
Dishi meminta untuk keluarga tidak datang ke Korea. Dirinya lah yang akan membawa jenazah Ilkay sendiri ke Jogja supaya bisa dimakamkan di makam keluarga.
Di Jogja, setelah Chen menerima kabar itu, ia langsung tertunduk lemas, duduk di sofa dengan tangannya dilihat dan menyangga keningnya.
Datang lah Rebecca yang saat membawa teh hangat untuknya. "Kenapa, Chen? Apakah kamu pusing?" tanyanya.
"Ilkay … telah meninggalkan kita semua, Bu," jawab Chen dengan nada suara yang gemetar.
"Apa?"
Sontak membuat Rebecca terkejut dan segera memanggil Yusuf. Chen mengatakan, bahwa Dishi baru saja menghubunginya. Menyatakan bahwa Ilkay telah meninggal akibat diracun oleh Ibu kandungnya sendiri.
"Ibu kandungnya? Sejak kapan Ibu kandungnya muncul? Bukankah dulu, kamu bilang Ibu kandung Ilkay telah meninggal?" sahut Yusuf.
"Dia tidak meninggal. Tapi merubah identitas dan wajahnya, dibantu oleh Cindy, Ibunya Xia," jawab Chen dengan pandangan mulai kosong.
Tak lama kemudian, Chen pingsan. Kesehatan Chen memang sudah rapuh sejak terus bekerja dan bekerja setelah memperjuangkan cintanya kepada Puspa. Rebecca dan Lin Aurora yang ada di sana menjadi panik. Segera Yusuf menelpon Raihan atau Adam untuk membantunya ke rumah sakit.
Benar-benar Cindy beruntung. Sekali menembak target, mengenai tiga sasaran. Cindy langsung bisa menerima informasi bahwa Chen sakit hari itu juga.
"Nyonya, mohon maaf. Saya hanya ingin menginfokan, jika Chen Yuan Wang jatuh sakit setelah mendengar putranya meninggal. Saat ini, dia dilarikan di rumah sakit," ungkap salah satu orang kiriman dari Cindy yang ia tempatkan untuk mengawasi di sekitar rumah Yusuf dan Rebecca.
"Bagus, kau terus awasi mereka. Jika ada kabar terbaru, langsung hubungi aku. Nanti, aku akan memberimu bonus doble," kata Cindy dengan senyum jahatnya.
"Baik, Nyonya. Terima kasih!'
Cindy sangat jahat sekali. Ia bahkan akan menargetkan Aisyah selanjutnya. Mental Aisyah telah di ganggu dengan meninggalnya Ilkay, itu adalah tujuan utama. Dendam Cindy kepada Aisyah sangat besar sekali.
"Aisyah, kamu adalah musuh utamaku saat ini. Jika kau tidak datang ke penjara bawah tanah, lalu menemukan Ilkay dan membongkar semuanya … Maka, aku tidak akan setega ini kepadamu!" dengus Cindy.
Sementara Chen masih belum sadarkan diri di rumah sakit, Aisyah saat itu hanya bisa pasrah putra kesayangannya meninggalkannya. Hari itu, jika tidak ada hambatan, Aisyah hendak membawa Ilkay pulang ke Jogja.
Dishi, dibantu dengan Tuan Jin sedang mengurus semua data dan keperluan yang dibutuhkan. Sementara Aisyah, di rumah duka di temani oleh sahabatnya, Bora, keluarga sepupunya, Ayden, keluarga Hamdan dan Yue, serta Leo pun juga ada di sana.
"Mengapa harus di rumah duka? Anakku tidak harus diberi persembahan, kenapa tidak di bawa pulang saja?" lirih Aisyah.
"Tidak bisa, Nak. Pihak apartemen, tidak bisa mengizinkan jenazah di bawa pulang. Maka dari itu, pilihan kita satu-satunya sebelum membawa Ilkay pulang, ya di bawa dulu ke rumah duka," tutur Yue.
Aisyah sudah tak bisa menangis lagi. Hanya saja, pandangannya kosong dengan wajah yang pucat karena belum mau makan apapun. Besok adalah akhir ujian, Aisyah akan dinyatakan gagal jika tidak hadir dalam ujian tersebut, dan akan menghilang tahun depan.
"Aku akan gagal, jadi sebaiknya memang aku harus pulang," lanjut Aisyah.
"Tidak! Aku akan usahakan, kamu bisa tetap ikut ujian, Ai. Bagaimana jika aku memohon sekarang ke pih--" ucapan Bora terhenti.
"Bora," panggil Aisyah dengan lirih.
Aisyah menatap Bora dengan mata sayu dan kantong mata yang tebal. Kemudian menggelengkan kepala, menolak agar Bora tidak melakukan apapun untuknya.
"Ai, kamu masih bisa belajar lagi. Besok datang kah untuk ujian, setelah itu … Kau bisa menyusul pulang ke Jogja," sahut Ayden.
"Aku ingin mengantar putraku ke peristirahatan terakhirnya. Apa itu tidak boleh?" tanya Aisyah, nada suaranya mulai lemas.
"Ai, ini adalah kesempatan bagimu. Kamu sudah jauh-jauh datang ke sini untuk belajar. Jika gagal, apakah kamu tidak hanya akan membuat orang tuamu sedih? Chen, Gwen dan keluarga lainnya juga pasti akan imut sedih," sahut Yue.
"Ai, apa yang dikatakan mereka benar. Kau tetap di sini dengan suamimu di sini. Biarkan yang lain mengurus Ilkay, itu sama saja, bukan?" timpal Leo.
Aisyah menghela napas panjang. Ilkay memang bukan putra kandungnya. Hanya, dirinya sudah sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri. Sama halnya seorang ibu kandung yang kehilangan anaknya, sesakit itu yang Aisyah rasakan.
"Kalian terlalu berisik!" sentak Aisyah.
"Diam dan jangan menggangguku, mengerti!"
Jika Aisyah sudah naik pitam, semua orang tidak bisa meredam amarahnya kecuali Yusuf, sang Ayah yang memang sudah seperti pawangnya. Namun tidak di sangka, Dishi juga bisa melakukan itu.
Butuh seharian penuh untuk Dishi dan Tuan Jin mengurus segalanya. Akhirnya, malam itu jenazah Ilkay sudah bisa di bawa pulang ke Jogja.
"Assalamu'alaikum," salam Dishi membawa beberapa makanan dan minuman untuk mereka yang menemani Aisyah.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Dishi, bagaimana urusannya?" tanya Hamdan.
"Alhamdulillah semua sudah beres Paman. Jadi, siapa yang akan ikut ke Jogja?" tanya Dishi. Mata Dishi juga terus mencari-cari sang belahan jiwanya.
Ayden berbisik kepada Dishi, untuk membujuk Aisyah tetap tinggal karena besok harus datang untuk ujian. Awalnya, Dishi juga menolak, tapi Gu dan Mayshita memberikan penuturan untuk Aisyah tetap mempertahankan pendidikannya.
Setelah mendapat sebuah pencerahan, akhirnya Dishi paham dan mulai mencari istrinya yang saat itu duduk di pojokan sembari menatap foto Ilkay.
"Assalamu'alaikum, cantik," salam Dishi membawa dua porsi makanan.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Makan dulu, yuk. Aku tau kalau kamu sejak tadi belum makan. Lihatlah, apa yang aku bawa untukmu," Dishi mencoba menjadi matahari untuk istrinya yang sedang mendung hatinya.
"Aku tidak lapar!" tolak Aisyah.
"Oh, aku tidak ingin mendengar alasanmu. Ayo, makan, isi tenagamu, dan jangan biarkan setan terus menguasai pikiranmu," Dishi merayu Aisyah, supaya mau makan.
Sebuah rayuan dengan kata-kata yang tak asing di telinganya. Sebuah kalimat rayuan yang selalu di ucapkan oleh Yusuf, untuk membujuk Aisyah di saat Aisyah sedang merajuk.
"Kamu sudah hubungi Ayah tentang meninggalnya, Ilkay?" tanya Aisyah.
Dishi menggeleng. "Belum, tapi Tuan sudah tau. Seharusnya, Ayah akan tau dari Tuan. Ada apa?" jawabnya.
"Ai, makan dulu, ya. Jangan terus larut dalam kesedihan seperti ini. Kasihan Ilkay-nya. Dan iya, semuanya akan berangkat malam ini ke Jogja, kamu tetap tinggal bersama dan lanjut besok kamu harus ujian," tutur Dishi.
Sontak, membuat Aisyah terkejut dengan pernyataan suaminya. Ia tidak menyangka bahwa suaminya malah memintanya tetap ikuti ujian daripada mengantar Ilkay pulang ke peristirahatan terakhirnya.
"Apa kamu sudah gila? Kamu tidak sedih anakmu meninggal? Kenapa kamu tega begini? Jika kamu tidak ingin mengantarnya pulang, maka jangan halangi aku untuk pulang bersamanya!" ucap Aisyah, tetap mencoba bicara tanpa meninggikan suaranya.