
Malam malam bersama sudah di siapkan oleh Nyonya Wang dibantu oleh Lin Aurora. Meski perlakuan Nyonya Wang sangat baik, tetap saja Lin Aurora masih merasa canggung. Berbeda dengan dirinya saat bersama dengan Rebecca.
"Nona Lin, kamu sekolah di perbatasan. Apakah di sana sekolahnya sama juga seperti di sini?" tanya Nyonya Wang basa-basi.
Mereka hanya sekedar membicarakan dan menanyakan yang terjadi di perbatasan saja. Seketika, Lin Aurora merindukan Rebecca yang jika mengajaknya bicara, pasti sambil menceritakan pengalamannya sendiri.
***
Makana bersama telah tiba, Chen pulang tepat waktu. Jovan juga pulang bersamanya. Sepanjang malam malam, Chen hanya diam dan tidak berkomentar sama sekali tentang makanan yang dimasak langsung oleh Nyonya Wang dan juga Lin Aurora. Tidak peduli bagaimana perasaan dari Lin Aurora, Chen bahkan tidak melihatnya sama sekali.
"Chen, bagaimana perusahaan barumu? Apakah pembangunannya lancar?" tanya Tuan Wang membuka obrolan.
"Iya," jawab Chen singkat.
"Kenapa? Apa kau lelah hari ini? Mau aku panggilkan dokter supaya bisa memberimu vitamin?" tanya Tuan Wang.
"Tidak perlu," jawab Chen lagi.
"Aku selesai. Ayah, dokumen penting yang Ayah minta ada di kamarku. Nanti aku akan ambilkan dan meminta Jovan mengantarkan ke ruang kerja Ayah," lanjut Chen, kemudian meninggalkan meja makan.
Semuanya menjadi diam. Sikap Chen memang sebelumnya memang seperti itu. Hanya bicara seperlunya saja. Namun, sudah dalam satu tahun terakhir, sikap Chen berubah lebih hangat karena bertemunya dengan keluarga kandungnya kembali.
Lin Aurora semakin merasa bersalah dan malam itu juga kembali bertemu dengan Ayahnya sebelum Chen kembali dari urusannya bersama dengan Tuan Wang. Lin Aurora menemui Ayahnya di kedai dan meminta sang Ayah untuk menghentikan dendamnya.
"Dasar anak tak berguna!" sentak Tuan Natt.
"Kau di besarkan dengan yang dan kasih sayangku. Mengapa kau tidak mau menghormati Ayahmu ini, Lin Aurora!" teriak Tuan Natt sembari menampar putri bungsunya itu.
PLAK!
Tamparan itu kembali di lakukan eh Tuan Natt kepada putrinya. Tuan Natt hanya ingin Lin Aurora mengikuti rencananya saja. Namun, setelah mengenal Chen dan keluarganya lebih dalam lagi, Lin Aurora menolak dengan lantang rencana licik Ayahnya itu. Apalagi, hati Lin Aurora sudah dikuasi oleh cinta atas nama Chen Yuan Wang.
"Dasar putri tidak tahu diri!" sentak Tuan Natt.
"Aku membesarkanmu tidak gratis Lin Aurora! Setidaknya jika kau tidak berguna di perusahaan keluarga, kau harus berguna untuk memancing lawan supaya bisa Ayahmu ini serang!"
Tuan Natt terus saja mengatakan hal buruk tentang ibunya Lin Aurora hanya karena Lin Aurora tidak mau menuruti rencana-rencana jahat yang dimiliki oleh Ayahnya itu.
"Ayah, kenapa Ayah terus membuatku dalam dilema besar. Chen itu suamiku, kita sudah menikah tercatat. Mengapa Ayah ingin menghancurkan masa depan dari putri Ayah sendiri!" Lin Aurora mulai kesal.
"Dadar putri tidak berguna!" teriak Tuan Natt.
"Seret dia ke rumah dan hukum cambuk selama 10 kali!"
Tuan Natt memang sangat kejam. Bukan hanya kepada musuhnya saja, dengan kedua putrinya saja, Tuan Natt selalu saja seperti itu. Putri kandung Tuan Natt bukan hanya Lin Aurora dan Lin Jiang saja. Masih ada yang lain, namun mereka berbeda Ibu.
Selama hidup, pekerjaan Tuan Natt memang selalu kasar terhadap wanita dan memperlakukan mereka dengan buruk.
Bukan Lin Aurora saja yang pernah mendapatkan hukuman seberat itu, bahkan LIN Jiang juga pernah mendapatkan hukuman di kala dirinya gagal melakukan tugas yang diberikan oleh Ayahnya yang kejam tersebut. Itu sebabnya, Lin Jiang tidak pernah menentang lagi apa yang dikatakan oleh Ayahnya.
Di seretnya Lin Aurora di tempat hukuman. Dimana ruangan itu memang di buat untuk menghukum banyak orang yang bersalah. Bahkan tidak banyak dari mereka yang mendapat hukuman mati juga di ruangan tersebut.
"Nona bungsu melakukan pelanggaran aturan yang sudah Tuan berikan. Bahkan, Nona bungsu juga berani membentak Tuan. Maka, Tuan meminta saya untuk menghukum Nona bungsu dengan 10 kali cambukan," ucap Asisten pribadi Tuan Natt.
"GILA!" teriak Lin Jiang.
Lin Jiang pernah merasakan cambukan itu. Hanya menerima tiga kali cambukan saja sudah membuatnya pingsan, apalagi 10 cambukan. Lin Jiang paham benar dengan kondisi tubuh adiknya yang lemah. Jangankan 10 cambukan, bahkan mungkin satu sampai dua kali cambukan saja pasti Lin Aurora akan pingsan.
"Hentikan!" terik Lin Jiang.
"Jangan hukum adikku, apa kalian akan menerima perlawananku. Lepaskan Lin Aurora, aku yang akan menggantikan dirinya menerima hukuman ini," ucap Lin Jiang khawatir.
"BODOH!" teriak Tuan Natt muncul di belakangnya.
PLAK!
Tangan Tuan Natt begitu ringan, sampai Lin Jiang saja terkena tamparannya. Tuan Natt meminta orangnya untuk mengurung Lin Jiang di kamarnya. Sementara Lin Aurora tetap akan mendapat hukuman karena tidak mau mematuhinya untuk menghancurkan Chen dan Tuan Wang.
"Lepaskan aku! Lin Aurora, lari lah!"
"Lepaskan aku! Ayah, jangan seperti ini! Tubuh Lin Aurora sangat lemah, Ayah!"
Percuma saja Lin Jiang berteriak. Tuan Natt tetap kekeh dengan pendiriannya. Hukuman Lin Aurora segera di mulai. Dari kamar, Lin Jiang hanya bisa mendengar kerjakan kesakitan yang keluar dari mulut Lin Aurora.
"Cepat minta maaf kepada Ayahmu ini. Lalu, jalankan rencana yang sudah kita sepakati sejak awal, Lin Aurora!" sentak Tuan Natt.
"Tidak!"
"Aaa, sakit--"
"Hukuman tidak akan berhenti kecuali kamu mengatakan, bahwa kamu menyesal telah melawan Ayahmu ini. Cepat katakan Lin Aurora!"
"Tidak!" jawab Lin Aurora.
"Aw!"
Cambukan sudah sampai ke cambukan delapan kali. Asisten pribadi Tuan Natt meminta Lin Aurora untuk meminta maaf dan memulai kembali rencana tersebut. Tapi, tetap saja Lin Aurora tidak mau. Ia tetap akan berbakti kepada suaminya, meski Ayahnya sendiri membunuhnya.
Teriakan terakhir membuat Lim Jiang menangis, mengingat ketika dirinya pernah di hukum juga sampai pingsan. Lin Jiang juga teringat ketika kakak perempuannya yang lain meregang nyawa dibawah hukuman Tuan Natt.
Setelah cambukan sepuluh kali itu selesai. Beberapa pelayan wanita mengantar Lin Aurora ke kamarnya. Kemudian mengobati luka cambukan yang ada di punggungnya. Sudah mati rasa, Lin Aurora sampai tidak berekspresi ketika pelayan rumah mengoleskan obat di lukanya.
"Lin Aurora!" teriak Lin Jiang yang harus aja si keluarkan dari kamarnya.
"Lukanya sampai separah ini? Aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Lin Jiang sangat khawatir.
"Tidak kakak. Aku hanya ingin pulang ke rumah suamiku. Bisakah kau antar aku pulang kesana? Dan tolong berikan aku obat yang paling manjur, supaya aku tidak terlihat kesakitan di depan suami dan keluarga suamiku," pinta Lin Aurora, bahkan menangis saja mungkin tidak bisa mengeluarkan air matanya.
Lin Jiang menangis. Ia juga mengatakan bahwa Lin Aurora sangat bodoh. Mau mengambil resiko hanya karena seorang pria.
Cover sudah ganti dong. Sama kek berasa novel Tiongkok ya. Namanya gak ada sama sekali melokalnya. Hahaha