?"
"Lah, kenapa balik bertanya? Dia kan kekasih Anda, Asisten Dishi." kata Ayden mengambil lauk yang Asisten Dishi goreng. "Apa ini boleh aku makan?" tangannya.
"Ambilah, Tuan bisa ambil dan makan semuanya. Jika kurang, masih ada di sana. Tuan ambil saja sendiri, ya," jawab Asisten Dishi masih murung.
"Asha! Gumawo!"
Asisten Dishi memanyunkan bibirnya. Merasa jika Aisyah tengah marah padanya. Selesai makan, ia pun mengajak Ilkay keluar untuk membelilan sesuatu untuk membujuk Aisyah kembali.