
"Kau makanlah yang banyak. Aku memesan daging sapi dan ayam saja. Aku lihat, kau tidak terlalu bersemangat saat bekerja hari ini, ada apa?" Sachi adalah sahabat yang baik untuk Lin Aurora.
Dulu, setalah mereka pertama kali berkenalan, mendengar bahwa Lin Aurora seorang muslim, Sachi langsung paham dan tidak pernah mengajak Lin Aurora menjalani hal yang tidak seharunya dia jalani.
Sachi adalah seorang gadis periang, dia seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan dan setelah lulus sekolah, dia langsung mencari pekerjaan yang layak. Sebelumnya, saat dia masih sekolah, Sachi bekerja sebagai cuci piring di salah satu warung makan yang tidak jauh dari pantai asuhan tempat dia tinggal.
"Lin, apakah kamu tau tentang Tuan Jovan? Semua orang bilang, kamu mengenal dia. Apa benar?" tanya Sachi.
"Kamu suka dengan Jovan?" Lin Aurora bertanya kembali.
Setelah bertanya seperti itu, ekspresi Sachi memang mudah di tebak. Lin Aurora bukan maksud membuat Sachi down, hanya saja, Lin Aurora mengatakan yang sebenarnya siapa Jovan sebenarnya.
"Dia mantan pacar kakakku, aku masih memiliki kakak perempuan yang usianya hanya selisih setahun denganku," ungkap Lin Aurora.
"Hah?"
Sachi sampai menganga. Selama berteman, selain agama, Lin Aurora tidak pernah mengatakan apapun tentang keluarganya. Sachi merasa sedih kala mendengar Jovan sedang putus cinta dan akan ditinggal nikah.
"Jadi Tuan Jovan itu mantan kekasih kakak perempuan kamu?" tanya Sachi lirih.
"Mereka sudah menjalin hubungan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tapi hubungan mereka benar-benar harus berakhir karena kakakku telah dijodohkan dengan anak teman ayahku," jelas Lin Aurora.
"Tunggu, bukankah kamu pernah mengatakan, jika kamu ini sebatang kara, ya? Kenapa jadi punya Ayah sekarang?" Sachi mulai bingung.
Lin Aurora tidak tahu alasannya mengapa dia harus jujur. Tapi, hari itu memang dia jujur kepada Sachi, sahabatnya. Bagaimana kehidupan dirinya yang sebenarnya. Lin Aurora mengatakan jika dirinya telah menikah. Akan tetapi, Lin Aurora tidak pernah menyebut nama Chen sebagai suaminya.
"Apa, menikah?" Sachi begitu terkejut sampai dia lupa mengontrol suaranya.
"Jika tahu kamu akan bersikap seperti ini aku tidak akan cerita. Hish, berisik sekali, Sachi!" terus Lin Aurora.
"Ah, maafkan aku. Tapi aku terkejut, amkanaya berekspresi seperti itu. Baiklah, kalau begitu kau bisa melanjutkan ceritamu,"
"Maaf mengganggu, maaf menganggu,"
Sachi meminta maaf ke semua pengunjung restoran yang terkejut mendengar suaranya. Kemudian, kembali fokus mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Lin Aurora.
Sambungan cerita, Lin Aurora bercerita bahwa dirinya masih memiliki seorang ayah dan kakak perempuan. Di mana Ayahnya adalah seorang pengusaha, namun memiliki temperamen yang sangat buruk. Bukan maksud Lin Aurora menceritakan keburukan dari orang tuanya sendiri. Jika tidak di jelaskan secara rinci, Sachi tidak mungkin akan paham dengan jalan cerita yang diceritakan olehnya.
Tidak terlalu mendetail, Lin Aurora mengatakan bahwa ayahnya terlalu tegas dan selalu bersikap kasar ketika anak-anaknya melakukan kesalahan.
"Jadi kamu adalah seorang Nona dari keluarga kaya? Kalau begitu, apakah kamu menikah dengan seorang Tuan muda yang kaya juga? Um, atau jangan-jangan kamu kawin lari dengan suamimu yang sekarang?" pikiran Sachi mulai bingung.
Lin Aurora terdiam. Dia memandang Sachi sebentar, kemudian melanjutkan makannya. Lin Aurora berharap, Sachi mengerti apa yang dia katakan tanpa harus menyebut nama-nama orang yang dia ceritakan.
Sedikit demi sedikit, Lin Aurora menjelaskan semuanya. Mungkin antara Sachi yang tidak ingin terlalu jauh mengetahui identitas dari sahabatnya, atau mungkin Sachi masih belum bisa menerima identitas sahabatnya itu sebagai Nona dari seorang pengusaha kaya.
"Sejujurnya aku masih bingung dengan cerita kisah hidup kamu.Tapi aku yakin, bawa kamu memiliki alasan untuk menyembunyikan identitas kamu yang sebenarnya," ucap Sachi dengan senyuman.
"Terima kasih, kamu telah mau mengerti diriku."
Mereka pun berpelukan, sebutkan makannya lagi sampai habis. Setelah selesai makan bersama, Lin Aurora menawarkan sebuah tumpangan kepada sahabatnya itu.
"Ah tidak, Lin. Rumahku tidak jauh dari tempat ini. Kau pulang saja dulu, aku takut suamimu akan mencarimu lagi," celetuk Sachi.
"Suamiku sedang ke luar kota. Jadi, jika kamu mau ... aku bisa mengantarmu pulang lebih dulu. Itu tidak akan menjadi masalah, kok!" seru Lin Aurora menepuk-nepuk bahu Sachi.
Sachi tersenyum, kemudian mengangguk. Mereka pun berjalan kaki menuju rumah Sachi. Rumahnya ada di sebuah gang yang lumayan kecil. Mungkin, hanya kendaraan roda dua yang bisa melintasi kawasan tersebut.
"Aku tinggal di daerah sini. Sudahlah ... kau cukup mengantarku sampai di sini," ucap Sachi.
"Aku takut, ketika kau pulang nanti, malah kamu yang celaka. Di sini banyak sekali pengganggu yang terus berkeliaran di setiap gang," imbuh Sachi, mengkhawatirkan sahabatnya.
"Aku akan menginap di rumahmu, bolehkan?" sahut Lin Aurora semangat.
Sachi tidak keberatan jika Lin Aurora menginap di rumahnya. Namun, Sachi akan merasa tidak enak hati dengan suami sahabatnya itu jika dia tidak pulang ke rumahnya sendiri.
"Aku tidak keberatan kamu menginap di rumahku. Tapi sebaiknya, kamu harus izin dulu kepada suamimu. Takutnya, suamimu akan salah paham denganmu,"
Sembari berjalan, Lin Aurora menghubungi Jovan untuk mengatakan kepada Chen, bahwa dirinya menginap di rumah temannya. Lin Aurora juga mengatakan jika dia akan menginap di rumah Sachi, dimana Jovan pernah mengantar Sachi pulang juga. Jadi, jika ada apa-apa, Jovan tahu harus kemana mencarinya.
"Jovan, kau bisa bilang, 'kan? Aku sudah masuk gang rumahnya Sachi. Jika aku pulang, aku takut orang jahat menggangguku. Bagaimana jika aku di siksa atau sampai di lecehkan?" Lin Aurora sedang merayu.
"Astaga, tak bisakah kamu diam sebentar, Lin? Kenapa kamu selalu membuat ulah ketika kami berada di luar kota? Jika ada apa-apa padamu, aku harus bagaimana mengataknnya kepada Chen?"
"Haiya, Jovan! Tolonglah ...,"
Setelah bujuk rayu yang dramatis, akhirnya Jovan pun akan membantunya supaya Chen mengizinkannya menginap di rumah Sachi. Meski keduanya sudah saling menyimpan nomornya masing-masing, tetap saja akan canggung bagi keduanya untuk berkomunikasi, apalagi mereka juga masih teringat malam unboxing mereka.
"Bagaimana?" bisik Sachi.
"Jovan akan membantuku bicara dengan suamiku. Tenang saja suamiku pasti akan mengizinkan jika Jovan bicara," jawab Lin Aurora girang.
Sachi merasa aneh, ketika Lin Aurora mengatakan jika dirinya meminta Jovan untuk meminta izin kepada suaminya. Tapi, seperti biasa dia tidak mau terlalu mencampuri urusan pribadi sahabatnya. Jadi, Sachi hanya tersenyum saha ketika Lin Aurora akan menginap di rumahnya malam itu.
Di luar Kota, Chen marah karena istrinya menginap di rumah temannya. Tidak peduli dengan hubungan antara istri dan sahabatnya itu yang seperti apa, malam itu juga Chen bergegas pulang ke Seoul untuk menjemput istrinya.