
Cup
Kecupan manja itu Gwen berikan kepada Agam. Tentu saja adegan itu membuat suasana hati Syifa menjadi panas dingin.
"Kalian kok gini, sih!" sentak Syifa memisahkan mereka berdua dengan kasar.
"Heh, ponakan Fir'aun! Kita udah halal, jadi sah aja dong kalau kita anu. Kamu ini kenapa?" sulu Gwen melipat kedua tangannya.
"Kamu itu kasar sekali. Ustadz, kenapa Ustadz mau menikahi gadis sekasar ini. Katakan kepadaku, apa Ustadz di paksa?" Syifa semakin mengada-ngada saja.
"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Agam mengelus dadanya.
Gwen dan Syifa terus bertengkar, membuat suasana pagi yang harusnya indah menjadi rusak karena kehadiran Syifa.
"Sudah, berhenti!" tegas Agam.
"Dek, jangan seperti ini. Tidak baik jika kamu bertengkar dengan orang lain," ucap Agam.
"Dih, aku?" Gwen mengelak.
"Lihat, Ustadz Agam membelaku, bukti apa lagi yang kamu mau? Ustadz, ayo kita menikah,"
"Woy, lakik orang! Main nikah-nikah aja--"
"Cukup, sudah!" Agam berusaha mencairkan suasana.
Agam tidak mungkin membela Syifa maupun istrinya karena mereka sama-sama bersalah. Namun, Agam harus menegaskan jika Syifa tidak perlu sering datang lagi ke rumah hanya untuk membawakan makanan.
"Apa? Ustadz mengusirku? Kupikir hubungan kita--" ucapan Syifa terputus, ia menundukkan kepala, sedih karena kembali tertolak oleh Agam.
"Kupikir apa weh? Hubungan apa? Kalian aja tidak ada hubungan apapun. Ngadi-ngadi nih cewek!" gerutu Gwen dalam hati.
"Syifa, tolong. Saya sudah menikah, saya menyayangi istri saya dengan tulus. Tidak ada paksaan diantara kami. Bahkan kami … kami sudah siap menantikan momongan didalam waktu dekat ini," ungkap Agam menggenggam tangan Gwen.
"Apa di hati Ustadz, tidak ada celah sedikit pun untukku?" tanya Syifa.
"Astaghfirullah, maaf Syifa. Tapi sayangnya, tidak ada. Hanya ada Allah, istriku dan Esti saja dalam hatiku," jawaban Agam membuat Syifa sedih.
"Ustadz jahat! Aku tuh sakit hati Ustadz menolakku seperti ini. Jika Ustadz masih marah padaku karena 3 tahun lalu, aku minta maaf. Tapi jangan menolakku seperti ini, Ustadz …," Syifa menangis memohon agar Agam kembali mempertimbangkan dirinya.
Artinya, Syifa menginginkan poligami dalam pernikahan Agam dan Gwen. Meski Syifa pernah akan menjadi istrinya, tetap saja Agam tidak akan pernah melakukan kesalahan itu untuk melukai hati istrinya.
"Heh, lihatlah aktingnya sangat buruk! Lama-lama aku sleding juga nih cewek. Mas Agam juga kenapa diam saja, sih? Apa dia … mempertimbangkan keinginan gila Syifa itu?" batin Gwen bergejolak.
"Maaf, Syifa. Tapi saya tidak bisa mewujudkan apa yang kamu inginkan itu. Hati saya sudah terikat dengan perempuan yang ada di samping saya ini," tutur Agam menunjukkan genggaman tangannya kepada Syifa.
"Mamam tuh!" seru Gwen dalam hati.
Syifa yang merasa tidak terima, menarik tangan Gwen dengan kasar ke luar rumah. Ia menyalahkan Gwen atas batalnya dirinya menjadi istri Agam.
"Apa? Kamu bilang aku yang merebut Mas Agam darimu?" tanya Gwen. "Hello? Apa kamu lupa, siapa orang yang kabur dihari pernikahan?"
"Tau apa kamu? Kamu belum ada di sana saat itu, Gwen!" sahut Syifa dengan emosinya yang mulai meluap.
Agam membawa Gwen masuk ke rumah. Menutup pintu rapat-rapat agar Syifa juga sadar diri, bahwa pria yang dikejarnya saat ini, sudah tidak bisa ia gapai lagi.
Menyesal? Seperti itu yang dirasakan Syifa. Ia menyesal telah memilih kabur dari pernikahan itu. Air mata Syifa mengalir deras, pagi-pagi dirinya sudah disambut dengan air mata yang membuatnya sakit hati.
"Aku tidak akan melepaskan Ustadz Agam begitu saja. Lihat saja, aku pasti bisa merebut posisi itu darimu, Gwen," desis Syifa mengepalkan tangannya.
Usai menutup pintu, Agam terus beristighfar mengelus dadanya. Memohon kesabaran kepada Sang Pencipta agar bisa menghadapi cobaan yang baru saja menghampirinya.
~Apa yang dikatakan keponakan Fir'aun ada benarnya. Aku belum bisa sejalan dengan Mas Agam. Tapi, ketika dia menggenggam tanganku seperti ini, membuatku semakin ingin mengikatnya bersamaku. Mas Agam, tunggu aku menjadi orang yang bisa kami banggakan, aku pasti bisa membuat kamu dipandang tinggi oleh orang lain~
"Jadilah diri sendiri, jangan berubah hanya demi orang lain," Agam melepaskan genggaman tangannya dan kembali meraih belanjaannya gang sempat ia jatuhkan kala Syifa datang tadi.
"Bisa baca pikiranku kah?" tanya Gwen.
"Tidak, tapi Mas ingin aja bilang begitu. Memangnya, apa yang kamu pikirkan?" tanya Agam kembali.
"Um, cilok tahu. Sepertinya enak tuh buat cemilan, hehe…," jawab Gwen dengan cengegesan.
"Mari masak bersama. Pagi ini, Mas belanja banyak bahan makanan. Nanti sore, Mas akan bawa kamu jalan-jalan," ujar Agam dengan menyentuh pipi Gwen.
Tak tahu apa yang membuat Gwen begitu girang ketika Agam hanya mengajaknya jalan-jalan. Saking girangnya, Gwen sampai mencium pipi suaminya karena gemas. Saat Gwen melepaskan ciumannya, tangan Agam meraih pipi mulus istrinya itu dan kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
Cup di kecup kening sangat istri. "Lain kali, kalau mau mencium, bilang dulu, ya. Soalnya, Mas masih kaget kalau kamu tiba-tiba mencium seperti ini," tutur Agam dengan nada yang membuat Gwen candu mendengarnya.
"Boleh, tapi dua kali ciumnya, gimana?" hoda Gwen menoel-noel pipinya.
"Terserah mau berapa kali. Asal kamu bahagia, Mas juga pasti akan ikut bahagia." tukas Agam.
"Ih gemes, pengen peluk, boleh?" ujar Gwen merentangkan tangannya.
Agam terkejut, ia pun menatap istrinya dengan tatapan heran. Namun, bukan hal haram lagi bagi suami istri saling berpelukan. Dengan senang hati, dengan senyuman manis di bibirnya, Agam juga merentangkan tangannya.
"Sini," ucapnya dengan sedikit malu-malu.
"Oh, kalau begitu. Aku tidak akan malu-malu lagi!" seru Gwen memeluk Agam dengan pelukan yang erat.
Kebahagiaan yang ia dapatkan tak jauh-jauh hadiah dari Sang Pencipta untuknya. Mendapatkan seorang suami yang memiliki sifat persis seperti Ayahnya, memang idaman bagi seorang putri yang manja seperti Gwen.
"Tuhan, kali ini aku akan belajar agama dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjadi pendamping seorang Ustadz Agam yang pantas aku perjuangkan dan aku pertahankan, berkahi aku," batin Gwen.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Hamba memiliki istri, yang percaya dengan hamba. Meski Syifa terus bicara yang tidak-tidak, tapi Gwen mampu bersabar dan mau mengerti hamba," Agam pun tak lupa bersyukur.
"Gwen Kalina Lim, seperti apa masa lalumu, Mas tidak akan pernah mempermasalahkannya. Bagi Mas, sekarang kamu adalah istriku, masa lalumu, bukan masalah Mas lagi. Mas percaya kamu bisa menjadi jauh lebih baik," imbuhnya mempererat pelukannya.
Pacaran setelah menikah, jatuh cinta setelah menikah memang indah bagi kalangan orang yang ikhlas dan menikah karena ibadah. Bukan berarti yang berpacaran tidak ikhlas karena ibadah. Namun, ada nikmat tersendiri dari kisah cinta setelah pernikahan.
Sehari yang lalu, disaat Aisyah dan kakak sepupunya datang menemui Gwen, ketika kakak sepupunya, yakni Ayden, Feng dan juga Faaz menceritakan masa lalu Gwen yang mungkin tidak akan menyenangkan.
Siapa sangka, Agam tidak mempermasalahkan itu. Sebab, masa lalu itu tidak perlu di ceritakan karena orang yang dimasa lalu bersikap buruk, sudah berusaha payah untuk berubah menjadi jauh lebih baik lagi. Jadi, Agam tidak ingin mematahkan hati istrinya yang sudah berusaha move on dari masa lalunya.
Karya di lapak sebelahku dah end. Jadi, karya 'Hubbak Ghali Ya Habibi Qolbi' InsyaAllah akan up tiap hari. Mohon dukungannya yaa....