Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Syifa Berulah



Hal penting lainnya adalah, Ayden membawa beberapa dokumen milik keluarga Lim yang baru dikirim oleh Faaz siang tadi. Cap milik keluarga Kim juga sudah dilebur setelah upacara pemakaman Jackson Lim. Jadi, sudah tidak ada lagi yang namanya keluarga Lim dan Wang di dunia hitam.


"Apa ini?" tanya Aisyah.


"Semua ini adalah harta yang dititipkan oleh Ibumu dan juga Gwen kepada Ailee," ucap Ayden.


"Heh, wali Ailee ya bapaknya lah. Minta tanda tangan dia, ngapain minta ke aku? Aku hanya ibu sementara aja buat Ailee!" tegas Aisyah.


Ayden menunjukkan jika Rebecca dan Gwen memang ingin harta mereka sementara berada di tangan Aisyah. Bukan tidak percaya dengan Agam, hanya saja memang itu juga atas persetujuan Agam sebagai Ayah kandung Ailee. Tak ingin gegabah, Aisyah kembali menghubungi Agam dan meminta penjelasan lagi atas surat wasiat tersebut.


"Assallamu'alaikum, kamu ini kenapa selalu menghubugi ustadz Agam, sih? Kamu ini sudah tidak ada hubungannya dengan ustadz Agam tau! Kenapa masih gatal saja mencari kesempatan buat deketin ustadz Agam? Dasar menjijikkan!"


Aisyah terkejut kala mendengar siapa yang mengangkatnya.


"Buset! Malam-malam seperti ini, ngapain dia di rumah bapaknya Ailee? Kampret memang!" Aisyah menjauhkan ponselnya dan malah marah-marah sendiri.


Ayden lebih terkejut mendengar Aisyah mengumpat tentang seseorang.


"Woy, lah! Berikan hp nya kepada bapaknya Ailee, nggak? Atau kau aku santet dari sini, mau!" lanjut Aisyah dengan mata melotot dan hidung mekar kembang-kempis.


Siapa lagi jika bukan Syifa. Sejak kepergian Gwen memang Syifa memanfaatkan waktu untuk mendekati ustadz Agam kembali. Sudah berkali-kali ditolak, tetap saja Syifa tidak tahu diri selalu saja menempatkan posisinya menimbulkan kesalahpahaman. Namun, Aisyah tidak terpancing dengan Syifa. Dia tahu betul bagaimana iparnya itu.


"Berikan hpnya ke ustadz Agam sekarang! Syifa, wanita jahat si ular kobra gosong! Cepat berikan hpnya, nggak!" kembali Aisyah membentak Syifa.


Meski Syifa selalu bertengkar dengan Gwen, tetap saja Syifa akan merasa ciut jika sudah menghadapi Aisyah. Tak lama kemudian, suara Agam terdengar di dalam telpon tersebut.


"Kamu ngapain pegang hp milikku, Syifa? Kenapa kamu juga lancang sekali masuk ke rumah, masuk ke kamarku seperti ini. Apa kamu ingin menimbulkan fitnah lagi?"


"Ustadz kok, ngomongnya seperti itu? Aku ini tulus ingin menjadi ibu sambung Ailee, apa salahnya?"


"Kamu ini kenapa makin kesini makin aneh, Syifa. Jangan salahkan aku, jika aku melapor kepada polisi dengan kasus mengganggu ketentraman orang, ya. Berikan hpku dan segeralah pergi. Cepat!"


Tuutt … Tuutt….


Setelah itu, telepon dimatikan oleh Agam. Aisyah heran saja dengan Syifa ini. Tidak pernah jera untuk mengejar Agam dan mengganggunya.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ayden. Dia tahu jika sedang terjadi sesuatu.


"Menurutku sih, tidak penting. Kau ingat, Gwen selalu mengatakan, ada seorang wanita yang terus mendambakan suaminya sampai pernah memfitnahnya selingkuh dengan Kak Chen dan Paman Chris?" sahut Aisyah.


"Iya aku ingat wanita itu. Bahkan aku, Tama dan Faaz saja pernah dicurigai saat berkunjung ke sana. Ada apa dengan wanita gila itu?" tanya Ayden lagi.


"Heleh, biasa. Dia masuk ke kamar ustadz Agam. Sepertinya aku harus memberi wanita ini pelajaran deh!" seru Aisyah.


"Bagaimana caranya?" tanya Ayden.


Aisyah tersenyum usil. Ada rencana yang bagus untuk membuat Syifa menyerah dan mundur dalam perjuangannya dalam mempertahankan bentang cintanya kepada Agam.


Tidak berselang lama, Agam kembali menelpon Aisyah dan menjelaskan apa yang terjadi. Aisyah percaya kepada Agam dan melupakan kejadian tersebut. Kembali ke inti, Aisyah membahas tentang hak waris itu kepada Agam.


Seperti yang pernah ia katakan kepada keluarga besar sang istri. Bahwa dirinya tidak ingin ikut campur dalam urusan warisan putrinya dan lebih menyerahkan urusan tersebut kepada Aisyah.


Masalah selesai dan Aisyah baru mau tanda tangan sebagai wali Ailee sampai bayi berusia 1 bulan itu sudah mencapai usia yang cukup nanti.


"Aku baru magang 1 bulan. Bagaimana bisa ambil cuti, mbok kalau nyeplos di pikir dulu lah!" ketus Aisyah.


"Lah, kok ngamuk?" sahut Ayden.


Setelah berbicara tentang warisan, Ayden kembali mengantar Aisyah ke rumahnya. Tak lupa Aisyah juga menitipkan sesuatu untuk Dishi, yakni sebuah buku pernikahan yang didapatkan dari negara asal Aisyah sendiri. Beberapa foto ijab qobul juga diberikan kepada Ayden, supaya bisa membantu Dishi sedikit demi sedikit mengingat siapa Aisyah di hatinya.


"Baiklah, aku akan membantunya mengingat semuanya. Kau masuklah, besok pagi harus ke rumah sakit, 'kan? Semangat!"


Mereka pun berpisah. Setelah lelah berjalan, pulang kerja, Aisyah lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang hangat miliknya. "Astaghfirullah hal'adzim, tubuhku terasa kaku sekali," hembusan napas itu menandakan memang dirinya benar-benar merasa lelah.


Tok … Tok … Tok…


Suara pintu diketuk dari luar. Aisyah yakin jika ketukan pintu itu adalah ketukan pintu dari kakak perempuannya, Ayyana.


"Masuk, belum aku kunci," ucap Aisyah masih memejamkan mata di atas ranjangnya.


Klek!


Pintu pun terbuka. "Ai, makan dulu. Sudah aku panaskan makanannya. Shalat isya, sudah belum?" Ayyana tak pernah jenuh mengingatkan Aisyah shalat dan tak pernah lelah menyajikan makan malam untuk adiknya.


"Aduh, aku sudah makan mie pula. Tapi tidak enak menolak kakakku yang cantik ini__" batin Aisyah.


"Aku akan mandi dulu, kak. Setelah ini aku akan makan. Untuk shalat, aku juga belum hehe," jawab Aisyah bangkit dari rebahannya.


"Nah, jangan menundanya lagi. Kalau belum lapar sekali, kami shalat dulu. Setelah itu baru keluar, ya. Kakak mau cuci beberapa piring kotor," tutur Ayyana.


Aisyah hanya mengangguk. Adanya Ayyana, membuat Aisyah tidak merasa kesepian. Ayyana ini sikapnya juga sedikit mirip dengan Rebecca. Jadi, Aisyah merasa ada ibunya dalam diri Ayyana.


Setalah selesai mandi dan melaksanakan shalat isya, Aisyah keluar dan berjalan menuju meja makan. Meski sudah makan mie dan kenyang, tetap saja melihat masakan yang dibuat oleh kakaknya.


"Wah, ini sayuran semua. Kalau ini mah mau aku, gas makan!"


"Tunggu, jika Dishi sudah sampai ke kantor polisi … bukankah dia sudah bisa berjalan?" Aisyah mulai berpikir.


"Benar, mana mungkin orang cacat langsung sembuh selama satu minggu? Apakah dia hanya trauma? Ahh, ini membuatku berpikir keras!"


"Tapi yang aku lihat, memang hanya berdua saja. Gadis itu tidak mungkin menyetir, jadi pasti Dishi yang menyetir. Apa dia sudah sembuh kakinya?"


"Secepat itu?"


Selama satu minggu itu, memang Feng maupun Tama tidak pernah memberi kabar perkembangan kondisi Dishi. Jadi, Aisyah hanya berpikir sedikit janggal saja jika tiba-tiba Dishi sudah sampai ke kantor polisi sendiri mengurus masalah Xia.


***


Setelah menemukan dan juga menuntut dua siswa yang bertengkar dengan Xia sebelumnya, Dishi mengantar Theresia pulang ke rumahnya. Awalnya, Theresia tidak ingin pulang dan ikut ke rumah sakit menjaga Xia. Tapi Dishi menjelaskan bahwa itu tidak perlu, sebab di sana sudah ada Tama yang menjaganya.


"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada kakak tampan juga mengenai Xia," ucap Theresia. "Tapi karena ini masalah pribadi Xia, jadi aku hanya menunggu waktu saja untuk mengungkapkan itu kepadamu. Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang, kakak tampan. Selamat berjumpa lagi lain hari."


Ucapan Theresia itu membuat Dishi semakin penasaran dengan rahasia yang dimiliki Xia. Namun, tebakan Dishi adalah Xia jatuh hati kepada Tama dan seperti biasa, Gama menghindarinya.