
"Mas, Mas ini serius ngelamar saya? Apakah artinya itu yang dikatakan Pak Raza sebelumnya?" Gwen masih saja tidak percaya.
"Iya, saya melamarmu. Setelah pulang dari Tiongkok, saya akan langsung datang melamar kamu juga ke keluargamu," Agam terlihat sangat serius dengan niatnya.
"Tunggu, maksudnya gimana, ya? Sebelumnya kalian belum pernah mengenal, 'kan? Dan kalian pun sampai saat ini tidak saling mengetahui nama satu sama lain, bukan?" sela Aisyah.
"Assalamu'alaikum, maaf saya menyela ketegangan ini," imbuh Aisyah masih bingung.
"Maksud kamu apa, ya? Tiba-tiba datang ngelamar perempuan yang belum pernah kamu kenal sedetikpun dan bahkan kamu juga belum pernah bertemu dengan perempuan ini, 'kan?Lalu, tiba-tiba ngelamar begitu saja. Apa maksud dan tujuan kamu?" timpal Raza.
Agam seorang lelaki yang sangat baik. Dia memiliki 1 orang tua, yakni ibunya dan juga memiliki adik perempuan bernama Esti. Beberapa bulan lalu ibunya divonis mengidap penyakit yang sudah stadium akhir. Harapan utamanya adalah melihat putra sulungnya menikah sebelum beliau pergi.
Agam menceritakan segalanya. Ia juga berkata dengan tutur kata yang santun. Tak banyak menatap Aisyah dan Gwen ketika bicara. Menjaga pandangannya dan menjelaskan secara rinci apa maksud dan tujuannya menikah dengan Gwen.
"Nama saya Agam Fauzan, usia saya 25 tahun, saya … ah soal pendidikan mungkin tidak etis saja kalau dibicarakan di sini," ungkapnya.
"Tapi maksud dan tujuan saya adalah suatu kebaikan, yaitu ibadah dengan menikah. Jika Mbak ini menerima pinangan saya, saya akan sangat bahagia dan akan segera melamarnya ketika kita pulang dari Tiongkok nanti, sebelum bertemu dengan ibu saya tentunya," imbuhnya dengan penuh harap.
"Nama saya Gwen, Gwen Kalina Lim, umur 22 tahun, masih imut, 'kan? Sebelumnya saya ingin mengatakan kalau saya bukan wanita yang sempurna. Tapi bisa nggak saya bertanya, apa yang membuat Mas Agam ini yakin mau menikahi saya, sedangkan kita kan belum pernah kenal, bertemu aja baru kali ini, bukan?" ucap Gwen.
"Wallahu'alam, saya anggap semuanya adalah petunjuk yang Allah berikan kepada saya dalam tahajud saya selama 2 bulan ini," jawab Agam dengan tegas.
"MasyaAllah …." ucap Aisyah dan Reza bersamaan.
Hati Gwen sendiri juga terketuk oleh kisah hidup Agam. Ia menerima permintaan tolong (yang utama) dari Agam dan meminta syarat dengan tidak mudah. Guna mengetes keseriusan Agam dalam niatnya.
Aisyah juga memberikan sumpah janji atas nama Allah, supaya Agam tidak mempermainkan ucapannya, apalagi menyangkut pernikahan.
Pesawat mereka akan berangkat, masing-masing duduk di kursinya. Gwen, Aisyah dan Reza menjadi diam, hening seketika memikirkan niat Agam sebagai orang asing yang tiba-tiba melamar tanpa ada pemberitahuan dulu.
Sesampainya di Bandara, Gwen memberikan nomor ponselnya jika memang Agam serius dengannya. Aisyah sendiri juga tidak akan berprasangka buruk kepada orang lain. Melainkan, ia meminta Gwen agar berhati-hati dalam berurusan dengan orang asing.
"Kamu yakin dengan lamaran itu, Gwen?" tanya Reza.
"Aku melihat dari sorot matanya sepertinya memang dia yakin deh. Sorry, aku orang yang sulit dibodohi. Tapi entah kenapa juga, aku bisa tertarik secepat ini dengan Mas Agam itu," ungkap Gwen.
"Kamu mau menikah secepat itu?" tanya Reza lagi.
"Kalau sudah datang jodohnya, kenapa harus menolak? Lagi pula, orang yang selalu aku harapkan tidak pernah peka denganku, bukan? Terima aja kalau jodoh sudah ada di depan mata!" celetuk Gwen melambaikan tangan kepada Chen yang sudah menunggunya di sebrang jalan.
Aisyah merasa, jika Gwen memang menyukai Reza sudah sejak mereka pulang dari Thailand 3 bulan lalu. Akan tetapi, Reza sendiri tidak menunjukkan tanda sedikitpun tentang perasaannya kepada Gwen.
"Aku yakin, pria yang dimaksud Gwen adalah Pak Raza. Hm, aku harus berbuat apa? Itu masalah hati, dan hanya diri sendiri yang tau." gumam Aisyah dalam hati.
Chen senang, akhirnya bisa berjumpa kembali dengan kedua adiknya. Ia langsung membawa kedua adiknya dan juga Reza untuk makan siang bersama di restoran milik Chen sendiri.
"Wuih, halal nggak nih?" tanya Gwen melihat seluruh sudut restoran mewah tersebut.
Perbincangan mereka semakin seru. Chen akhirnya akan kembali ke keluarga kandungnya setelah 22 tahun lamanya. Hanya tinggal mengenalkan Aisyah dan Gwen kepada Tuan Wang dan segera minta izin untuk pulang ke Jogja setelah pekerjaannya usai.
"Asisten Dishi …?" tanya Aisyah.
"Asisten Dishi sedang ada di kantor. Tak ada yang handle pekerjaanku, jadi harus dia yang membereskan semuanya," jawab Chen menyentuh kepala Aisyah.
"Maafkan kami telah menganggu pekerjaanmu, Kak," sahut Gwen.
"Kenapa harus minta maaf? Bersama keluarga itu sangat menyenangkan, bukan? Tidak ada yang perlu minta maaf dan tidak ada yang dimaafkan, Oke? Ayo Tuan Raza, kau juga harus makan!" tegas Chen dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya.
Gwen masih memikirkan tentang Agam kala itu. Tak ada pria yang tiba-tiba melamarnya sampai dirinya usia 22 tahun. Selalunya yang dapat lamaran adalah Aisyah. Sudah sejak menginjak umur 15 tahun, Aisyah sering kali ada yang melamar ke rumah.
"Kamu kenapa? Kok, sepertinya tidak semangat gitu?" tanya Aisyah.
"Aku masih teringat dengan Mas Agam tadi. Dia benar-benar mau melamarku tidak, ya?" ucap Gwen menyangga kepalanya.
"Jangan mudah percaya, siapa tau dia hanya bercanda," sahut Raza.
"Hih, apakah Pak Raza tidak melihat dari sorot matanya. Dia penuh dengan kelembutan, sebaiknya aku tetap tunggu telpon dari dia. Nomor di negara ini juga baru saja aku aktifkan.
Tanpa disadari, Raza juga sedikit kesal karena Gwen begitu saja percaya dengan orang asing. Sementara itu, usai meeting penting di restoran yang sama, Chen mengajak Aisyah dan Gwen serta Raza ke rumahnya bertemu dengan Ayah angkatnya dan istirahat.
"Kak, yakin orang tuamu bakal menerima kita?" tanya Gwen.
"Iya, jika tidak memungkinkan, kami akan tinggal di hotel atau ke rumah Ko Feng. Ini kami juga sudah menghubungi dia," timpal Aisyah.
"Tenang saja, aku sudah membicarakan hal ini. Tapi, kalian harus waspada dengan Nyonya pertama di rumah itu. Dia Ibu angkat yang telah menculikku, kalian jangan singgung dia atau dia akan mengamuk nanti." terang Chen membelai kepala kedua adiknya.
Rasa sangat senang, melihat keakraban dan kasih sayang ketiga bersaudara itu. Mengingat dirinya yang tak pernah akur dengan adik tirinya membuatnya teringat kembali dengan kejahatan yang Ayahnya lakukan tempo hari lalu.
"Kehangantan dari keluarga Gwen memang tak perlu di ragukan lagi. Benar mereka kembar, tapi mereka berbeda dan dibesarkan di tempat yang berbeda. Tapi, mereka mampu membuang perbedaan itu dengan kasih sayang yang mereka miliki. Senangnya jika aku bisa ikut andil dalam bagian mereka." gumamnya dalam hati.