
Semuanya berjalan dengan lancar, di samping Aisyah menemani kedua pria dewasa itu jalan-kalan, ia juga tidak meninggalkan Asisten Dishi dengan saling mengirimnya pesan.
"Kamu jalan bertiga, 'kan? Jangan sampai kamu jalan hanya berdua saja. Tidak boleh!" -, pesan dari Asisten Dishi.
"Uwu, cemburu? Iya, Ail … Aku nggak jalan berdua, kok. Ada kak Leo juga di sini, tenang saja,"
"Setelah selesai pekerjaanku, kita harus langsung menikah, oke?"
Aisyah hanya mengirim stiker tangan mengadah juga bertuliskan kata 'Aamiin ya Rabbal alamin' menyertainya. Hubungan mereka masih berjalan dengan baik meski harus saling berjauhan.
***
Sesampainya di restoran, Aisyah baru sadar jika restoran itu adalah restoran cabang milik kakeknya. Ada foto neneknya saat masih muda di restoran tersebut. Rifky begitu mencintai seorang Aisyah Handika Putri. Setiap kali, ia menangkap momen indah bersama sang istri dan selalu mengabadikannya.
"Aisyah, coba kamu lihat foto perempuan yang ada di sana," tunjuk Raza. "Em, kamu merasa wanita itu, mirip dengan kamu nggak sih?" lanjutnya dengan mengamati potret sang nenek Aisyah saat muda.
"Malahan, seolah yang ada di foto ini adalah kamu. Tidak ada bedanya antara kamu dan dia. Hanya saja, wajahnya lebih bulat darimu. Tapi, keseluruhan mirip sekali denganmu," Raza masih belum mengerti.
"Tentu saja mirip, wong dia adalah Neneknya!" seru Leo dengan tatapan sinis kepada Raza.
Raza pun terkejut, bagaimana tidak? Raza tidak tahu jika restoran yang ia datangi milik keluarga Aisyah. "Aisyah, benarkah?" tanya Raza masih belum percaya.
Dengan senyuman, Aisyah pun mengiyakan apa yang dikatakan Leo. "Benar, dia adalah nenekku. Ibu dari Ayahku, mungkin itu yang membuat kami terlihat mirip. Tapi percayalah, Bang Rafa yang paling mirip dengan nenek," jelas Aisyah.
Leo menceritakan kisah Aisyah dan Rifky waktu dulu tinggal di Korea dengan meninggalkan dua bayinya di rumah bersama dengan nenek kakeknya. Mungkin, kisah cinta Aisyah dan Rifky tidak semanis kisah cinta Leah dan Ruchan. Tapi, kisah cinta Aisyah dan Rifky paling tenang dan jauh dari perusak rumah tangga yang mengesalkan. Kisah singkat mereka juga selalu di jadikan panutan bagi segelintir orang.
"Aisyah, ternyata kelembutanmu itu turun temurun dari kakekmu, lalu bijakmu turun dari nenekmu? MasyaAllah sekali, Aisyah," ujar Raza takjub.
"Sebenarnya sifat dan sikap aku ini dibentuk oleh Ayahku. Ya mungkin memang faktor lingkungan juga mungkin bisa. Sudahlah jangan puji aku terus, nanti aku malah bisa terbang pula!" seru Aisyah mengelak fakta itu.
"Kenapa aku baru melihatmu saat ini, Aisyah? Mengapa tidak dari dulu aku melihat berlian sepertimu," gumam Rasa dalam hati.
"Aisyah memang beda dengan wanita lain yang sering aku temui. Itu sebabnya hatiku terpaku olehnya. Oh, Aisyah, kapan kamu bisa menerima diriku?" Leo pun juga tak kalah dalam mengagumi seorang Aisyah.
Hanya saja, kedua pria dewasa ini tidak tahu sifat asli Aisyah yang konyol. Dimana itu hanya terlihat saat bersama dengan Asisten Dishi saja.
Saat mereka makan bersama, datang lah Ayden bersama dengan teman-temannya untuk makan siang juga di sana. "Ai?" gumam Ayden.
"Kalian pesan makanan dulu, aku akan kembali setelah ini," ucap Ayden kepada teman-temannya.
Bergegas Ayden menghampiri Aisyah yang saat itu sedang asik bercengkrama dengan Leo dan Raza. "Ai, kamu di sini?" sapa Ayden, ia tidak memperhatikan jika ada dua pria yang bersama dengan Aisyah.
"Wa'alaikumsallam, aku seorang muslim sepertimu. Tiada makanan enak bagiku kecuali restoran ini. Kau … bersama siapa ke sini?" tanya Ayden langsung duduk di sebelah Aisyah tanpa memperdulikan adanya Raza dan Leo di sana.
Aisyah menunjuk ke belakang tubuh Ayden mengunakan matanya. "Sepertinya Oppa sungguh sudah lapar. Ada dua orang di belakangmu,"
"Oh, ada orang, ya? Haha, maaf pandangan mataku hanya ada adikku saja soalnya," celetuk Ayden.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan Leo jika Ayden dekat dengan Aisyah. Bagaimana juga Ayden tidak mungkin akan jatuh cinta dengan adik sepupunya. Keluarga Aisyah tidak mendukung saling menikah dengan yang masih keluarga, meski itu keluarga jauh. Tidak dengan Gu dan May (orang tua Ayden) mereka bisa menikah karena Gu bukan anak kandung dari Kabir dan Ceasy. (yang lupa silsilah keluarga di Korea, selamat pusing)
"Aisyah," panggil Raza dengan suara yang lembut.
"Oh, Oppa, perkenalkan dia ini Kak Raza, dia pembimbing Gwen saat di kampus dulu. Dia datang ke sini karena ada pekerjaan. Dan untuk Kak Raza, dia ini adalah kakakku yang paling tampan diantara sepupu lainnya, dia seorang ahli gizi, namanya sih Hayden, tapi kami selalu memanggilnya dengan sebutan Ayden," jelas Aisyah memperkenalkan keduanya.
Kesan pertama Ayden terhadap Raza memang baik. Tapi untuk memasangkan kepada Aisyah, tingkat cocoknya hanya 50% saja dengan Aisyah. Ayden pendukung garis keras Asisten Dishi sampai kapanpun.
"Aku hanya kakaknya saja, kok. Baik kalau begitu, aku tinggal dulu, ya," pamit Ayden merapikan lengan kemejanya. "Aisyah, jangan lupa kabari Asisten Dishi, atau dia akan merajuk padamu nanti," bisik Ayden sengaja agar dua pria yang ada di depannya mendengar.
Mendengar nama Asisten Dishi membuat Raza sedikit kesal. Pada kenyataannya, seperti yang ia tahu, Aisyah juga dekat dengan Asisten Dishi beberapa waktu lalu.
"Kamu, masih komunikasi dengan, Asisten kakak kamu?" tanya Raza.
"Um, tentu saja," jawab Aisyah sedikit ragu.
"Ya, seringkali jika aku susah hubungi kakaku, yang aku hubungi ya dia," lanjut Aisyah.
"Siapa dia?" sambung Leo.
"Dia~"
"Dia Asisten pribadi kakaknya. Jika ada yang hendak kamu pertanyakan tentang dia, kamu bisa tanya kepadaku. Nanti aku yang menjelaskan kepadamu," sela Raza menghalangi pandangan Leo kepada Aisyah.
Kedua pria itu sudah jatuh cinta kepada Aisyah. Aisyah sendiri meras tidak nyaman dengan keduanya. Ia berniat untuk menjauhkan diri secara perlahan dari keduanya, agar tidak ada yang merasa tersakiti.
"Sudahlah, untuk apa kalian selalu begini dari tadi. Kalian baru bertemu, baru berkenalan, tidak. Bisakah kalian akur sebentar saja ketika bersamaku?"
Gadis mana yang tidak kesal, risih dan juga tak enak hati jika ada dua pria yang selalu berselisih paham karenanya. Kesal, Aisyah pun meninggalkan keduanya dan segera naik ke bus. Ayden melihat hal itu, tapi dia tidak berhak ikut campur masalah pribadi Aisyah sebelum Aisyah minta tolong kepadanya.
"Haih, Ai. Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini. Semoga saja, kamu betah belajar di sini. Dan semoga saja, Asisten Dishi segera menyelesaikan pekerjaannya!" Ayden bergumam dalam hati.
Dukungan keluarga memang ada pada Asisten Dishi. Keluarga hanya ingin memberikan Asisten Dishi waktu untuk meyakinkan diri di luar negri sana.