Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pertemuan Yang Membagongkan



"Woy elah! Mentang-mentang sipit bicaranya pakai bahasa Mandarin. Kamu pikir aku juga tidak bisa, hah!" Gwen tak terima di todong senjata oleh Asisten kakaknya. "Hey, bule! Siapa dia?" ketus Gwen sembari melirik ke arah Asisten Dishi.


"Astaghfirullah, Gwen. Kamu yang sopan sedikit. Jangan seperti ini. Hormati, dia lebih tua darimu," tegur Aisyah. "Asisten Dishi, dia adikku. Tolong turunkan senjatamu, ya …."


Tutur sapa Aisyah yang lembut membuat Asisten Dishi mudah luluh. Kemudian, Chen meminta salah satu dari mereka yang bisa memperbaiki mobil yang mogok itu untuk segera diperbaiki. 


"Siapa yang bisa memperbaiki mobil?" tanya Chen. 


"Nih, si pirang ini lulusan teknik!" tunjuk Feng dengan wajah kesalnya. 


"Dih, ogah!" tolak Gwen mentah-mentah. 


Bertengkarlah Feng dengan Gwen seperti biasa. Antara mereka berdua memang jarang sekali bisa se sweet antara Feng dengan Aisyah. Chen mulai pusing dan malah membuat situasi semakin memanas karena dirinya ikutan berdebat kala itu.


Sementara itu, Syamsir, Aom, Asisten Dishi dan juga Pak Raza hanya diam saja menyaksikan perdebatan itu. Mereka berempat memang tidak mengetahui apapun yang mereka perdebatkan. Jadi, memilih untuk tetap diam dan mencoba cari solusi lain.


"Diam!" teriak Aisyah emosi. 


Ketiga saudaranya menjadi diam seketika, termasuk Chen yang saat itu langsung diam ketika mendengar teriakan Aisyah. Baginya, hal itu tak asing lagi, sebab 13 tahun lalu ia juga pernah diposisi seperti itu saat bertengkar dengan Gwen. 


"Hah, bisa diam juga kalian? Biarkan aku saja yang memperbaiki!" sulut Aisyah meminta sangat sopir untuk membuka kap mesin mobil tersebut. 


Saat menggerakkan lengannya, Aisyah meringis kesakitan. Lukanya memang sedikit dalam, serentak ketiga saudaranya menghampirinya dan menahan tangannya. 


"Jangan, lukamu masih basah. Biarkan aku saja yang memperbaiki mobil buruk ini!" ujar Chen menahan tangan Aisyah. 


"Aku akan membantunya," sahut Gwen. 


"Aku juga!" timpal Feng. 


Mereka bertiga bekerja sama memperbaiki mobil itu. Aisyah tersenyum melihat ketiganya akur. Pak Raza menghampiri Aisyah dan mengucapkan salam lagi, seraya membahas siapa yang dimaksud saudara kembar lelaki mereka. 


"Assalamu'alaikum. Em, dokter Aisyah, siapa yang dimaksud Gwen itu? Apa pria yang ada disebelahnya itu … kakak kalian?" tanya Pak Raza menunjuk Chen.


Aisyah menoleh ke arah Chen. Kemudian menjawab, "Doakan saja Pak Raza, semoga memang pria itu adalah saudara kembar kami."


Selesai memperbaiki mobil itu, segera mungkin Chen menarik lengan Aisyah dan Gwen masuk ke mobil yang dibawa Pak Raza dan juga Gwen. "Ayo kalian harus masuk ke mobil itu bersamaku. Kau ikut juga, Feng!" akhirnya Chen menyadari bahwa Feng adalah Feng yang sama 13 tahun lalu. 


"Firasatku sudah buruk ini. Haih, kenapa juga aku terlibat dalam urusan mereka." dengus Feng pasrah. 


Awalnya, baik Asisten Dishi dan juga Pak Raza menolak untuk tidak semobil dengan Chen dan juga Gwen. Namun, perintah Chen tak bisa Asisten Dishi tolak. Pak Raza tetap ngotot ingin berada di sisi Gwen, ia merasa memiliki tanggung jawab lebih terhadapnya. 


"Aku akan tetap berada di samping Gwen. Bagaimanapun juga, aku ke sini bersamanya!" tegas Pak Raza. 


"Ck, nggak usah rewel deh!" bentak Gwen kembali di tarik Chen masuk ke mobil tersebut. "Aku akan baik-baik saja bersama meraka. Pak Raza jangan kangen sama aku, ya!" teriak Gwen.


Asisten Dishi meminta Pak Raza untuk mematuhi apa yang dikatakan Chen. Sementara itu, Feng diminta Chen untuk menyetir, lalu Gwen dan Aisyah duduk di jok belakang dengan sejuta pertanyaan masing-masing. 


"Aku mengerti!" jawab Feng kesal.


Masih dengan rasa kecewanya Feng menyetir mobil tersebut dengan pelan. Kemudian Chen pun memulai pertanyaannya lagi, karena ia merasa jika Aisyah dan Gwen memang kedua saudari kembarnya. 


"Aku ingin bertanya kalian sekali lagi. Apakah benar, orang tua kalian bernama Yusuf dan Rebecca Lim?" tanya Chen dengan tenang. 


Pertanyaan itu bagaikan pertanyaan yang membuat Aisyah dan Gwen semakin yakin jika Chen itu adalah saudara kembar mereka. Seperti diiringi musik Ketika Cinta Bertasbih, hati ketiganya mulai berdesir kecuali Feng yang masih kesal dengan rencana gagalnya. 


"Ck, kelamaan tau! Ini bukan serial india yang butuh shoot face masing-masing tokoh. Kalian bertiga memang saudara kembar yang selama ini terpisah, puas? Bahagia? Atau malah sedih?" sulut Feng dengan kekesalannya. 


"Koko!" teriak Aisyah dan Gwen bersamaan. 


"Astaga, kau sudah tahu dan kau tak memberitahu kami? Heh racun, apa kau ingin mati?" Chen memukul dada sepupunya itu dengan pelan. "Katakan, kau ingin mati dengan cara apa?"


Feng menoleh. lalu menjawab, "Dengan kayang, bagaimana?"


"Haih, sudahlah! Yang penting kalian kan sudah tau sekarang jika kalian bertiga bersaudara. Aku hanya ingin bermain saja dengan kalian, kita tak memiliki masa bermain berempat, 'kan?" alasan Feng. 


Baik Chen, Aisyah maupun Gwen terus saja menyalahkan Feng karena masih bungkam sampai saat itu. 


"Aku hampir saja jatuh hati dengan saudaraku sendiri, Ko! Jahat banget sih jadi orang!" sentak Gwen. 


"Aku juga! Aku menyukai Aisyah, maka dari itu aku mendekatinya pagi tadi," sahut Chen. 


"Aku juga, kirain jantungku berdebar karena jatuh cinta dengan Tuan Yuan. Ternyata ini sinyal batin kita toh?" timpal Aisyah. 


"Apa? Kalian jatuh cinta? Dan tak sadar cintaku bertepuk sebelah tangan jika kakak Chen bukan saudaraku? Jahat banget kalian!" kesal Gwen. 


"Panggil saja aku Chen. Aku kakak kalian yang hanya selang 2 menit, bukan? Jadi, stop memanggilku dengan sebutan Tuan, Aisyah." pinta Chen membelai kepala Aisyah. 


Gwen merasa cemburu. Khayalan yang ia hayalkan selama 13 tahun adalah, ketika ia bertemu dengan Chen, dia yang akan menjadi kesayangannya. Namun tidak! Sangat terlihat bahwa Aisyah lah yang menjadi kesayangan Chen kalau itu.


Gwen mulai kesal lagi. Sejak dulu, jika ada pria yang disukai oleh Gwen, pasti akan jatuh cinta juga kepada Aisyah. Gwen merasa jika dirinya memang tidak pernah dicintai oleh siapapun termasuk Rebecca, Ibunya. 


"Kenapa sih semua selalu menomorduakan aku dan menomorsatukan Aisyah. Aku kan juga butuh perhatian dari mereka," gerutu Gwen dalam hati.


"Sekarang lihat aja! Chen juga terlihat lebih menyayangi Aisyah dibandingkan denganku. Memang dia pertama kali yang bertemu sama Aisyah, tapi kan aku juga saudari kembarnya. Ko Feng juga begitu, kenapa dia juga tidak adil denganku?" imbuhnya. 


Di saat itu,  Gwen mengingat hari-harinya bersama dengan Pak Raza. Baginya hanya Pak Raza lah yang selalu ada untuknya. Yusuf, sebagai ayahnya memang selalu membela dirinya. Tapi Yusuf akan membelanya ketika Gwen merasa benar saja. Yusuf adalah Ayah yang adil bagi kedua putrinya, itu sebabnya Gwen lebih menyayangi Ayah-nya daripada Ibunya. 


"Coba aja Pak Raza ada di mobil ini. Pasti dia lebih mengerti aku! Belum lagi Ayah, dia adalah lelaki yang paling baik di seluruh dunia." Gwen terus saja berdebat dengan hati dan pikirannya. 


Pertemuan ketiganya telah diketahui oleh mata-mata Cindy. Sebagai orang yang membenci keharmonisan keluarga Yusuf dan Rebecca, Cindy merasa muak karena telah kecolongan sampai sebesar itu. 


Ketiganya, berbincang-bincang selama di perjalanan. Mereka juga saling berbagi kisah selama perpisahan itu terjadi. Feng yang sebelumnya merasa kesal, ia menjadi paling banyak bicara. Feng yang selalu diam, akan menjadi bawel saat bersama dengan Chen dan Gwen di situasi itu.