
"Barusan … kau menyuruhku istighfar?"
"Apa aku tidak salah dengar?"
Tama menatap tajam Dishi. Dishi celingukan memastikan keadaan aman dan menganggukkan kepala setelah itu. Tama juga masih tidak menyangka jika Dishi bisa berdiri tegap.
"Kau … kau bisa berdiri?" lanjut Tama lagi.
Lagi-lagi Dishi hanya mengangguk.
"Kau berbohong dengan kondisimu? Apa kau sebut ini lelucon, Dishi? Kau bersandiwara hilang ingatan dan lumpuh?" Tama masih tidak paham dengan tujuan Dishi berbohong. "Jika kau sehat seperti ini? Mengapa kau tidak berusaha untuk keluar dari sini dan menemui istrimu, hah?"
"Kau tau bagaimana kondisi Aisyah saat ini? Dia menjadi pendiam lagi seperti dulu. Malah jaug lebih parah lagi, dia jarang mau makan bersama, tidak mau di temui oleh siapapun juga, apa kau tau itu?" sambung Tama.
"Berat badannya turun drastis, selain ibadah dan magang … dia tidak pernah melakukan hal lain, Dishi. Dia hanya mengurung diri di kamarnya, senyumnya pun palsu, apa kau tau itu?"
Tama meluapkan kesedihannya atas Aisyah. Memang sesayang itu dirinya terhadap Aisyah sampai merasakan betapa sesaknya jika berada di posisi Aisyah. Selama 8 minggu masih harus sabar menunggu kabar suaminya berada.
"Aku akan jelaskan padamu. Kau tidak melihat tadi? Yu Liu, nama wanita itu. Dia menebas kepala pelayan dengan mudah, bukan? Apa kau tau alasannya?" Dishi mulai membuka mulut.
Tama menggeleng pelan.
"Pelayan itu memasak untuknya. Rasanya sedikit hambar. Padahal jika di rasa, memang masakannya sudah pas. Tanpa ampun dan penjelasan lain, Yu Liu langsung menebasnya karena baginya … orang yang berbuat salah padanya dan tidak mematuhinya harus mati," jelas Dishi.
"Aku pernah dalam posisi itu ketika aku baru sadar dari pingsanku. Beruntung saja, aku ada pikiran untuk mengatakan bahwa aku tidak mengingat apapun. Awalnya aku memang belum bisa berjalan karena kakiku terluka bakar. Tapi setelah dua minggu di sini, aku baru tau betapa kejamnya penduduk desa di sini," sambungnya.
"Bahkan sering kali, bayi, balita, anak-anak, remaja dan orang dewasa di bunuh di depan mata karena masalah sepele oleh Yu Liu,"
"Dia adalah sang penguasa desa. Aku pernah dengar dari sepupunya, jika setahun yang lalu dia membunuh ayah kandungnya sendiri karena ayahnya memintanya untuk berhenti menyakiti orang. Itu sebabnya, aku selalu diam dan berpikir bagaimana cara aku bisa keluar tanpa diketahui olehnya,"
"Jika sudah di luar desa, dia tidak memiliki wewenang. Ketika kalian bertiga datang, aku sudah mencegah Yu Liu untuk tetap diam dan tidak menanggapi kalian. Tapi, Yu Liu tertarik kepada Feng dan akhirnya mengutus kakek tua dan Xiao Lie untuk membawa kalian masuk ke desa."
Rupanya, kedatangan Feng, Tama dan Xia sudah diketahui lebih dulu oleh Dishi. Dia juga sebelumnya mencegah Yu Liu untuk membawa masuk mereka. Namun, pesona Feng rupanya membuat Yu Liu tertarik. Dengan dirinya yang hanya duduk di atas kursi roda, tak mampu mencegahnya.
"Tapi kenapa kamu dan dia masih bisa dekat? Bahkan dia tidak mau melepaskanmu pulang bersama kami?" tanya Tama lagi.
"Apa kau lupa, jika otakku masih mewarisi otak dari dunia hitam? Kau tidak perlu tau, yang perlu kau lakukan sekarang … hanya berpikir supaya tidak membuat kesalahan saja di kediaman ini, paham?" jawab Dishi dengan senyum liciknya. "Ada yang datang, cepat kau dorong kursiku."
Tama semakin heran, karena tiba-tiba Dishi menarik kursi roda di belakang jerami dan duduk kembali seperti orang yang benar-benar lumpuh. "Aku hidup di dunia apa ini? Kenapa tidak normal seperti ini?" batin Tama mulai tertekan.
Apa yang dikatakan oleh Dishi benar. Ada seseorang yang datang membawa tumpukan jerami ke belakang. Seorang tukang kebun yang selalu membantu Dishi, juga orang yang baik. Dia pun tersenyum kepada Tama dan memperingatinya untuk berhati-hati.
***
Berjalan melewati kamar Yu Liu. Sesuai dengan instruksi Dishi, Tama pun akhirnya ikut bersandiwara bersama. Saat melintas di depan kamar Yu Liu, Tama terus saja membicarakan kehebatan Feng dengan suara yang sedikit kuat.
"Kau tau, Feng kakakmu itu sangat hebat. Dua bulan lalu, dia meraih penobatan sebagai dokter paling efesien dalam usianya yang masih menginjak 24 tahun. Apalagi, karena dia juga mampu menjadi dokter spesialis di usia muda," celetuk Tama.
"Oh, begitu__"
Dishi hanya pura-pura menjawab singkat, seolah memang benar jika Dishi hilang ingatan. Yu Liu yang berdiri di sisi jendela kamarnya merasa takjub. Pertama kali melihat Feng, memang Yu Liu sudah merasakan debaran jatuh cinta.
"Jadi namanya Feng. Padangan mataku memang tidak salah. Pria sehebat itu, memang cocok jika bersanding denganku dari pada si cacat itu!"
"Yu Ling Liu. Kamu sangat cantik, awet muda dan pastinya sangat berkuasa. Dengan menumbalkan satu perawan lagi, meminum darahnya, maka kecantikanku akan semakin terpancar," senyum licik tersemat di bubur wanita itu.
"Wei Lan! Cepat carikan aku gadis seperti biasanya, lalu siapkan aku darah segarnya juga, cepat!"
Diketahui, sejak zaman dahulu, ada sebuah ilmu sihir yang mengatakan bahwa meminum darah perawan atau perjaka akan membuat wajah seseorang akan menjadi awet muda. Yu Liu, ini sebenarnya wanita yang sudah berusia sekitar 40 tahunan. Namun, karena memiliki ajian yang sangat kental dengan ilmu hitam, maka dirinya bisa membuat wajahnya seperti gadis berusia 20 tahunan.
"Kau dengar, dia memang gila. Aku takut, Xia akan menjadi korbannya. Sebab, di desa ini sudah tidak banyak lagi perawan," bisik Dishi, setelah mendengar perintah Yu Liu kepada Wei Lan.
"Apa? Bagaimana mungkin? Aku melihat banyak gadis di luaran sana, Dishi. Bagaimana bisa perawan langka?" tanya Tama heran.
"Mereka rela menjadikan tubuh mereka tak lagi gadis karena takut akan menjadi korban berikutnya. Apa kau paham apa yang dimaksud?" ungkap Dishi.
Seketika wajah Tama mendatar.
"Baiklah, sekarang aku sudah mulai gila karena kelamaan singgah di desa ini. Segera kita menemui Feng dan akan aku kasih tahu cara untuk kita kabur dari desa ini." Tama sampai berlari mendorong Dishi karena mulai ngeri dengan kisah desa yang menakutkan.
Waktu menunjukkan sore hari. Feng dan Xia mulai khawatir karena takutnya akan semakin sulit untuk keluar desa jika sudah mulai gelap. Mereka berdua mondar-mandir menunggu Tama datang.
Setelah Tama datang ....
Tok, tok, tok.... Suara pintu di ketuk. Segera Feng membukanya. Terkejut saat Tama datang bersama dengan Dishi.
"Nah, ingat kembali dia. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya. Tama, apa kau ... Um, Tuan, anda juga datang kemari?"
Tama meminta Feng untuk membawa masuk Dishi. Kemudian, dia pun mulai mengatakan rencana bagus untuk mengelabuhi Yu Liu, si wanita gila.
Apa ide Tama ini?