
Malam setelah mengadakan syukuran, Gwen tertidur pulas karena kelelahan. Tanpa ia sadari, dirinya sudah terbangun di Bandara dan siap terbang ke Korea.
"Haduh, kenapa kepalaku pusing sekali? Dimana ini?" Gwen akhirnya terbangun.
"Jam berapa ini? Kenapa masih rame? Apakah anak yatimnya belum pada pulang?" tanyanya dengan suara serak baru bangun tidur.
"Alhamdulillah kamu sudah bangun. Sebentar lagi pesawat kita akan terbang. Nanti kamu bisa melanjutkan tidurmu di sana. Ayo bangun dan bersiap!" seru Agam.
Gwen masih mengamati ke kanan-kiri, ke seluruh sudut Bandara sampai membaca berkali-kali papan petunjuk arah dan jadwal penerbangan di sana.
"Ini Bandara?" tanya Gwen.
"Bukan, ini area persawahan," jawab Agam menggoda istrinya yang belum ngumpul semua nyawanya.
Kesal dengan jawaban suaminya, Gwen merebut tiket dan paspor yang ada ditangan suaminya. Ia membaca kemana tujuan Agam membawanya malam itu. "Korea?" teriaknya, tidak dapat mempercayai apa yang matanya baca.
"Mas, Korea?"
"Kita mau ke Korea, Mas?" Gwen masih tidak menyangka bahwa Agam menyiapkan kejutan liburan untuknya. "Enggak! Mas Agam kan lagi butuh pengeluaran banyak. Untuk apa kita berlibur? Mana ke luar negri pula!" Gwen menolak.
"Mas ingin. Kenapa memangnya?" jawab Agam.
"Hah?" Gwen tidak paham dengan jawaban suaminya itu.
"Ayo, waktu sudah tiba. Bukankah kamu merindukan Dokter Aisyah? Maka Mas akan mengobati kerinduan kamu ini dengan mempertemukan kamu kepada Dokter Aisyah,"
Agam menggandeng tangan Gwen. Tangan satunya lagi menarik koper yang ia bawa. Sengaja mereka hanya membawa satu koper karena akan repot saat membawanya. Apalagi, sebelumya Gwen juga tertidur.
Masih tidak menyangka dengan kejutan yang suaminya berikan, Gwen hanya terdiam menatap suaminya lekat-lekat. Kemudian mencium lembut pipi sang suami seraya mengucapkan terima kasih.
Cup! pipi di kecup dua kali. Gwen gemas dengan suaminya yang mendadak romantis itu.
__
Sementara di rumah, Puspa juga sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Chen tidak mengajaknya, karena Abi Darwin tidak mengizinkan Puspa pergi bersama Chen. Sebab, keduanya memang tidak diperbolehkan untuk pergi bersama sebelum ada kata sah diantaranya.
Meski begitu, baik Chen dan Puspa menghormati keputusan Abi Darwin. Keseriusan Chen sudah cukup bagi Puspa tetap setia padanya sampai pernikahan itu terjadi.
[Kau akan bertemu dengan Aisyah, bukan? Hadiahmu aku kirim sekalian satu paket dengannya. Aku dengar Gwen dan suaminya juga datang, jadi ada hadiah untuk mereka juga dalam paket itu] -, pesan dari Puspa untuk Chen.
Chen masih belum membuka pesan dari Puspa karena dirinya sedang disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Menjadikan dirinya jarang memegang ponselnya. Chen hanya akan memegang ponselnya jika ada yang menelpon dirinya.
"Huh, dia tidak membuka pesanku. Apakah dia masih sibuk? Dia memang pekerja keras, aku menjadi tidak enak hati dengannya. Karena diriku, dia harus bekerja lebih seperti itu" gumam Puspa.
Puspa mengetahui segalanya tentang Chen. Jovan juga selalu memberikan kabar kepada Puspa tentang Chen yang jauh di sana. "Aku akan mengirim pesan kepada Jovan. Mungkin dia bisa menyampaikan pesanku ini kepada Chen," Puspa masih berusaha memberikan kabar.
Sama saja, Jovan dan Chen sedang ada perjalanan ke Korea bersama Feng. Kemungkinan meraka bisa membuka pesan dari Puspa ketika mereka sudah mengaktifkan nomor mereka di sana.
**********
Menjelang subuh, Asisten Dishi sudah terbangun dengan memakai sarung dan kaos polos menyiapkan sarapan untuk Aisyah dan juga Ilkay. Aisyah yang baru saja keluar dari kamar pun dibuat tertawa melihat Asisten Dishi mengenakan sarung.
"Haha, kenapa ini sangat lucu? Tapi bagus sekali, dari mana kamu mendapatkan sarung itu?"
"Kamu menertawakan aku, Mail? Oh, tidak! Mulai saat ini, aku akan memanggil kamu dengan sebutan kesayangan dariku," sahut Asisten Dishi mendekati Aisyah yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Oho! Siapa yang mulai panik ini? Seorang dokter, apa calon istriku?" Asisten Dishi mulai menggoda Aisyah.
"Ail, jangan mendekat! Jika kamu mendekat, aku akan teriak,"
"Oh, teriak lah. Aku tidak takut, akan lebih baik jika kita dinikahkan cepat-cepat," Asisten Dishi terus saja menggoda Aisyah.
Mereka hanya saling bercanda saja. Hingga membuat Ilkay terbangun dan menanyakan apa yang terjadi. "Mama, apa sudah waktunya salat subuh? Apa yang terjadi?"
Krik … krik … krik.
Posisi Aisyah dan Asisten Dishi menang tidak dekat. Hanya saja, yang terlihat di mata Ilkay tidak sesuai dengan kenyataan.
"Kau mau menyakiti Mamaku? Siapa kau!" teriak Ilkay.
Keadaan penerangan rumah memang masih ridup, mata Ilkay juga belum sepenuhnya terbuka. Maka dari itu, Ilkay mengira jika pria yang menggoda Ibunya adalah seorang penjahat.
"Ilkay, ini aku, Ayahmu!" Asisten Dishi menjawab pertanyaan Ilkay.
"Ayahku palamu, hah! Ayahku ada di luar negri, katakan kamu mau di hukum dengan cara seperti apa!" Ilkay meraih sapu, berlari kearah Asisten Dishi dan mulai memukulinya.
Dengan mata datarnya, Aisyah menghidupkan semua lampu ruangan. Sehingga, bisa dengan jelas Ilkay melihat siapa yang ia pukul menggunakan sapu itu.
"Hah, lihatlah Ilkay. Dia adalah Ayahmu," kata Aisyah menahan sapunya.
"Ayah?" gumam Ilkay.
Ilkay terus mengamati dari atas sampai bawah. Lalu, ia baru tersadar bahwa pria yang ia sebut penjahat itu adalah Ayahnya.
"Ayah!" teriak Ilkay girang.
Sapu yang sebelumnya di angkat tinggi, ia buang begitu saja sampai mengenai ibu jari kaki Aisyah. Tak peduli Ibunya kesakitan, Ilkay melompat kearah Asisten Dishi dan memeluknya.
"Hey, kamu sudah tambah besar dan berat. Kenapa harus melompat seperti ini?" ujar Asisten Dishi menggoda putranya.
"Ayah, beneran ini Ayah? Kapan Ayah pulang?" Ilkay begitu bersemangat sampai melupakan Ibunya di belakangnya.
"Ayah datang semalam. Lihatlah, Ayah membuatkanmu sarapan. Kamu dan Mama salat subuh dulu, ya. Ayah akan lanjutkan masaknya," jawab Asisten menunjukkan apa yang akan ia masak.
"Apa Ayah tidak mau menjadi imam salat kami pagi ini?" tanya Ilkay dengan wajah polosnya.
Asisten Dishi menurunkan Ilkay. Kemudian menjawab, 'tidak'. Seketika wajah Ilkay menjadi murung.
"Ayah dan Mamamu belum menikah, Nak. Ayah belum bisa menjadi imam dalam salat kalian," jelas Asisten Dishi dengan lembut.
Seperti yang Aisyah katakan kepada Ilkay, bahwa Ilkay tidak perlu tahu apa yang seharusnya belum waktunya ia ketahui. Aisyah akan memberikan pelajaran sesuai dengan usia Ilkay saat itu. Maka, Ilkay tidak akan bertanya lagi kepada Ayahnya.
"Baiklah, Kay tenang jika Ayah yang datang. Kay kesal jika Paman Leo dan Paman Raza yang datang. Mereka selalu mengganggu ketenangan hati Mama, Yah," Ilkay mulai mengadu.
"Oh, jadi selama Ayah kerja, Mama lagi cari Ayah baru buat Ilkay, ya?" tanya Asisten Dishi cemburu, padahal ia sudah tahu akan hal itu.
Bukan memperbaiki masalah, Ilkay malah memperkeruh suasana dengan terus menjadi kompor bagi Ayahnya. Alhasil, Ilkay mendapat jeweran dari Aisyah dan segera membawanya masuk untuk melaksanakan salat subuh.