
Chen dan Gwen saling menatap, wajah manis Gwen mengingatkan akan seseorang dalam ingatan Chen, setelah beberapa saat, Chen pun menutup kaca mobilnya kembali.
"Sepertinya … aku pernah melihat gadis itu. Tapi, dimana aku pernah melihatnya?" gumam Chen kembali menatap Gwen.
Tak sengaja, ia melihat dirinya dari cermin di kaca depan mobilnya. Kemiripan pada dirinya menyiratkan tanda tanya. Sekilas, mereka sangat mirip, bedanya hanya pada mata mereka.
Jika saja Gwen juga memiliki mata berwarna biru, mereka berdua hanya akan dibedakan oleh gender. Keduanya sangat mirip dengan ibunya, Rebecca.
"Jika dilihat, gadis itu mirip denganku. Hm, aku pernah dengar jika di dunia ini, semua orang memiliki 7 rupa yang hampir mirip meski orangnya berbeda," gumam Chen.
"Sialan, kupikir dia akan mendatangiku. Ganteng sih, tapi sombong. Eh, mobilnya keren juga, pasti orang kaya nih!" seru Gwen dalam hati.
"Coba aja, aku bisa deketin cowok model begitu. Aku porotin, jadi kaya, terus tinggalin, deh. Cocok nggak tuh?" khayalan indah Gwen dengan menyangga kepalanya menggunakan dua tangannya.
Jika otak Chen berpikir tentang persaudaraan, berbalik dengan Gwen yang hanya memikirkan kekayaan dan ketampanan seorang lelaki yang bisa ia manfaatkan saja.
Tak lama kemudian, Pak Raza kembali membawa beberapa camilan dan juga air putih. Mereka makan di bawah pohon rindang itu dengan nyaman.
Sementara itu, setelah Asisten Dishi kembali, mobil Chen berlalu pergi begitu saja. Namun, mereka tetap masih stay di Bangkok selama beberapa hari ke depan karena ada bisnis yang harus mereka jalani.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Asisten Dishi.
"Hm," jawab Chen dengan memejamkan matanya.
Sementara itu, Pak Raza sudah mendapatkan hotel yang sesuai untuk dirinya dan juga Gwen. Ia pun meminta Gwen untuk segera menghabiskan makanannya.
"Baiklah, saya sudah menemukan hotel yang cocok untuk kita pesan. Sebaiknya, kamu segera habiskan makanannya, lalu kita pergi ke hotel itu. Saya sudah lelah sekali." ucap Oak Raza membereskan ranselnya.
"Kenapa? Kotor sekali pikiranmu, saya tidak tertarik dengan gadis kecil sepertimu," celetuk Pak Raza.
"Dih, lihat saja. Nanti, jika Pak Raza jatuh cinta kepadaku … jangan--" belum juga Gwen menyelesaikan ucapannya, Pak Raza sudah memotongnya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Gwen.
"Dengarkan aku, saya pria normal, dan kita hanya berdua saja datang ke sini. Jika ada sesuatu yang terjadi, maka itu bukan salah saya. Itu akan menjadi penyesalanmu sendiri karena terus memancing hasrat saya, paham?" desis Pak Raza.
Jaraknya hanya lima jari saja wajah mereka. Gwen hanya bisa menelan ludah dan mengangguk mengerti.
"Buset, dari dekat rupanya Pak Raza ganteng juga. Wajahnya mulus banget kek akhlak aku." gumam Gwen dalam hati.
"Kenapa senyum-senyum? Mau sekarang?" tanya Pak Raza dengan suara yang lembut dan dapat menghanyutkan perasaan Gwen.
"Iya, aku bersedia," sahut Gwen dengan senyuman yang meresahkan.
"Bersedia? Untuk apa?" tanya Pak Raza.
"Hah? Apanya?" Gwen malah bertanya balik.
"Otakmu travelling kemana, Gwen? Saya tanya mau sekarang atau nanti pergi ke hotelnya?" jelas Pak Raza mengetuk kening Gwen dengan lembut.
"Aw," desahan Gwen begitu meresahkan di telinga Pak Raza.
Pak Raza langsung memalingkan wajahnya. Ia segera mengajak Gwen yang masih dimabuk kegantengan Pak Raza itu. Dalam segi harta, memang Pak Raza tidak setara dengan keluarga besar Gwen. Namun, ketampanan Pak Raza mampu membawa Gwen ke dunia fantasi biru.
"Astaga, otakku begitu suci untuk memikirkan ini semua, Pak Raza ...." celetuk Gwen mengikuti langkah Pak Raza.